VELT DUNGEON'S STORY - Nephilim's Corruption

VELT DUNGEON'S STORY - Nephilim's Corruption
Chapter 22 - Pembahasan Mengenai Tamer Berambut Putih & Samir


__ADS_3

Samir merasakan motivasi yang lebih lagi setelah berlatih melawan Catherine dan Alfred. Karena itu dia memiliki tekad untuk bertemu mencari petualang baru yang sebenarnya sewaktu Samir dan Aleratha kembali dari melawan Boss Floor petualang itu kabur setelah bangun dari pangkuan Samir. Hal itulah yang membuat Samir menggerutu dan cukup terlihat sedih. Beruntungnya di perjalanan menuju ke dungeon, Samir bertemu dengan pegawai Serikat yang bertanggung jawab menjadi mengarahkan petualang, Ava.


“Ah, Samir Onofledis.” Ave menyapa Samir saat Samir menghampirinya.


“Kalau tidak salah, Ava dari Serikat ya?” Samir bertanya kepada Ava.


“Iya. Kebetulan bertemu denganmu. Saya mau berbicara sebentar denganmu sebentar.” Ava berkata kepada Samir.


“Ada apa?” Samir langsung bertanya.


“Saya ingin berterima kasih karena anda sudah menolong petualang yang berada di bawah pengawasanku. Anak laki-laki yang muda yang anda selamatkan dari lepasnya minotaur tempo hari. Namnya Aiden Ivory.” Ava berkata kepada Samir dan Samir terkejut.


“Jadi namanya adalah Aiden Ivory.” Samir terlihat bahagia mengetahui siapa petualang yang selama ini dia cari.


“Lalu saya tahu kalau ini adalah permintaan yang egois, tapi aku meminta tolong kepadamu untuk menyelamatkan lagi Aiden karena sepertinya Aiden berurusan dengan petualang-petualang yang tidak bertanggung jawab dari luar Aliansinya.” Ava berkata kepada Samir.


“Baik. Akan aku lakukan.” Samir berkata dengan lantang.


“Lalu mengenai Aiden aku yakin kenapa anda murung kemarin pasti karena Aiden lari darimu. Yang pasti Aiden tidak takut padamu, hanya saja dia malu untuk menghadapimu. Selebihnya Aiden sangat bersyukur dan senang karena anda bisa menyelamatkan Aiden.” Ava berkata kepada Samir dan itu mengubah perasaan Samir menjadi semakin senang.


“Baik. Aku mengerti kalau begitu aku kan langsung menuju tempat Aiden. Terima kasih banyak informasinya.” Samir berkata dan langsung melesat menuju dungeon untuk bertemu dengan Aiden.


Samir sangat senang dan termotivasi untuk masuk ke dalam dungeon dan bertemu dengan sosok petualang ini yang bernama Aiden. Ciri khas yang tidak dimiliki orang lain dari sosok Aiden adalah kedua matanya yang berbeda warna dan itu sangat mencolok. Karena memiliki rambut yang hitam legam serta pakaian yang berwarna gelap itu juga dia sangat mirip dengan seekor kucing. Tentunya banyak petualang yang mengetahui Aiden hanya saja mereka sebatas mengetahui penampilan uniknya. Itulah yang memudahkan Samir mencari Aiden dengan bertanya kepada beberapa petualang yang berlalu lalang.


Lantai 11? Aku yakin dia baru melakukan petualangan sekitar 1 bulan yang lalu dan dia sudah bisa mencapai lantai 11 hanya dengan 1 pendukung dimana mereka berdua masih level 1. Tidak masuk akal. Aku saja baru bisa masuk ke lantai 11 ini setelah hampir 8 bulan memulai petualanganku dan aku masih kesusahan saat itu. Samir berpikir dan mengingat kejadian dulu sambil terus melesat ke bagian dungeon yang lebih dalam untuk bertemu dengan Aiden.


“Aiden, siapakah kamu sebenarnya?” Akhirnya Samir menemukan Aiden sedang dikepung monster di lantai 11 yang merupakan monster jauh lebih kuat dari dirinya.


Samir langsung menolong Aiden dari bagian belakang dan tidak diketahui Aiden secara jelas. Namun, yang pasti saat itu Samir melihat kalau Aiden sedang menghadapi masalah yang lain dan terlihat sangat buru-buru. Saat mulai membantai monster yang ada di sana, Aiden juga ikut melawan, tapi Aiden tidak bisa melihat sosok Samir secara jelas karena Samir menyerang dengan sangat hati-hati.


“Maafkan aku. Ada hal lain yang harus aku urus. Terima kasih banyak.” Aiden berlari meninggalkan Samir dengan sangat terburu-buru.


Dia kabur lagi, tapi sepertinya ada sesuatu terjadi. Samir paham betul apa yang sedang menjadi beban Aiden lalu setelah itu, Samir membantai setiap monster yang tersisa di tempat itu tanpa ada sisa monster-monster sedikitpun.


Srak!!


“Siapa disana?!” Samir langsung mengarahkan pedangnya ke arah seseorang yang keluar dari semak-semak.


“Sepertinya aku memang tidak bisa bersembunyi dari petualang tingkat tinggi.” Seseorang dengan tudung dan zirah serba hitam tanpa wajah yang bisalihat menampakkan dirinya di depan Samir.


“Siapa kau?” Samir langsung bertanya dengan sangat waspada.


“Aku hanya pengirim pesan dan sekarang aku ingin meminta tolong kepadamu. Samir Onofledis, aku ingin kamu pergi ke lantai 24 untuk menyelidiki fenomena aneh yang terjadi di sana karena hingga saat ini sudah cukup banyak petualang yang meninggal di lantai 24.” Sosok itu berkata kepada Samir.


“Jika aku menolak?” Samir bertanya kepada sosok itu.


“Tidak ada masalah, aku akan mencari petualang level tinggi yang lain jika kamu menolaknya. Pastinya siapapun yang menerima, akan mendapatkan hadiah sebagai kompensasi.” Jelas sosok itu.


Tidak ada niat yang jahat, tidak ada maksud yang jahat juga. Meskipun secara penampilan orang ini serba hitam dan bersenjata lengkap. Samir memeriksa sosok itu dari ujung kepala hingga ujung kaki sambil memasukkan kembali pedangnya.


Tunggu sebentar, ini bukannya pelindung lengan milik Aiden? Samir mengambil bagian pelindung tangan milik Aiden yang terlepas.


“Aku akan menerima permintaanmu, tapi aku harus tahu kenapa kau ingin aku yang melakukan investigasi?” Tanya Samir.


“Kejadian yang terjadi di lantai 24 sekarang sama seperti yang terjadi di lantai 30 saat kami mengirim Grigg ke sana. Karena itu juga kemungkinan besar, sosok yang membunuh Grigg yang memiliki informasi mengenai kubus berisi fetus itu memiliki hubungan dengan kejadian aneh di lantai 24 sekarang.” Jelas sosok itu dan Samir langsung paham apa yang harus dia lakukan.


Berarti Tamer itu bisa menjadi titik terang semuanya. Kalau aku bertemu dengannya aku bisa mengetahui apa yang harus aku lakukan berikutnya. Samir berpikir sambil mengeluarkan selebaran kertas dan bulu yang digunakan untuk menulis surat.


“Kalau begitu apakah aku bisa mengirim surat untuk Aliansiku dulu?” Samir berkata sambil menulis surat di gulungan kertas tersebut.


“Tenang saja. Aku akan mengirimkannya kepada Aliviah.” Sosok itu menerima surat dari Samir untuk dikirimkan kepada Aliviah.


“Lalu apakah ada hal lain yang harus aku lakukan?” Samir bertanya kepada sosok itu.


“Kamu tentunya tidak akan bekerja sendiri. Datanglah ke Underground City dan masuk ke dalam bar yang pertama kamu lihat disana. Lalu duduk di kursi kedua dari paling ujung kiri. Ketika pelayan bertanya apa yang kamu inginkan, jawab ‘Kentang rebus lada hitam dengan garam’. Itu adalah kode untuk temanmu yang akan ke lantai 24 bersama.” Jelas Sosok misterius itu.

__ADS_1


“Baiklah kalau begitu aku akan langsung menuju lantai 18 terlebih dahulu.” Samir langsung melesat dengan sangat cepat meninggalkan sosok itu.


****


Di Markas Aliviah, Vezda membantu Aleratha membereskan ruangan belajar setelah yang lain pergi. Karena Vezda juga ingin mengatakan sesuatu kepada Aleratha terutama mengenai Rex. Sebenarnya ada hubungannya dengan Ailas dan Elf secara keseluruhan.


“Terima kasih, Vezda. Aku sangat terbantu.” Aleratha berkata sambil membereskan buku-buku yang berserakan sementara Vezda membersihkan meja.


“Sama-sama, Aleratha.” Jawab vezda.


“Ngomong-ngomong, kamu tahu soal Nephilim?” Tanya Aleratha.


“Iya aku mengetahui banyak hal yang tidak tertulis di sejarah. Ailas banyak memberikan aku informasi mengenai itu.” Jawab Vezda.


“Oh, apakah kalian masih berhubungan melalui surat?” Tanya Aleratha.


“Tentu saja. Aku akan mengirim surat kepadanya malam ini. Apakah kamu ingin menyampaikan sesuatu pada ayahmu?” Tanya Vezda dan Vezda bisa melihat dengan jelas wajah Aleratha berubah menjadi sedikit lesu.


Vezda sebenarnya sangat paham kalau banyak emosi yang menyatu di dalam hati Alerahta sejak kemarin dia mendengar cerita Ailas. Aliviah pasti sangat paham, namun Aliviah juga mengerti sifat Aleratha yang selalu terlihat serius dan profesional. Hanya saja, baru kali ini Vezda benar-benar melihat sosok Aleratha yang sedang kebingungan dan terlihat sangat sedih.


Vezda tidak menjawab apapun dan langsung menghampiri Aleratha dan memandang wajah Aleratha yang sebenarnya sudah menahan air matanya untuk tidak keluar. Rasa sedihnya bahkan semakin memuncak saat mengetahui Ailas dan Vezda masih menghubungi satu dan yang lain. Hal itu membuat dirinya ingin berharap kembali berbaikan dengan keluarganya. Saat Aleratha memandang Vezda, Vezda perlahan memeluk Aleratha.


“Vez–”


“Aleratha, menangislah. Kamu merindukan keluargamu, kamu merindukan teman-temanmu yang sudah lama tiada, bahkan merindukan mereka yang menurutmu sudah tidak ada harapan untuk bertemu. Tidak perlu malu memperlihatkan sisi lemahmu kepadaku.” Vezda berkata hal tersebut dan Aleratha menangis di pelukan Vezda sehingga teriakan dan tangisannya tidak bisa terdengar siapapun yang ada diluar.


Setelah beberapa lama, Aleratha mulai membaik dan Vezda menemaninya sebentar sebelum menuju ruangan Laris untuk rapat. Aleratha nampak lebih segar dan pastinya wajah seriusnya jauh lebih jelas dari sebelumnya. Mungkin kalau dirinya tertawa adalah hal yang biasa, namun saat dirinya menangis itu adalah hal yang lain. Karena tangisannya benar-benar melepas segala beban yang dia pikul selama ini.


“Aku sudah selesai membereskan ruangan. Kamu juga sudah lebih baik. Bagaimana kalau kita berangkat sekarang?” Vezda bertanya kepada Aleratha.


“Iya. Aku yakin Laris dan yang lain sudah menunggu kita.” Jawab Aleratha.


Vezda dan Aleratha berjalan bersama menuju ruangan Laris untuk mendiskusikan mengenai apa yang sudah terjadi di lantai 18 tempo hari, siapa sebenarnya Tamer yang mengacaukan rencana mereka, dan ekspedisi yang akan dilakukan berikutnya. Sepertinya ekspedisi ini akan menjadi lebih sulit dan semuanya akan terlibat melawan musuh yang lebih kuat dari sebelumnya.


“Kapten, maafkan keterlambatan kami.” Vezda masuk ke dalam ruangan dan sudah ada Laris, Bromner, dan Aliviah yang menunggu.


“Oh, kau terlihat lebih segar, Aleratha.” Bromner berkata kepada Aleratha yang diam di sebelah Aliviah.


“Kalau kulihat, kamu memang lebih segar dari biasanya.” Aliviah berkata kepada Aleratha dan melihat pakaian yang digunakan Vezda basah di bagian bahu kirinya.


“Apa maksud kalian? Aku baik-baik saja dan terlihat biasa saja.” Aleratha berkata seakan tidak terjadi apapun.


“Memang betul kamu baik-baik saja, justru lebih baik dari sebelumnya bukan?” Senyuman Aliviah menandakan sesuatu.


“Hahaha. Aku tidak menyangka kalau Vezda ini benar-benar pasangan yang cocok dengan kau, Elf.” Bromner tertawa dan sepertinya mereka semua tahu apa yang baru saja terjadi. Itu langsung membuat Aleratha sedikit malu dan wajahnya sedikit memerah, tapi tetap dalam ekspresi serius dan sedikit marah.


“Aku yakin kalian berdua bisa saling melengkapi. Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi aku yakin itu sangat emosional. Jadi, aku tidak akan bertanya apapun. Kita kembali ke topik. Kami sedang membicarakan apa yang sebenarnya terjadi di lantai 18 tempo hari.” Jelas Laris.


Bromner, Laris, dan Aliviah bergantian menjelaskan mengenai apa yang sedang dibahas. Lantai 18 tempo hari terjadi pembunuhan dan itu dilakukan oleh seorang Tamer berambut putih yang juga menyerang Underground City menggunakan monster yang dia kendalikan. Tamer itu sangat kuat karena dapat mengendalikan banyak sekali monster yang kuat.


“Ada yang mengganjal untukku.” Vezda berkata kepada Laris.


“Apa itu?” Tanya Laris.


“Tamer itu mungkin wajar tidak mengenalku karena aku memang anggota baru dan kenaikan levelku juga belum diumumkan oleh serikat. Tapi, Tamer tersebut tidak mengenal Laris dan Aleratha.” Jelas Vezda.


“Aku juga berpikir seperti itu. Namun yang pasti, dia memanggil Samir dengan Zephyrus.” Laris menambahkan.


Kalau dipikir-pikir Tamer itu mengetahui Samir dengan nama Zephyrus. Lalu tidak mengenal Aleratha dan Laris padahal itu adalah pengetahuan umum dan mereka berdua sangat terkenal di Femi. Mampu mengendalikan monster yang terbentuk dari fetus aneh itu juga adalah hal yang mengganjal. Untuk Carlos dan Vina, berarti sudah dikonfirmasi mereka bersengkongkongkol. Lalu saat bertarung, aku mencoba menyerang secara frontal ke arah tubuhnya dibanding kepalanya dan reaksi bertahannya jauh lebih cepat saat Kapten menyerang kepalanya. Mungkinkah? Vezda bisa memprediksi sesuatu, tapi dia sendiri tidak yakin.


“Mungkinkah musuh kita kali ini mengetahui sesuatu mengenai Samir?” Alerataha bertanya mengenai hal ini.


“Mungkinkah kita sedang melawan monster dan bukan manusia?” Pertanyaan itu keluar dari mulut Vezda tanpa disadari dan semuanya sedikit terkejut.


“Apa yang membuatmu berpikiran seperti itu, Vezda?” Tanya Laris.

__ADS_1


“Fetus itu mungkin bisa menjadi jawaban. Aku akan menjelaskannya secara singkat.” Jawab Vezda.


Vezda menunjukkan beberapa poin mengenai Tamer yang dimaksud. Tamer tersebut menguasai terlalu banyak monster bahkan bisa dibilang sangat banyak seperti monster itu sendiri. Di sisi lain, Tamer itu sangat kuat dalam pertarungan dan dapat menghancurkan lawannya yang memiliki level 4 dengan sangat mudah serta Aleratha dan Laris juga sempat kewalahan melawan Tamer itu. Hal yang menjadi point penting adalah ketika Laris dan Vezda berusaha menyerang dada bagian tengah atau sekitar tubuh bagian atas karena Tamer itu jauh lebih agresif dan cepat untuk melindungi bagian itu. Bukan berarti saat menyerang kepalanya, Tamer itu lambat, tapi kewaspadaannya saat Laris dan Vezda menyerang bagian tubuh itu sangat meningkat. Itu mengingatkan pada struktur dimana kristal monster berdiam. Umumnya di bagian tengah dari dada monster. Ukurannya bisa bermacam-macam, namun ada yang memiliki kristal kecil tapi monster itu sangat kuat, namun jika memiliki kristal yang besar, sudah pasti monster tersebut bukan monster yang lemah.


“Betul. Dia sangat agresif saat aku menyerangnya dengan pedang milikku.” Laris berkata kepada Vezda.


“Tapi bagaimana monster itu bisa berbicara dan semacamnya? Ditambah tubuhnya adalah tubuh manusia seperti petualang biasa.” Aleratha bertanya kepada Vezda.


“Aku yakin kalian mengingat laporan Samir mengenai fetus aneh tersebut. Fetus itu masuk ke tubuh monster dan membuat monster tersebut menjadi sangat kuat. perkiraan ku adalah tubuh itu awalnya tubuh petualang yang kosong atau mayat dari petualang yang mati lalu ada fetus yang masuk ke tubuhnya. Itu akan menjadikannya monster yang baru.” Vezda menjelaskan dengan detil mengenai apa yang menjadi kemungkinan.


Kalaupun itu mayat sangat mungkin karena kalau itu  petualang dia pastinya sangat mengetahui mengenai kami seperti Carlos dan Vina. Tapi, tunggu sebentar… Laris terpikirkan 1 hal.


“Vezda, sebentar kalau itu memang manusia yang menjadi monster mungkin seharusnya mereka serupa dengan Carlos dan Vina yang masih mengetahui siapa kita. Kenapa Tamer itu tidak tahu apa-apa mengenai kita?” Laris bertanya kepada Vezda.


“Itu adalah kemungkinan berikutnya. Kenapa dia bisa mengetahui Zephyrus tapi tidak mengenal kalian? Kemungkinan besar itu adalah Nephilim.” Semua yang ada di sana terdiam sejenak.


Nephilim adalah ras seperti malaikat yang turun dari surga untuk menolong para petualang di masa jauh sebelum Primodial Archon turun. Sampai sekarang masih ada beberapa Nephilim dan petualang yang mewarisi darah Nephilim. Namun, kemampuan mereka semuanya hanya berputar di sekitar penguatan analisis, pembuatan barang, ataupun menilai barang dengan kemampuan Nephilim mereka.


“Aku yakin kita semua paham mengenai Nephilim yang ada pada masa ini, tapi Samir mewarisi Darah Nephilim Zephyrus. Zephyrus yang menjadi ibunya adalah Nephilim yang kembali bereinkarnasi menjadi Manusia setengah Nephilim. Berarti Nephilim Zephyrus adalah Nephilim yang paling terakhir memiliki kekuatan untuk menghancurkan.” Penjelasan Vezda itu sangat mengejutkan setiap orang yang ada di ruangan itu.


“Tunggu sebentar, Vezda. Bagaimana kamu bisa mengetahui hal tersebut?” Laris bertanya kepada Vezda.


“Archon Rex sialan itu dan juga Ailas mengetahui rumor mengenai hal ini. Kampung halaman yang dibantai oleh Nilzrot adalah kampung halaman Samir. Kalau sesuai dengan informasi yang aku ketahui, tepat 18 tahun yang lalu setelah kegagalan ekspedisi Aliansi Terkuat, membuat monster keluar dari dungeon dan meluluhlantakkan sebuah kampung serta hanya ada 1 orang yang selamat. Yaitu Samir. Namun, ada hal yang pasti kita pertanyakan di benak kita semua. Bagaimana Nephilim bisa berurusan atau berubah menjadi monster? Primodial Archon mungkin mengetahuinya, tapi Rex tidak pernah tahu soal hal tersebut.” Jelas Vezda.


“Pertanyaan itu memang lebih penting daripada detil mengenai Samir, tapi kita akan coba membahasnya nanti.” Jawab laris.


“Vezda, apakah sebenarnya selama ini Rex mengetahui hal-hal ini?” Aliviah bertanya kepada Vezda.


“Iya, hanya mengenai hubungan Nephilim dan monster saja yang tidak dia ketahui. Rex memberitahu hal tersebut sebagai bagian dari negosiasi beserta dengan Ailas.” Jawab Vezda.


Rex sialan. Kalau memang Rex mengetahuinya, berarti kalau hanya garis besar dari peristiwa ini seharusnya Adinatha mengetahuinya, hanya saja aku tidak bertanya dengan benar mengenai hal ini saat aku menghadapnya.  Aliviah berpikir sambil menggigit jarinya.


“Ini adalah informasi yang baru untuk kami dan pastinya Samir bisa membantu melakukan konfirmasi mengenai informasi ini. Seharusnya Calia sudah datang membawa Samir.” Laris berkata kepada semuanya yang ada di ruangan.


Tepat saat Laris selesai berbicara kepada teman-temannya, Calia, Celia, dan Syllia datang masuk ke ruangan, namun tanpa bersama dengan Samir. Tentu saja semuanya bingung mengapa mereka datang tanpa Samir.


“Kapten, maafkan kami. Samir ternyata pergi ke dungeon sendirian.” Calia berkata kepada Laris saat Calia, Celia, dan Syllia masuk ke ruangan. Setelah berita itu disampaikan, semua yang ada di ruangan tersebut memasang ekspresi yang murung dan juga khawatir mengenai Samir.


“Kalau begitu mungkin kita tidak perlu, mencarinya bukan?” Tanya Bromner kepada Laris.


“Tentu saja tidak mungkin untuk mencari Samir di dalam dungeon. Biarkan Samir berburu karena kita juga harus menyelesaikan beberapa hal di sini.” Laris berkata kepada semua yang ada di sana.


Tentu saja Laris bilang seperti itu karena semuanya paham kalau dungeon yang berada di Kota Femi ini sangatlah besar bahkan kemungkinan besar tempat Samir berburu berada di lantai 20 hingga 24 mungkin sebesar Kota Femi atau mungkin juga lebih besar dan itu sangat sulit untuk mencari siapa saja yang berada di sana.


“Baiklah, pembahasan mengenai Samir akan kita lanjut lain waktu. Kalau begitu aku akan mengambil pedang sihir yang sudah kupesan.” Bromner mengatakan kegiatannya.


“Aku juga akan membeli beberapa perlengkapan tambahan untuk kita ekspedisi nanti. Ada beberapa barang yang kurang.” Aleratha juga menjelaskan rencananya hari itu.


“Baiklah kalau begitu. Aku dan akan melakukan investigasi lagi di saluran pembuangan secara lebih luas bersama Aliansi Daimon. Celia, Calia kalian berdua ikut denganku.” Laris berkata kepada Celia dan Calia.


“Vezda, apakah kamu ada rencana hari ini?” Aleratha bertanya dulu kepada Vezda sebelum meninggalkan ruangan dan yang lain selain Aliviah dan Syllia sudah pergi meninggalkan ruangan.


“Tidak. Aku akan mengerjakan pekerjaan rumah hari ini bersama Syllia.” Jawab Vezda.


“Baiklah kalau begitu aku pergi dulu bersama yang lain.” Aleratha berkata kepada Vezda.


“Hati-hati di jalan ya. Sampai jumpa.” Vezda berkata dan mengecup kening Aleratha dan Aleratha terlihat terkejut, tapi tidak menjauh.


“I-Iya. Aku berangkat dulu.” Aleratha berkata dan melesat keluar ruangan dengan wajah yang merah dan senang.


“Kau tidak lupa kalau kami masih ada di sini bukan?” Aliviah berkata kepada Vezda dengan senyuman jahatnya serta Syllia hanya melihat dengan muka yang merah.


“Tentu saja aku ingat. Aku tidak mau terlalu tertutup dalam menjalani hubungan dengan Aleratha. Lagipula kita ini Aliansi.” Vezda berkata dan wajah Aliviah berubah menjadi lebih tenang dan senang melihat perubahan Vezda dan Aleratha.


“Kalau begitu, kita akan membersihkan markas selagi semuanya mengurus perlengkapan ekspedisi dan investigasi ke saluran pembuangan.” Alviah berkata dan mereka bertiga beranjak melakukan kegiatan membersihkan markas.

__ADS_1


***


__ADS_2