
Setelah memastikan Blomer tidak terluka dan semua anggota baik-baik saja, semua anggota yang berada di dalam Unknown Zone menuju Feeding Zone saling memberikan informasi mengenai monster tanaman tersebut. Namun yang pasti Samir jauh lebih berpengalaman dalam melawan monster tersebut. Sewaktu di lantai 59, di permukaan, di lantai 18, dan ditambah laporan dari Ragnulf mengenai ada sisa-sisa monster di saluran pembuangan di permukaan.
“Informasi yang kita dapat hanya sedikit. War Dancer, kamu lebih banyak pengalaman dalam melawan monster tanaman tersebut. Bisakah kamu memberikan informasi sedetail mungkin mengenai musuh yang sedang kita lawan?” Racita bertanya kepada Samir yang juga baru selesai memeriksa anggota lain.
“Iya aku bisa memberikan semua informasi mengenai monster-monster ini.” Samir mulai menjelaskan monster tanaman tersebut, namun tanpa memberitahu sosok Carlos dan Vina.
Monster tanaman ada beberapa jenis dan semuanya memiliki kemiripan dalam pertahanan dan penyerangan. Semuanya memiliki kekuatan untuk menahan serangan tumpul. Lalu semua monster tanaman ini dapat mendeteksi sihir dan akan mengejar siapapun yang menggunakan sihir. Setelah itu mereka juga akan mengejar mereka yang memiliki kristal dari monster lainnya. Oleh sebab itu mereka sangat agresif terhadap monster yang lainnya. Mereka berbeda dengan spesies yang diperkuat, itu memang naluri alami mereka dan setiap dari anggota elit Aliansi Aliviah sudah pernah melihat reaksi dari monster-monster tersebut dengan kumpulan batu kristal yang berasal dari monster pada umumnya. Lalu ada 3 jenis monster tanaman. Yang pertama adalah seperti tanaman yang memiliki mulut yang baru saja mereka kalahkan, lalu ada berbentuk seperti ulat yang sangat besar dan dapat memuntahkan racun asam yang sangat berbahaya untuk petualang dibawah level 5, dan yang terakhir kemungkinan besar adalah evolusi monster tanaman yang bergabung dengan fetus misterius di lantai 18 dan menjadi sangat besar dan kuat.
“Dengan kata lain, monster ini mungkin lebih kuat dari spesies yang ditingkatkan dan juga memiliki intensi untuk menyerang monster lain” Racita berkata setelah mendengarkan penjelasan penuh dari Samir.
“Kalau begitu, ini adalah monster yang sangat berbahaya.”Nyllia berkata kepada Racita.
“Betul, tapi sepertinya mereka tidak bisa bertambah kuat seperti monster pada umumnya yang memakan kristal monster lain.” Jelas Racita.
“Memang betul, tapi karena kecepatan serang mereka juga dan ketahan mereka terhadap hampir semua serangan selain sihir dan senjata tajam, itu sudah lebih dari cukup untuk mengalahkan petualang level 4.” lanjut Samir.
“Berarti kita sudah memiliki garis besar musuh yang kita hadapi di Unknown Zone ini.” Racita membuat kesimpulan.
Setelah itu, Racita memberi perintah untuk tetap dalam formasi dan terus maju hingga masuk ke tempat utama Feeding Zone. Samir sendiri masih sangat waspada dengan semua serangan monster tanaman ini karena sebenarnya monster ini tidak memiliki hawa keberadaan yang sangat jelas. Hal itu cukup menyulitkan untuk Samir mencari posisi untuk melawan monster tanaman itu jika dalam kondisi seperti ini.
“Wah. Jalan yang yang terpisah lagi. Racita, jalan mana yang akan kita ambil?” Lilina bertanya kepada Racita.
“Mereka semua di sini. Bersiap untuk bertarung.” Racita menjawab sambil mengeluarkan pedangnya.
Lalu benar saja, banyak monster tanaman yang siap menghancurkan kelompok itu. Kali ini bukan dalam jumlah yang sedikit, melainkan dengan jumlah yang sangat banyak.
“Kali ini mereka datang dari kedua jalan tersebut ya?” Lilina juga mempersiapkan senjatanya untuk bertarung.
“Tidak juga. Kali ini mereka juga akan menyerang dari arah belakang.” Stoner berkata dan mundur untuk melindungi garis belakang dari serangan monster tanaman yang muncul di belakang mereka.
“War Dancer, bisakah kamu mengurus monster yang datang dari sisi kanan? Kami akan mengurus sisanya.” Racita berkata kepada Samir.
“Baik. Akan aku selesaikan dengan cepat.” Samri berkata lalu mereka semua bergerak dengan arahan yang diberikan Racita.
Saat mulai menyerang, Samir merasakan ada sesuatu yang tidak beres dari serangan monster di bagian kanan karena mereka tidak berniat menyerang Samir, melainkan seperti ingin melakukan sesuatu yang lain. Saat Samir mulai berusaha melawan monster tanaman itu, monster tanaman lainnya banyak yang menghantamkan diri mereka ke tanah seakan membuat pemisah antara Samir dan kelompoknya.
Aku terpisah. Samir memahami apa yang monster tanaman itu ingin lakukan dan sudah mengetahui siapa yang akan dia lawan.
“Bukan sebuah kejutan jika kamu merasa bisa melawan banyak monster ini sendirian, tapi sayangnya lawanmu kali ini adalah aku.” Tamer yang sebelumnya bertarung dengan Samir akhirnya muncul lagi dihadapannya.
Kali ini Tamer berambut putih tersebut menggunakan perlengkapan ringan terlihat snagat elegan dengan warna merah dan aksen emas. Hawa yang diberikan juga lebih kuat dari sebelumnya. Kali ini Samir benar-benar melawan Tamer tersebut sendirian.
“Apa yang kau lakukan di sini?” Samir bertanya kepada Tamer tersebut.
“Kamu tidak perlu tahu soal itu. Yang pasti kamu akan ikut denganku, Zephyrus.” Tamer itu berkata kepada Samir.
“Aku bukan Zephyrus. Zephyrus adalah ibuku.” Samir berkata dan menyiapkan pedangnya untuk melawan Tamer tersebut.
“Mana mungkin Zephyrus bisa melahirkan. Aku hanya diberitahu untuk membawa Zephyrus pada-Nya.” Kata-kata Tamer tersebut bergeming di kepala Samir.
Nya? siapa? Samir kebingungan dan berusaha memikirkan jawabannya.
Tamer tersebut mengeluarkan akar batang dari tangannya dan dengan kedua tangannya, Tamer itu menciptakan sebuat pedang yang serupa dengan belati milik Vezda. Pedang tersebut adalah pedang natural yang dibuat dari dungeon, hanya saja ini berasal dari tubuh Tamer tersebut.
“Bersiaplah.” Tamer tersebut langsung menyerang Samir dengan sangat cepat, namun Samir juga sama cepatnya.
Pertarungan mereka berdua bahkan sangat berbeda dari pertarungan Samir melawan Catherine dan Alfred. Pertarungan Samir melawan Tamer ini jauh lebih brutal dan kekuatan yang sangat besar beradu. Meskipun begitu, Samir kali ini lebih konservatif dalam menggunakan Zephyr. Samir lebih mengandalkan kemampuannya dalam menggunakan pedang. Dengan lincahnya, mereka berdua saling menyerang menggunakan setiap teknik yang mereka kuasai. Hingga 1 titik Samir memukul mundur Tamer itu dengan sangat kuat hingga terlempar.
__ADS_1
“Cih. Kau ternyata menaikkan levelmu.” Tamer itu sadar kalau Samir jauh lebih kuat dan cepat dari sebelumnya.
“Aku hanya tidak ingin kalah darimu.” Samir menjawabnya dengan singkat.
“Menyusahkan.” Tamer itu memasang kuda-kuda yang berbeda dari sebelumnya.
Pola serangannya akan berbeda. Samir memperhatikan gerak-gerik Tamer tersebut.
“Sebelah tangan atau kaki hilang mungkin tidak masalah asalkan kau masih hidup.” Tamer itu menyiapkan serangan yang tidak bisa dihindari dan ditahan.
Dia menyerang dengan kekuatan penuh. Tidak bisa dihindari dan tidak bisa ditangkis. Samir melihat permulaan serangan Tamer tersebut.
Tamer tersebut melesat dengan sangat cepat dengan pedang yang sudah berada di posisi atas siap menghantam ke bawah. Samir Sadar kalau serangan itu akan membunuhnya.
Kenapa kau tidak menghindar? Tamer itu sedikit kebingungan karena sepersekian detik sebelum pedangnya sampai pada Samir, Samir hanya terdiam.
Di sisi lain, Samir dengan tenang menaruh ujung pedangnya di sebelah pedang Tamer itu yang akan membelahnya. Kemampuan pedang yang sangat presisi, bahkan melebihi kemampuan dari Vezda. Samir membelokkan semua kekuatan Tamer itu dengan sedikit saja dan kesalahan beberapa mili dapat memutuskan lengannya. Hingga saat pedang Tamer itu mendarat di tanah sebelah tubuh Samir, pedang Samir sudah menyentuh wajah Tamer itu.
“Kenapa kau tidak menggunakan Zephyr?” Tamer itu bertanya sambil tetap pada posisi yang sama.
“Aku tidak perlu menggunakannya.” Samir berkata seperti itu dan keduanya langsung menyerang dengan cepat, namun keduanya juga menghindar secara bersamaan.
Alasan Samir tidak menggunakan Zephyr sama sekali adalah untuk menjadi lebih kuat dan tidak bergantung pada sihir anginya. Itu adalah tekadnya untuk terus menjadi lebih kuat. Namun, Tamer itu yang mulai sadar kalau dirinya hanya menjadi sebuah ‘batu loncatan’ untuk Samir mulai memberikan ekspresi yang penuh amarah dan rasa benci.
“Jangan meremehkan aku!” Tamer itu berkata dengan ekspresi wajah yang penuh amarah.
****
“Samir!!” Lilina berusaha memanggil Samir dari sisi lain yang juga tertutup rapat dengan tubuh monster yang lebih keras.
“Terima kasih Adrian.” Lilina terkejut melihat mayat dari monster tersebut yang hampir membunuhnya.
“Masih terlalu cepat untuk berterima kasih. Sekarang kita berada di kondisi yang tidak menguntungkan.” Racita berkata dan dihadapannya sudah ada 10 monster tanaman yang siap menghancurkan mereka.
Semua anggota yang lain masih harus memukul mundur monster-monster tanaman itu dan kondisi sekarang sangat tidak kondusif ditambah dengan Samir yang terpisah seakan adalah rencana dari monster-monster yang ada di sana.
“Kita harus pergi secepatnya dan menuju Feeding Zone.” Racita memberikan perintah kepada semuanya.
“Kita harus meninggalkan Samir?” Lilina bertanya kepada Racita.
“Kamu sudah lihat seberapa kuat dirinya, bukan? War Dancer bukan seseorang yang perlu dikhawatrikan. Dia sendirian pun tidak akan mungkin mati di tempat seperti ini.” Naria Berkata kepada Lilina sambil membantu garis depan yang lain.
“Jadi, tidak ada pilihan lain selain mempercayakan ini kepada Samir.” Lilina berkata sambil memandang lesu tembok pemisah mereka dan Samir.
“Lilina, berapa estimasi jarak kita menuju Feeding Zone?” Racita kembali membawa Lilina keluar dari pikiran lain yang saat ini tidak diperlukan.
“Jika jaraknya tidak berubah, harusnya 500 meter lagi ke arah barat.” Lilina langsung menjawab Racita.
“Monster bertambah 3 di garis depan dan 5 monster muncul dari arah belakang.” Adrian berteriak kepada semua anggota sebagai tanda untuk fokus ke 2 arah.
“Semuanya, lempar kristal yang kalian dapatkan dari monster.” Racita memberikan arahan untuk melemparkan kristal yang baru mereka dapatkan dari monster beberapa jam lalu.
Saat semua melemparkan kantong-kantung menjauh dari kelompok mereka, semua tanaman itu mengejar kristal tersebut dan meninggalkan semua anggota yang ada untuk memakan kristal tersebut.
“SEMUANYA! LARI!!” Racita memberikan perintah kepada semua anggotanya untuk lari menerobos semua monster yang ada di depan mereka dan mereka lari lalu dengan mudah mengelabui monster-monster yang ada.
Sesuai informasi. Informasi yang diberikan Samir untuk mereka ternyata sesuai dan Racita langsung melemparkan bahan peledak khusus miliknya.
__ADS_1
“Mira, gunakan pedang sihirnya.” Racita memberi perintah kepada Mira dan Mira melakukannya lalu semua monster yang berkumpul itu meledak degan cukup dashyat.
Informasi mengenai monster itu benar. Terima kasih banyak War Dancer. Semoga tidak ada apapun yang terjadi kepadamu. Racita melihat hasil ledakan itu dan kembali menuju rute utama menuju Feeding Zone.
“Lilina, kita tidak ada waktu untuk membuat peta. Gunakan semua kekuatanmu untuk mengingat setiap posisi dan rute jalan yang ada!” Racita memberikan perintah kepada Lilina sambil terus berlari bersama yang lain.
“Baik.” Lilina menjawab Racita.
“Semuanya, hindari pertarungan bagaimanapun caranya. Kita akan langsung menerobos semuanya untuk menuju Feeding Zone.” Racita memberikan perintah kepada semua anggota.
“BAIK!” Semua anggota serentak menjawab Racita.
“Adrian, ambil alih pimpinan. Aku yang akan mengurus keparat-keparat ini.” Racita memberikan komando kepada Adrian dan Racita memisahkan diri untuk bertempur sendiri di belakang melawan monster tanaman yang masih terseisa.
Kalau sesuai dengan level dan status yang dimiliki, aku yang harus diam di belakang untuk melindungi yang lain. Namun tetap saja, monster ini terlalu banyak. Racita mulai gelisah karena serangan monster itu sangat banyak dan bersamaan. Tentakel kecil itu menjadi senjata utama mereka saat ini.
“MATILAH KALIAN SEMUA!!!” James melempar dan melemparkan semua peledak yang Racita berikan sambil menerima serangan dari tentakel tanaman itu ke perut bagian kanannya.
“James?!” Racita terkejut melihat James melompat di depannya dan meledakkan semua monster itu yang akhirnya semua monster itu mati tanpa sisa.
Racita langsung membantu james berjalan menuju teman-teman yang menunggu James. Mereka berhenti karena secara tiba-tiba James memisahkan diri dari formasi.
“Kenapa kamu melakukan itu?” Racita berkata sambil membantu James yang terluka berat di perutnya berjalan Lalu O’Niel menggendong tubuh James yang kesulitan berdiri.
“Kamu adalah inti dari Aliansi Cathur, Racita. Jika kamu mati di sini, semua anggota akan kehilangan semangat dan juga mungkin kita hanya akan bertahan sebentar sebelum akhirnya mati. Lagipula, kamu juga adalah seseorang yang sangat penting untukku.” James berkata seperti itu kepada Racita.
GULP!!!
“Minumlah ramuan tingkat tinggi ini dan hentikan obrolan selewat itu.” Racita tanpa memikirkan James langsung memaksa James meminum ramuan yang dia siapkan khusus untuk anggota aliansinya.
Tidak berguna?
Orbrolan selewat?
Racita sangat kejam.
Semua pikiran itu adalah pikiran yang muncul saat melihat bagaimana Racita meresponi apa yang James katakan kepadanya. Sebenarnya itu dilakukan agar James juga tetap fokus dalam melakukan tugasnya.
“Eh? Racita, kamu mengubah komposisi ramuannya?” James merasakan rasa yang tidak biasa dari ramuan yang diberikan Racita.
“Aku menambahkan beberapa bahan supaya efek penyembuhannya lebih baik dari ramuan pada umumnya. Lalu gunakan 1 lagi untuk luka luarmu.” Jelas Racita dan memberikan James 1 lagi ramuan yang serupa.
“YEAY!! Akan aku simpan dengan baik ramuan ini.” James malah kegirangan diberikan ramuan khusus buatan Racita.
“Cepat minum! Kau itu hampir mati.” Racita berkata dengan kesal kepada James.
RAAAAARRGGGHHH!
“Monster tanaman mulai menyerang lagi. Jumlah mereka ada 5 monster.” Adrian memberikan informasi kepada semuanya mengenai serangan monster berikutnya. Semuanya sudah siap untuk bertarung, atau lebih tepatnya sudah siap untuk menerobos semua halangan yang ada.
“Monster ini muncul dan terus menyerang kita seakan menghalangi kita untuk masuk ke Feeding Zone.” Racita berkata sambil berlari.
“Jangan takut semuanya! Maju dan hancurkan apapun yang menghalangi jalan kalian semua!” Adrian memberikan komando kepada semua anggota dan garis depan terus berlari untuk membuat jalan.
Benar. Mereka tidak cocok dengan pekerjaan yang sangat berbahaya ini, tapi aku memiliki tanggung jawab untuk semua anggotaku saat ini dan juga anggota yang lain hingga banyak petualang lain di permukaan. Aku tidak bisa bisa mundur dan kami akan terus maju. Meskipun begitu, aku berharap agar aku tidak mengambil keputusan yang kejam dalam beberapa jam kedepan di pertempuran ataupun pengamatan yang akan dilakukan. Sebuah tekad dari Racita yang terukir jelas dengan banyak pertimbangan dan juga keinginan untuk melindungi teman-temannya.
***
__ADS_1