
Ailas Psila Alf adalah seorang High Elf. Ailas bertemu dengan Vezda dan Carlos saat mereka berdua masih berumur 12 tahun di Timur. Saat itu Ailas lebih terlihat seperti pengembara dan menggunakan jubah yang menutupi seluruh tubuhnya. Hal yang tidak diketahui Vezda dan Carlos adalah Ailas saat itu sebenarnya sudah berumur 202 tahun, tapi Ailas lebih terlihat seperti remaja daripada orang tua.
Alias memperkenalkan dirinya dan saat itulah Ailas mulai berteman dengan Vezda dan Carlos. Meskipun begitu, perlu waktu agar mereka semua bisa benar-benar akrab.
“Ailas, kenapa kamu berbeda dengan aku dan Vezda?” Carlos bertanya saat mereka bertiga sedang istirahat dari latihan.
“Carlos, Ailas sudah bersama dengan kita selama 1 minggu dan kamu baru bertanya hal tersebut?” Vezda bertanya kembali pada Carlos sambil duduk menikmati angin yang segar.
“Memangnya kenapa kalau aku bertanya? Ini karena penampilan Ailas sangat berbeda dari kita dan entah kenapa penampilan itu membuatku iri.” Carlos berkata tanpa tahu apapun.
“Uh, Carlos. Alias itu Elf dan soal penampilannya sudah menjadi hal wajar jika mereka sangat menarik.” Vezda menjelaskan kepada Carlos dan Ailas hanya menikmati makannya.
“Betul. Aku adalah Elf dan bukan manusia.” Jawab Ailas singkat.
“Eh? Apakah semua Elf itu memang awalnya tidak suka kontak fisik? Kamu sangat anti dengan kontak fisik minggu lalu.” Carlos masih bertanya.
“Sebenarnya itu karena kesombonganku dan aku minta maaf soal itu.” Ailas berkata kepada Carlos.
“Ya sebenarnya itu hanya sebuah pemikiran turun temurun Elf. Pada dasarnya Elf adalah salah satu ras terhebat dan tidak mau melakukan kontak dengan ras lain karena mereka menganggap ras lain adalah hal hina.” Vezda melanjutkan penjelasan Ailas yang Vezda tahu persis Ailas tidak tahu bagaimana mengatakannya.
“Tunggu sebentar. Apa betul Elf itu memiliki masa hidup yang panjang?” Carlos bertanya hal yang lain.
“Iya. Aku seorang High Elf bisa mencapai umur hingga ribuan tahun.” Jawab Ailas.
“Oh, teman-teman. Kita kembali latihan. Aku punya firasat sebentar lagi akan hujan.” Vezda berdiri dan mengajak Carlos dan Ailas kembali berlatih.
Mereka bertiga berlatih pengaturan pernapasan dan tubuh. Sebenarnya Ailas awalnya merasa aneh, tapi akhirnya dia ikut mencoba nya minggu lalu dan terlihat senang dengan latihan tersebut. Vezda dan Carlos sendiri sudah menjalani latihan sejak berumur 6 tahun dan mereka berdua sudah menguasai pengaturan pernapasan dan tubuh dengan cabang yang mereka sudah kuasai juga. Vezda mampu menguasai cabang yang paling sulit, Dance of Scorching Flame. Carlos menguasai cabang Dance of Flowing Water yang biasa dibilang cabang paling mudah, tapi bukan berarti benar-benar mudah. Terakhir Ailas sedang belajar cabang Dance of Free Wind. Dari mereka bertiga, Vezda memang yang paling kuat dalam latihan ini dan Vezda harus melawan orang dewasa yang lain untuk dapat seimbang dalam sparring.
“Vezda, kamu belum tidur?” Ailas melihat Vezda masih duduk di teras di depan kamar mereka.
“Ah, Ailas. Aku belum tidur karena aku sedang membersihkan perlengkapan kalian.” Vezda menjawab Ailas dengan santai.
“Jadi, selama ini kamu yang membersihkan perlengkapan kita?” Tanya Ailas tidak percaya.
“Tentu saja. Ini lebih tepatnya adalah kebiasaan karena Carlos selalu malas membersihkan perlengkapannya.” Vezda berkata sambil membersihkan katana milik Ailas.
“Ternyata apa yang aku pikirkan tentang ras lain hanya sebuah omong kosong belaka.” Ailas berkata dan duduk bersama dengan Vezda.
“Jika maksudmu keserakahan, kebencian, amarah, keegoisan, dan kesedihan itu tidak tidak ada, maka kamu salah. Hal itu tetap nyata dan aku merasakannya dan mungkin kamu juga merasakannya.” Vezda bekata kepada Ailas.
“Lalu bagaimana kamu melawan itu hingga kamu bisa peduli pada semua ras yang ada bahkan jika itu adalah ras yang merendahkanmu seperti aku?”
“Aku melakukan apa yang aku harus lakukan. Aku akan tetap menghormati mereka dan belajar menjadi lebih baik lewat mereka dan tetap percaya pada mereka meskipun itu seperti yang sulit untuk diterima.” Vezda menjelaskan pola pikirnya.
“Sebenarnya aku bukan seorang Elf yang muda. Umurku sekarang sudah lebih dari 200 tahun, tapi ini pertama kalianya aku melihat seseorang yang bahkan bukan seorang Elf jauh lebih mementingkan orang lain daripada dirinya sendiri.” Itu adalah sebuah pengakuan pertama yang didengar oleh Vezda,
“Iya aku sudah tahu umur aslimu. Bahkan aku tahu siapa kamu sebenarnya.” Vezda berkata hal tersebut sambil tetap fokus membersihkan perlengkapan mereka.
“Bagaimana?--” Ailas tentunya terkejut dengan hal itu.
“Aku berteman dengan seorang Archon yang mengetahui banyak hal di luar sana dan dia selalu memberitahuku banyak hal. Itu sebabnya aku lebih banyak mengetahui sesuatu daripada Carlos.” Jelas Vezda.
“Apa kamu marah saat tahu aku seorang raja?” Tanya Ailas.
“Aku sudah tahu kamu seorang raja sejak awal kamu memperkenalkan nama lengkapmu.” Jawab Vezda.
“Lalu kenapa kamu tidak berkata apapun kepada Carlos atau bereaksi apapun saat mengetahui namaku?”
“Tentu aku terkejut saat mendengar nama lengkapmu, tapi kalau kamu datang kemari dan memang benar ingin berteman dengan kami, aku tidak perlu mempertimbangkan alasan yang bohong kalau kamu kabur dari rumah.” Jelas Vezda.
“Aku sekarang paham anakku saat ingin keluar dari hutan dan menjelajah.” Suasana hati Ailas berubah.
“Kamu juga kan?” Vezda berkata sambil tersenyum ke arah Ailas.
“He?” Alias terkejut mendengar pertanyaan itu.
“Kamu juga sebenarnya ingin berpetualang keluar dari hutan bukan? Tentunya kamu tidak akan bisa karena kamu memiliki tugas sebagai seorang raja.” Jelas Vezda.
“Iya. Anakku mewarisi sifatku.” jawab Ailas dengan singkat.
“Kami disini mungkin tidak bisa memberikan banyak hal padamu dan apa yang kita berikan saat ini juga mungkin jauh dari kata bagus, tapi terima kasih banyak kalau kamu mau datang kepada kami, menerima pelatihan kami, menerima jamuan makan kami yang sederhana, dan mau tidur bersama yang lain di tempat yang sangat biasa.” Vezda berterima kasih banyak pada Ailas.
“Aku justru yang berterima kasih banyak dengan semua yang sudah kalian berikan. Mungkin dalam 2 atau 3 tahun aku akan kembali, tapi aku mau mengukir banyak hal bersama kalian di sini.” Ailas berkata dengan sangat senang.
Malam itu mereka Vezda dan Ailas menjadi sahabat dan tentunya Carlos juga, hanya saja Carlos tidak diberitahu apapun mengenai siapa Ailas sebenarnya. Mereka terus berlatih hingga 3 tahun lamanya dan mereka bertiga menguasai pengaturan pernapasan dan tubuh dengan cabang yang mereka dalami masing-masing. Sebelum perginya Ailas, Ailas dan Carlos melakukan sparing dengan taruhan kalau Carlos menang, dia boleh menikahi anak Ailas yang ternyata anaknya adalah perempuan dan pastinya seorang Putri Mahkota yang tidak Carlos ketahui. Khusus untuk bagian Ailas memiliki anak, itu memang diberitahukan kepada Carlos.
“Aku tidak peduli. Aku hanya menjadi pengawas di sini.” Vezda sudah lelah dengan kebodohan Carlos.
“Baiklah kalau begitu. Aku terima tantanganmu, Carlos. Tapi, kalau aku menang, jangan sekali-sekali kamu mendekati putriku.” Ailas berkata dengan percaya diri dan mengarahkan pedang kayunya ke arah Carlos.
“Tenang saja. Aku tidak berniat kalah.” Carlos juga terdengar semangat hari ini.
“Kalau begitu kita mulai sparringnya.” Vezda memberi tanda untuk memulainya sparring antara Carlos dan Ailas.
Dalam sparring itu, Vezda sangat senang bisa melihat keakraban dari Carlos dan Ailas. Pertarungan yang hebat, teknik dan gerakan yang indah, dan suasana alam yang mendukung. Semuanya menjadi sebuah memori untuk mereka.
__ADS_1
****
“Aku ingin semua pengawal pergi dari sini! Percakapan ini tidak ada yang boleh mendengarnya!” Ailas menyuruh semua Elf yang ada di ruangan tahta itu untuk pergi dan tidak ada yang boleh mendengar percakapan mereka berdua.
“Apa kabar, Ailas?” Vezda berkata setelah tahu tidak ada siapapun lagi selain Ailas di depannya dengan pakaian kerajaan Elf dan Mahkotanya.
“Membosankan. Aku minta maaf kalau aku harus menyuruh mereka kasar kepadamu karena itulah cara paling efektif agar tidak ada yang curiga.” Ailas berkata dan melepas mengikat dari lengan dan kaki Vezda.
“Aku minta maaf kalau aku harus datang langsung kemari, tapi aku ingin memberitahumu kalau aku akan menuju Kota Femi.” Vezda berkata hal itu dan terkejut karena sebelumnya Ailas tahu bahwa Vezda aktif sebagai petualang di Kota Araga.
“Apa yang terjadi di Kota Araga?” Ailas bertanya kepada Vezda.
Vezda menjelaskan semua hal yang terjadi di Kota Araga dan apa yang dialaminya sekarang dan tujuannya sekarang. Hal itu mengejutkan Ailas dan Ailas terlihat cukup marah setelah diceritakan apa yang terjadi di Kota Araga. Vezda juga menceritakan banyak hal yang mengenai memori mereka tentang perang dan semacamnya di masa lalu semasa dii Araga dan pertemuannya dengan Archon lain. Tentunya Ailas juga memberitahu apa yang ingin dicapai di Kerajaan Elf.
“Carlos juga tidak ada mengirim surat kepadaku sejak 3 tahun terakhir. Apakah kau ada menerima surat?” Vezda bertanya kepada Ailas.
“Tidak. Aku juga tidak menerima apapun.” Jawab Ailas.
“Sepertinya dia memang sudah meninggal.” Vezda berkata dan menghela nafas.
“Dia bilang mau mencari putriku dan menikahinya di sana, tapi dia malah mati.” Ada amarah dan kesedihan dalam suara Ailas.
“Ada baiknya mungkin aku juga mencari putrimu nanti di sana untuk memberikan pesanmu. Aku tahu kamu merindukannya bukan?” Tanya Vezda.
“Iya, tapi aku yakin dia tidak akan bermasalah. Sampaikan saja salamku padanya jika bertemu. Tapi, aku tidak akan memberitahu siapa dan bagaimana penampilan putriku.” Perkataan Ailas itu membuat Vezda sedikit bingung.
“Maaf?” Vezda bertanya karena dia takut kalau dia salah mendengar.
“Iya itu agar kamu punya perjuangan mencari dia dan kalau kamu mau menikahi putri ku juga aku tidak keberatan. Hanya, aku sangat ingin siapapun yang menikahi putriku bisa melihatku dan aku bisa melihat mereka mungkin untuk terakhir kalinya.” Sebagian dari perkataan Ailas itu mengejutkan Vezda tapi sisanya Vezda paham kalau Ailas sangat serius.
“Aku tidak mau berekspektasi terlalu tinggi, Ailas.” Jawab Vezda.
“Nah, Vezda waktu kita tinggal sebentar lagi. Aku sudah menyuruh semua pengawal untuk mengeluarkanmu secara kasar dari hutan. Kalau nyawamu terancam, lakukan apa yang harus kamu lakukan. Aku akan memaafkanmu.” Ailas berkata dan memberikan sebuah bungkusan dari daun dan memasukkannya ke dalam baju Vezda lalu mengikat kembali tangan Vezda.
“Aku akan mengabarimu, Ailas.” Vezda berkata sambil matanya ditutup dengan dedaunan.
“Vezda ini janjiku. Dengan segala perjuangan dan kerja kerasku, di masa depan aku akan membuat semua Elf dengan ras lain menjadi akur dan tidak ada permusuhan. Itu adalah janjiku.” Ailas berkata denga berbisik dan hal itu bisa Vezda rasakan sangat serius.
“Akan kutunggu sampai saat itu tiba. Sampai jumpa lagi, Ailas.” Vezda berkata hal tersebut sebelum pengawal Raja Ailas datang untuk membawa Vezda.
****
Aleratha tidak bisa berkata apapun setelah mendengar cerita yang lengkap dari Vezda. Bahkan Aleratha tidak habis pikir kalau ayahnya itu akan mengunjungi negeri yang jauh di Timur hanya untuk mencari apa itu esensi berpetualang. Tapi, Aleratha jauh lebih tenang mendengar kalau ayahnya bisa menerima ras lain bahkan Archon.
“I-iya?” Vezda bisa merasakan hawa yang sangat kuat itu.
“Kamu tidak menyukaiku hanya karena mengikuti Carlos dan saran dari ayahku, kan?” Pertanyaan itu keluar dari mulut Aleratha dan cukup menakuti Vezda.
“Tidak. Awalnya aku menyukaimu karena kamu cantik. Tidak lebih, tapi seiring berjalannya waktu aku mencintaimu karena setiap usaha yang kamu lakukan untuk Aliansi ini. Kamu tidak menggunakan pangkat alami dari High Elf dan Putri Mahkota. Kamu menghormati semua ras yang ada. Bahkan kamu sendiri benci kalau diperlakukan seperti seorang putri.” Vezda menjelaskan hal tersebut lagi kepada Aleratha.
“Aku tahu itu hanya sebuah bumbu. Katakan yang sebenarnya.”Aleratha memaksa Vezda, sementara Vezda tidak bisa menjawabnya.
“Karena kamu perempuan?” Vezda berkata dengan tidak yakin.
“Vezda.” Aleratha terdengar sangat menakutkan.
“Maafkan aku Aleratha. Aku tidak punya alasan logis kenapa aku mencintaimu tapi kalau secara kronologi awalnya aku menyukaimu memang karena kamu cantik.” Vezda benar-benar tidak memiliki alasan lain dan itulah yang membuat Vezda di mata Aleratha seperti sosok laki-laki yang polos.
“Ah… Baiklah, aku mengerti.” Aleratha hanya menghela nafas dan menerima semua yang dia dengar.
“Maafkan aku.” Untuk masalah ini Vezda benar-benar tidak percaya diri.
“Vezda, aku sudah pernah bilang jangan merendahkan dirimu sendiri. Itu adalah sifat yang paling aku tidak suka darimu.” Aleratha kepada Vezda.
“...”
“Aku juga mencintaimu, Vezda. Jadi, tolong jangan merendahkan dirimu sendiri.” Aleratha berkata hal tersebut dan Vezda terkejut.
“Eh?” Vezda sebenarnya tidak bisa berkata apapun saat itu.
Alerataha bilang dia juga mencintaiku? Apakah ini serius? Aku senang, tapi aku tidak bisa berkata apapun. Vezda serius tidak percaya apa yang baru saja dikatakan Aleratha.
“YEaaaaah!! Akhirnya kita bisa melihat High Elf dan Manusia membuat anak!!” Aliviah berteriak dan pintu ruangan tempat Vezda dan Aleratha terbuka dan terlihat hampir semua anggota aliansi mendengar semuanya dari awal.
“Aliviah….” Suara Aleratha jauh lebih menyeramkan dari sebelumnya.
“Eh?” Eliviah terdiam dan melihat Aleratha yang sudah naik pitam sambil tersenyum. Bukan hanya Aliviah, tapi semua anggota aliansi yang melihat Aleratha sangat ketakutan.
“The will of Heaven is strong, but yet those who are against it are stronger. Heaven, hear my voice of desperation. Lay down your domain upon the earth and may those who against you will crippled, I am Vezda. Anti-Magic Area.” Vezda menggunakan sihir yang cukup untuk menyelimuti seluruh bagian dari markas dan membuat siapapun yang berada di dalam area itu tidak bisa menggunakan sihir apapun.
“Bromner, mungkin kita kembali saja ke ruangan untuk menghitung pengeluaran kita kedepannya.” Laris berusaha utnuk tidak melihat Aleratha dan hanya fokus pada Bromner.
“Ide bagus.” Bromner sepemikiran dengan Laris.
“Eh? Maafkan aku Aliviah, aku tidak bisa menggunakan Zephyr. Vezda menggunakan anti magic area.” Samir berkata dengan polosnya dan mendekatkan Aliviah kepada Aleratha.
__ADS_1
“Terima kasih Vezda. Dengan begini tidak akan ada yang bisa menggunakan sihir. Terutama Aliviah.” Aleratha berkata tanpa melihat Vezda dan terus fokus kepada Aliviah.
“TIIIIIIIDAAAAAAAKKKKKKK!!!!!!” Teriakan itu sangat keras dan mungkin beberapa blok dari kediaman Aliviah, bisa mendengarkan teriakannya.
****
“Aliviah, aku harap kamu dapat belajar dari kesalahanmu.” Laris hanya tertawa melihat Aliviah yang sudah kelelahan karena hampir 2 jam tanpa henti tubuhnya digelitik oleh semua anggota.
“Si…Sial. Awalnya aku tertawa sisanya seperti sebuah siksaan.” Aliviah berkata karena kehabisan tenaga.
“Apapun itu, selamat untuk relasimu yang baru, Aleratha. Kami akan selalu mendukungmu.” Laris berkata dengan tenang.
“Terima kasih Laris.” Jawab Aleratha.
“Nah, karena hal trivia kita sudah selesai, bagaimana kalau kita membahas rencana ekspedisi berikutnya?” Tanya Aliviah.
“Ekspedisi sebelumnya kita membawa banyak penghasilan untuk aliansi dan kita profit hampir 500 juta platine. Bukan berarti kita bisa seenaknya menggunakan dana itu.” Bromner membacakan detil dari hasil ekspedisi sebelumnya.
“Kalau begitu kita sudah siap untuk melakukan ekspedisi berikutnya.” Laris berkata dan semuanya mulai serius dalam berdiskusi.
****
Setelah berdiskusi, mereka semua berpisah dan Aleratha bersama dengan Aliviah menuju ke Kota untuk berbelanja kebutuhan yang umum sebagai perlengkapan untuk ekspedisi berikutnya. Sementara itu, Bromner menuju beberapa tempat pembuat pedang sihir yang relatif murah untuk membuat pesanan khusus. Terakhir Laris, mengurus dokumen di markas sebagai bagiannya dan persiapan untuk menghadap ke Archon Thalia sebagai bentuk kerja sama ekspedisi.
“Nah, Aleratha. Tolong belikan wine buatan Dolcetto.” Aliviah seperti anak kecil yang meminta dibelikan sesuatu.
“Kita kemari untuk belanja perbekalan kita. Bukan untuk membeli alkohol, Aliviah.” Aleratha berkata sambil melihat beberapa barang yang lain.
“Nyonya Aleratha?” Seorang perempuan setengah Elf muncul dari balik rak dan memanggil Aleratha.
“Kamu Ava, kan?” Alertha bertanya saat melihat sosok Elf dengan mata yang hijau, namun rambutnya coklat gelap seperti manusia dan telinganya tidak selancip elf pada umumnya.
“Iya betul, Nyonya.” Jawab Ava dengans angat sopan di hadapan Aleratha.
“Eh, ternyata ini anak dari Eva ya.” Aliviah memperhatikan Ava dengan seksama.
“Archon Aliviah. Sebuah kehormatan juga bisa bertemu denganmu.” Ava menundukkan kepalanya untuk menghormati Aliviah.
“Ava, tidak perlu begitu formal denganku. Lagipula aku juga sudah banyak berhutang budi pada ibumu.” Aleratha berkata kepada Ava.
“Apakah aku boleh memanggil ‘Kak’?” Ava bertanya kepada Aleratha.
“Tentu saja. Kamu juga sudah kuanggap keluarga.” Jawab Aleratha.
“Ah, iya. Aku hampir lupa. Archon Alviah. Aku ingin bertanya mengenai Aliansi Dolcetto. Apakah Anda bisa membantuku?” Ava langsung bertanya kepada Aliviah sebelum dia lupa karena berbincang dengan Aleratha.
“Tentu saja aku akan membantumu asal aku dibelikan wine buatan Dolcetto.” Aliviah terdengar sangat senang.
“Hah……” Aleratha menghela nafas panjang.
Tentunya Aleratha memilih untuk menolong teman Elfnya bukan hanya dia adalah anak dari sahabatnya, tapi juga karena Aleratha sudah menganggapnya sebagai keluarganya meskipun Aleratha harus berakhir dengan memesan barang yang tidak seharusnya tidak dia pesan.
“Maafkan aku, Kak. Kak Aleratha jadi harus membali wine yang mahal.” Ava meminta maaf, sementara Aliviah bersorak mendapatkan minumannya.
“Tidak masalah. Kebetulan kita bertemu juga aku sangat ingin berbincang denganmu.” Aleratha tersenyum kepada Ava.
“Nah, Aliviah. Cepat jawab setiap pertanyaan Ava.” Dari yang wajahnya senang, Aleratha menjadi sangat serius kepada Aliviah.
“Singkatnya, Aliansi Dolcetto tidak menyembah Archon Dolcetto, tapi wine ini yang mereka sembah.” Aliviah berkata kepada Ava.
“Mungkin ini akan menjadi pembicaraan serius. Lebih baik kita menuju arkas saja dan berbincang di sana.” Aleratha mengajak Ava dan Aliviah untuk kembali ke kediaman Aliviah.
Semua pengikut Archon yang masuk ke dalam aliansi-Nya pasti memiliki keinginan tersendiri. Begitu juga dengan Dolcetto. Ava ingin tahu tentang banyak hal mengenai Archon Dolcetto dan juga semua yang berhubungan tentang hal tersebut karena ada yang mengganggu pikiran Ava.
“Begitulah semua tentang Dolcetto. Aku tidak tahu lebih dari situ. Semua tentang dirinya juga sangat berbeda dengan saat dia masih di Surga.” Jelas Aliviah sambil menikmati wine yang dibelikan untuknya.
“Baik. Terima kasih banyak atas semua informasinya Archon Aliviah.” Ava berterima kasih kepada Aliviah.
“Nah, karena kalian berdua akan berbincang, aku akan memperbaharui status milik Samir terlebih dulu.” Aliviah berkata kepada Ava dan Samir hanya duduk di sebelah Ava sejak awal Ava datang bertamu.
“Baik.” Jawab Samir singkat dan berdiri membukakan pintu.
“Akhirnya aku bisa melihat dan mengelus tubuh Samir.” Aliviah mulai menunjukkan wajah mesumnya.
“Akan kutebas kau.” Samir menjawab Aliviah dengan sangat dingin dan mereka berpindah ke ruangan Aliviah.
“Archon Aliviah ternyata sangat baik ya.” Ava berkata kepada Aleratha.
“Bukan hanya baik, dia juga sangat tajam dalam memhami banyak hal. Itulah alasan kami juga sangat mempercayainya dan menghormatinya.” Aleratha berkata kepada Ava.
“LEVEL 6!!!!!!” Teriakan Aliviah mengejutkan Ava dan semua yang sedang berada di markas bisa mendengarnya.
Dangan ini, level 6 yang berada di Aliansi Aliviah bertambah 1 orang dan kekuatan Aliansi Aliviah kembali meningkat dengan jarak waktu yang singkat setelah Vezda naik ke level 5. Strategi dan kemampuan baru pasti bisa dipraktekan lagi. Vezda sendiri senang mendengar hal itu, tapi saat dia memikirkan pajak atau semacamnya itu membuat dirinya sedikit khawatir pada teman-temannya dan juga Aliviah.
***
__ADS_1