
Keesokan harinya,
"Aahh!! Sudah pagi ya?" Ucap haruko sambil bangun dari tempat tidurnya, kemudian berjalan menuju arah kamar mandinya. Menarik handuknya dan kemudian mandi dan bersiap untuk berangkat ke sekolah.
Pagi ini ia bangun lebih awal agar dirinya tidak terlambat masuk seperti hari sebelumnya. Ia bangun tepat jam lima pagi. Setelah mandi dan bersiap ia pun segera turun dari dalam kamarnya yang berada di lantai dua. Ia berjalan menuju ruang makan rumahnya.
"Pagi non!" Ucap asisten rumah tangganya menyapa haruko.
"Pagi bi!"
"Wah, seperti nya nona lebih bersemangat hari ini!"
"Iya hari ini aku tidak ingin terlambat lagi seperti kemarin, aku tak ingin di hukum lagi!"
"Begitu ya, ya sudah kalau begitu nona duduk sebentar, bibi akan segera siapkan makanannya"
"Baiklah! Terima kasih bi!"
"Iya!". Ucap asisten rumah tangganya haruko yang kemudian berjalan pergi dan menyiapkan beberapa makanan dan minuman untuk sarapan. Setelah selesai sarapan haruko segera berpamitan pada asisten rumah tangga nya dan kemudian pergi ke sekolah dengan pak Alan supirnya yang tak lain adalah suami dari Bu Alice asisten rumah tangga nya.
"Baiklah kalau begitu aku berangkat dulu ya bi!"
"Ya non! Hati-hati di jalan!"
"Ya!"
Haruko berjalan keluar dari rumahnya dan kemudian bersiap masuk ke dalam mobilnya
"Nona sudah siap?"
"Sudah! Ayo pak kita berangkat, aku tidak ingin kita terlambat lagi seperti kemarin!"
"Baiklah ayo non!" Ucap pak Alan seraya membuka pintu mobil untuk haruko. Kemudian pak alan masuk dan mulai menyetir. Perlahan mobil yang di timpangi mereka beranjak dari tempatnya berada saat ini, kemudian melaju menuju sekolahnya haruko. Saat di perjalanan haruko hanya duduk manis sambil memainkan ponselnya. Tak ada sepatah kata pun yang telontar dari bibir masing-masing, hanya ada keheningan. Namun kemudian haruko memutuskan untuk memecah keheningan itu dengan sebuah obrolan.
"Pak!"
"Ya non?"
"Jadi berapa biaya yang harus ku bayar untuk memperbaiki mobil Kemarin?"
"Cukup besar non! Nanti saja bapak berikan list apa saja yang di beli saat perbaikan!"
"Baiklah! Nanti aku tunggu ya pak!"
"Ya!"
"Oh iya pak, kalau bisa nanti bapak jemput aku jangan terlalu sore!"
"Beres non! Nanti bapak pastikan bahwa bapak tidak terlambat lagi seperti kemarin, dan bapak pastikan jika bapak akan datang sebelum non suruh!"
"Baiklah!"
Mobil terus melaju, hingga akhirnya mereka pun sampai di sekolah tepat sebelum bel jam pelajaran pertama dimulai.
"Baiklah! Kalau begitu aku masuk dulu ya pak!"
"Baiklah non! Bapak juga akan pulang!"
"Ya, sudah hati-hati di jalan ya pak!"
"Ya non"
Haruko pun berjalan perlahan menuju arah area sekolah. Sedangkan mobil yang ia tumpangi tadi melaju meninggalkan tempat parkir sekolah dan kemudian pergi kembali ke rumah haruko.
"Tap…tap…tap…" haruko berjalan menuju ruang kelasnya. Sesampainya di ruang kelas ia hanya berdiri di depan pintu masuk dan mencoba mencari meja yang kosong. Tanpa ia sadari tingkahnya membuat malu dirinya sendiri karena semua teman-teman sekelasnya menatap ke arahnya. Kemudian seorang gadis berjalan menghampirinya.
"Hai!"
"Halo!" Ucap haruko canggung
"Kamu haruko kan?"
"I…iya!"
"Ayo masuk!" Ajak gadis itu
"Ti…tidak, nanti saja! Aku malu!"
"Tak usah malu! Ayo masuk biar ku kenalkan kau pada teman-teman lain!" Ucap gadis itu sambil menarik tangan haruko.
"Hey! Teman-teman kemari!" Ucap gadis itu seraya melambaikan tangan pada semua siswa yang ada di sana. Semua siswa yang ada di sana berjalan mendekat ke arah mereka dan berkumpul.
"Ada apa?" Tanya seorang siswi Secara tiba-tiba
"Ini teman sekelas kita, dia malu untuk masuk karena kemarin dia tak bisa mengikuti materi pembelajaran karena datang pingsan!"
__ADS_1
"Wah kau yang kemarin ya?"
Wajah haruko memerah karena malu mendengar ucapan teman-temannya.
"Ah! Maaf! Kami tak bermaksud menyinggung mu karena kamu datang terlambat , kami hanya salut padamu karena kamu bisa langsung dekat dan langsung akrab dengan senior kita!"
"Benar! Kau hebat! Kami sangat iri padamu"
Wajah haruko berubah, sontak ia terkejut mendengar ucapan teman-teman sekelasnya.
"Oh iya, ngomong-ngomong kamu belum punya meja kan? Bagaimana jika duduk di meja kosong sebelahku?"
"Tidak! Denganku saja!"
Semua siswa di sana saling berebut ingin satu meja dengan haruko. Kemudian tiba-tiba seorang siswa datang dan memotong pembicaraan mereka.
"Ada apa ini?" Tanya seorang pria yang tiba-tiba datang entah darimana membuat seluruh siswi yang sedang berkumpul itu terkejut.
"Wah, siapa gadis cantik ini?" Tanya pria itu sambil berjalan menghampiri haruko.
"Jangan ganggu dia!" Ucap seorang gadis berambut pendek yang berada di dekat haruko secara tiba-tiba
"Jangan menghalangiku Hikari! Aku hanya ingin berkenalan dengannya!"
"Tak usah! Jika kau berani menyentuh nya maka akan ku pukul kau!"
"Iya-iya aku tidak akan menyentuh nya, tapi setidaknya beritahu saja siapa dia? Siswa baru?"
"Kau ini! Memangnya kau siswa lama disini? Kita ini siswa baru!" Ucap hikari,
"Tap…tap…tap…" secara tiba-tiba seluruh siswa yang ada berlarian menghampiri meja masing-masing.
"Ada apa?" Semua siswa yang ada di dalam kelas bertanya pada siswa yang baru masuk.
"Pengurus OSIS tiba!" Semua siswa yang masih berdiri bergegas duduk di meja masing-masing sedangkan haruko hanya berdiri terpaku dengan kebingungan ia menoleh ke arah kanan dan kiri
"Disini! Duduk denganku!" Ucap hikari secara tiba-tiba sambil menarik haruko menuju meja yang kosong yang berada tepat di samping mejanya.
"Te…terima kasih!"
"Tidak usah berterima kasih, santai saja!"
"I…iya!"
"Oh iya, kau belum tahu namaku ya?" Ucap hikari pada haruko. Haruko hanya mengangguk padanya.
"Namaku haruko Izumi! Salam kenal!"
"Ya, salam kenal!"
Pengurus OSIS pun tiba di dalam kelas haruko. Haruko menatap satu per satu pengusaha OSIS yang tiba di kelas nya. Ia sempat terkejut ketika melihat pria menyebalkan yang kemarin bertengkar bersamanya ada di deretan jajaran para OSIS.
'ja…jadi, dia kakak kelasku?' ucap haruko dalam hati, terkejut.
Materi pembelajaran pun di mulai. Jantung haruko berdetak tak karuan ketika melihat pria yang kemarin bertengkar di tempat parkir bersamanya ada di dalam satu ruangan dengannya, ia berharap pria itu tak menyadari keberadaannya.
"Haruko! Kau kenapa?" Tanya Hikari secara tiba-tiba
"Aku, tidak apa-apa!"
"Kau yakin? Aku lihat dari tadi kau terus memperhatikan kak Satoshi!"
"Hah? Siapa?"
"Kak Satoshi! Itu yang itu!" Ucap hikari sambil menunjuk ke arah pria yang kemarin bertengkar dengannya di tempat parkir.
"Kau kenal dengannya Hikari?"
"Tidak, tetapi dia adalah salah satu siswa terkenal dan terpopuler di sekolah ini! Itu alasanku mengapa aku masuk SMA ini, karena SMA ini terkenal dengan siswa-siswa nya yang tampan!" Ucap hikari sambil tersenyum. Seketika haruko menelan ludahnya sendiri, ia semakin takut jika Satoshi pria yang bertengkar dengannya kemarin menyadari keberadaannya maka ia akan mendapatkan sebuah masalah besar.
Haruko pun mencoba mengalihkan perhatiannya dan mencoba agar dirinya tak terlalu menonjol. Ia mencoba menyibukkan dirinya agar dirinya tak di sadari keberadaannya tetapi tanpa ia sadari usahanya itu malah menarik perhatian semua OSIS yang ada di sana.
"Tap…tap…tap…" tiba-tiba Satoshi berjalan menghampiri meja yang di tempati haruko.
"Arrgghh!! Haruko lihat!! Kak Satoshi, ia berjalan menghampiri meja kita!" Ucap hikari kegirangan, sedangkan haruko hanya berfokus dengan kesibukannya. Ia sedang asyik mengerjakan sebuah soal pembelajaran yang di berikan oleh OSIS.
Secara tak sengaja penghapus terjatuh dari mejanya, haruko mencoba meraihnya tetapi saat ia hendak meraihnya ia secara tak sengaja bersentuhan dengan tangan orang lain. Perlahan haruko menoleh ke arah wajah orang yang mengambil penghapus nya tersebut, seketika ia terkejut ketika melihat orang yang mengambil penghapus nya itu ternyata Satoshi pria yang selalu bertengkar dengannya saat mereka saling bertemu satu sama lain.
Mata mereka bertatapan satu sama lain, jantung haruko berdetak begitu kencang. Rasanya sama seperti saat mereka bertatapan untuk yang pertama kalinya di gerbang sekolah.
'gadis ini, jika di lihat dari dekat cantik juga ya!' ucap Satoshi dalam hatinya.
'pria ini, walau menyebalkan, ternyata jika dilihat dari dekat tampan juga!' ucap haruko dalam hatinya sambil terus menatap mata Satoshi.
"Ehem!" Salah satu OSIS mendeham membuat haruko dan Satoshi terkejut dan panik.
__ADS_1
"Ah! Maa…maaf!" Ucap haruko sambil melepaskan sentuhan tangannya dari tangan Satoshi.
Satoshi kemudian berdiri dengan memegang penghapus milik haruko di tangannya.
"Ini penghapus mu kan?"
"I…iya kak!" Ucap haruko
"Akan ku berikan penghapus mu ini jika kau mau memperkenalkan dirimu terlebih dahulu di depan kelas!"
"A…apa?" Haruko terkejut.
"Tunggu apa lagi? Silahkan berdiri di depan kelas dan segera perkenalkan dirimu!"
"Ta…tapi kak!"
"Ayo cepat! Jika tidak tak kan ku berikan penghapus milikmu ini!" Ucap Satoshi.
'pria ini! Tak hanya di luar sekolah tetapi di dalam sekolah ia juga sangat menyebalkan!' ucap haruko dalam hati.
"Ayo! Ayo! Ayo! Kau pasti bisa haruko! Kau harus berani!" Ucap hikari secara tiba-tiba. Kemudian seisi kelas berteriak menyemangati haruko untuk berjalan ke depan kelas untuk memperkenalkan diri. Karena tak punya pilihan lain, haruko pun berjalan perlahan menuju ke depan kelas.
"Baik diam semuanya! Kita dengarkan gadis manis ini untuk berbicara!" Ucap Satoshi. "Silahkan mulai!" Sambungnya.
Dengan malu dan grogi haruko pun memulai perkenalkan nya.
"Ehem! Halo semuanya!" Ucap haruko memulai perkenalkan nya
"Perkenalkan namaku Haruko Izumi, usia lima belas tahun, lahir di Tokyo pada tanggal lima Mei dua ribu empat. Kedua orang tua ku telah meninggal dunia saat aku masih bayi. Jadi saat ini aku tinggal seorang diri di rumah bak istana milik kedua orang tua ku bersama dengan asisten rumah tangga dan supir yang telah merawat ku dari aku kecil hingga sebesar ini!"
"Kau di besarkan oleh supir dan asisten rumah tangga mu sendiri?" Tanya seorang OSIS
"Ya! Memangnya kenapa?"
"Apa kau tak malu mengakui hal itu?" Tanya salah satu teman sekelasnya
"Mengapa harus malu? Lagi pula derajat kita sama di hadapan tuhan! Tak ada yang di beda-beda kan hanya karena harta, tahta, jabatan, dan kasta! Mengapa harus mau untuk mengakui kenyataan? Tak ada gunanya berbohong dan mengelak dengan kenyataan. Karena sejauh apapun kau mengelak dan sebesar apapun kau berbohong jika itu kenyataannya takkan mungkin pernah bisa di ubah! Seharusnya kita bersyukur karena Tuhan masih memberikan kita hidup!" Ucap haruko dengan mantap dan bangga.
"Plok! Plok! Plok! Plok! Plok!" Tiba-tiba Hikari berdiri sambil bertepuk tangan
"Aku salut padamu haruko! Kau pemberani dan kau adalah gadis yang tegar!" Ucap hikari sambil terus bertepuk tangan, kemudian terdengar suara tepukan orang sekelas yang mengiringi tepuk tangan Hikari, semua berdiri sambil bertepuk tangan. Haruko tersenyum bangga dengan apa yang ia ucapkan.
"Bagaimana? Bolehkah aku duduk sekarang kak?"
"Baiklah! Silahkan duduk, dan ini penghapus mu!"
"Terima kasih!" Ucap haruko sambil berjalan melewati Satoshi namun kemudian kaki haruko tersandung dan hampir jatuh, untungnya Satoshi berhasil menyelamatkan haruko. Tangannya memeluk tubuh haruko dari belakang. Semua orang yang ada di sana menatap mereka dengan tajam. Seketika wajah haruko memerah. Menyadari semua orang menatap mereka, Satoshi kemudian segera melepaskan pelukannya membuat haruko terjatuh ke lantai.
"Bruk!" Haruko jatuh ke lantai dengan cukup keras
"Aduh!" Ucap haruko kesakitan.
"Ah! Maaf!" Ucap Satoshi.
"Jika tidak berniat menolongku setidaknya biarkan aku jatuh dari tadi! Jangan pakai acara menyelamatkan ku dulu!" Ucap haruko dengan kesal sambil berdiri dan berbalik arah ke arahnya.
"Kau ini bukannya berterima kasih karena aku sudah menolong mu malah marah-marah!"
"Kau bilang kau menolongku? Kau bahkan menjatuhkan ku cukup keras! Apa itu yang di sebut menolong?"
"Tanganku tak kuat menahan tubuhmu karena kau terlalu berat!"
"Apa kau bilang? Aku heran, kenapa setiap aku dekat denganmu aku selalu sial!"
"Heh! Seharusnya aku yang berbicara seperti itu, kau yang membawa sial untukku. Gara-hara kau menabrak ku kemarin aku sampai di hukum karena masuk terlambat!"
"Memangnya kau saja yang di hukum, aku juga di hukum gara-gara kau terus saja memaksaku untuk berdebat tentang hal tak penting!"
"Apa kau bilang?"
"Dan gata-gara kau juga, kemarin aku sampai pingsan dan tak bisa ikut materi pembelajaran pertamaku!"
"Kau ini selain menyebalkan ternyata cerewet juga ya!"
"Kau ini! Tadi bilang tubuhku berat, padahal tanganmu saja yang lemah dan sekarang kau bilang aku cerewet! Key ngaca! Kau sendiri yang cerewet dan sangat menyebalkan! Selain itu kau juga pembawa sial!"
Semua orang yang ada di sana menatap haruko dan Satoshi yang sedang berdebat seakan sedang melihat pasangan kekasih yang sedang marah satu sama lain. Tiba-tiba saat mereka sedang berdebat seorang OSIS datang dan menghampiri mereka berdua, memotong perdebatan mereka.
"Kalian pacaran?" Tanya OSIS itu pada mereka berdua membuat mereka terkejut.
"Heh? Apa kakak bilang? Aku pacaran dengan dia? Tidak mungkin! Pria menyebalkan seperti dia tak pantas untuk menjadi pacarku!"
"Heh! Apalagi aku! Gadis cerewet, dan menyebalkan sepertimu tak pantas menjadi pacarku!"
"Apalagi kau! Kau sangat jauh di bawah standar ku!"
__ADS_1
Lagi-lagi mereka berdebat.