
Kairo bersujud di depan Dara dan kedua tangan Kairo memegang kedua tangan Dara pelan. Di kecupnya pungungg tangan itu bersamaan.
"Kai ... Dara gak bisa. Dara gak mau Kai akan di musuhi oleh Ayah dan Bunda. Yentu mereka tidak akan pernah setuju dengan hubungan serius kita. Shifa bukan anak kamu, Kai, bukan darah daging kamu. Jadi itu semua itu mustahil. Dara lebih baik begini, tetap menjadi sahabat Kai. Lebih baik Kai bersama Rika. Rika anak yang baik dan masih perawan. Bukan dengan Dara yang sudah ...." ucapan Dara terhenti. Kairo menutup mulut Dara dengan jari telunjuknya tepat di depan bibir Dara.
"Jangan kamu ulangi kata -kata itu lagi. Aku mau berusaha meyakinkan ledua orang tua aku. Bahwa cuma kamu yang pantas mendampingi aku. Hanya Dara Kinanti yang pantas menjadi istri dari dokter Kairo Yehezkiel," ucap Kairo tegas.
"Aamiin. Semiga terwujud," ucap Dara pelan.
"Kamu mau menunggu aku kan Dara? Temani aku saat aku masih menimba ilmu seperti dulu. Aku yakin cuma kamu yang bisa memotivasi aku sampai aku sukses nanti. Bagi aku, separuh jiwa kamu sudah bersamaku dan begitu juga sebaliknya. Jadi kalau aku kehilangan kabar kamu itu saja kamu sedang mematahkan beberapa sayap di tubuhki agar aku terus merana kesakitan dan kesulitan untuk bangkit lagi. Jangan pernah lakukan itu lagi padaku. Kali ini aku akan pastikan Ayah dan Bunda mau menerima hubungan kita yang bukan lagi sekedar sahabat," tegas Kairo pada Dara.
Dara mengangguk kecil. Ia pasrah dengan jalan hidupnya kali ini. Dara tidak mau menampik jika memang Kairo adalah jodohnya di masa yang akan datang.
"Boleh minta satu hal?" tanya Dara pelan.
__ADS_1
"Apa itu Ra?" tanya Kairo pelan.
"Kamu coba terima Rika," pinta Dara kemudian.
"Kamu jangan gila, Dara!! Aku gak bisa, Ra. Tolong jangan paksa aku," ucap Kairo pelan.
"Jaga perasaan Rika. Minimal itu selama ada dia. Tolong jangan tunjukan apapun pada Rika tentang kita," titah Dara pelan.
"Kalau masalah itu. Aku akan coba," jawab Kairo pelan.
Sayup -sayup terdengar suara Shifa menangis. Sepertinya memang sudah waktunya bayi itu minum susu yang langsung dari pabriknya.
"Kai ... Shifa nangis. Aku mau susui Shifa dulu sebentar," ucap Dara pelan.
__ADS_1
"Iya Ra," jawab Kairo pelan.
Kairo melepaskan tangan Dara dan membiarkan Dara mengurus Shifa yang sedang menangis.
Dara masuk ke dalam kamar dan menghampiri box bayi yang berwarna pink.
"Hallo Shifa sayang. Ini Mama. Ekhemm pipis ya. Pantes nangis. Yuk ganti dulu yuk," ucap Dara mengajak bicara Shifa putri mungilnya.
Mendengar suara Dara yang mengajak bicara bayinya. Shifa pun langsung terdiam berhenti menangis.
Dara mengangkat Shifa dan membawanya ke kasurnya sendiri yang sudah di tataki oleh karpet dengan lapisan anti basah. Dara mengganti popok Shifa dan memberi bedak agar tidak iritasi.
Lalu, kasurnya di ganti dengan kain baru yang kering dan lebih hangat agar Shifa semakin nyaman nantinya.
__ADS_1
Dari balik dinding. Kairo menatap Dara dengan senyum lebar. Dara itu berubah drastis setelah mengandung dan melahirkan Shifa. Cara berpikirnya, cara berperilakunya makin dewasa dan bijak.
"Aku semakin kagum dengan kamu, Ra. Siapa pun kamu, seperti apapun kamu, aku lebih kenal kamu sejak awal. Itu yang membuat aku semakin hari semakin jatuh cinta kepada kamu, sahabat ku," lirih Kairo.