WANITA ISTIMEWA

WANITA ISTIMEWA
30


__ADS_3

Ketiganya duduk di salah satu sudut kampus. Ini adalah tempat favorit Dara dan Kairo. Beberapa bulan kemarin Dara selalu menemani Kairo saat ujian praktek dan lembur di kamlus untuk belajar bersama temannya menguliti tubuh manusia. Kairo belajar dengan baik dan tidak meyia -nyiakan semua tugas pendidikannya.


Dara selalu datang membawa makanan baik pagi, siang dan malam. Terkadang Kairo manja pada Dara dan minta untuk di suapi. Belum lagi kalau badan Kairo mulai meriang dan terasa pegal serta nyeri. Rasanya tangan Dara akan menjadi penyelamat Kairo dan sebagai penyemangat bagi Kairo yang terkadang mulai jenuh, lelah dan ingin menyerah.


Hanya senyum Dara yang mampu membuat hidup Kairo lebih berwarna. Hanya candaan Dara yang bisa membuat Kairo selalu tersenyum gemas melihat wajah cantik wanita istimewanya itu.


Perjuangan itu akan selalu di ingat. Perjuangan itu akan menjadi cerita dalam hubungannya mendapatkan wanita istimewanya yang bernama Dara Kinanti.


"Hasil fotonya bagus sekali," puji Dara senang. Ia menatap hasil foto polaroid yang ia sewa tadi dari tukang foto keliling yang langsung jadi di tempat.


"Iya bagus sekali. Nanti kita pasang di rumah," ucap Kairo juga merasa suka dan puas dengan hasil foto itu.


Dara menyimpan beberapa foto bersama tadi ke dalam tasnya. Kairo sibuk memangku Shifa dan mengajak anak gadisnya itu bercanda hingga tertawa terkekeh.


"Shifa sayang, Papah boleh buka kadonya gak? Papah penasaran nih. Shifa bawa apa buat Papah," pinta Kairo dengan suara lembut kepada Shifa yang terus tersenyum manis menggemaskan dengan lesung pipi terlihat di sana.


"Boleh Papah," jawab Shifa lucu.


Dengan memangku Shifa, Kairo membuka perlahan kado itu sambil melirik ke arah Dara yang terlihat serius menatap jari jemarinya merobek kertas kado dan membuka kardus di dalamnya.


"Apa ini ya? Kok Papah kayak tahu," ucap Kairo pelan.


"Apa hayo," goda Dara tertawa.


"Hemm ...." jawab Kairo saat melihat isi kado di dalamnya. Itu adalah barang yang ia inginkan sejak SMA.


"Suka gak?" tanya Dara pelan menatap lekat wajah Kairo yang terlihat menahan rasa bahagianya itu.

__ADS_1


Kairo menoleh ke arah Dara dan tersenyum lebar.


"Suka sekali. Sangat suka," ucap Kairo melebarkan senyumnya dam merangkul Dara lalu mencium pipi wanita istimewanya itu.


Bahagianya Kairo adalah bisa bersama dengan Dara dan Shifa dan kini rasa itu berlipat ganda. Sudah bahagia lulus cumlaude dan bisa ikut wisuda di periode pertama, ada Dara yang lebih memilih diirnya ketimbang Joshua dan mendapatkan hadiah jam tangan yang memang sudah tak beredar lagi.


Jam tangan itu adalah jam tangan yang sangat Kairo inginkan sejak SMA. Ia selalu bicara pada Dara akan kesukaannya pada jam tangan mewah itu. Tentu harganya sangat mahal sekali. Ia berjanji akan membelinya jika sudah menjadi dokter dan memiliki gaji sendiri.


"Syukurlah kalau suka," ucap Dara pelan.


"Suka sekali. Kamu masih ingat apa yang aku suka dan apa yang aku inginkan, sayang?" tanya Kairo pelan.


"Tentu ingat dong. Jangan kan apa yang kamu inginkan. Apa yang kamu suka pun aku tahu. Makanya aku bisa memasakkan masakan untuk kamu dan sesuai lidah kamu," ucap Dara tertawa.


"Kamu memang terbaik. Wanita istimewa aku yang paling spesial," ucap Kairo pelan dan mengeratkan pelukannya pada Dara.


"Pake telor dong, kalau spesial," ucap Dara pelan.


Hari ini memang hari spesial dan hari bahagia untuk Kairo dan Dara. Hari momentum yang sangat bersejarah setelag proses perjalanan hubungan mereka yang penuh drama dan lika liku.


Tapi sekarang keduanya bisa berbangga hati dan mensyukuri semua yang telah mereka lewati. Tidak mudah dan tidak juga sulit, karena keduanya saling memotivasi dan mendukung. Cinta dan kasih sayang mereka yang begitu tulus juga bisa di jadikan patokan dan pondasi hubungan mereka yang berawal dari persahabatan. Komunikasi, keterbukaan dan kejujuran makin membuat mereka saling mengenal lebih dalam dan mengetahui kelebihan serta kekurangan satu sama lain.


Skip ...


Beberapa hari kemudian ...


Hari ini adalah hari spesial untuk Dara dan Kairo. Karena hari ini mereka akan mengikat janji setia sebagai pasangan seumur hidup dan hanya bisa di pisahkan oleh maut.

__ADS_1


Acara hari ini hanya akad nikah saja dan di lanjutkan syukuran atas lancarnya acara pernikahan mereka.


Lalu? Restu kedua orang tua Kairo?


Ya, Ayah dan Bunda Kairo tak berkutik saat Kairolangsung meminta restu dengan membawa Dara. Kairo tetap tegas akan menikahi Dara apapun yang terjadi walaupun tanla restu kedua orang tuanya.


Mungkin, kalau ini terjadi saat Kairo masih SMA, Kairo aka tetap menuruti kedua orang tuanya. Tapi kali ini tekadnya bulat dan pilihannya tetap pada Dara.


Selama ini dan selama berada di Korea. Dara lah yang selalu membantu Kairo dalam hal apapun. Mulai dari dukungan secara moril dan materil. Apalagi di saat kedua orang tua Kairo memang sedang terpuruk dan saat iti adalah saat -saat genting Kairo untuk tetap survive menjalani pendidikan kedokterannya.


Bagi Kairo, Dara adalah segala -galanya. Wanita istimewa yang ia kenal sejak SMA. Wanita yang berbeda dan unik. Sikap dan sifatnya lain dari pada yang lain. Simpel, sederhana dan tidak banyak tuntutan serta tak mudah menyerah.


Dara sudah berada di depan kaca rias dan menatap pantulan wajah cantik dirinya yang hari ini terpancar kecantikan karena kebahagiaannya. Seharusnya hal seperti ini sudah ia alami lima tahun yang lalu tapi dulu mungkin Dara masih terlalu belia dan masih labil.


Tapi, Dara harus banyak berterima kasih kepada mantan suaminya yang telah menikahinya walau hanya satu malam saja dan itu pun dengan tujian tertentu.


"Arghh ... sudahlah. Itu masa lalu," lirih Dara tetap menamlilkan senyum terbaiknya di depan cermin.


Dara puas dengan dandanan Dara pagi ini. Tubuhnya di balut dengan kebaya putih dan kain panjang serta sanggul moderen. Riasannya pun mewah namun tak terlihat menor.


Shifa sedang bersama Kairo. Sejak pagi -pagi buta, Shifa menangis dan meminta bertemu Kairo. Untung saja rumah mereka saat ini dekat dan hanya berbeda dua rumah saja. Shifa di antar oleh pengasuhnya ke rumah Kairo.


Kairo pun beberapa kaki bercetmin dan menarik napas dalam. Degup jantungnya terus berdebar kencang. Detakan jantungnya begitu terada keras dan itu melebihi saat Kairo akan ujian sidang skripsinya atau ujian praktik kedokteran. Ini lebih parah. Padahal ia hanya menghapal satu kalimat saja tapi rasanya begitu gugup dan menakutkan.


Kairi adalah lelaki perfect. Semua yang ia lakukan harus berhasil dengan pencapaian yang sempurna dan maksimal.


Senyumnya di pagi ini pun begitu sempurna dan bahagia. Terlebih saat Kairo menatap Shifa yang sedang pulas tertidur di kasurnya dengan gaun pernikahan yang di persiapkan oleh Dara.

__ADS_1


Gadis kecil itu memang pemersatu hubungan antara Kairo dan Dara. Walaupun Shifa bukan darah daging Kairo. Kairi sangat sayang pada Shifa. Wajah da kelucuan Shifa sangat mirip dengan Dara.


Kedua orang tua Kairo pun menyukai Shifa karena kepintaran dan kejeniusan Shifa yang di turunkan dari Dara.


__ADS_2