
Langkah Kairo tegas berjalan menuju pintu keluar melewati Dara yang duduk di sofa. Sedikit pun Kairo rak menatap Dara. Ia sudah malas rasanya melirik gadis kesayangannya itu.
Mulai hari ini, Kairo beljar untuk tidak peduli pada siapa pun. Rasa sakit dan hatinya yang terluka membuat Kairo belajar untuk mencintai dirinya sendiri.
Dara menatap Kairo sendu. Ini adalah hal tepat yang harus ia pilih. Walaupun ia juga terluka dan bahkan tersiksa batinnya.
Dara pernah berjanji ingin membalas dendam pada semua laki -laki yang mendekatinya. Di beri harapan lalu ia putuskan harapan itu tepat di hari bahagianya. Sama seperti yang ia rasakan dulu.
Sakit, perih dan pedih bercampur menjadi satu. Sangat menyebalkan sekali.
Dara tetap bulat pada keputusannya.
Beberapa hari kemudian ...
Dara datang saat acara wisuda Kairo. Seharusnya ia menjadi pendamping Kairo saat toga sudah terpasang dan pita toga di pindahkan.
Dara membawa Shifa dan menggandeng putri kecilnya itu.
Beberapa hari sebelum kelulusan sidang skripsi. Ayah dan Bunda Kairo memang datang menemui Dara. Mereka meminta agar Dara menolak Kairo untuk sementara agar Kairo mau mengambil profesi spesialisnya selama beberapa tahjn ke depan.
Sempat ada perdebatan kecil antara Dara dan kedua orang tua Kairo. Pada akhirnya Dara mengalah demi karir Kairo.
Senyum Dara begitu kecut. Perih rasanya. Sudah bahagia tetapi harus menunda dan akhirnya alasannya menjadi tidak tepat dan berakhir pada diam.
Angin semilir dari tanah lapang yang luas itu membuat rambut hitam Dara yang panjang ikut menari indah di punggungnya.
Shifa juga merasakan kebahagiaan karena akan bertemu Kairo. Ia memakai gain pink lemberian Kairo saat mereka berdua quality time sendiri tanpa Dara.
Kairo sangat sayang pada Shifa. Bahkan ia sayang sejak masih terbentuk janin di perut Dara. Kasih sayangnya tak tergantikan bahkan saat Joshua datang dab meminta untuk di pertemukan dengan Shifa. Dengan tegas Dara tak memperbolehkan. Shifa pun seperti agak kurang nyaman saat Joshua datang dengan gaya arogannya.
Gaun putih dengan aksen emas di setiap tunik itu memang di persiapkan di hari bahagia Kairo ini.
"Mamah ... Papah Kai mana?" cicit Shifa dengan suara manja khas anak balita.
Ya, Shifa memang sudah terlanjur nyaman dengan Kairo. Sampai -sampai Shifa memanggil Kairo dengan sebutan Papah.
Dara menatap lembut putri kecilnya uang sudah merasa gerah dan lelah berdiri di sana.
__ADS_1
"Nanti juga keluar. Shifa kasih buket bunganya buat Papah Kai," ucap Dara pelan.
Shifa paham dengan ucapan Mama Dara dan mengangguk kecil.
Beberapa hari ini Dara memang tidak berkomunikasi sama sekali dengan Kairo. Semakin ingin di lupakan, Dara semakin rindu pada lelaki itu. Dara berharap lelaki yang telah lama menjadi sahabat dan kini ia cintai itu masih mau memaafkannya dan masih mau memberikan kesemparan pada Dara.
Acara wisuda itu sudah selesai. Semua tamu undangan sudah keluar dari gedung auditorium kampus melalui pintu depan. Sedangkan para peserta wisuda keluar melalui sayap kiri gedung besar yang mampu menampung sepuluh ribu orang itu.
Dara menatap jelas ke arah gedung itu dan menggendong Shifa agar tidak hilang di keramaian orang.
Dari kejauhan Dara melihat sosok Ayah dan Bunda Kairo serta satu orang lagi. Seorang perempuan yang juga menggendong balita yang usianya lebih muda dari Shifa.
"Rika?" ucap Dara dengan suara lirih.
Dara menatap jelas fokus pada perempuan itu. Apakah benar itu Rika atau bukan.
Pandangan matanya beralih pada sosok Kairo yang tersenyum bahagia sambil tertawa saat keluar dari pintu sayap kiri bersama teman -teman lainnya
Dara berjalan mendekati gedung bagian sayap kiri menuju tangga yang pasti akan di lewati oleh Kairo.
Benar saja, Kairo sudah turun dari lantai dua setelah selesai berfoto dengan semua teman -teman satu angkatannya yang lulus di periode pertama.
"Papah Kai!!" teriak Shifa keras dan berlari menghampiri Kairo.
Kairo berhenti menuruni anak tangga dan menunggu Shifa, gadis kecil yang sudah di anggap sebagai putrinya sendiri.
"Shifa!!" jawab Kairo dengan suara keras. Kedua tangannya di rentangkan lebar agar bisa memeluk gadis kecil itu.
Sekilas Kairo melirik ke arah Dara yang terlihat cantik sekali dengan bando berwaran emas dan rambut tergerai indah melewati bahunya.
Shifa sudah berhasil di tangkap dan masuk ke dalam dekapan Kairo. Kairo menciumi pipi gembil Shifa dengan penuh kasih sayang dan gemas.
"Bawa apa ini?" tanya Kairo pelan saat Shifa menyodorkan satu buket bunga dan satu kado kecil untuk Papa Kairo.
"Ini hadiah buat Papah," jawab Shifa lucu dan tersenyum menggemaskan.
"Terima kasih sayang. Boleh Papah buka?" tanya Kairo lembut sambil menerima kadi dari Shifa dan menggendong gadis kecil itu menuruni anak tangga untuk menghampiri Dara.
__ADS_1
Langkah kaki Kairo terhenti saat kakinya sudah berhenti di lantai paling dasar. Tatapannya lekat ke arah Dara dan tersenyum sangat manis.
"Kamu datang Dara?" tanya Kairo tak percaya menatap Dara.
Dara mengangguk kecil dan tersenyum menatap Kairo.
"Aku datang untuk melihat kebahagiaan kamu, Kai," ucap Dara lirih. Dara merasa menyesal sekali telah membuat Kairo selalu kecewa dan kesal pada Dara.
"Ku pikir hari ini jadi hari bahagia kamu di pelaminan?" ucap Kai pelan menatap lekat ke arah Dara.
Dara hanya mengulum senyum dan memegang Shifa.
"Pilihan ku hanya satu bukan? Datang ke sana atau datang ke sini," ucap Dara lantang.
"Itu tandanya? Kita bisa bersama Dara?" tanya Kairo penuh semangat.
"Apa masih ada kesempatan untuk wanita seperti aku, Kai?" tanya Dara lirih.
"Selalu ada kesempatan untuk kamu, Dara. Hati ku sudah di lenuhi nama kamu dan hanya ada nama kamu. Cintaku pun sudah bulat dan utuh untuk kamu, Dara. Sampai aku tak mampu lagi berpaling. Bahkan untuk meliruk wanita lain pun semua wajahnya sama. Hanya ada wajah kamu," ucap Kairo jujur. Ia kembali mencium pipi Shifa untuk menghilangkan rasa gugup dan malunya.
Tangan Dara menarik tangan Kairo. Lalu di kecup punggung tangan itu dnegan hormat dan sopan.
"Terima kasih Pah. Sudah mau terima aku dan Shifa dalam hidup kamu," ucap Dara lembut.
Kairo tersenyum senang melihat perlakuan Dara baru saja. Ia tak menyangka perjuangannya benar -benar di wujudkan bisa hidul bersama dengan wanita yang sangat ia cintai sejak lama.
Kairo mendekati Dara dan mengecup kening Dara dengan penuh kasih sayang.
"Aku akan segera menikahi kamu. Kalau bisa malam ini aku nikahi kamu. Apa kamu ingin pernikahan yang megah dan besar?" tanya Kairo pelan.
Dara menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Gak sayang. Aku hanya mau akad nikah biasa dan acara privat untuk keluarga dan teman -teman dekat saja. Asal SAH dan orang tahu kita sudah menikah," ucap Dara pelan.
"Ya. Akan aku wujudkan secepatnya sayang," ucap Kairo bahagia.
Masa penantian yang sudah lama ia tunggu dan akhirnya benar - benar terjadi juga.
__ADS_1
Kebahagiaan mereka pun di akhiri dengan foto bersama di lapangan luas kampus. Foto bersama, Kairo, Dara dan Shifa.