
Kairo mulai kalap dan mencengkeram bahu Dara dan dengan kasar mendorong tubuh Dara hingga terlentang di kasur.
Dara berusaha berontak dan berusaha lari dari kungkungan tubuh Kairo yang mulai terlihat sangat bernafsu dan berhasrat penuh gairah itu.
"Kairo!! Sadar kamu!! Jangan seperti ini. Inget, aku itu Dara, sahabat kamu sendiri," ucap Dara keras berusaha mempertahankan piyamanya yang hendak di buka paksa oleh Kairo.
Tangan Dara terus mencoba memukul tubuh Kairo agar bisa menjauhkan kedua tangannya agar tidak bisa membuka piyama tidurnya.
"Aku begini karena aku ingin memiliki kamu, Dara!!" teriak Kairo keras.
"Tapi gak begini caranya!! Malahan menambah masalah baru, Kai!! Kamu gak berpikir jauh, gimana kalau aku hamil!!" teriak Dara keras dengan napas memburu.
Dara lelah berusaha menggagalkan usah Kairo yang seperti ingin memperkosanya itu.
Kairo menatap tajam kedua mata Dara dan mengerjap pelan. Napasnya masih memburu. Kairo berusaha menarik napasnya secara dalam dan di keluarkan secara perlahan untuk menenangkan hatinya.
Kairo beringsut turun dari ranjang milik Dara dan duduk kembali di tepi ranjang lalu mengusap wajahnya kasar dan menjambak -jambak sendiri rambutnya dengan keras dan kasar.
__ADS_1
Dara merapikan piyama tidurnya di kasur dan bangun lalu berdiri mengambil segelas air dari nakas untuk di berikan kepada Kairo.
Entah setan apa yang membuat Kairo berani melakukan hal gila seperti tadi.
"Minumlah biar kamu tenang," ucap Dara sambil menyodorkan air putih di dalam gelas.
Kairo mengangkat wajahnya dan menatap Dara lekat lalu menerima air putih iru dan di teguknya hingga habis. Rasanya begitu segar sekali.
Gelas kosong itu pun di ambil Dara dan letakkan kembali ke nakas seperti semula.
"Makasih Ra. Maaf soal tadi," ucap Kairo lirih.
"Pasti di maafkan untuk seorang sahabat terbaik. Maafin Dara juga sudah membentak dan memukul kamu tadi," ucap Dara pelan.
"Gak apa -apa. Itu pantas aku dapatkan," ucap Kairo lirih. Ia merasa bersalah sekali.
Benar kata Dara tadi. Melakukan hal gila tadi bukan menyelesaikan masalah tapi yang ada malah menambah masalah.
__ADS_1
"Kai ...."
"Ya ...."
"Kamu yakin? Mau serius sama aku?"
Kairo menganggukan kepalanya dengan cepat. Pembahasan yang cukup menarik menurut Kairo.
"Yakin sekali. Cara apa yang bisa membuat kamu yakin pada ucapan aku, Ra? Kalau perasaanku sejak dulu melebihi dari seorang sahabat. Aku bertahan menjadi sahabat kamu karena aku gak mau kehilangan kamu, Ra," ucap Kairo jujur.
Dara menarik napas dalam dan mengeluarkannya perlahan. Keputusan ini harus di ambil dengan kepala dingin bukan dengan tergesa -gesa.
"Perbaiki hubungan aku dengan Bunda Risa dan Ayah Deki lalu selesaikan kuliahmu hingga gelar dokter kamu berhasil melekat di depan nama kamu, Kai. Saat itulah aku siap untuk kamu nikahi. I'm promise," ucap Dara lantang.
Sejak dulu, Dara bukan tipe perempuan mudah berjanji dan tidak pernah berbohong. Itu juga salah satu sifat yang di sukai oleh Kairo kepada Dara.
Kairo lekat menatap Dara yang masih dengan wajah seriusnya.
__ADS_1
"Baik. Ku tunggu janjimu hingga gelar dokter itu berhasil aku gapai. Tidak ada lagi penolakan untukku!!" tegas Kairo yang pergi begitu saja keluar dari kamar Dara dan tidur di sofa ruang tengah.
Menurut Kairo ini adalah jawaban yang sangat ia harapkan. Jawaban dengan suatu kepastian walaupun harus menunggu beberapa tahun lagi. Tak masalah bagi Kairo masalah penantian. Ia sudah terbiasa menanti dan menunggu Dara. Samapai saat ini saja sudah empat tahun lamanya.