
Hari ini, Dara sudah boleh pulang bersama dengan bayi perempuan mungilnya yang di beri nama Shifa Dinanti. Tubuh Dara sudah stabil dan luka sayatan operasi itu juga mulai mengering.
Dara sudah bisa bergerak bebas dan mulai lincah melakukan aktivitas di dalam kamar secara mandiri karena Kairo tidak bisa menemani full time untuk Dara dan Shifa.
Dara menggendong Shifa dengan lembut dan penuh kasih sayang. Begitu sangat hati -hati sekali saat Dara mulai mengangkat Shifa yang mungil dan cantik dalam dekapannya untuk di gendong menggunakan kain panjang.
"Bisa? Nyaman gak?" tanya Kairo pelan membantu mengikatkan kain panjang di belakang punggung Dara.
"Sudah pas kok. Gak sakit juga, Shifanya juga anteng gak terganggu sama sekali," jawab Dara pelan.
Kairo baru saja menyelesaikan biaya administrasi rumah sakit dan menebus obat untuk Dara agar lebih pulih lagi kesehatannya. Kairo sudah siap untuk mengantarka Dara pulang ke apartemennya dan membawakan satu tas besar berisi perlengkapan Dara selama di rumah sakit.
Keberadaan Kairo benar -benar membuat Dara merasa tertolong dalam segala hal. Bukan hanya memiliki teman bicara tapi juga ada orang yang selalu sedia membantu Dara dalam situasi apapun.
Saat ini Dara sudah berada di dalam taksi online yang akan mengantarkan mereka berdua menuju apartemen Dara. Apartemen yang di tinggalkan begitu saja kurang lebih satu minggu lamanya semenjak Dara masuk rymah sakit dan harus melahirkan sebelum waktunya.
Sampai sekarang Dara belum memiliki asisten rumah tangga yang akan membantunya. Waktu itu ia sedang mencari dan menunggu kedatangan seorang pekerja yang di rekomendasika oleh Rika. Tapi, Dara belum sempat bertemu dan Dara sudah harus masuk rumah sakit.
Beberapa menit saja perjalanan dari rumah sakit menuju apartemen Dara. Akhirnya sampai juga di apartemen Dara yang sederhana.
Saat Dara turun dari taksi online sambil menggendong Shifa. Kairo pun turun dari sisi yang lain sambil membawa tas besar dan satu tangan merangkul Dara dan menuntun Dara menuju apartemen. Keduanya memang sangat serasi sekali seperti sepasang suami dan istri muda yang sedang berbahagia karena memiliki bayi.
Sepasang mata dari kejauhan melihat iri dan benci pada pasangan tersebut.
"Ada hubungan apa? Antara Dara dan Kairo sebenarnya? Kenapa mereka kemarin nampak tak saling kenal tapi hari ini mereka saljng berangkulan sudah seperti pasangan muda saja? Aneh sekali," batin Rika dari balik dinding apartemen.
__ADS_1
Hampir setiap hari Rika mendatangi apartemen Dara untuk mencari Dara karena kiosnya sudah lama tak buka. Tak hanya itu saja, Dara tiba -tiba saja seperti menghilang bagai di telan bumi. Tak ada yang tahu keberadaan wanita hamil itu dan tak ada kabar sama sekali. Ponsel Dara juga mati saat itu hingga hari ini, ponsel itu belum juga di nyalakan.
Dara masih asyik dengan mengurus bayi Shifa yang baru lahir. Sebagai Ibu muda, Dara harus banyak belajar dari pengalaman orang lain atau belajar dari banyak buku, majalah atau pun artikel mengenai cara merawat dan mengasuh anak.
Pintu kamar apartemen itu sudah terbuka dan ...
Kairo membuat sebuah kejutan kecil untuk Dara dan Shifa. Sebuah ucapan selamat dan hadirnya Shifa di dunia. Banyak balon dan hiasan lucu berwarna pink.
Dara takjub saat masuk ke dalam kamar apartemen itu. Wajahnya penuh denagn senyum bahagia dan menileh ke arah Kairo yang juga sedang menatapnya.
"Masuk lah. Masih banyak kejutan untuk kamu dan Shifa di dalam," titah Kairo kepada Dara.
Dara masuk ke dalam. Di ruang tengah itu memang sudah di hias sedemikian indahnya. Ada banyak makanan manis dan minuman kesukaan Dara.
"Wah ... kamu yang buat ini semua? Memang kita mau ada tamu? Sampai di hias begini," ucap Dara kagum.
Dara benar -benar di buat bahagia hingga terkagum -kagum dengan semua kejutan yang tak di sangkanya ini.
Dara menidurkan bayi Shifa di box bayi yang lucu. Tentu ini Kairo yang membelinya. Dara sama sekali belum menyiapkan apa -apa untuk menyongsong kelahiran Shifa, putri mungilnya itu.
Kairo juga meletakkan tas besar itu dan mengeluarkan semua isinya dan merapikan kembali. Semua peralatan mandi untuk Shifa di satukan begitu juga pakaian bayi Shifa yang belum terpakai di tumpuk kembali di keranjang yang sudah tertumpuk rapi beberapa stel apkaian untuk Shifa dan popok serat gurita.
Setelah rapi, Kairo mendekati Dara yang masih asyik menatap bayi kecilnya itu. Bayi perempuan yang prematur dan timbangannya masih sangat minim.
Kairo memegang pundak Dara. Kini keduanya sudah mulai dewasa. Perpisahan mereka juga tak genap satu tahun.
__ADS_1
"Ra ... Aku mau bicara. Kita bisa ngobrol di depan? Biar Shifa juga lebih nyaman tidurnya tanpa gangguan suara kita yang bisa menggangu nyentak yidurnya," pinta Kairo pelan.
"Boleh yuk," jawab Dara lirih.
Dara juga ingin mengucapkan banyak terima kasih atas semua bantuan Kairo. Tanpa Kairo, entah apa jadinya.
Dara sudah duduk di sofa ruang tengah dan Kairo juga ikut duduk di samping Dara. Terlihat gugup dan gelisah di wajah Kairo.
Sejak di rumah terasa lancar apa yang ingin di katakan nanti saat bertemu Dara. Kairi sudah latihan beberapa kali di depan cermin hingga seperti orang tidak waras.
Bagaimana tidak? Kairo akan beratnya dan dia sensiri yang menjawab dan seterusnya begitu hingga jawabannya sesuai dengan keinginan Kairo.
Tapi kini, saat di hadapkan benar denga Dara yang nyata. Nyali Kairo menciut. Ia seolah tidak dapat berkata -kata. Semua perbendaharaan kata yang sudah di rangkai indah pun hilang sesaat di terpa angin kencang.
"Apa? Kamu amu ngomong apa, Kai? Atau Dara duluan yang bicara ya? Boleh?" tanya Dara menginterupsi sebentar. Dari pada menunggu Kairo yang tak kunjung bicara. Lebih baik di dului oleh Dara.
"Kai ..."
"Ya ... Raa ...." Tatapan Kaito lekat pada dua bola mata sendu milik Dara. Mata yang sellalu memnacarkan kejujuran dan ketulusan. Itu yang Kairo suka dari Dara sejak awal pertemanan mereka.
"Terima kasih banyak karena sudah membantu Dara. Merawat Dara dan Shifa. Mau bersusah payah menemani Dara dan Shifa. Dara gak tahu bagaimana lagi menyampaikan rasa terima kasih Dara yang tak bisa di ungkapkan lagj dengan kata -kata," ucap Dara lirih. Ucalan itu begitu dalam dari sanubari Dara.
Dara memang sangat terbantu dengan adanya Kairo, sahabatnya itu.
"Sama -sama Dara. Ekhemm ... Aku masih mencintai kamu, Dara. Ijknkan aku menjadi Ayah Shifa dan menjadi pasangan kamu," ucap Kairo pelan dnegan tertunduk malu.
__ADS_1
Deg ...
Dara diam. Kepalanya mulai berdenyut dan berpikir matang.