
Semua sudah berkumpul di ruang tamu kediaman Dara Kinanti. Dara dan Kairo sepakat untuk melaksanakan acara akad nikah itu di rumah Dara Kinanti.
"Shifa ... Sayang bangun sayang," ucap Kairo pelan membangunkan Shifa yang sudah tertidur sangat lama sekali.
Acara sudah mau di mulai. Kairo sudah di panggil untuk turun ke bawah dan memulai lengucapan ijab kabul itu.
Kairo memegang tubuh Shifa yang begitu dingin dan kaku seperti mayat. Wajahnya begitu pucat, napasnya berat dan nadinya begitu sangat lemah.
Kairo panik sekali. Keadaan Shifa memburuk. Tanpa pikir panjang, Kairo langsung mengangkat tubuh mungil itu dalam dekapannya.
Dengan cepat Kairo menuruni anak tangga dan keluar dari rumah kontrakannya lalu mencari taksi untuk segera membawa Shifa ke rumah sakit.
Dara duduk termenung di ruang tengah. Menunggu Kairo yang juga belum menampakkan batang hidungnya. Lelaki yang mengurus pernikahannya pun menghampiri Dara.
"Kairo tidak ada di rumahnya, begitu juga denagn Shifa. Mereka pergi," ucap lelaki itu panik dan cemas. Sebenarnya ragu mau bicara seperti ini. Tapi mau gimana lagi, lelaki itu sebagai penanggung jawab acara akad nikah ini. Mau tidak mau ia harus mengungkapkan apa yang sebenarnya terjadi.
Dara melotot tak percaya dengan apa yang di ucapkan lelaki itu. Tidak mungkin Kairo pergi begitu saja di acara yang begitu ia tunggu dan sakral ini. Apalagi ia membawa Shifa. Tentu ia bukan lelaki bodoh macam itu. Ia begitu sayang dengan Shifa dan Dara. Kairo tak mungkin melakukan hal bodoh itu.
"Coba cari lagi. Mungkin ada di dalam kamar mandi atau di kamar tidur atau di dapur? Bisa jadi Shifa minta di buatkan susu atau apalah?" ucap Dara mulai cemas. Ia mulai gusar dengan ucapan lelaki itu.
"Sudah tiga kali, Dara. Masa iya saya harus mendatangi rumaj kosong itu lagi. Saya sudah masuk ke dalam dan melihat ke arah kolong temapt tidur dan hasilnya nihil. Tidak ada satu orang pun di rumah itu. Lagi pula perias itu sudah pulang terlebih dahulu srjak satu jam yang lalu karena ada orderan lainnya lagi," ucap lelaki itu menjelaskan.
"Lalu kemana? Kairo dan Shifa kemana? Apakah ada sesuatu yang buruk? Atau kenapa?" teriak Dara histeris.
Baru juga berteriak histeris. Ponsel Dara berbunyi dengan sangat keras. Dara langsung menatap ke arah ponselnya dan ia membaca bahwa sambungan telepon itu betasal dari Kairo. Dengan cepat Dara mengangkat telepon itu.
"Sayang kamu di mana?" tanya Dara dengan cepat.
"Aku di rumah sakit. Kamu bisa bawa penghulu itu kemari. Kira menikah di rumah sakit. Kunci mobil ada di laci kamar. Aku tunggu di IGD," ucap Kairo cepat. Lalu menutup telepon itu sepihak.
Kairo sengaja tidak memberi tahukan pada Dara bahwa Shifa sedang sekarat saat ini. Kairo benar -benar panik dan bingung. Ia sedang menunggu hasil lab dan menunggu Shifa do pindahkan ke ICU. Kondisinya lemah sekali. Bahkan tak sadar.
Dara menganga dan bingung jadi hanya bisa diam. Dan ponselnya terjatuh begitu saja.
__ADS_1
"Kenapa Dara? Kairo ada di mana?" tanya lelaki itu pada Dara.
"Di rumah sakit. Entah siapa yang sakit. Shifa? Anak itu baik -baik saja. Kairo terdengar panik dan bingung," ucap Dara masih bingung.
"Lalu? Siapa yang sakit?" tanya lelaki itu penasaran.
"Gak tahu. Kita di minta menyusul dan membawa penghulunya kesana. Biar bisa menikah di sana," ucap Dara pelan.
"Oke. Kita pergi sekarang," ucap lelaki itu debgan cepat.
Skip ...
Dara dan beberapa orang yang berkepentingan pun sudah sampai di rumah sakit. Memang bukan suatu kejadian yang di inginkan.
Langkah Dara begitu cepat menuju ruangan ICU. Dara kaget saat Kairo memberikan lesan singkat bahwa dirinya dan Shifa berada di ruang ICU.
Dada Dara terus bergemuruh dan berdetak keras. Jantungnya serasa mau lepas dari organ tubuhnya.
Dara menoleh ke arah Kairo yang memanggilnya tepat di depan ruang ICU.
Deg ...
Langkah Dara memelan. Jika Kairo ada di depan ruang ICU, itu tandanya Shifa yang ada di dalam. Kedua mata Dara basah begitu saja dan air matanya mulai menetes ke pipi.
"Sayang ... Itu Shifa? Kenapa?" tanya Dara pelan.
Kairo langsung memeluk Dara dengan erat. Sejak tadi Kairo menahan isak tangisnya dan sekarang pecah begitu saja saat ia melihat Dara bingung.
Dara melepaskan Kairo dan memukul keras dada lelaki itu.
"Shifa kenapa!! Jawab!! Kenapa kamu diam!! Kamu kan Papahnya!! Sejak shubuh pun, Shifa sama kamu, Mas!! Kenapa kamu diam tak menjawab!!" sentak Dara kesal.
"Sayang ... Jangan seperti ini. Aku juga gak tahu soal ini. Tiba -tiba saja? Shifa tak sadarkan diri saat tertidur," ucap Kairo lirih. Ia sendiri masih tak percaua denga kejadian pagi ini yang cukup mengagetkan.
__ADS_1
Dara melepaskan pelukan Kairo. Air matanya tetus luruh dan menatap Shifa yang sudah tergolek lemah di atas brankar. Banyak selang yang menempel pada tubuhnya.
"Kamu sakit apa Nak? Bukannya kamu selalu sehat dan ceria? Kamu gak pernah mengeluh sakit pada Mama," ucap Dara lirih sambil menyandarkan keningnya di kaca jendela bening yang tembus pandang mengarah ke dalam.
Kairo mendekati Dara dan memeluk wanita istimewa itu dari arah belakang.
"Aku gak mau kehilangan Shifa. Aku gak mau Mas," ucap Dara lirih.
Ia terus menatap Shifa.
"Aku juga gak mau Dara. Kamu tahu, betapa sayangnya aku pada Shifa. Shifa itu sudah aku anggap anakku sendiri," ucap Kairo pelan.
"Aku tahu?" ucap Dara lirih.
"Kita lanjutkan dulu akad nikahnya. Kasihan penghulunya sudah menunggu," titah Kairo pelan.
Tangan Kairo menggenggam tangan Dara. Ia ingin membawa Dara sejenka melupaka Shifa dan melanjutkan pernikahan ini.
Dara menatap tajam ke arah Kairo.
"Kamu sudah gila!! Anakku sekarat!! Shifa lagi koma!! Kamu malah mentingin kepentingan kamu sendiri!! Kamu egois!!" teriak Dara dengan suara kesal dan lantang membentak Kairo.
"Bukan begitu Dara. Kalau kita sudah bersama. Kita sama -sama mengurus Shifa. Lagi pula, kasihan penghulunya," ucap Kairo lembut. Ia maklum sekali dengan sikap Dara yang kasar dan bernada tinggi membentaknya di muka umum.
Dara memejamkan kedua matanya. Ia paham dengan perasaan Kairo. Kairo bahkan tak marah di bentak oleh Dara.
"Maaf kan Dara, Mas. Kita lanjutkan akadnya. Seharusnya Shifa melihat ini," ucap Dara lirih.
"Kamu harus yakin. Shifa pasti sembuh. Dia akan senang dan bahagia kalau kita sudah bersatu dan bisa bersama dalam satu kamar seperti yang selalu ia ucapkan selama ini," ucap Kairo berusaha menenangkan Dara.
Pernikahan itu segera di mulai. Kairo memilih masjid rumah sakit sebagai tempat bersejarah itu.
Dengan tangisan dan kesedihan mendalam. Acara itu berjalan dengan khidmat.
__ADS_1