
Satu tahun kemudian ...
Dara sudah memiliki sebuah toko kue sendiri di sebuah pusat kota besar di Korea. Dara berhasil membeli sebuah ruko dua lantai.
Lantai bawah untuk berjualan kue di bagian depan dan di bagian belakang untuk membuat kue. Sedangkan lantai dua di jadilan tempat tinggal Dara dan Shifa putri kecilnya yang kini berusia tepat satu tahun.
Dara membuat acara ulang tahun Shifa yang pertama. Ada Rika dan Kairo. Sesuai permintaan Dara. Kedua sahabatnya itu pun menjalin suatu hubungan dan sudah saling mengenalkan pada orang rtua masing -masing.
Acara malam ini sangat seru sekali. Dara hanya memanggil beberapa anak yatim piatu untuk berbagi kebahagiaan dan berbagi sedikit rejeki kepada mereka.
Hubungan Dara dan Kairo masih baik. Sesekali Kairo menelepon Dara di malam hari agar Rika tidak mengetahui.
Ada perjanjian di antara Dara dan Kairo yang tidak di ketahui orang banyak termasuk Rika dan kedua orang tuanya.
Hanya saja kedua orang tua Kairo masih belum baik seperti dulu lagi saat bertemu dengan Dara beberapa waktu lalu saat kedua orang tua Kairo main ke korea.
Malam itu, Kairo dan Rika berpamitan untuk pulang.
"Kita pulang dulu ya?" ucap Rika sambil mencium pipi Dara.
"Aku pulang Ra," pamit Kairo pada Dara.
Dara mengangguk kecil.
"Hati -hati kalian berdua," ucap Dara pelan.
Shifa semakin pintar dan lincah. Apalagi sekarang sudah bksa berjalan. Dara sedikit kewalahan mengurus Shifa sendirian hingga ia menyewa pengasuh untuk mengurus Shifa saat Dara juga sibuk mengurus toko kuenya.
"Bi ... Shifa sudah tidur?" tanya Dara pelan.
"Sudah Bu. Saya mau ke kamar dulu," ucal Bi Ana pengasuh Shifa.
Dara masuk ke kamarnya dan menutup rapat pintu kamar itu lalu mengganti pakaiannya dengan piyama tidur yang tipis.
Dara sudah berada di tepi ranjang dan menatap ke arah luar jendela kamarnya. Terlihat kerlap kerlip lampu kota korea yang menghujani kota besar itu sehingga nampak indah.
Sudah hampir dua tahun, Dara berada di Korea. Semua waktunya ia habiskan untuk bekerja dan berusaha. Kalau saat ini, waktu Dara habis untuk mengurus toko kue yang sudah besar dan mengurus Shifa yang sudah berusia satu tahun.
Ponsel Dara berbunyi dengan sangat kencang. Ia lupa mematikan nada deringnya tadi.
"Kairo? Ada apa menelepon aku? Tumben sekali?" ucap Dara lembut.
Dara menekan tombol hijau dan menyambungkan ponsel itu kepada Kairo.
"Ra ... Lagi apa? Shifa lagi apa?" tanya Kairo lembut.
__ADS_1
"Mau tidur aku, Kai. Shifa juga sudah pulas sejak tadi. Kamu sudah sampai?" tanya Dara pelan.
Tak ada sahutan dari Kairo. Sepertinya Kairo diam dan tak menjawab. Atau mungkin sedang menagmbil sesuatu makanya tidak fokus.
"Kai ..." panggil Dara pelan.
"Aku di depan ruko," ucap Kairo pelan sekali.
Suara derasnya hujan lebih dominan terdengar di telinga Dara. Memang semenjak Rika dan Kairo berpamitan pulang, hujan turun sangat lebat sekali.
Dengan cepat Dara mengambil handuk kering dan membuka kan pintu ruko.
"Masuk Kai," titah Dara cepat dan menutup kembali pintu ruko dengan rapat au menguncinya.
Kairo masuk ke dalam melepaskan alas kakinya dan ...
Dara menghanduki lelaki itu dengan pelan. Kai menatap Dara sendu. Sahabatnya itu selalu memberika yang terbaik untuk Kairo. Berbeda dengan Rika yang manja dan selalu ingin menang sendiri. Rika selalu menuntut Kairo, baik waktu, tenaga dan uang juga.
"Kamu dari mana sih? Sampai basah begini," ucap Dara pelan.
Dara membawa Kairo masuk ke dalam dan mengambilkan pakaian kering dan baru untuk Kairo.
"Ini ganti di kamar mandi kamarku. Kamar mandi itu rusak," ucap Dara pelan.
Kairo menurut dan mengganti pakaiannya. Itu pakaiannya Kairo dulu yang masih tertinggal di rumah Dara. Kairo dulu suka menginap untuk menemani Dara. Mungkin ada bebetapa pakaian yang masih ada di lemari pakaian milik Dara. Memang sengaja di simpan. Jika suatu hari butuh ada gantinya seperti sekarang ini.
Kairo menutup kamar Dara rapat. Ia tidak enak bila di lihat oleh pengasuh Shifa.
"Ra ... " Kairo ikut duduk di samping Dara.
"Ya ... Apa?" tanya Dara pelan.
"Kapan kita nikah? Jangan bilang, kamu lupa sama janji kamu sendiri," ucap Kairo pelan menatal Dara.
"Hei ... Kamu sudah punya Rika!! Mau di kemanakan gadis itu nantinya? Jangan sakiti perasaan wanita, Kai. Belajar pengalaman dari masa lalu aku. Iya kalau peremluan itu kuat? Kalau gak? Dia bisa depresi dan mentalnya kena," ucap Dara sesegukan.
Dara berdiri mendekati jendela kamarnya. Jari -jarinya menyentuh kaca jendela sambil di ketuk -ketukkan dengan pelan menggunakan buku- buku jarinya.
Kairo ikut berdiri dan tegap berada di belakang Dara. Lampu kamar itu memang tak pernah di nyalakan. Dara hanya menyalakan lampu tidur saja yang terlihat remang -remang.
"Rika hamil, Ra," ucap Kai jujur.
Dara membalikkan tubuhnya dengan cepat. Lalu menatap tajam kedua mata Kairo yang terlihat sendu dan kecewa.
"Kamu sudah gila, Kai!! Kamu pernah janji tidak akan merusak wanita termasuk aku, Kai. Aku percaya!! Karena aku membuktikannya sendiri," Dara marah.
__ADS_1
"Bukan aku yang menghamili Rika, Ra. Ternyata tiga bulan ini, Rika selingkuh dengan mantannya dan sekarang hamil. Dia mengakui itu. Tapi, dia minta aku yang bertanggung jawab. Aku gak mau. Lebih baik aku menikahi kamu yang jelas -jelas aku cintai dari pada Rika," ucap Kairo tegas.
Dara mengulurkan tangannya ke pipi Kairo. Lelaki itu manja sebenarnya.
"Nikahi dia. Kasihan Kai. Kamu tahu? Aku dulu terpuruk. Mungkin kalau aku bertahan di sana. Hidupku makin hancur," ucap Dara lirih.
"Aku gak bisa Ra. Aku sama sekali tidak mencintai Rika," ucap Kairo menjelaskan.
"Tapi ... kedua orang tua kamu tahu soal ini Kai. Hubungan kamu sama Rika. Pasti kamu tertuduhnya," ucap Dara pelan.
"Aku gak bisa Dara!! Aku gak cinta sama Rika!! Jangan paksa aku. Dulu kamu laksa kau untuk dekat dengan Rika. Lalu sekarang aku di jebak untuk sengaja menikahi Rika karena mantannya telah menghamili Rika!! Aku maunya sama kamu. Bertahun -tahun aku nunggu kamu, Ra. Aku gak pernah dekat atau menjalin hubungan pada siapa pun kecuali Rika. Itu juga karena kamu!!" teriak Kairo kesal.
Dara langsung memeluk Kairo erat.
"Maafin Dara, Kai. Dara pikir persahabatan adalah hubungan yang sejati. Kamu terlalu baik untuk Dara, Kai," ucap Dara makin menenggelamkan kepalanya pada dada Kairo.
Kairo membalas pelukan erat Dara. Hasratnya kini bukan lagk pada seorang sahabat. Rasa cinta dan nafsunya sudah beribah menjadi ingun memiliki Dara seutuhnya sebagai kesayangannya.
Kairo memberanikan diri mencium kening Dara dengan lenuh kasih sayang dan mengusap lembut rambut pendek Dara.
"Ra ..."
Deg ...
Rasanya degub jantung Dara semakin keras berdetak. Tidak biasanya begini.
"Ya Kai," jawab Dara masuh dalam dekapan erat Kairo.
Kairo mengendurkan pelukannya dan menatap Dara yang semakin hari terlihat semakin cantik.
Kairo mendekatkan wajahnya ke wajah Dara. Ia sudah tidak peduli apa arti kata sahabat. Cintanya kepada Dara sudah tak terbendung lagi. Rasanya ingin segera menikahi perempuan itu.
Cup ...
Kairo mencium bibir mungil Dara. Rasanya bergetar semua. Ini ciuman pertama Kairo kepada wanita yaitu Dara.
Dara terdiam. Ia merasakan aliran cinta Kairo yang begitu besar pada diri Dara.
Ciuman itu ternyata bukan ciuman biasa. Kairo yang tak punya pengalaman pun mengikuti alur dari dalam sanubarinya.
Kairo mulai memegang pinggang Dara dan mengusap pelan pinggang itu ke arah atas bagin punggung dan menarik Dara kemabli dalam pelukannya.
Satu menit ....
"Arghh ... Sudah Kai ... Aku gak mau terlalu jauh," ucap Dara melepaskan ciuman itu dengan paksa.
__ADS_1
Dara sendiri juga hanya sekali di cium Joshua waktu itu dan bercjnta pun hanya sekejap. Entah rasanya bagaimna Dara pun sudah lupa. Karena yang mendominasi rasa sakit daat terenggutnya kesucian Dara.