WANITA ISTIMEWA

WANITA ISTIMEWA
32


__ADS_3

Tak memerlukan waktu lama, pengucapan ijab kabul itu akhirnya selesai juga. Walaupun agak terganggu acara pernikahan mereka. Tetapi semua bisa di atasi dengan baik. Tetap terasa khidmatnya dan akhir dari itu mereka pun SAH menjadi suami istri.


Dengan wajah sembab dan sedikit kusut karena air matanya terus di usap asal dengan punggung tangannya. Dara tetap menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri. Selesai pengucapan ijab kabul. Kairo memasangkan cincin di jari manis tangan kanannya sebagai simbol memang Dara sudah termiliki. Begitu pun juga Dara ikut memasangkan cincin kawin di jari Kairo. Bukan hanya sebagai simbol kepemilikan satu sama lain saja. Tapi juga sebagai pengikat janji antara kedua insan yang telah berjanji untuk saling menjaga sampai akhir hayat mereka.


Janji Kairo selama ini pada Dara adalah menjaga Dara selama napasnya masih berhembus. Dan selama ini sudah Kairo lakukan sebagai laki -laki dan sebagai sahabat Dara sejak SMA. Kini, janji itu lebih berat lagi. Hubungan mereka bukan hanya sebagai teman dan sahabat tapi kini sudah menjadi pasangan suami istri se -iya dan se -kata.


Dara mencium punggung tangan Kairo dengan hormat. Walaupun sesekali sesegukan menahan isak tangisnya. Kairo pun mencium kening Dara dengan lembut dan penuh kasih sayang.


Berbagai wejangan dan nasihat penghulu di ucapkan sebagai pengingat atau alarm pasnagan muda seperti Dara dan Kairo. Karena pernikahan itu sakral dan bukan permainan. Maka di dalamnya juga harus banyak pembelajaran di setiap proses perjalanan kebersamaannya.


Acara pernikahan sudah selesai. Dara bergegas kembali ke ruang ICU untuk menemani Shifa. Beberapa dokter sudah berada di dalam dan sedang memeriksa keadaan Shifa.


"Shifa .... " teriak Dara tertahan dari balik kaca jendela besar yang bening itu. Hanya lewat itu, Dara bisa melihat Shifa dan keadaan putri kecilnya.


Kairo berjalan menghampiri Dara dan berdiri di samping Dara lalu memegang bahu Dara. Memeluk istrinya dan mendekap erat memberikan kekuatan ekstra untuk Dara.


"Kamu kan dokter, Mas. Masa kamu gak tahu penyakit Shifa? Masa kamu gak bisa nyembuhin Shifa? Paling tidak kamu bisa bantu sembuhkan Shifa. Shifa anakku!!" teriak Dara emosi dan kacau.


"Shifa juga anakku!! Bukan hanya anak kamu, Dara!! Shifa sudah jadi bagian hidup aku selama ini!! Aku pasti berusaha maksimal da yang terbaik untuk Shifa. Percaya pada ku, Dara," ucap Kairo meyakinkan Dara.


Dara tak menjawab. Ia terlalu lelah menjalani kehidupannya. Baru saja ingin merengkuh kebahagiaan tapi sudah di beri ujian yang lainnya lagi.


"Dokter Kairo ...." panggil seorang dokter yang mengenal Kairo setelah keluar dark ruangan ICU itu.


Kairo menoleh ke arah dokter spesial organ dalam itu dan menghampirinya.


"Ya dokter. Ada apa? Ada hal yang harus kami ketahui tentang Shifa. Dara itu ibunya, istri saya?" ucap Kairo memperkenalkan.


"Kamu Papahnya Shifa? Bisa kita bicara berdua saja," tanya dokter itu pelan.


"Bukan Papah kandung. Kita mau bicara di mana?" ucap Kairo pelan.


Kairo pun mengikuti dokter spesialis itu berjalan menuju ruangannya. Lalu, Kairo di persulahkan duduk di depan dokter tersebut.

__ADS_1


"Ada yang mau saya bicarakan soal penyakit Shifa. Penyakit ini adalah penyakit langka sekali. Dan seribu satu orang yang mengalami infeksi ini. Penyumbatan di beberapa organ dalam sehingga tidam bisa berfungsi dengan baik lalu meninggal tiba -tiba," ucap dokter spesialis itu menjelaskan.


"Infeksi apa? Shifa selama ini baik -baik saja dan tidak pernah mengeluh sakit sedikit pun. Sampai akhirnya kejadian ini terjadi. Saya sampai takjub," ucqp Kairo cemas.


"Infeksi apa itu masih dalam pencarian. Kami kira awalnya Shifa terkena leukimia tapi ternyata bukan," ucap dokter itu pelan.


Ia juga bingung dengan penyakit Shifa. Jenis penyakit ini sama sekali tak di kenali.


"Lalu? Ada kemingkinan untuk sembuh? Atau tidak bisa di pastikan?" tanya Kairo pelan.


"Hanya keajaiban saja. Bukan tidak percaya. Tapi semuanya butuh waktu dan semuanya juga gak mudah," ucal dokter itu tidak mau memberikan janji.


"Baiklah akan saya sampaikan pada Dara terkait kesehatan Shifa," ucap Kairo bingung.


"Pelan -pelan memberitahukan kepada orang awam yang tidak paham dunia medis. Bisa -bisa mengamuk dan marah -marah gak jelas da di pikirannya kita tidak berjuang untuk Shifa," titah dokter spesial itu.


"Baiklah. Saya akan coba memberikan penngertian yang sama sekali tidak mudah ini," ucap Kairo pelan.


Kairo keluar dari ruangan dokter spesialis tersebut dan berjalan menghampiri Dara yang sudah todak ada di depan ruang ICU. Dara sudah pindah dan kini ada di dalam ruangan itu sambil memegang tangan Shifa.


Dengan cepat Kairo masuk ke dalam ruangan ICU itu dan menghampiri dua wanita istimewa untuknya. Dua wanita luar biasa yang berbeda usianya.


"Shifa? Kamu sudah sadar, sayang?" panggil Kairo cepat dan mendekati Shifa allu menciumi pipi gadis itu dengan penuh kasih sayang.


"Papah Kai ...." panggil Shifa litih.


"Iya sayang. Papah di sini. Mamah juga di sini. Shifa mau apa?" tanya Kairo lirih dan berbisik ke arah Shifa.


Kairo melirik ke arah Dara yang sejak tadi hanya diam dan menciumi tangan Shifa. Wajah Dara terlihat lega melihat Shifa sudah sadar. Air matanya sudah di hapus, agar Shifa tak melihat kesedihan Dara.


"Shifa mau lihat gunung dan juga lihat pantai. Shifa mau punya adik laki -laki yang tampan seperti Papah," ucap Shifa lirih dan terbata.


Shifa menatap lekat kedua mata Papahnya yang bingung dengan permintaan Shifa. Akhirnya Kairo mengangguk kecil.

__ADS_1


"Papah akan ajak Shifa ke gunung dan ke pantai asal Shifa sembuh sepeeti biasanya. Shifa pasti akan punya adik, tapi Papah gak bisa memastikan adik Shifa itu perempuan atau laki -laki," ucap Kairo lembut.


"Papah janji ama Shifa," cicit Shifa lembut dan manja.


"Iya sayang," jawab Kairo lembut dan memeluk Shifa.


Ia melirik ke arah Dara dan tersenyum bahagia.


Skip ...


Satu minggu kemudian ...


Shifa di nyatakan sembuh total dan tidak ada penyakit apapun di dalam tubuhnya. Semua hasil lab nya bagus dan tidam ada yang lerlu di khawatirkan.


Tubuhnya juga mulai stabil dan nampak sehat. Selama satu minggu ini, Dara tidak pulang ke rumah. Ia benar -benar menjaga Shifa selama dua puluh empat jam penuh.


Paling Kairo yang pulang pergi untuk membawa baju kotor pas pulang dan membawa baju bersih untuk ganti Dara.


Kairo sendiri mulai sibuk bekerja di sebuah rumah sakit swasta tak jauh dari rumah sakit tempat Shifa di rawat.


Siang ini, Dara sudah merapikan semua pakaian dan barang -barang ke dalam tas besar. Kairo sudah duduk dan memangku Shifa sejak tadi menunggu surat keterangan pulang dari perawat.


Besok mereka berencana pergi membawa Shifa berjalan -jalan untuk melihat gunung dan pantai sekaligus Dara dan Kairo honeymoon. Mereka sepakat untuk tidak menunda kehamilan malah kalau bisa Dara secepatnya hamil dan bisa memberikan Shifa adik sesuai keinginan Shifa.


Dara berjalan ke ranjang dan melihat Shifa yang erat memeluk Kairo dan bercanda dengan Papahnya.


"Mamah ...." panggil Shifa kepada Mamanya. Selama ini Shifa selalu dengan Mamahnya dan Papah Kai selalu sibuk bekerja. Tapi satu minggu ke depan mereka akan bersama -sama setiap hari selama dua puluh empat jam penuh.


"Jangan sakit lagi ya, sayang. Jangan bikin Mamah dan Papah khawatir. Kalau mau sesuatu bilang. Biar Mama atau Papa bisa membelikan," titah Dara pelan.


"Shifa mau baju doktet kayak Papah terus punya tas dokter buat periksa Mama," ucap Shifa pelan.


"Kamu mau? Papah belikan. Pulang dari rumah sakit, kita ke toko mainan dan beli smeua yang kamu mau. Oke?" ucap Kairo senang.

__ADS_1


Kairo senang bjsa menuruti keinginan Shifa. Shifa adalah gadis yang jarang meminta sesuatu. Jadi sekalinya meminta sesuatu. Sebisa mungkin Kairo akan menurutinya tanpa betkata tidak.


__ADS_2