WANITA ISTIMEWA

WANITA ISTIMEWA
33


__ADS_3

Seharian ini sampai malam tiba. Ketiganya berjalan -jalan untuk membahagiakan Shifa. Kairo sengaja mengajak Shifa membeli beberapa mainan kesukaan Shifa tanpa melarangnya.


Bagasi mobil penuh dengan mainan baru untuk Shifa. Mulai dari mainan dokter -dokteran hingga baju khas dokter punya di beli oleh Kairo untuk Shifa. Belum lagi sepeda roda empat dengan keranjang cantik di depannya. Mainan barbie lengkap dengan rumahnya dan mainan musik penghantar tidur dan masih banyak lagi.


Shifa sudah tertidur pulas dalam pangkuan Dara. Tubuh gadis itu di bakut selimut dan bantal penyangga agar tidak kedinginan.


Sesampai di rumah, Shifa langsung bermain dengan mainannya. Di dalam kamar Shifa sudah banyak mainan baru Shifa dan itu membuat Shifa bahagia.


"Shifa makan dulu terus minum obat," ucap Kairo mengingatkan.


"Suapin sama Papah ya," cicit Shifa manja.


Dara hanya menarik napas dalam. Ia padahal sudah membawa bubur dan siap menyuapi Shifa. Malahan ingin di suapi Papah Kairo.


"Siap bos kecil. Papah yang akan suapi Shifa sampai kenyang. Setelah ini minum obat terus tidur. Besok kita pergj pagi -pqgi. Mainannya nanti Papah bawa lagi di mobil. Kecuali sepeda ya," ucap Papah Kairo pelan.


"Iya Papah," jawab Shifa sambil bermain barbie.


Ya ... malam itu smeua nampak biasa saja. Tidak ada yang aneh dan mencurigakan. Shifa sudah makan dengan lahap dan habis lalu meminum obatnya dan tidur dengan di temani Papah Kairi.


Dara kembali ke kamar tidurnya. Membiarkan Shifa dan Kairo berdua saja. Akhir- akhir ini Shfa hanya ingin dekat dengan Papahnya saja.


Dara mengganti pakaiannya dan bercermin di depan meja rias untuk membersihkan wajahnya.


Ceklek ...


Kairo masuk ke dalam kamar tidur dan menutup lalu menguncinya. Kairo berjalan meghampiri Dara dan melepaskan alas kakinya. Ia memeluk Dara dari belakang dan meletakkan kepalanya di bahu Dara dan rasanya nyaman sekali.


"Kamu lelah Mas? Maaf ya sudah buat kamu cape ngurusin Shifa," cicit Dara sendu.


Kairo hanya berdehem pelan. Dan menciumi leher Dara dan menghigit pelan dengam gemas.


"Arghh ... Mas ...." lirih Dara mencubit tangan Kairo yang melingkar di perutnya. Pakaian Dara begitu tipis hingga lekuk tubuhnya terasa di tangan hingga kulit Kairo.


"Buat anak yuk?" pinta Kairo lirih berbisik.


"Kamu capek gak?" tanya Dara pelan.


Dara bangkit berdiri dan membalikkan tubuhnya berhadapan dengan Kairo.


Ini adalah malam pertama mereka akan tidur bersama dalam kamar yang sama dan satu tempat tidur yang sama juga.

__ADS_1


Dara membuka pakaian kemeja Kairo dan melepaskan kemeja itu lalu di lemlar ke atas meja rias. Tangan Kairo masih memegang pinggang Dara dan sesekali mencium pipi Dara. Ada rasa takut dan cemas ingin menikmati malam pertama dengan wanita yang telah lama ia cintai ini.


Kairo memberanikan diri mencium bibir Dara yang tipis. Ciuman yang penuh kelembutan karena masih ada rasa takut dan ragu.


Dara membalas ciuman itu dan mereka larut dalam ciuman yang penuh gairah. Kairo membawa Dara ke tempat tidur dan menjatuhkan istrinya di kasur. Ia bergegas membuka celana panjangnya dan pakaian dalamnya.


Dengan cepat ia menyibakkan daster tipis Dara dan membukanya. Nafsunya semakin menggila. Ia sudah menginginkan ini semua dari sejak lama.


Kairo mulai menaiki tubuh Dara dan menciumi setiap inchi tubuh istrinya itu hingga Dara juga memberikan ekspresi spontah dan leguhan yang terdengar nikmat.


"Aku sudah tidak sabar ingin melakukan ini. Aku ingin memiliki anak bersamamu Dara. Aku boleh melakukannya sekarang? Kamu siap?" tanya Kairo lembut.


Menurut Kairo melakukan hubungan badan itu harus sama -sama dalam mode yang baik. Keduanya harus melepas beban agar bisa menikmati prosesnya satu sama lain dengan baik.


"Aku siap. Lakukanlah Mas. Bukankah aku sudah milikmu seutuhnya?" ucap Dara pelan.


Dara mengalungkan tangannya ke arah leher Kairo. Mereka berciuman lagi dan Kairo bersiap memasukkan senjata berisi benih itu ke arah gua lembab mikik Dara.


"Emhh ..." lirih Dara saat senjata itu sudaj masuk ke dalam. Ada rasa enak dan nikmat di sana hingga rasanya berdenyut di sekitar mulut gua itu.


Kairo menatapa wajah Dara yang begitu menikamati. Malam ini benar -benar indah dan membuat Kairo tidak ingin menyelesaian permainan malam yang syahdu.


Suara teriakan kecil Dara dan pegangan tangan Dara di pinggang Kairo terkadang membuat Kairo ingin terus mendekam dan mempercepat gerakannya.


"Dara sayang ... Mas mau ... eungh .... arghh," teriak Kairo agak keras saat ia berhasil mengeluarkan benihnya di dalam gua untuk pertama kalinya.


Ternyata memang benar -benar nikmat dan lega sekali saat pelepasan itu berjalan lancar dan sempurna.


Dara tersenyum bahagia saat melihat Kairo bisa melepaskan semua benih itu di dalam rahimnya. Dara berharap ia segera di beri momongan lagi untuk mejadi adik Shifa.


"Eumhh terima kasih ya," ucap Kairo lemas.


"Iya Mas," jawab Dara pelan.


Kairi masih berada di atas Dara dan menciumi sleuruh wajah Dara dan berakhir pada bibir tipis Dara tang semakin membuatnya candu.


"Aku ingin istirahat sebentar. Tapi aku ingin memulainya lagi, boleh?" pinta Kairo masih penasaran


Pergulatan mesra itu sungguh menggairahkan dan membuat jantungnya terpacu serta adrenalinnya menjalar mendidih ke atas hingga ke ubun -ubun.


Kairo merebahkan tubuhnya di sebelah Dara. Ia masih dala keadaan polos dan mencoba menarik napas dalam dan mengontrol nalasnya agar lebih normal.

__ADS_1


Dara menatap Kairo dan tersenyum. Ia juga bahagia bisa mendapatkan lelaki baik seperti Kairo. Lelaki yang tak pernah marah dan selalu tulus. Dan itu hanya berlaku untuk Dara bukan untuk orang lain termasuk wanita lain. Sikao Kairo dengan wanita lain malah dingin dan cuek. Ia selalu menjaga jarak.


Merasa wajahnya sedang di tatap oleh wanita istimewanya. Kairo pun menoleh ke arah Dara.


"Kenapa? Ada yang aneh?" tanya Kaoro lembut. Tangaannya menyentuh pipi Dara.


"Gak ada yang aneh. Boleh ganti aku yang pegang kendali. Aku mau coba nakal do depan kamu, Mas," goda Dara kepada Kairo, suaminya smabil mengedipkan satu matanya.


Senyum Kairo melebar dan tmengangguk senang.


"Nakal lah untukku dan jangan untuk orang lain. Jadilah nahkoda, kita ini bersama tidak ada yang harus menonjol," ucap Kairo senang.


Dara tersenyum nakal dan mulai menaiki Kairo drngan cepat.


Kairo agak kaget juga dengan sikap Dara yang sedikit bar -bar. Tapi ia suka. Ia tahu Dara tidak seperti itu. Ini hanya terbawa arus gelora dan gairahnya yang terus menggebu.


Dara mulain menciumi bibir Kairo dan memainakn lidahnya di dalam mukut Kairo. Tangannya muali memasukkan senjata Kairo yang sudah mengeras. Sesekali Dara menghoyang dengan cepat dan kemudian berhenti memelankan goyangan pinggulnya di atas tubuh Kairo.


Kairo menikmati itu. Ia memegang dua gunung kembar yang masih ranum dengan kuncup yang mulai mengeras dan berwarna pink. Bibir Kairo di dekatkan pada dua kuncup gunung kembar itu dan di hisap lembut hingga Dara meleguh nikmat.


"Eumhh ... " hanya suara itu yang terus di dengar Kairo selama dua jam terakhir ini. Dam suara itu memang enak di dengar.


Hisapan selesai dan tidak lupa Kairo meninggalkan jejak merah kepemikikan dan gigitan penuh nafsu. Saat Dara mulai bergerak lagi di atas tubuh Kairo. Kairo memandangi tubuh Dara polos yang mukus penuh gairah. Ia memilin kuncup dua gunjng kembar itu sampai Dara merintih kegelian dan melepaskan tangan Kairo dari dua kuncup itu.


"Kenapa?" tanya Kairo pelan..


"Sakit Mas," jawab Dara pelan. Ia berhenti bergoyang dan masih dalam posisi duduk di atas Kairo.


"Sakit? Kalau di hisap sakit juga?" tanya Kairo penasaran. Ia juga tidak tahu mana yang enak untuk Dara dan mana yang membuat Dara kesakitan.


"Kalau di hisap gak sakit," pinta Dara.


Kairo paham sekarang. Ia memegang dua gunungan itu dan mukai menghisap secara bergantian. Dara mulai berhairah lagi dan menggoyang tubuhnya semakin cepat hjngga membuat Kairo pun menahan nalas ingin melepaskan sesuatu datr dalam.


Kairo tak sabar lagi. Ia langsung membalikkan tubuh Dara. Kairo langsung melakukan getakan push up. Tenaganya sudah pulih dan energinya sudah kembali dan siap menerjang gua milik Dara kembali.


"Ra ... Sayang ... eumh ...." teriak Kairo masih menahan hasratnya.


Sampai pada akhirnya Dara ikut menari di bawah tubuh Kairo dan keduanya sama -sama mengakhiri hubungan penuh gairah itu dan saling memeluk satu sama lain.


Kedua tubuh itu sudah basah karena keringat. Napas keduanya juga terengah -engah tapi puas.

__ADS_1


Berbagai pujian mereka lontarkan satu sama lain. Dan senyum keduanya lepas dan lega.


Keduanya tertidur pulas hingga pagi dengan tubuh yang saling berpelukan.


__ADS_2