
Malam harinya, di saat Reydan tertidur pulas, Zara masih tetap terjaga. Ia memejamkan matanya berusaha untuk tidur tapi tetap saja ia tidak bisa tidur. Zara mendongakkan kepalanya melihat wajah Reydan yang sudah tenang di alam mimpinya.
Pelukannya pada Reydan tidak ia lepaskan karena merasa nyaman. Entah kenapa malam ini Zara tiba tiba teringat pada ayahnya. Sudah lama ia tidak menghubungi ayahnya, ia khawatir terjadi sesuatu dengan ayahnya karena dari siang perasaannya benar benar tidak nyaman.
Akhirnya Zara memilih untuk melepaskan pelukan Reydan, ia melakukannya dengan sepelan mungkin agar suaminya tidak terbangun. Namun sayangnya Reydan tiba tiba menggeliat dan semakin mengeratkan pelukannya. Zara tersenyum kecil, ia membiarkannya sejenak menunggu Reydan tenang kembali. Setelah itu ia benar benar melepaskan pelukan itu.
Zara turun dari ranjang dan mengambil ponselnya, ia harus segera menghubungi ayahnya meskipun tau hari sudah larut malam. Ia khawatir sekali, apalagi tadi selesai shalat magrib ia menghubungi nomor ibunya tapi tidak aktif. Zara menduga pasti telah terjadi sesuatu disana.
“Aku nelfon di luar deh, kasian Mas Reydan nanti terganggu,” ucapnya dalam hati.
Zara membuka pintu kamarnya segera keluar, ia langsung menuju ruang tengah yang biasa ia gunakan untuk nonton televisi. Sambil lalu Zara mengetik sesuatu di ponselnya dan mulai menghubungi nomor ibunya kembali. Panggilannya mulai terhubung tapi tidak ada tanda tanda akan diangkat, bahkan sampai akhirnya terputus sendiri. Zara menghela nafasnya, kali ini ia mencoba menghubungi nomor ayahnya.
“Halo Nak,” panggilannya langsung dijawab oleh ayahnya.
“Halo Ayah, ayah lagi dimana sekarang?” tanyanya langsung saat mendengar suara ayahnya.
“Ayah lagi di rumah, memangnya ada apa? Kenapa kamu belum tidur Zara, ini sudah malam.”
Zara bernafas lega, setidaknya ini bukan hal buruk yang ia dengar.
“Aku gak bisa tidur, dari tadi kepikiran ayah sama Mama terus. Kalian baik baik saja kan disana, soalnya tadi aku menghubungi Mama tapi gak diangkat angkat, makanya aku khawatir,”
Tidak ada jawaban selama beberapa menit, Zara pun dengan senantiasa menunggu ayahnya berbicara. Tapi yang ia dengar hanyalah helaan napas berat dari ayahnya. Seperti ada beban berat yang sedang diterima ayahnya. Zara mencoba berpikir positif dengan berpikir ayahnya masih mengantuk karena terbangun dari tidurnya.
“Ayah tidak tau harus bicara apa sama kamu, Zara. Tapi yang jelas kalau misalnya nanti kamu sudah tau kamu harus bisa menerimanya ya nak. Ayah tidak bisa mengatakannya sekarang, ayah belum siap mengatakannya. Yang harus kamu tau sekarang adalah, ayah akan selalu bersamamu, ayah tidak akan meninggalkanmu.”
“A-ayah tolong jangan berbicara seperti itu. Dimana Mama, Zara ingin bicara. Ayah pasti diomelin sama Mama lagi kan, berikan ponselnya pada Mama yah!”
__ADS_1
Di sana Heri sedang berusaha agar tangisannya tidak terdengar oleh Zara, ia tidak mau membuat Zara kepikiran, biarlah ia nanti tau dengan sendirinya.
“Mama lagi tidur, Zara. Jangan khawatir, semuanya baik baik saja kok. Kamu istirahat ya, ayah akan segera menghubungimu lagi.”
Belum sempat Zara menjawab, Heri sudah memutuskan panggilan telfonnya. Zara hanya bisa melihat ponselnya yang menunjukkan walpapernya. Zara masih tidak tenang meskipun Ayahnya sudah mengatakan baik baik. Ia merasa ada sesuatu yang disembunyikan oleh ayahnya.
.
Heri langsung menumpahkan air matanya setelah mematikan telfonnya, bertahun tahun ia tidak pernah menangis, malam ini dia benar benar menunjukkan sisi lemahnya. Selama ini dia selalu berusaha menjadi kepala keluarga yang baik dengan menafkahi istrinya dan mendidik putrinya sampai lulus dari perguruan tinggi. Dia juga tidak pernah mengeluh tentang rumah tangganya, bertahun tahun ia hidup bersama istrinya ia selalu merasa bahagia. Mereka bahkan berjanji untuk tidak saling meninggalkan. Tapi hari ini dia ternyata menangisi perceraiannya.
.
.
.
Selesai bersiap siap Zara langsung memesan taksi untuk pergi, tapi sebelum itu Zara mengecek kondisi Reydan dulu. Reydan yang masih memejamkan matanya dengan selimut yang menutupi tubuhnya. Zara mendekatinya dan duduk di ranjangnya. Tangannya langsung menempel di kening Reydan yang masih lumayan hangat meskipun sudah ia kompres.
Reydan yang terusik dengan sentuhan Zara langsung membuka matanya, dilihatnya sang istri yang memandangnya dengan penuh kekhawatiran. “Kamu mau berangkat sekarang?” tanya Reydan dengan tiba tiba.
Zara tersenyum tipis dan membelai rambut tebal Reydan. “Aku gak tega mau ninggalin kamu, apa aku harus libur juga ya hari ini?”
Reydan berusaha bangun setelah itu ia menatap lembut pada Zara. Ia mengambil tangan istrinya dan menggenggamnya dengan erat. “Pergilah, jangan khawatir aku baik baik saja. Suamimu ini hanya sedikit pusing bukan sakit parah.”
Zara menghela nafasnya, meskipun Reydan mengatakan hal seperti itu tetap saja perasaannya sebagai seorang istri tidak tenang jika harus meninggalkan suaminya sendirian. Apalagi di rumah tidak ada siapa siapa lagi, jika ia pergi berarti suaminya harus sendirian di rumah. Lalu bagaimana jika ia membutuhkan sesuatu?
“Mas yakin gpp aku tinggalin?” Zara bertanya sekali lagi berharap Reydan akan mencegahnya dan meminta dirinya untuk menemaninya saja. Namun yang ia dengar malah tawanya yang menyebalkan.
__ADS_1
“Zara, istriku yang paling bawel. Suamimu ini baik baik saja, jadi kamu jangan khawatir okey. Sebentar lagi pasti mendingan pusingnya jadi tidak ada alasan untuk kamu tidak pergi ke toko kue,”
Zara langsung mencubit tangannya karena kesal dengan suaminya, ia khawatir suaminya malah tertawa “Mas Reydan nyebelin banget sih!,”
“Sudah sudah, sekarang udah makin siang loh sayang. Kamu harus pergi nanti kalau pelangganmu datang tapi kamu belum buka gimana?”
“Ngusir nih ceritanya?”
Reydan semakin greget karena sedari tadi Zara terus mengajaknya bercanda, daripada mereka terus berdebat lebih baik ia melakukan sesuatu yang akan membuat Zara berhenti khawatir. Zara memundurkan wajahnya saat Reydan tiba tiba menyeringai ke arahnya, baru saja ia ingin menebaknya Reydan sudah membungkamnya dengan ciuman panas. Reydan menggigit bibir Zara sedikit sebagai hukuman karena terus membuatnya gemas sedari tadi. Zara tidak mau kalah, ia mengalungkan tangannya di leher Reydan.
.
.
.
Sudah dua jam sejak Zara pergi, Reydan sudah merasa kebosanan terus rebahan di kamar. Setelah minum obat dan istirahat sebentar tadi kondisinya lumayan membaik meskipun masih sedikit pusing. Daripada ia suntuk ada di kamar terus menerus, Reydan bangun dan pindah ke ruang tengah. Ia lebih baik menonton televisi saja daripada terus tidur. Ia berjalan pelan pelan menuju ke ruang tengah. Saat tiba di ruang tengah, alangkah terkejutnya ia ketika melihat siapa yang berada disana. Reydan bahkan sampai tidak berkedip melihatnya.
Hayo penasaran kan dengan apa yang dilihat Reydan
Tunggu bab selanjutnya ya
Terima kasih udah membaca dan ngelike
__ADS_1