
Keesokan harinya, pagi pagi sekali Zara membangunkan Tari untuk sarapan pagi bersamanya. Tari yang masih mengantuk bergegas pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah selesai baru lah ia menyusul Zara ke dapur untuk membantunya memasak. Tari berjalan ke arah dapur dengan wajah yang begitu segar. Namun yang ia lihat di meja makan sudah tersedia berbagai macam jenis makanan.
Zara yang melihat Tari sudah datang langsung membalikkan tubuhnya berjalan ke arah meja makan dan membawa tiga piring di tangannya, Zara melihat Tari sekilas. “Ayo Tar, kita sarapan dulu. Kakak udah masakin makanan kesukaan kamu,”
“Kakak kok gak ngajak Tari buat masak?” tanya Tari.
Zara tersenyum tipis lalu meletakkan piringnya di atas meja.
“Kamu tidurnya pules, lagian kamu jarang nginep disini jadi hari ini spesial khusus untuk kamu. Ayo duduk dulu, kakak mau manggil ayah,”
Tari mengangguk, ia memilih untuk duduk terlebih dahulu. Sedangkan Zara pergi ke kamar Heri untuk membangunkan ayahnya. Sampai akhirnya Zara dan Heri berjalan ke arah meja makan secara bersamaan.
Dari kejauhan Heri tersenyum pada Tari yang sudah ada di meja makan.
“Selamat pagi, Tari,” sapa Heri.
“Pagi juga, om.” balas Tari.
Zara pun mengambil posisi duduk di samping Tari, ia mengambilkan makanan untuk Heri lalu Tari. Setelah itu baru ia mengambil untuk dirinya sendiri.
“Rencana kamu hari ini apa Tar?” tanya Zara sambil memotong ikan miliknya.
Tari mengunyah makanannya dulu sebelum menjawab.
“Gak ada sih kak, paling cuma mau nonton aja di rumah.”
Heri yang sedari tadi hanya diam akhirnya angkat bicara.
“Loh, memangnya Tari sudah mau pulang ya? Om kira bakal pulang besok?!” tanya Heri.
Tari menggeleng pelan seraya tersenyum kecil.
“Soalnya besok Tari harus sekolah lagi, om,” ucapnya yang dibalas dengan anggukan oleh Heri.
__ADS_1
Mereka melanjutkan sarapan pagi dengan obrolan yang hangat. Sesekali Heri menanyakan kabar mantan besannya itu pada Tari. Tari bahkan tidak canggung untuk bicara pada Heri, tidak seperti dulu di awal pernikahan Reydan dan Zara. Zara menggelengkan kepalanya ketika Heri menceritakan kenakalannya di waktu kecil pada Zara.
.
.
Setelah sarapan selesai, Zara berpamitan pada Heri untuk mengantar Tari pulang sekaligus langsung ke toko kuenya. Sebelumnya ia sudah memesan taksi online untuknya dan Tari. Setelah taksi datang Zara dan Tari pun masuk ke dalamnya.
“Kak, makasih ya. Kak Zara udah baik banget sama aku. Padahal seharusnya kak Zara tidak usah repot repot mengantarku pulang,” ucap Tari saat di dalam mobil.
“Gak usah terima kasih, kan sudah kakak bilang sampai kapan pun kamu itu adik kakak. Jadi wajar dong kalau kakak nganterin adiknya pulang. Nanti kalau kamu kenapa napa, Mas Fian pasti ngomelin kakak,” ujarnya sambil cekikikan.
Tari langsung cemberut saat diledek Zara namun itu tidak berlangsung lama, karena setelahnya Tari malah bergelayut manja di lengan Zara.
“Kapan kapan kak Zara juga nginep di rumah ya?!” ucapnya pada Zara.
“Iya, kakak pasti akan nginep disana kalau kangen sama kamu,”
Setelah beberapa menit perjalanan, taksi yang ditumpangi mereka berhenti di sebuah perumahan sederhana yang terkesan mewah. Tari segera turun dari taksi dan melambaikan tangan pada Zara sebagai salam perpisahan.
“Iya kak,” jawab Tari.
Setelah salam perpisahan itu Zara menyuruh supir taksinya untuk berbalik arah dan mengantarnya ke toko kue. Dalam perjalanan menuju ke toko kue, Zara terus melihat ke luar jendela. Udara yang segar di pagi hari dan jalanan yang macet sudah biasa ia lihat di pagi hari. Suasana pagi ini sangat menyenangkan baginya karena tidak ada hal buruk yang terjadi padanya hari ini.
Kali ini mobil taksinya melewati sebuah pasar dimana dulu ia sering pergi ke sana dengan diantar Reydan. Tatapan Zara mengarah pada pasar itu, banyak pedagang ikan dan sayuran yang saling berbincang bincang dengan pembelinya. Zara melihatnya sambil tersenyum tipis. Suasana di pasar membuatnya teringat dengan masa kecilnya yang selalu ikut ayahnya untuk belanja di pasar karena ibunya yang sedang sakit.
Senyum yang Zara perlihatkan luntur seketika saat melihat Reydan bersama ibunya di pasar. Mereka terlihat berboncengan dengan Asri yang memeluk tubuh Reydan dari belakang. Dengan cepat Zara mengalihkan pandangannya. Ia tidak mau sakit hati lagi dengan melihat mereka. Meski ia tidak memungkiri hatinya terasa sesak saat melihatnya.
Sementara itu, Asri baru saja turun dari boncengan Reydan. Hari ini ia meminta Reydan untuk mengantarnya ke pasar dan membeli bahan makanan untuk mereka yang sudah hampir habis. Reydan yang harusnya sudah pergi ke bengkel malah diminta untuk menemani mertuanya itu ke pasar. Alhasil dengan terpaksa Reydan mengantarnya.
“Kamu tunggu di sini ya. Mama mau belanja sebentar!,” ucap Asri.
“Aku mau ke bengkel, Ma. Pulangnya mama naik taksi atau ojek aja.” jawab Reydan dengan wajahnya yang datar.
__ADS_1
“Apa susahnya sih Rey cuma nunggu mama sebentar aja. Lagian bengkel mu itu kan masih ada temanmu disana. kamu tega ninggalin mama di sini?!”
Reydan mendengus, selalu saja Asri bertingkah seperti itu saat kemauannya tidak dituruti. Dengan Asri tinggal di rumahnya membuat Reydan semakin mengenal sifat sifatnya. Terkadang Reydan juga malas menanggapinya karena terlalu cerewet menurutnya.
Reydan menatap ke arah Asri sebentar, “Reydan buru buru, jadi mama pulang sendiri,”
Tanpa menoleh ke arah Asri lagi, Reydan langsung membelokkan motornya dan meninggalkan Asri yang terus berteriak memanggil namanya. Asri menghentikkan kakinya dengan kesal, hal itu membuat ia ditatap aneh oleh orang orang di sekitarnya. Asri tidak mempedulikannya, daripada ia makin dianggap aneh aneh lebih memilih masuk ke dalam pasar dan mulai belanja.
.
Reydan baru sampai di bengkelnya, di sana sudah ada Fian yang sedang memperbaiki motor. Reydan yang moodnya tidak bagus langsung masuk ke bengkelnya dan duduk begitu saja. Hal itu membuat Fian penasaran dengan apa yang terjadi. Fian meletakkan kembali alat alatnya begitu saja lalu menepuk tangannya dan menghampiri Reydan.
“Kenapa lo? Ada masalah?” tanya Fian.
Fian memang sudah mengetahui semua hal yang menimpa Reydan, ia juga tau mengenai hubungan gelap Reydan yang membuatnya harus berpisah dengan Zara.
Reydan menggeleng, “Gue cuma lagi ngerasa bosen aja, setiap hari selalu harus menuruti mama,” jawab Reydan dengan jujur dan tidak menyembunyikan apapun.
“Ya itu sih resiko lo bro,” balas Fian sambil duduk di samping Reydan.
Reydan menolehkan kepalanya, “Resiko apa?” tanyanya.
Bersambung...
Terima kasih sudah membaca
Jangan lupa tinggalin jejak
__ADS_1