
Saat Reydan akan pergi, tangan Asri langsung menariknya hingga tubuhnya terjatuh tepat di pangkuan Asri. Asri mencium bibir Reydan dengan begitu cepat. Reydan bahkan tidak bisa menolaknya. Tangan Asri juga membuka kancing baju Reydan. Sambil lalu ia memegang bagian tubuh favoritnya di Reydan.
“Sshhhh, Mama hanya ingin memiliki tubuh ini seutuhnya Rey.: bisik Asri saat melepas ciumannya.
Asri kembali melakukan aksinya berharap Reydan bisa terbuai lagi dalam permainannya. Asri memimpin permainannya sedangkan Reydan tidak bereaksi sama sekali. Biasanya ia selalu menikmati setiap tubuhnya disentuh oleh ibu mertuanya.
Namun entah kenapa hari ini Reydan seperti tidak mendapatkan hal itu dari ibu mertuanya. Pikirannya selalu tertuju pada Zara . selama beberapa hari ini Reydan selalu mengikuti Zara tanpa sepengetahuan Zara. Itulah sebabnya Reydan nekat mendatangi kampus Rizky hanya untuk menemuinya.
Reydan sudah mengetahui semuanya, bahwa diam diam Rizky sudah memulai pendekatannya pada Zara. Apalagi Reydan juga melihat kejadian di cafe itu. Dimana Rizky memberikan cincin untuk Zara. Meski Zara tidak mengetahui maksudnya tapi Reydan sebagai seorang laki laki, dia mengetahui apa maksud semua itu.
Reydan tidak suka melihat kedekatan mereka. Ia masih mempunyai rasa cemburu yang kuat dalam dirinya ketika melihat wanita yang dicintainya bersama orang lain.
Asri terus mengec*p bagian leher Reydan dengan gairahnya, lidahnya terus bermain main disana. Sampai akhirnya Asri membalikkan keadaan. Kini Reydan duduk di kursi hanya dengan menggunakan celananya saja.
Tangan Asri turun dan membuka resleting itu. Asri tersenyum saat melihat junior Reydan yang keluar dari dalam sana.
Saat Asri berdiri dan akan menyatukan tubuh mereka, Reydan malah kembali menutup resletingnya lalu pergi begitu saja meninggalkan Asri. Reydan masuk ke dalam kamarnya dengan bertelanj*ng dada. Ia tak mempedulkan Asri yang terus memanggilnya.
Asri berdecak kesal sambil menghentakkan kakinya.
“Gpp Asri, biarkan dia sendiri dulu. Lebih baik sekarang kamu harus pikirin cara agar Reydan mau menikahimu,” ucap Asri pada dirinya sendiri.
.
.
.
Sementara itu di siang hari, di toko kue Zara. Zara terlihat senang saat Tari datang ke toko kuenya. Mantan adik iparnya itu memang sangat sering mendatanginya hanya sekedar membantunya. Saat ini Zara dan Tari sibuk membuat adonan lagi. Mereka mengobrol sambil tertawa bersama.
“Kak, ini kita buat kue ulang tahun lagi kan?” tanya Tari saat sudah selesai mengaduk adonannya.
Zara mengangguk seraya melepas kaos tangan plastiknya. “Iya Tari, ini kue pesanan teman mama loh. Makanya kakak senang banget hari ini kamu datang. Jadi kamu bisa bantuin kakak deh,” guraunya sambil melihat ke arah Tari.
__ADS_1
Tari juga terkekeh, ia menatap wajah Zara dengan begitu lekat. Keningnya mengerut ketika melihat mata Zara yang terlihat seperti habis menangis. Zara yang merasa dipandangi oleh Tari langsung melihat ke arahnya.
“Ada apa Tar? Kok kamu ngelihatin kakak sampe segitunya. Ada yang salah ya di wajah kakak?!”
Tari menggeleng kuat. “Kak Zara habis nangis ya? Matanya sembab gitu. Apa lagi yang kakak tangisin sekarang?!” jawab Tari seolah bisa merasakan apa yang Zara alami tadi pagi.
“Kamu benar, Tari. Tadi pagi mama datang kesini. Dia memamerkan hubungannya dengan kakak kamu. Dia mengatakan banyak hal pada kakak.”
Tari mengangguk dan mengelus bahu Zara. “Udah kak, gak usah dipikirin lagi. Lebih baik sekarang kita lanjutin aja buat keunya,” ucap Tari mengalihkan perhatian Zara agar tidak terlalu memikirkan hal itu.
Zara mengangguk setuju. Lalu mereka berdua pergi ke belakang untuk mengambil wadah dan memasukkan adonan kuenya pada oven.
Beberapa menit kemudian kue yang sudah mereka masukkan ke dalam oven telah selesai. Zara memakai kaos tangannya dan
mengeluarkan kue. Zara menunjukkan hasil kuenya pada Tari yang begitu antusias. Tari mencium aroma kue yang dipegang Zara itu dengan wajah yang sumringah.
“Baunya enak banget kak, kak Zara benar benar hebat.” Puji Tari dan membuat Zara terkekeh.
“Kalau gitu bantu kakak hiasin kuenya, yuk.”
Saat mereka sedang asyik menghias kue. Seseorang masuk ke dalam toko kue Zara dan menghampiri mereka berdua. Zara yang merasakan kehadiran seseorang langsung mengangkat wajahnya. Begitu pun dengan Tari, tari mengikuti arah mata Zara yang memandangi seorang pria yang bertubuh tinggi di hadapannya itu.
Pria itu yang tak lain adalah Rizky, tersenyum pada Zara dengan membawa sesuatu di tangannya.
“Selamat siang, mbak Zara.” Sapa Rizky pada Zara.
Zara membalas senyuman Rizky. “Siang juga, Mas.” Jawabnya.
Setelah itu Rizky mengulurkan tangannya dan memberikan sebuah paper bag pada Zara. Zara menerimanya meski dengan perasaan bingung dalam dirinya.
“Apa ini, Mas?” tanyanya saat paper bag itu sudah ada di tangannya.
“Itu buat mbak, tapi dibukanya jangan sekarang yah.” Pinta Rizky sambil memandangi wajah Zara.
__ADS_1
Zara mengangguk lalu menyimpan paper bag itu di sampingnya.
“Makasih ya, Mas. Oh iya mas Rizky baru pulang dari kampus tah? Kok masih memakai almamater.” Ujar Zara sambil memperhatikan penampilan Rizky yang masih sama seperti tadi pagi. Hanya menggunakan celana hitam dan kaos putih yang dibaluti almamater.
Zara akui Rizky terlihat lebih sempurna dengan alamamer itu. Ia jadi teringat dengan Reydan yang dulu juga memakai almamater itu untuk melamarnya.
Rizky tersenyum tipis lalu mengangguk. “Baru pulang dari kampus juga sebenarnya, mbak.” Jawabnya
“Gimana mas proses wisudanya, lancar?”
“Lancar kok, mbak. Kalau misal nanti aku wisuda mbak pokoknya harus datang.”
“Kok gitu?” tanya Zara.
“Ya masa mbak lupa, aku kan mau memberi tau sesuatu pada mbak soal yang waktu itu. jadi jika mbak penasasaran mbak datang aja. Masih lama kok mbak, tiga bulan lagi.” Jawab Rizky.
Tari yang sedari tadi ada disana hanya melihat mereka dengan wajah yang cemberut. Lihatlah bagaimana dua orang itu mengobrol dengan begitu asyik sampai tidak menyadari jika di antara mereka masih ada dirinya. Tari yang sudah mulai bosan akhirnya berdeham demi menarik perhatikan mereka.
“Aduh mbak, Tari kok dikacangin ya.” ucap Tari sambil mengipasi wajahnya dengan tangannya.
Rizky dan Zara menoleh secara bersamaan.
Pandangan Rizky seketika mengarah pada Tari. Sedangkan Zara hanya menyengir pada Tari karena melupakan keberadaannya.
“Maaf Tar, kakak lupa. Oh iya Mas, kenalin ini Tari. Adik iparku.” Ujar Zara dan memperkenalkan Tari pada Rizky.
Rizky mengulurkan tangannya pada Tari. Tari melirik pada Zara yang mendapat anggukan. Lalu Tari membalas uluran tangan itu.
“Aku Tari kak,” ucap Tari dengan sedikit kikuk.
Bersambung...
Terima kasih sudah membaca
__ADS_1
Jangan lupa tinggalin jejak
Biar makin semangat