
Bab 37
“Ini beneran kak? Saya diterima gitu aja? Tidak ada syarat atau apa gitu?!: ucap Zara dengan bertubi tubi sehingga wanita itu tertawa kecil.
“Ini beneran kok, kak. Beliau setuju karena saya sudah menunjukkan foto kakak tadi. Dan mereka juga tidak hanya ingin menjadikan kakak sebagai model dress itu saja. Akan tetapi kakak juga akan menjadi model dari semua dress terbaru dari butik kami,” lanjutnya.
Zara semakin terbelalak mendengarnya. Rizky yang sedari tadi melihat ke arah Zara hanya bisa menatapnya dengan penasaran.
“Untuk berapa bulan kak?” tanya Zara lagi.
“Karena mereka tertarik dengan kakak, jadi mereka ingin mengontrak kakak dalam jangka dua tahun. Saya akan segera mengirimkan nomor manajer saya untuk kakak hubungi. Jika kakak berminat bisa langsung hubungi ya karena besok akan segera membahas masalah kontrak,”
“Baik kak terima kasih,”
Zara mematikan telfonnya dengan perasaan yang berbunga-bunga. Ini benar benar kabar baik untuknya. Rizky yang melihat Zara tersenyum ia juga ikut tersenyum. Meski rasa penasarannya sudah tinggi, akan tetapi ia tidak menanyakannya pada Zara. Rizky hanya bisa mengamati wajah Zara yang semakin manis di matanya.
Zara yang kegirangan pada akhirnya menoleh pada Rizky, ia sampai lupa jika disitu masih ada Rizky yang terus mengamatinya dari tadi.
“Maaf ya, mas. Aku terlanjur senang sampai lupa ada mas Rizky disini,” ucap Zara dengan ekspresi wajahnya yang ceria.
Rizky tersenyum dan menggelengkan kepalanya, “gpp kok, mbak. Sepertinya mbak lagi dapat kabar baik ya,” ucapnya dengan hati hati.
Zara langsung mengangguk dengan cepat, “Apa yang mas bilang memang benar kok. Kabar baik yang aku dapatin hari ini adalah aku sudah diterima secara resmi untuk jadi model dress di butik itu. tidak hanya itu mas, aku juga bahkan dikontrak dua tahun oleh mereka karena mereka tertarik denganku. Besok aku sudah harus tanda tangan kontrak sama mereka,” jawab Zara dengan ekspresi bahagia yang tidak luntur di wajahnya.
“Selamat ya, mabk. Aku ikut senang dengarnya. Emm bagaimana kalau besok aku yang antar mbak kesana? Besok aku kosong kok. Apa mbak mau?” tanya Rizky pada Zara.
Zara mengangguk, “Mau kok, mas. Terima kasih ya mas karena udah banyak membantu aku,”
“Iya mbak, sama sama.”
.
.
Hari sudah sore, Asri sedang menunggu Reydan pulang di ruang tamu, ia baru saja selesai memasak untuk makanan Reydan nanti. Pekerjaan rumah juga sudah ia selesaikan semua. Sekarang Asri hanya tinggal menunggu Reydan pulang saja. Sambil menunggu, Asri menyalakan televisi untuk menonton berita.
Berita pertama yang ia lihat adalah banjir besar di sumatera selatan, lalu berita kedua adalah penculikan anak yang banyak terjadi dimana-mana. Asri menontonnya dengan antusias, namun pada sampai di berita ketiga Asri melihat sebuah kecelakaan kereta api yang berhasil merenggut nyawa ratusan orang.
__ADS_1
“Kasihan banget mereka, keluarganya pasti bersedih mendengar berita ini,” gumamnya.
Seorang wartawan tiba tiba muncul dan memberikan keterangan mengenaik kecelakaan.
“Selamat sore, pemirsa. Bertemu lagi dengan saya Annisa kusumawati di liputan sore hari ini. Pemirsa, telah terjadi kecelakaan kereta api di daerah ******. Kereta api tersebut diduga telah menabrak beberapa rumah warga yang bermukim di area tersebut. Dalam kecelakaan tersebut sebanyak tiga ratus penumpang yang ada di kereta api mengalami luka yang berat dan beberapa diantaranya juga meninggal. Saat ini saya sedang berada di lokasi untuk mengamati kecelakaan tersebut.”
Setelah wartawan itu memberikan keterangan, layar televisi itu menunjukkan kereta apinya yang sudah hancur dan terbakar sebagian. Asri yang sibuk menonton berita itu sampai tidak menyadari motor Reydan sudah sampai di rumahnya. Reydan masuk ke dalam rumah dengan kondisi tubuhnya yang sudah lelah karena harus memperbaiki banyak motor seharian ini.
Reydan melihat Asri yang sibuk menonton televisi di ruang tengah, Reydan yang penasaran juga berjalan pelan pelan menuju ke arahnya. Matanya juga tertuju pada berita yang ditayangkan di televisi tersebut.
“Baik pemirsa, saat ini tim kepolisian sudah memeriksa area kecelakaan itu dan mereka menemukan beberapa identitas korban yang sudah meninggal di tempat. Yang pertama adalah Santoso yang berasal dari jawa barat. Kemudian yang selanjutnya adalah Heri yang berasal dari kota jakarta. Untuk korban yang satu ini ia langsung meninggal di tempat dengan kondisi wajahnya yang hancur karena pecahan dalam kereta itu sendiri,”
Saat kamera itu menunjukkan beberapa wajah korban yang meninggal, Asri dan Reydan membulatkan matanya secara bersamaan. Di layar televisi mereka menunjukkan wajah Heri yang sudah terbaring dengan wajahnya yang penuh darah.
“M-mas Heri?!” ucap Asri dengan raut wajah yang masih terkejut.
Reydan menggelengkan kepalanya, ia tak percaya dengan semua ini. Reydan diam diam melangkah kembali dan masuk ke dalam kamarnya. Ia mengambil ponselnya dan berusaha menghubungi Zara. Beberapa kali ia mencoba hasilnya tetap nihil.
“Zara, angkatlah. Aku khawatir sama kamu,” ucapnya sambil mondar mandir di kamarnya.
Reydan mencobanya sekali lagi, hasilnya masih tetap sama. Zara tidak bisa dihubungi dan nomor ponselnya pun sudah tidak aktif.
Reydan kembali melihat berita itu di ponselnya, ia terus memandangi wajah setiap korban. Jika ia teliti dengan baik maka dia pasti yakin bahwa itu adalah mertuanya. Tapi sayangnya wajah itu sudah tidak jelas bentuknya karena rusak oleh pecahan kaca yang menancap di bagian wajahnya.
“Semoga saja ini bukan papa,” batin Reydan.
Sedangkan Asri yang ada di ruang tengah, dia masih melihat tayangan berita itu. raut wajah yang baru saja terkejut sekarang sudah berganti menjadi senyuman kecil.
“Kalau benar itu kamu, mungkin itu karma buat kamu mas. Kamu sudah memperlakukanku dengan buruk waktu itu. Baguslah kalau kamu benar meninggal, setidaknya tidak akan ada penghalang lagi untukku mengganggu kehidupan Zara.”
.
.
Malam harinya
Zara terus mengecek ponselnya, ia menunggu kabar dari ayahnya namun sampai saat ini ia belum mendapat kabar apapun. Seharusnya saat ini Ayahnya sudah mengabarinya tapi kenapa ia belum mendapatkannya.
__ADS_1
“Apa ponselnya lowbat ya?” batin Zara saat ia mengirim pesan dan ternyata centang satu.
Zara menghela nafasnya, dalam hati kecilnya dia merasa khawatir karena tidak ada kabar dari ayahnya. Tapi ia tidak bisa berbuat apapun disini. Zara hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk ayahnya disana.
Zara juga sempat melihat notif panggilan tak terjawab dari Reydan, akan tetapi dia hanya membiarkannya saja. Itu adalah sesuatu yang sangat tidak penting sekali menurut Zara. Daripada Zara memikirkannya lebih baik ia tidur saja. Besok dia harus kembali ke butik langganannya untuk membahas lebih lanjut tentang pekerjaan barunya itu.
Zara beranjak dari tempat duduknya dan tak sengaja meninggalkan ponselnya disana. setelah beberapa langkah ia pergi, ponselnya tiba tiba menyala sendiri dan bergetar. Sebuah nomor yang tidak ada namanya menghubunginya. Zara tidak menyadarinya karena jaraknya sudah semakin jauh.
Drttttt
Drttttt
Drttttt
Setelah lama tidak diangkat pada akhirnya panggilan itu terputus dengan sendirinya.
.
.
.
Keesokan harinya
Zara bangun pagi pagi sekali untuk menyiapkan semuanya. Dia membuatkan dirinya sarapan terlebih dulu. Lalu ia mulai memilih pakaian terbaiknya untuk datang ke butik itu. Zara membuka lemarinya, ia memperhatikan setiap pakaiannya lalu matanya tertuju pada dress biru langit yang warnanya terlihat indah. Apalagi itu adalah dress favoritnya.
“Aku pakai yang ini aja deh,” ucapnya pada dirinya sendiri.
Zara mengambil dress itu dari dalam lemarinya lalu ia segera ke kamar mandi untuk berganti pakaian. Tidak hanya itu, kali ini Zara juga memutuskan untuk mengoleskan wajahnya dengan make up agar wajahnya terlihat bersinar saat bertemu owner butik itu nanti. Ia bercermin dan memakaikan lipstik di bibir mungilnya itu.
Bersambung
Terima kasih sudah membaca
Jangan lupa like+komentar
__ADS_1