Wanita Selingkuhan Suamiku

Wanita Selingkuhan Suamiku
Bab 35 Menerima tawaran


__ADS_3

Senyumnya semakin lebar saat merasa tampilannya sudah sempurna. Setelah selesai akhirnya Zara keluar dari ruang ganti.


“Kak, sepertinya ini cocok untuk saya.”


Wanita yang tadi membantunya langsung menolehkan kepalanya. diatampak terkesima saat melihat penampilan Zara yang jauh lebih cantik dari saat pertama datang tadi.


“Wah, kakak cantik sekali. Sepertinya kakak cocok untuk jadi model pakaian itu. lihatlah baju itu sangat pas di tubuh kakak,”


Zara terkekeh pelan saat wanita itu memujinya.


“Kakak ini ada ada saja,” ucapnya.


“Kakak mau jadi model untuk butik kami tidak?”


Zara terkejut saat mendengarnya, ia mengangkat wajahnya dan menatap wanita itu dengan penuh tanda tanya di kepalanya.


“Saya kak? Tapi kan saya disini hanya membeli baju. Kenapa kakak tiba tiba nawarin saya jadi model untuk dress ini?”


Wanita itu tersenyum lalu mengangguk, ia mengeluarkan ponselnya dari saku celananya lalu menunjukkan sesuatu pada Zara.


“Kakak bisa membacanya sendiri! Sepertinya ciri-ciri itu cocok di kakak. Jadi gimana kak? Kalau kakak mau menjadi model untuk kami akan ada banyak keuntungan untuk kakak. Salah satunya adalah kakak bisa dikontrak lebih lama lagi jika penjualan dress meningkat. Selain itu kakak juga akan mendapat fasilitas make up dan pakaian dari butik kami,” jelas wanita itu dengan panjang lebar.


Zara yang awalnya tidak tertarik langsung antusias saat mendengar penawaran dan keuntungan dari butik itu. Kalau ia pikir, tidak ada salahnya jika ia harus menerima tawarn ini. Zara yakin dengan ini bisa mendapatkan hasil yang lebih banyak daripada membuka toko kuenya tersebut.


“Oke deh, kak. Kalau gitu saya terima. Dan say mau untuk jadi model di butik ini,” jawab Zara tanpa ragu.


“Baik,kak. Kalau gitu saya akan memberi tahu manager dan owner dulu. Untuk sementara kakak pegang kartu nama saya dulu. Dan nomor kakak juga tulis di sini. Saya akan segera mengabari dengan cepat,”


Zara mengangguk lalu menuliskan nomornya di kertas yang sudah diberikan pegawai wanita itu. setelah itu ia juga diberikan kartu namanya.


“Kalau gitu ayo kak, saya mau langsung bayar,” ucap Zara yang diangguki oleh wanita itu.


.


.


Setelah pulang dari bengkel Reydan, Rizky langsung pulang. Ia mengendarai motornya dengan kecepatan sedang. Tidak terlalu cepat namun juga tidak terlalu pelan. Sambil lalu dia bersenandung kecil karena suasana hatinya yang sangat baik. Jalanan di siang hari ini tidak cukup macet namun tetap saja ramai dengan pengendara sepeda. Saat Rizky asik melihat lihat jalanan, tiba tiba matanya tertuju pada seorang wanita yang memakai dress merah sedang berdiri di pinggir jalan.

__ADS_1


Rizky merasa tidak asing dengan wajah itu. ia seperti mengenalnya. Setelah motornya semakin dekat dengannya, barulah Rizky menyadari bahwa wanita itu adalah Zara. Pantas saja dia hampir tidak mengenalinya, penampilannya saja jauh berbeda dari sebelumnya. Rizky tersenyum tipis dan memutuskan untuk menghampiri Zara.


“Mbak Zara,” panggilnya saat motornya sudah berhenti di depan Zara.


Zara yang bermain ponsel langsung menengadahkan kepalanya dan melihat ke arah Rizky yang memandang ke arahnya.


“Loh, Mas Rizky. Habis dari mana mas?” tanya Zara.


Rizky tidak menjawab, pandangan matanya hanya tertuju pada penampilan Zara hari ini. Rizky merasa takjub melihat kecantikan Zara yang selalu memancar. Apalagi penampilan Zara tidak seperti biasanya. Zara yang setiap selalu Rizky lihat adalah Zara yang selalu berpakaian sederhana.


“Mas, kenapa? Ada yang salah ya sama wajahku?” tanya Zara saat memergoki Rizky yang terus menatap ke arahnya..


Dengan cepat Rizky menggelengkan kepalanya, ia merutuki dirinya sendiri dalam hati. Bisa bisanya ia menikmati wajah cantik Zara di depan orangnya langsung.


“E-enggak kok, mbak. Gak ada yang salah. Oh iya mbak sekarang mau kemana?” tanya Rizky berusaha mengalihkan pembicaraan.


“Oh ini aku mau pulang, Mas. Masnya sendiri mau kemana?”


“Aku juga mau pulang, mbak. Gimana kalau mbak aku anterin? Mbak pasti lagi nunggu taksi lewat kan. Daripada nunggu kelamaan mending ikut aku aja mbak. Aku antar sampai rumah kok,” ujar Rizky dengan matanya yang terus mengarah pada Zara.


Zara terlihat berpikir sebentar dan pada akhirnya dia menerima tawaran Rizky untuk pulang bersamanya.


Rizky terkekeh pelan, tanpa sadar tangannya naik ke atas dan mengusap rambut Zara dengan gemasnya. “mbak ngomong apa sih! Kan aku yang ngajak berarti gak ngerepotin dong,” ucap Rizky. Setelah itu ia menurunkan tangannya kembali.


Zara tersenyum canggung lalu mengangguk, ia naik  ke atas motor Rizky dan duduk menyamping karena pakaiannya yang terlalu pendek. Rizky yang melihat hal itu langsung melepaskan jaket yang dipakainya lalu diberikannya pada Zara.


“Tutup pakai ini saja, mbak.” Ucap Rizky sambil tersenyum manis.


Zara juga ikut membalas senyumannya dan mengambil jaket itu dari tangan Rizky.


“Makasih ya mas,”


Setelah Zara sudah duduk dengan nyaman, Rizky menghidupkan mesin motornya dan kembali melanjutkan perjalanan dengan membawa Zara di boncengannya. Angin sepoi sepoi di perjalanan membuat rambut Zara yang tergerai beterbangan sehingga hampir menutupi wajahnya.


Rizky diam diam melirik ke arah spion melihat betapa cantiknya wajah Zara. Diam diam tangan Rizky mengambil tangan Zara dan meletakkan di pinggangnya. Zara baru akan protes tapi Rizky sudah mendahuluinya.


“Biar gak jatuh, mbak. Posisi duduk mbak yang seperti membuat aku khawatir,” ujarnya sambil tersenyum di balik helm-nya.

__ADS_1


“Biar gak jatuh atau mas mau modusin aku?” canda Zara sambil terkekeh geli.


“Dua-duanya sih mbak,” jawab Rizky dengan mantap.


Untung saja Zara tidak mendengarnya karena ramainya suara motor yang ada di jalan raya. Lama kelamaan tangan kiri Zara juga ikut berpegangan pada pinggang Rizky sehingga posisi mereka seperti sedang berpelukan.


.


.


Asri tidak mempunyai kegiatan apa apa selama di rumah Reydan, ia hanya memasak, mencuci, dan melayani kebutuhan Reydan. Kalau dipikir pikir Asri sepertinya bukan penumpang dalam rumah itu melainkan seorang pembantu.


Asri mengambil ponselnya, ia sudah cukup jenuh karena harus terus ada di rumah. Ia membuka galerinya lalu tersenyum saat menemukan satu video menarik yang disimpannya. Asri pun memutar video itu.


“Ma, Sekarang mama di atas,”


“Baiklah, kamu rebahan saja. Biar mama yang masukin,”


Reydan mengangguk, lalu ia merebahkan dirinya di kasur yang empuk itu dan membiarkan ibu mertuanya naik ke atas pahanya. Asri memegang junior Reydan lalu menggesekkannya pada miliknya.


“Arghhh jangan digesek terus, Ma. Masukin!!” titah Reydan dengan tidak sabar.


Asri yang melihat wajah Reydan memelas akhirnya ia mulai memasukkan milik Reydan pada miliknya sehingga tubuh mereka benar benar menempel. Asri langsung mengh*jamkan milik Reydan ke pusatnya. Mereka berdua sama sama mendesah dengan hebat karena rasa nikmati itu.


“Kamu janji akan melakukannya lagi kan?” tanya Asri di sela sela hentakan tubuhnya.


“Iya, aku janji akan selalu muasin mama,” jawab Reydan dengan tatapan sayunya.


Asri terkekeh melihat video itu, itu adalah video lama yang sengaja ia rekam saat mereka berhubungan. Akan tetapi belakangan ini Reydan selalu menolaknya. Asri tidak akan membiarkan hal itu terjadi.


 


 


Bersambung..


Terima kasih sudah membaca

__ADS_1


Jangan lupa like+komentar


 


__ADS_2