Wanita Selingkuhan Suamiku

Wanita Selingkuhan Suamiku
Bab 36 Menjadi model


__ADS_3

“Ma, Sekarang mama di atas,”


“Baiklah, kamu rebahan saja. Biar mama yang masukin,”


Reydan mengangguk, lalu ia merebahkan dirinya di kasur yang empuk itu dan membiarkan ibu mertuanya naik ke atas pahanya. Asri memegang junior Reydan lalu menggesekkannya pada miliknya.


“Arghhh jangan digesek terus, Ma. Masukin!!” titah Reydan dengan tidak sabar.


Asri yang melihat wajah Reydan memelas akhirnya ia mulai memasukkan milik Reydan pada miliknya sehingga tubuh mereka benar benar menempel. Asri langsung mengh*jamkan milik Reydan ke pusatnya. Mereka berdua sama sama mendesah dengan hebat karena rasa nikmati itu.


“Kamu janji akan melakukannya lagi kan?” tanya Asri di sela sela hentakan tubuhnya.


“Iya, aku janji akan selalu muasin mama,” jawab Reydan dengan tatapan sayunya.


Asri terkekeh melihat video itu, itu adalah video lama yang sengaja ia rekam saat mereka berhubungan. Akan tetapi belakangan ini Reydan selalu menolaknya. Asri tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Perjalanannya sudah sejauh ini, ia tidak mau menyerah begitu saja. Apapun yang terjadi Reydan harus tetap menjadi miliknya.


Asri tidak peduli jika ke depannya ia akan menggunakan cara yang lebih licik lagi. Sebab menurutnya jika ingin mendapatkan sesuatu harus dikejar sebaik mungkin. Dan hal itu lah yang juga diajarkannya pada Zara sejak kecil dulu.


Saat Asri akan mematikan ponselnya, tiba tiba ponselnya berbunyi karena ada yang menelfonnya. Asri mengernyitkan keningnya ketika melihat nomor baru yang menelfonnya itu.


“Ini pasti ulah orang iseng,” gumam Asri dan merejectnya.


Daripada ia tidak ada kerjaan di rumah lebih baik Asri pergi ke luar untuk mencari udara segar. Ia sangat bosan dengan terus berada di rumah. Semenjak ia datang ke bengkel Reydan dengan menggunakan pakaian milik Zara, Reydan melarangnya untuk jangan keseringan keluar rumah. Bahkan setelah pulang dari bengkel hari itu, Reydan langsung mengomelinya di rumah.


.


.


Zara dan Rizky baru saja tiba di sebuah perumahan sederhana milik ayahnya Zara, Heri. Zara langsung turun dan merapikan rambutnya yang berantakan karena angin di jalan tadi. Lalu iamemberikan helm-nya pada Rizky yang terus melihat ke arahnya.


“Makasih ya, mas. Udah nganterin aku sampai rumah. Mau mampir dulu gak mas?” tanya Zara pada Rizky.


Rizky tidak langsung menjawab, matanya melihat ke arah rumah Zara yang sepertinya sangat sepi sekali.

__ADS_1


“Di rumah kamu sepi sekali ya,” ucap Rizky.


Zara menolehkan kepalanya ke belakang untuk melihat rumahnya lalu kembali menghadap ke arah Rizky dan mengangguk.


“Iya mas, kebetulan tadi kan aku juga habis pulang dari stasiun buat nganterin ayah. Ayah pergi ke luar kota. Jadi selama beberapa minggu mungkin aku akan sendirian di rumah ini,” Zara tersenyum tipis sambil memandang ke arah Rizky.


“Kalau gitu aku gak bisa mampir, mbak. Gak enak juga nanti kalau sampai dilihat tetangga mbak. Lain kali aku mampir di toko kuenya aja deh sekalian mau pesen kue mbak Zara lagi,” ujar Rizky.


Zara mengangguk kecil, entah kenapa ia merasa senang dengan pemikiran Rizky. Ia bahkan menghargai dirinya sebagai wanita yang tinggal sendirian di rumah. Sikap Rizky yang seperti ini terkadang membuatnya teringat lagi dengan Reydan. Namun bukan berarti Zara menyamakan keduanya.


Tentu saja mereka berdua adalah orang yang berbeda, baik dari segi usia, wajah, sifat dan yang lainnya.


“Saya boleh jujur gak mbak?” tanya Rizky secara tiba tiba.


Zara mengangkat sebelah alisnya lalu mengangguk.


“Boleh, mas. Mau jujur apa emangnya?”


Rizky kembali memperhatikan penampilan Zara yang selalu saja berhasil membuatnya terpesona. Ia jadi membayangkan jika suatu saat Zara sudah resmi menjadi miliknya, mungkin Rizky akan menciumnya berkali kali karena gemas melihatnya.


Pipi Zara langsung memerah saat mendengar pujian itu, entah kenapa ia merasa ada sesuatu yang aneh dalam dirinya saat Rizky memujinya. Seperti ada sengatan listrik yang membuat jantungnya berdebar dengan kencang. Akan tetapi Zara berhasil mengatasinya dengan baik. Ia tersenyum pada Rizky dan membalas ucapannya.


“Makasih ya, mas. Sebenarnya aku juga sebentar lagi mau jadi model untuk pakaian ini di butik yang tadi mas lihat pas nebengin aku,” ujar Zara sehingga Rizky langsung menoleh ke arahnya. Ia tampak terkejut dengan apa yang dikatakan Zara tadi.


“Model? Mbak serius beneran jadi model?” tanya Rizky dengan antusias.


Zara mengangguk lalu menjawab.


“Sebenarnya aku juga gak berniat sih, mas. Cuma tadi ada pegawai disitu yang menawarkan aku untuk jadi model. Katanya pakaian ini sangat cocok di tubuhku. Jadi mereka mau mempromosikan dengan menjadikan aku sebagai modelnya.”


“Berarti mbak akan difoto dong?” tanya Rizky lagi.


“Sepertinya iya, mas. Tapi ini juga belum pasti sih soalnya mereka harus membicarakan dengan manajer dan owner dari butik itu sendiri,”

__ADS_1


Di tengah tengah perbincangan mereka tiba tiba saja ponsel Zara berbunyi. Zara mengambil ponselnya dan mengecek siapa orang yang menghubungi itu. namun setelah ia melihatnya, tidak ada nama yang tertera di ponselnya. Yang menghubunginya adalah nomor baru. Zara langsung menggeser layarnya pada tombol berwarna hijau dan mengangkatnya.


“Halo,” ucapnya.


“Selamat siang, kak. Saya Nina orang yang tadi menemani anda di butik. Sebelumnya saya mohon maaf karena sudah menganggu waktunya,” jawab orang itu.


Zara melirik ke arah Rizky sebentar lalu menjawab.


“Oh iya kak, ada apa ya kak?” tanya Zara.


“Jadi begini, kak. Saya Cuma mau kasih kabar bahwa owner dan manajer butik kami sudah setuju dengan mbak yang akan menjadi model kami. Jadi saya juga sekalian mau memberikan informasi agar kakak segera datang ke butik besok siang untuk tanda tangan kontrak terlebih dulu. Apa kakak bisa?”


Zara langsung membulatkan matanya saat ia sudah diterima begitu cepatnya, padahal baru saja ia pulang dari butik itu.


“Ini beneran kak? Saya diterima gitu aja? Tidak ada syarat atau apa gitu?!: ucap Zara dengan bertubi tubi sehingga wanita itu tertawa kecil.


“Ini beneran kok, kak. Beliau setuju karena saya sudah menunjukkan foto kakak tadi. Dan mereka juga tidak hanya ingin menjadikan kakak sebagai model dress itu saja. Akan tetapi kakak juga akan menjadi model dari semua dress terbaru dari butik kami,” lanjutnya.


Zara semakin terbelalak mendengarnya. Rizky yang sedari tadi melihat ke arah Zara hanya bisa menatapnya dengan penasaran.


“Untuk berapa bulan kak?” tanya Zara lagi.


“Karena mereka tertarik dengan kakak, jadi mereka ingin mengontrak kakak dalam jangka dua tahun. Saya akan segera mengirimkan nomor manajer saya untuk kakak hubungi. Jika kakak berminat bisa langsung hubungi ya karena besok akan segera membahasmasalah kontrak,”


“Baik kak terima kasih,”


 


Bersambung


Terima kasih sudah membaca


Jangan lupa like+komentar

__ADS_1


 


__ADS_2