
“Boleh saya bertanya lagi mas?” Rizky menatap Reydan dengan ragu-ragu.
“Tanyakan saja,” jawab Reydan.
“Mas siapanya mbak Zara?”
Reydan tidak menjawab, pandangannya hanya mengarah pada Zara yang sedang menyiapkan bahan-bahan untuk membuat kue. Ia sendiri saja ragu dengan apa status hubungan mereka saat ini. Meskipun pada dasarnya mereka masih tetap sebagai suami istri tapi tidak bagi Zara. Zara bahkan sudah tidak menganggapnya seperti itu lagi. Ia menarik nafas yang panjang dan kembali memandang Rizky.
“Saya suaminya,” jawab Reydan dengan tegas. Matanya menyorot tajam pada Rizky dan menunjukkan ketidaksukaannya. Entah kenapa ia harus merasa waspada di depan Rizky.
Zara sedari tadi memperhatikan interaksi antara Rizky dengan Reydan, sejujurnya ia sangat kesal karena Reydan yang masih belum pergi juga. Mau diusir pun ia tidak enak dengan Rizky yang ada disitu. Akhirnya Zara malah membiarkannya saja.
“Sebelumnya saya minta maaf, sebenarnya saya sudah mendengarkan semuanya apa yang mas bicarakan dan mbak Zara. Saya pikir mas sudah melakukan kesalahan besar yang membuat mbak Zara jadi benci. Benar begitu mas?” Rizky tersenyum simpul pada Reydan yang mulai terpancing emosinya. Rizky memang sudah mendengar semuanya, karena pada saat Reydan menarik Zara dengan kasar ia juga baru tiba di toko itu.
“Bukan urusan kamu!” jawab Reydan dengan ketus.
Rizky mengangguk pelan, ia sedikit kecewa karena mengetahui Zara ternyata sudah menikah dan menjadi milik orang lain. Tapi mendengar pertengkaran mereka tadi Rizky merasa ia masih punya kesempatan untuk mendekati Zara.
“Baiklah, kalau itu bukan urusan saya. Tapi saya hanya izin untuk mendekati mbak Zara.”
Reydan yang sudah tidak bisa menahan emosi langsung menarik kerah almamater Rizky. Tanpa bicara apapun lagi Reydan langsung memberinya pukulan di pipi Rizky.
“Kurang aj*r kamu, dia masih istriku. Berani beraninya kamu mau mendekati dia,”
Reydan memberinya pukulan lagi dan Rizky pun tidak memberikan perlawanan meskipun ia bisa.
Zara terkejut ketika melihat adegan perkelahian di tokonya sendiri, ia bergegas mencuci tangannya untuk memisahkan mereka. Reydan benar benar tidak bisa dibiarkan. Zara khawatir Rizky akan terluka parah nanti. Zara tau sendiri kalau Reydan pernah belajar silat dan taekwondo di waktu kuliah dulu. Pukulannya pasti sangat kuat. Setelah selesai mencuci tangan Zara segera menghampiri mereka.
__ADS_1
“Mas Reydan!!! Stop mas!” teriak Zara dengan kembali memanggil nama Reydan dengan sebutan mas.
Zara langsung menarik Reydan agar tidak kembali memukul Rizky yang sudah babak belur. Zara meringis ketika melihat wajah Rizky yang banyak lebamnya. Reydan berhenti memukul dan kini menatap Zara dengan tajam. Reydan akan protes karena Zara tiba tiba menghalanginya. Sebelum protes itu meluncur dari mulutnya Zara sudah memberinya tamparan keras di pipi kanannya.
“Aku sudah bilang sama kamu mas. Mulai sekarang kamu jangan menggangguku lagi tapi nyatanya kamu masih keras kepala. Aku sudah tidak menganggapmu sebagai suamiku lagi. Jadi kamu lebih baik duduk diam saja di rumahmu dan tunggulah surat cerai. kamu hanya boleh menemuiku ketika di pengadilan nanti. Sekarang juga kamu pergi dari sini!!!” Zara menunjuk pintu keluar dengan sorot mata yang tajam pada Reydan.
“Zara, kita bisa bicarain ini baik baik. Tidak perlu ada kemarahan disini. Beri aku kesempatan sekali lagi untuk memperbaiki semuanya. Aku janji aku tidak akan berhubungan lagi dengan ibumu,” Reydan terus memohon pada Zara agar ia membatalkan perceraiannya.
“Kamu tidak bisa mendengar atau bagaimana mas?! Aku bilang kamu cepat pergi dari sini! Aku sudah muak ngeliat wajah kamu,”
Akhirnya Zara memilih untuk mendorong Reydan sampai tiba di pintu keluar. Reydan benar benar sudah menguras tenaganya hari ini karena harus membentaknya. Rizky yang melihat kejadian itu hanya diam saja, ia tidak berniat untuk ikut campur. Ia tidak mau membuat kesan yang buruk untuk Zara gara gara ikut campur. Reydan tiba tiba saja menatap ke arah Rizky dengan ekspresi yang sangat datar.
“Oke, Zara. Aku akan pergi! Tapi sebelum itu aku mau bertanya sama kamu. Apa setelah kita bercerai kamu akan mencari penggantiku?”
Zara tanpa ragu langsung mengangguk. “Aku juga tidak tau, biarkan takdir berjalan dengan semestinya. Bila Allah memberi pengganti untukku apa aku harus menolak?!. Tapi jika kamu bertanya pada saat ini, aku belum ada rencana seperti itu. Aku butuh waktu untuk menyembuhkan luka yang kau berikan,” jawab Zara dan membuat Reydan tersenyum puas ke arah Rizky.
“Baiklah, aku akan pergi.”
“Maaf ya mas, gara gara suami saya wajah mas harus seperti ini.” Ucap Zara dengan rasa bersalahnya.
Rizky tersenyum kecil. “Santai aja mbak, ini sudah tidak apa apa kok. Hanya luka kecil saja.”
“Tunggu bentar ya mas, aku mau ambil obat dulu. Meskipun bagi mas itu hanya luka kecil, tetap saja harus diobati,”
Tanpa menunggu jawaban Rizky, Zara langsung pergi ke belakang untuk mengambil obat. Rizky hanya membiarkannya saja. Tangannya terus memegang pipinya yang masih terasa sakit karena pukulan tadi. Rizky bukannya tidak ingin membalas, hanya saja dia tidak mau menunjukkan sisi kasarnya pada Zara. Bisa bisa ia jadi dijauhi nanti.
Tak lama kemudian Zara kembali dengan membawa sebuah wadah yang berisi air hangat dan kotak p3k. Zara membawanya ke tempat Rizky.
__ADS_1
“Duduk disini aja mas, saya bantu obatin,” Zara menepuk kursi di sampingnya sambil menatap ke arah Rizky.
Rizky mengangguk, ia berpindah tempat dan duduk di samping Zara. Niatnya hari ini untuk membeli kue malah harus berakhir seperti ini. Tapi Rizky tidak masalah. Justru karena kejadian ini Zara mulai mendekat padanya. Yah meskipun hanya sekedar mengobati luka saja. Itu sudah sangat lebih dari cukup untuk Rizky.
Zara mulai mengobati wajah Rizky, ia duduk menyamping agar mudah untuk mengobatinnya. Zara mengompres bagian yang lebam terlebih dahulu. Ia juga meniupnya pelan pelan khawatir Rizky akan merasa kesakitan. Rizky diam mematung saat hembusan nafas Zara meniupi wajahnya. Jantungnya mulai tak karuan. Berada di dekat Zara dengan jarak yang sedekat ini membuatnya sangat grogi. Untung saja Zara tidak menyadarinya.
“Kalau sakit bilang ya mas,” ucap Zara sambil membuka kotak p3k nya dan mengambil peralatan dan obatnya.
“Iya mbak,” jawab Rizky.
Setelah beberapa menit, Zara sudah menyelesaikan tugasnya untuk mengobati wajah Rizky.
“Sudah selesai nih, Mas.”
Zara tersenyum dan membereskan kembali kotak obatnya.
Rizky menyentuh wajahnya kembali kemudian kembali memandang Zara. “Makasih ya mbak sudah mengobati luka saya,”
“Sama sama, mas. Saya lanjut buat kuenya dulu ya.”
“Iya mbak,”
Bersambung ....
Terima kasih sudah membaca
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak
Semangat yaaaa