
Di tempat lain, Rizky menuntun motornya di tengah panasnya cuaca. Ia baru saja pulang dari minimarket untuk membeli sesuatu. Namun saat ia mau pulang tiba tiba saja ban motornya bocor begitu saja. Saat ini ia mencari bengkel untuk memperbaiki motornya itu. dari kejauhan ia melihat bengkel yang sedang ramai sekali.
“Akhirnya sampai juga di bengkel,” ucapnya sambil mengusap keringat yang menetes di keningnya.
Rizky mendorong motornya sampai ke bengkel itu.
“Mas, ban ku bocor. Tolong diperbaiki ya,” ucapnya sambil memarkirkan motornya.
Orang yang dipanggil mas oleh Rizky langsung menolehkan kepalanya. ia tampak terkejut ketika melihat siapa yang datang.
“Kamu?”
Orang itu yang ternyata adalah Reydan langsung berdiri dan menatap Rizky dengan tatapan tidak sukanya. Ia bersedekap dada dengan ekspresi wajahnya yang datar.
“Ngapain kamu kesini?” tanya Reydan dengan ketus.
Rizky mendengus, ia tak menghiraukan Reydan dan malah melihat ke arah Fian. Tanpa berkata apapun lagi Rizky melangkah dan melewati Reydan. Ia menghampiri Fian yang sedang memperbaiki salah satu motor.
“Permisi, mas. Saya juga mau nambal motor. Apa mas bisa?” tanya Rizky.
Fian menoleh sebentar lalu mengangguk, “Sebentar ya, mas. Motornya bawa kesini aja dulu. Habis ini saya tambal kok,” jawab Fian dengan memberikan jawaban yang ramah.
Rizky juga membalas senyumannya, lalu ia kembali ke tempat motornya tadi untuk membawanya masuk. Tapi sepertinya, ada sesuatu hal yang membuatnya tidak bisa membawanya. Reydan malah menghalangi motornya.
“Cari bengkel lain sana! Disini tidak menerima motor dari perebut milik orang,”
Rizky menghela nafasnya lalu menatap Rizky dengan senyuman sinisnya.
“Tidak ada yang merebut apapun dari siapapun. Yang ada hanyalah seorang pecund*ng yang menyakiti hati siapapun demi apapun. Dan satu lagi, ini bukan bengkelmu, jadi aku bebas mau nambal disini,” ucap Rizky dengan memakai bahasa non formal pada Reydan. Tidak aka kata saya lagi di antara mereka.
“Oh ya? Tapi ini bengkelku?! Bengkel yang aku bangun sejak bersama Zara. Jadi kamu mau apa?” Reydan tersenyum sinis sambil menatap wajah Rizky.
Fian yang sudah selesai menambal ban motor, ia melirik ke arah Reydan yang sedari tadi terus berdebat dengan Rizky. Fian hanya bisa menggelengkan kepalanya. Kelakuan Reydan yang seperti itu sama seperti kelakuan anak kecil. Bagaimana usahanya akan berkembang jika dia bersiap seperti itu. Fian harus menghampiri mereka dan turun tangan.
“Rey, dia cuma mau nambal motor. Gak usah dibesar-besarin!. Gue gak tau masalah kalian seperti apa. tapi tolong, disini dia pelanggan kita,” ucap Fian saat ia sudah ada di samping Reydan.
“Ayo mas, dibawa kesini motornya. Saya sudah selesai nih,” lanjut Fian lagi sambil menoleh ke arah Rizky.
__ADS_1
Rizky tersenyum lalu mengangguk, “Terima kasih, mas.”
Rizky tersenyum penuh kemenangan pada Reydan, lalu membawa motornya pada Fian untuk ditambal. Sedangkan Reydan hanya mendegus tidak suka, ia langsung pergi begitu saja. Daripada ia harus emosi saat melihat Rizky, lebih baik ia istirahat terlebih dulu di dalam. Reydan membiarkan Fian untuk membantunya.
Dua puluh menit kemudian
Fian sudah menyelesaikan pekerjaannya, ban motor Rizky sudah kembali normal. Ia mengusap keringat yang menetes di wajahnya. Lalu mengusap tangannya untuk membersikan debu yang menempel di tangannya. Fian berdiri lalu menghampiri Rizky yang sudah menunggu di luar.
“Mas, ini motornya sudah selesai,” ucapnya.
Rizky langsung beranjak dari tempat duduknya,
“Berapa mas?” tanya Rizky pada Fian.
“Dua puluh ribu saja, mas.” Jawab Fian.
Rizky mengangguk lalu menguarkan dompet dari saku celananya, ia mengambil uang dua puluh ribu lalu memberikannya pada Fian.
“Ini, mas. Terima kasih ya.” Ucap Rizky seraya tersenyum.
Fian mengambil uang itu dari tangan Rizky, ia mengambilkan motornya lalu mendorongnya ke tempat Rizky berdiri.
.
.
.
Sepulang dari Stasiun, Zara tidak langsung pulang ke rumah. Dia menyuruh supir taksinya untuk berhenti di depan butik. Setelah membayar ongkos taksinya, Zara langsung masuk ke dalam butik langganannya itu. Sebenarnya ia tidak rencana untuk membeli baju, akan tetapi Zara tiba tiba teringat dengan pakaiannya yang dipakai Asri kemarin. Sehingga di sinilah ia berada.
Saat Zara masuk ke dalam, hal pertama yang ia lihat adalah pakaian yang begitu banyak di dalamnya. Ia melangkahkan kakinya menuju deretan patung patung yang memamerkan pakaian dengan model terbaru itu.
Mata Zara tertarik pada satu dress berwarna merah yang berada di paling ujung. Ia menghampirinya sambil melihatnya. Zara bahkan memegang dan mengecek bahannya yang ternyata sangat lembut di tangannya.
“Bagus banget, ini pasti dress terbaru?” gumam Zara.
Seseorang yang sedari tadi memperhatikan Zara tiba tiba menyahut.
__ADS_1
“Benar kak, itu pakaian terbaru di butik kami,” ucapnya.
Zara langsung menoleh dan mendapati seorang wanita yang berpakaian hitam putih. Zara sangat mengenal wanita itu, karena biasanya wanita itulah yang selalu membantunya dalam memilih pakain. Wanita itu adalah pegawai di butik itu yang memang ditugaskan untuk menemani dan melayani pembeli.
“Modelnya bagus ya kak, dan sepertinya di butik ini cuma ada satu,” balas Zara sambil menyentuh dress itu dengan tangannya.
“Benar sekali, Kak. Itu hanya ada satu di butik kami karena dress itu masih dijahitkan satu oleh desainer. Dan desainer yang menjahit dress itu bukan desainer biasa. Dia desainer terkenal yang berasal dari perancis. Kakak mau mencobanya?” tawar Wanita itu sambil melihat ke arah Zara.
“Boleh kak? Bukannya kalau masih baru tidak boleh dicoba ya?” heran Zara.
Wanita itu tersenyum lalu menjawab, “Memang benar kok kak, tapi berhubung kakak sudah langganan lama di butik ini jadi kakak diperbolehkan untuk mencoba dulu.”
“Boleh deh, kak. Saya coba dulu ya,”
Wanita itu mengangguk lalu mengambilkan dress itu untuk Zara dan mengantarkannya ke ruang ganti. Zara masuk ke ruang ganti untuk mencoba pakaian tubuh. Setelah dipakainya, Zara langsung bercermin sambil memutar mutar tubuhnya.
Dress itu sangat cocok di tubuhnya dan nyaman dipakainya. Warnanya yang merah hati membuat Zara semakin menyukai dress itu. Meskipun bagian tubuhnya tercetak dengan jelas karena dress itu yang lumayan ketat. Zara mencoba membuka tali rambutnya dan memilih untuk menggerai rambutnya.
Senyumnya semakin lebar saat merasa tampilannya sudah sempurna. Setelah selesai akhirnya Zara keluar dari ruang ganti.
“Kak, sepertinya ini cocok untuk saya.”
Wanita yang tadi membantunya langsung menolehkan kepalanya. diatampak terkesima saat melihat penampilan Zara yang jauh lebih cantik dari saat pertama datang tadi.
“Wah, kakak cantik sekali. Sepertinya kakak cocok untuk jadi model pakaian itu. lihatlah baju itu sangat pas di tubuh kakak,”
Zara terkekeh pelan saat wanita itu memujinya.
“Kakak ini ada ada saja,” ucapnya.
“Kakak mau jadi model untuk butik kami tidak?”
Bersambung...
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca
Jangan lupa like+komentar