Wanita Selingkuhan Suamiku

Wanita Selingkuhan Suamiku
Bab 18 Resmi Berpisah


__ADS_3

Beberapa minggu kemudian, Zara sudah resmi bercerai dengan Reydan. Pengadilan agama sudah memutuskan bahwa perceraian mereka dinyatakan sah. Tidak hanya itu, Zara juga menyaksikan proses perceraian antara ayah dan ibunya. Mereka berdua sama sama menjalankan proses sidang di pengadilan Heri dan Zara baru saja keluar dari gedung pengadilan.


Zara langsung memeluk Heri dengan erat sambil menangis terharu. Mereka berdua mengalami nasib yang sama, yaitu dikhianati pasangan.


“Putri ayah sudah dewasa, kamu sudah berani mengambil keputusan besar yang menurut ayah bahkan sangat sulit dilakukan.” ucap Heri sambil melepaskan pelukan Zara.


Zara menghapus air matanya dan menerbitkan senyum tipis di wajahnya. “ini semua berkat ayah. Ayah yang selalu mengajarkan Zara menjadi wanita yang kuat dalam segala hal,” jawab Zara sehingga Heri terkekeh karenanya.


“Kak Zara......”


Dari kejauhan Tari berlari menuju ke arah Zara dengan menyebut namanya, Heri dan Zara yang mendengar teriakan Tari langsung membalikkan tubuhnya. Zara tersenyum dan melebarkan tangannya bersiap menyambut Tari.


Tari langsung menubrukkan diri dalam pelukan Zara.


“Selamat ya kak, akhirnya kak Zara bisa bebas sekarang,” ujar Tari dalam pelukan Zara.


“Makasih ya Tari, kamu selalu mendukung kakak. Kamu bahkan tidak pernah membela abangmu sendiri.”


Zara benar benar beruntung memiliki adik ipar seperti Tari yang selalu mengerti dengan dirinya. Selama ini Tari selalu memberinya dukungan dengan cara menemaninya di toko kue sepulang sekolah. Tari selalu mengajaknya bercanda agar Zara tidak terbebani dengan masalah itu.


Tari melepaskan pelukannya, tangannya langsung mengarah pada pipi Zara dan menghapus buliran air mata yang kembali jatuh.


“jangan menangis dong, kak. Kakak terlihat jelek kalau menangis,” ujar Tari sambil tertawa kecil.


Zara juga ikut tertawa bersama ayahnya yang ada di sampingnya.


“Mama sama papa dimana?! Kok kamu sendirian yang keluar?”


Tari tidak menjawab melainkan menunjuk sesuatu dengan tangannya. Mata Zara langsung mengikuti tangan Tari yang menunjuk ke arah Reydan dan Asri yang terlihat bicara serius dengan mantan mertuanya itu. Zara bisa melihat dengan jelas Noval yang terlihat emosi saat bicara dengan mereka berdua.


“Mereka membahas apa ya kira kira?” gumam Zara yang juga didengar Tari.


“Memangnya kak Zara tidak tau?” Tari menoleh pada Zara.

__ADS_1


“Aduh Tari, dari tadi kan kakak ada disini. Bagaimana bisa tau apa yang dibicarakan mereka,” balas Zara.


Heri hanya menyimak pembicaraan Tari dan Zara. Ia juga penasaran dengan apa yang dibicarakan mereka.


Tari tidak bicara apapun lagi, ia tiba tiba mengeluarkan ponselnya kemudian mengetikkan sesuatu dan memberikan ponselnya pada Zara. Zara yang awalnya kebingungan langsung mengerti setelah mendengar sebuah suara yang muncul dari ponsel itu. Sekarang ia mengerti, Tari ternyata sempat merekam sedikit pembicaraan mereka.


“Enggak, pokoknya aku gak setuju kalau kamu tinggal sama Reydan! Sebaiknya kamu segera pergi dari rumah putraku dan jangan pernah menemui Reydan lagi,” Zara terkejut mengetahui fakta baru itu, ternyata selama ini mereka tinggal bersama.


“Sudahlah Layla, ikhlaskan saja putramu bersamaku. Aku akan selalu menjaganya dengan baik bahkan memenuhi kebutuhin biologisnya.”


“Dasar j*lang,seharusnya kamu malu dengan apa yang kamu lakukan sekarang!”


“Pa, Ma, sudahlah. Bukankah kalian hanya mementingkan Zara saja. Sekarang kalian sudah puas dengan perceraian kami!. Jadi mulai sekarang kalian jangan ikut campur lagi. Mau aku berhubungan dengan ibunya Zara atau tidak,”


“Reydan, sebagai orang tua kami juga berhak ikut campur jika kamu melakukan kesalahan! Jangan merasa paling hebat kamu! Papa sama mama membesarkanmu bukan untuk memberontak seperti ini,”


“Sudahlah Reydan, lebih baik kita pulang saja! Biarkan saja orang tuamu itu. Mereka hanya akan menghambat kebahagiaanmu bersamaku,”


“Ngapain bang Reydan kesini lagi?! Kalau mau nyakitin kak Zara lagi mending pergi sana! Bawa aja tuh nenek lampirnya,” sinis Tari sambil melihat ke arah Asri yang bergelayut manja di lengan Reydan.


Asri melototi Tari yang meledeknya. Tari tidak mempedulikannya, malah ia tambah menjulurkan l*dahnya padanya. Tari mundur dan memilih untuk berdiri di samping Zara saja. Sedangkan Reydan dan Zara saat ini saling bertatapan satu sama lain, Reydan dengan perasaan menyesalnya dan Zara yang hanya menyikapinya dengan wajah yang datar.


“Lebih baik kamu pergi sekarang juga, Reydan! Benar kata Tari, kamu harus membawa nenek itu bersamamu. Dia pasti sedang sakit punggung saat ini kelamaan berdiri,” timpal Heri dengan sengaja sambil melirik ke arah Tari yang cekikikan. Mereka berdua terlihat puas sekali ketika melihat Asri yang berwajah masam.


“Putrinya Layla dan Noval sepertinya kurang dididik ya, punya mulut kok kurang aj*r sama orang tua!” sengitnya.


“Dih, tantenya aja yang gampang marah! Oh iya lupa, kan faktor umur ya.” Balas Tari.


Reydan langsung mencubit tangan Tari yang tidak sopan sampai Tari meringis kesakitan.


“Jangan seperti itu, abang gak suka Tari,” ucap Reydan pada Tari yang lagi mengelus tangannya.


Tari langsung bersembunyi di belakang Zara, ia khawatir Reydan akan mencubitnya lagi. Zara

__ADS_1


“Lebih baik kalian pergi! Jangan membuat keributan disini. Jangan menunjukkan wajah menj*j*kkan kalian di hadapanku lagi.” ucap Zara dengan nada inginnya.


“Kak Zara beri jalan dong, kan sebentar lagi nenek lampir itu bakal pergi! Jadi kak Zara minggir dulu ya, berikan jalan sama nenek itu.”


Zara mengangguk dan sedikit menyingkir dari hadapan mereka.


“Semoga kamu bahagia, Zar.” Ungkap Reydan pada akhirnya dan pergi bersama Asri semakin menjauh dari pandangan mereka.


Tari, Heri dan Zara bernafas lega setelah mereka tidak ada. Terlebih Tari, ia yang sedari tadi kesal sama mereka berdua. Tari bahkan sampai mendapat cubitan maut dari Reydan karena ulahnya.


Noval dan Layla juga melihat kejadian itu, mereka langsung mendekat pada Zara. Layla langsung memeluk Zara dengan erat. Zara tersenyum dan membalas pelukan Layla dengan tak kalah eratnya.


“Maafin Zara ya Ma, selama ini Zara belum bisa menjadi menantu yang baik untuk mama. Zara juga berterima kasih sekali sama mama karena mama tetap memberikan toko kue itu pada Zara. Zara janji meskipun hubungan kita sudah bukan menantu dan mertua lagi, Zara akan tetap sering sering mengunjungi mama sama papa, begitu pun dengan Tari,”


Layla mengangguk dan mengelus rambut panjang milik Zara. “Mama senang kalau kamu berpikir seperti itu! Pintu rumah juga akan terbuka lebar untukmu jadi sering seringlah datang. Mama sudah menganggapmu seperti putri kandung mama sendiri. Kamu jangan sungkan ya sama mama. Kalau ada apa apa kamu segera hubungi mama sama papa.”


“Iya Ma, sekali lagi terima kasih.”


Noval dan Heri juga berpelukan satu sama lain, Noval menepuk bahu Heri dengan pelan.


“Kamu yang kuat ya, bagaimana pun ini tidak mudah bagi kalian berdua. Kamu dan Zara sama sama kehilangan. Tapi kamu jangan terpuruk. Kamu harus bisa bangkit demi Zara.”


Heri mengangguk sambil melihat ke arah Zara. “Itu sudah pasti,” jawabnya lirih.


Tari mengerucutkan bibirnya ketika semuanya berpelukan sedangkan dirinya dilupakan.


“Aku kok gak dipeluk?!” sebalnya sehingga yang lain tertawa karenanya.


Zara langsung menarik Tari agar bergabung dengannya untuk memeluk Layla.


“Aaaaaaaa kalian yang terbaik,” teriak Tari sambil memeluk mereka.


Hari ini memang bukan hari yang baik, tapi hari ini adalah hari akhir dari segala penderitaan yang dialami. Zara dan Reydan sudah resmi bercerai.

__ADS_1


__ADS_2