Wanita Selingkuhan Suamiku

Wanita Selingkuhan Suamiku
Bab 22 Kehadiran seseorang


__ADS_3

Rizky sudah menjauh dari pandangannya, Zara mengambil kunci tokonya dan masuk ke dalam. Ia mulai merapikan semua bahan dan barang barang yang kemarin sempat dibelinya. Setelah semuanya siap barulah Zara mulai membuat kue.


Mengambil wadah dan beberapa telur dan tepung yang akan dijadikannya sebagai adonan. Zara melakukannya dengan senang hati. Ia juga sambil membalas chat dari pelanggannya. Saking asyiknya Zara membuat kue sampai ia tidak menyadari kehadiran seseorang yang diam diam masuk ke toko tanpa sepengetahuannya.


“Zara...” panggil orang itu.


Zara mendongakkan kepalanya dan menoleh ke arah sumber suara itu. Zara menyunggingkan senyum mengira yang datang adalah pelanggan kuenya. Namun, setelah melihat siapa yang memanggilnya Zara langsung melunturkan senyumnya. Ekspresi wajahnya berubah menjadi datar


Orang yang memanggilnya adalah Asri, ibu sekaligus wanita yang dibencinya. Zara berusaha untuk tidak bertemu dengannya tapi Asri malah menghampirinya seperti ini. Entah apa yang direncanakannya kali ini. Zara sudah mengetahui semua kelicikan ibunya itu, ia harus berhati hati dengannya.


“Mau apa kamu kesini?! Mau pamerin hubungan terlarang itu lagi!” sinisnya sambil mengaduk adonan kuenya.


Asri menggelengkan kepalanya lalu duduk di kursi tempat pelanggan menunggu.


“Mama hanya ingin melihat keadaanmu saja. Mama pikir setelah kejadian itu kamu tidak punya semangat lagi untuk melakukan apapun,” jawab Asri dengan wajah tanpa dosa.


Zara tidak menghiraukan Asri lagi, pekerjaaannya tidak akan selesai jika ia harus meladeninya. Sedangkan Asri, dia langsung mendengus melihat Zara yang mengabaikan dirinya. Asri merasa tidak puas melihat Zara yang harus kehilangan suami karenanya. Lihatlah, Zara bahkan masih bisa tenang setelah semua ini.


Harusnya sekarang putrinya itu sibuk meratapi nasibnya sendiri. Bukannya malah melanjutkan hidup seolah olah tidak terjadi apa apa.


“Aku masih muda, tentu saja harus semangat! Tidak seperti kamu yang sudah tua malah memilih membuka pa*a sama suami orang,” sindir Zara dan beranjak dari tempat duduknya.


Wajah Asri memerah mendapat respon seperti itu. dia berdiri dan mengikuti Zara bahkan sampai ke belakang.


“Setidaknya sekarang dia akan menjadi milik, Mama. Reydan dengan baik hati menerima mama di rumahnya. Dia juga membiarkan mama untuk tidur di kasur yang sama yang pernah ditempati olehmu juga. Selain itu kita juga melakukannya lagi setiap malam. Sepertinya mama harus berterima kasih sama kamu karena sudah melepaskan Reydan untuk, Mama.” Ucap Asri lagi.


Zara yang membuka kulkas langsung berhenti, dia sudah bosan mendengar suara Asri yang terus mengoceh tentang dirinya. Dengan raut wajah yang tidak menyenangkan, Zara membalikkan tubuhnya menghadap Asri yang juga menatapnya.


“Baguslah kalau begitu! Ya meskipun aku sedikit heran sama mantan suamiku. Bisa bisanya dia masih belum sadar juga.”

__ADS_1


“Maksud kamu apa Zara?” tanya Asri dengan mengernyitkan keningnya.


Zara bersedekap dada dan menghela nafasnya dengan berat. Zara memperhatikan penampilan Asri dari atas sampai ke bawah dan menggelengkan kepalanya.


“Maksud aku kenapa dia masih belum sadar juga kalau dia menyetubuhi wanita tua seperti, Mama. Yang bahkan rasa malu saja tidak punya,” lanjut Zara dan terkekeh.


“Kurang aj*r kamu! Dasar anak tidak tau diri. Kamu pikir kamu lahir dari mana kalau bukan dari rahim mama. Kamu benar benar tidak tau terima kasih ya,” Asri membentak Zara karena tidak terima dengan apa yang dikatakannya.


Bukannya gentar dengan bentakan Asri, Zarah malah menutup mulutnya dengan tertawa kecil.


“Dari pada Mama membuang waktuku disini, lebih baik sekarang juga mama keluar! Jangan pernah muncul lagi di hadapanku. Aku sudah bahagia bersama Ayah,” ucapnya.


Asri tersenyum sinis. “Bukankah sekarang kamu tidak ada suami?! Bagaimana kalau mama kasih kamu saran.”


“Saran apa?”


“Cobalah bermain dengan Ayahmu,”


“Ternyata mama lebih rendah dari seekor binat*ng! Pikiran mama yang seperti ini membuatku malu karena harus terlahir darimu.”


Asri memegang pipinya yang terasa kebas karena tamparan Zara. Ia kembali menatap wajah Zara yang sudah berapi api. Tanpa berkata apapun lagi Asri memilih untuk pergi dari toko kue itu.


Zara tidak bergeming, tubuhnya melorot ke lantai dengan tatapan matanya yang kosong. Ia melihat tangannya yang baru saja menampar ibunya sendiri. Zara sudah berusaha keras untuk melupakan semua kejadian yang berhubungan dengan ibunya. Namun, setiap kali Zara akan melupakannya, ada saja kejadian yang akan selalu membuatnya teringat. Seperti hari ini, Asri yang tiba tiba mendatanginya dan membicarakan hal konyol dengannya.


Zara meneteskan air matanya, ia sudah tidak kuat lagi menahan semuanya. Semuanya hancur dalam sekejap mata. Suami yang dicintainya dan ibu yang melahirkannya mereka berdua tokoh utama dalam kehancuran hidupnya. Tak pernah terpikirkan olehnya bahwa mereka berdua tega melakukan itu kepadanya. Padahal dulu orang pertama yang mendukung Zara dengan Reydan adalah ibunya.


.


.

__ADS_1


.


Rizky baru saja keluar dari ruang dosen, ia keluar dengan perasaan yang berbunga bunga. Bagaimana tidak, sebentar lagi ia akan wisuda dengan ipk yang cukup memuaskan. Tentu saja hal ini sangat membanggakan untuk dirinya sendiri. Apalagi nanti selesai wisuda Rizky punya rencana yang hanya diketahui olehnya.


Rizky melangkahkan kakinya menuju ke arah parkiran untuk pulang. Ia mengambil kunci motor dan menaikinya. Setelah memakai helmnya Rizky menjalankan motornya dengan kecepatan pelan karena ramainya mahasiswa yang juga akan pulang.


Saat Rizky baru saja keluar dari gerbang kampusnya, sebuah motor tiba tiba menghalanginya dari arah depan. Rizky membelokkan motornya mengalah pada pengendara itu. Namun saat ia melakukannya pengendara motor itu juga mengikutinya. Rizky yang sudah kesal akhirnya membuka kaca helmnya dan menegur orang itu.


“Mas, kalau mau jalan ya jalan aja. Gak usah ngehalangi motor orang gini!” ucapnya.


Pengendara motor itu akhirnya ikut membuka kaca helmnya.


“Sorry, kayaknya saya sengaja,” ucap pengendara motor itu yang tak lain adalah Reydan.


Rizky kaget ketika melihat Reydan, tapi ia kembali menormalkan ekspresinya.


“Saya tidak ada urusan sama kamu. Jadi tolong minggirin motor kamu karena saya mau pulang!” lanjut Rizky lagi.


“Siapa bilang kita tidak ada urusan?! Saya pikir kita punya urusan yang harus diselesaikan.”


Reydan menatap Rizky dengan tajam, seolah olah mereka berdua adalah musuh bebuyutan. Rizky dan Reydan saling menatap satu sama lain.


Bersambung...


Terima kasih sudah membaca


Jangan lupa meninggalkan jejak


Like kalian adalah penyemangatku

__ADS_1


Selamat membaca


Update setiap hari


__ADS_2