
Tak terasa pernikahan mereka sudah berjalan dengan cukup lama, seminggu setelah pernikahan Reydan dan Zara masih membahas tentang rencana masa depan mereka. Sekarang mereka sudah melewati waktu seminggu itu. Pernikahannya pun sudah bisa dihitung dua bulan sejak resepsi.
Bahkan usaha yang mereka rencanakan sudah dijalankan. Reydan memutuskan untuk membuka usaha bengkel, kebetulan dia punya pengalaman dalam mengotak atik motor. Semasa kuliah ia juga pernah bekerja di tempat bengkel juga. Dan dari pandangannya ia bisa melihat bagaimana bos nya berhasil mengelola bengkel itu dengan baik sehingga penghasilannya lumayan. Hal itulah yang menginspirasinya untuk membuka bengkel kecil kecilan.
Seharusnya uang sepuluh juta tidak cukup untuk membuka bengkel, tapi mau bagaimana lagi, sepuluh jutanya lagi ia berikan pada istrinya untuk usahanya. Tapi untung saja keberuntungan berada di pihaknya, bos-nya yang dulu kembali menghubunginya dan mengajaknya untuk bertemu.
Dari pertemuan itu ternyata Reydan diberikan satu tempat yang sekarang ia gunakan sebagai tempat bengkelnya. Tempat itu adalah bekas bengkel milik bosnya tersebut yang sudah lama tidak ditempati. Oleh sebab itulah bos Reydan mencarinya dan menyuruhnya untuk memakai tempat itu. Reydan yang merasa tidak enak berniat untuk membayar sewa, tapi bos nya menolak.
“Saya gak sempat hadir di pernikahan kamu, apalagi saya juga baru tahu kamu sudah menikah. Jadi anggap saja tempat ini sebagai hadiah untukmu.” Ucapnya saat Reydan menanyakan alasannya.
Reydan pun mengucapkan terima kasih. Ia tak menyangka bos-nya masih mengingatnya. Dan memberinya hadiah itu. Meskipun Reydan akui tempatnya memang kurang layak karena sudah lama tidak ditempati tapi itu tidak membuatnya berhenti bersyukur.
Reydan menyulapnya menjadi tempat yang layak dan nyaman di pakai. Selanjutnya ia hanya perlu membeli alat alatnya, meskipun tidak lengkap karena uangnya tidak cukup tapi ia masih punya beberapa peralatan di rumah orang tuanya yang dulu sempat dibelinya.
Sedangkan Zara, ia juga sudah memulai usahanya. Zara membuka toko kue kecil kecilan di pinggir kota yang lumayan ramai dengan pengunjung. Awalnya ia hanya ingin membuka usaha dagang bakso keliling, tapi Reydan menahannya. “Kamu kan pintar membuat kue, kenapa gak coba buat toko kue? Kebetulan Papa juga punya kios kecil yang udah gak dipakai lagi.”
Zara langsung menyetujui ide dari suaminya itu, dan setelahnya ia pun mulai menyiapkan semuanya dengan dibantu oleh Reydan. Bahkan Asri juga ikut datang membantu karena Zara yang memintanya.
Ia pikir dengan mengajak ibunya semuanya pasti akan cepat selesai karena sama sama perempuan. Dan benar saja, pekerjaannya menjadi lebih cepat selesai karena Asri yang membantunya. Zara bersyukur suami dan ibunya bisa membantunya dalam hal ini.
Pagi ini, Zara sibuk berkutat di dapur untuk membuatkan sarapan untuk suaminya. Karena sebentar lagi ia akan berangkat ke toko kuenya. Banyak pelanggan yang meminta pesanannya untuk dibuatkan hari ini.
Itulah sebabnya dia sedikit terburu buru. Alhasil Zara hanya memasak ala kadarnya. ia hanya memasak udang dengan bumbu balado dan tumis kangkung serta sambal kesukaan Reydan. Setelah selesai menyiapkan semuanya, Zara membawanya ke meja makan.
Reydan yang sedari tadi menunggu di meja makan langsung tersenyum ketika melihat Zara yang muncul dengan membawa masakannya. “udah siap sayang?” tanyanya basa basi.
“Udah mas, tapi maaf ya hari ini aku cuma bisa masak ini aja. Soalnya waktunya gak cukup. Aku mau ke toko kue habis ini.” Jawab Zara sambil menyajikan makanannya di atas meja.
__ADS_1
Reydan mengangguk berusaha memaklumi. “Gpp kok, lagian sebentar lagi aku juga mau ke bengkel,”
Zara mulai mengambilkan makanan untuk Reydan dan menyerahkannya. Kemudian ia duduk dan mengambil untuk dirinya sendiri. “Gimana bengkel kamu Mas?”
“Lumayan sih, cuma ya gak terlalu ramai soalnya alat alatnya juga masih kurang.”
“Syukurlah kalau gitu, setidaknya kita ada pemasukan dulu, Mas. Nanti misal uangnya kekumpul baru deh bisa nambah alat. Untung aja kita gak usah balikin uangnya sama papa.”
Reydan terkekeh dan mengangguk setuju. Lalu Reydan tiba tiba teringat sesuatu, ada hal yang harus ia katakan pada istrinya itu. Ia menatap istrinya dengan ragu ragu. Zara yang menyadarinya itu menghentikan suapannya dan beralih membalas tatapan Reydan. Zara merasa Reydan ingin mengatakan sesuatu.
“Ada apa, Mas?” tanyanya langsung.
“Cuma mau bilang, tadi mama kamu nelfon katanya dia mau kesini. Kamu gak mau nemenin mama dulu. Mungkin sebentar lagi mama nyampe.”
Zara terdiam, lalu matanya mengarah pada jam dinding yang sudah menunjukkan pukul tujuh. Jika ia menemani mamanya di sini ia pasti telat tiba di toko kue miliknya, belum lagi kuenya yang masih harus dibuat. “Mas ke bengkelnya buru buru gak?” Zara malah bertanya balik pada Reydan.
Fian adalah teman kampus Reydan yang sekarang memutuskan untuk bekerja di bengkelnya, mereka dari jurusan yang sama yaitu ilmu komunikasi. Sama seperti Reydan, Fian juga ingin memulai karirnya dari nol. Hanya saja bedanya Fian adalah anak pejabat sedangkan orang tuanya hanya pegawai kantor biasa.
“Ya sudah kalau gitu Mas aja yang nemenin mama, aku yakin mama di sini pasti sebentar kok.” Zara mengatakannya dengan nada yang enteng sekali.
“Tapi....” Reydan benar benar ragu, entah apa yang membuatnya ragu. Seperti ada perasaan yang mengganjal di hatinya.
“Udah gak usah tapi tapian, Mas. Aku udah selesai sarapan nih, mau cuci piring dulu terus berangkat. Nanti kalau mama nanya bilang aja aku udah pergi mas. Soalnya aku sudah ditunggu pelanggan.”
Zara beranjak dari kursinya dan membawa piringnya ke tempat cucian piring. Sementara Reydan hanya bisa menatap pasrah. Lagi pula apa yang harus dikhawatirkannya, hanya tinggal menemui mertuanya sebentar, bukankah itu bukan masalah.
Reydan memilih untuk segera menghabiskan makanannya. Sambil lalu dia melihat istrinya yang selesai mencuci piring langsung masuk kamar. Reydan yakin saat ini Zara sudah bersiap siap dan bergegas untuk pergi.
__ADS_1
Zara yang selesai bersiap siap langsung turun ke bawah untuk berpamitan, pandangannya langsung tertuju pada Reydan yang menonton televisi di ruang keluarga. Zara tersenyum kecil dan menghampiri suaminya tersebut. “Mas, aku pergi dulu ya.”
Reydan menoleh dan memperhatikan penampilan Zara yang sudah rapi. Dengan gaun selutut warna pink dan juga tas yang selalu dibawanya kemana mana. Jangan lupakan bau parfumnya yang sangat menyengat di hidungnya. Reydan jadi khawatir Zara akan digoda kaum adam jika seperti ini terus.
Tapi ia tidak mau dibilang posessive, hingga Reydan lebih memilih diam dan tidak mengomentarinya. “Mau aku anterin gak?” tanyanya dengan tidak mengalihkan pandangannya terhadap Zara.
Zara menggeleng pelan. “Aku udah pesan taksi kok, lagi pula kalau Mas nganterin aku nanti mama keburu datang.”
“Ya udah kamu hati hati ya,”
Reydan berdiri kemudian mengecup kening Zara dengan lembut kemudian turun ke bibirnya. Hal itu sudah menjadi kewajiban bagi mereka berdua sebelum berangkat kerja. Zara melepaskan bibirnya dari bibir Reydan. Lalu mengambil tangan Reydan dan menciumnya.
“Aku berangkat ya mas,’ pamitnya.
Reydan mengangguk dan mengantar istrinya sampai ke depan. Saat Zara sudah masuk ke dalam taksi ia melambaikan tangannya. Zara tersenyum lalu menyuruh supir taksinya untuk berjalan.
Reydan menarik nafasnya dan berniat masuk ke dalam rumahnya kembali, tapi tiba tiba sebuah taksi berhenti di depan rumahnya. Reydan berbalik sambil mengernyitkan keningnya dengan bingung. Ia pikir itu adalah Zara yang kembali lagi karena melupakan sesuatu. Tapi ternyata dugaannya salah.
“Mama?”
__ADS_1