Wanita Selingkuhan Suamiku

Wanita Selingkuhan Suamiku
Bab 29 Tamu di pagi hari


__ADS_3

“Kenapa lo? Ada masalah?” tanya Fian.


Fian memang sudah mengetahui semua hal yang menimpa Reydan, ia juga tau mengenai hubungan gelap Reydan yang membuatnya harus berpisah dengan Zara.


Reydan menggeleng, “Gue cuma lagi ngerasa bosen aja, setiap hari selalu harus menuruti mama,” jawab Reydan dengan jujur dan tidak menyembunyikan apapun.


“Ya itu sih resiko lo bro,” balas Fian sambil duduk di samping Reydan.


Reydan menolehkan kepalanya, “Resiko apa?” tanyanya.


“Ya itu resiko lo udah milih dia. Lo udah ninggalin Zara yang wanita baik baik demi orang tua seperti ibu mertua lo itu,” jawab Fian dengan tepat sasaran.


Sedari awal Fian tau masalah itu, dia sudah memaki Reydan dengan segala kata umpatan. Fian bahkan pernah menonjok Reydan karena kebod*hannya itu.


Meskipun Fian adalah teman baik Reydan tapi bukan berarti dia akan mendukung segala perbuatan Reydan. Justru Fian juga menyalahkan Reydan yang bertindak di luar batas itu.


Akan tetapi Fian juga tidak meninggalkan Reydan, sebesar apapun kesalahan Reydan, Fian akan selalu bersamanya.


Reydan mengangguk, pikirannya berkelana pada waktu sebelum Asri mengacaukan hidupnya. Reydan pernah menjadi seorang laki laki yang bahagia karena berhasil mendapatkan Zara.


“Gue juga nyesel banget, Fi. Tapi gue juga udah terlanjur jauh sama ibu mertua gue. Gue gak hanya melakukannya sekali. Bahkan berkali kali setiap ada kesempatan,” jawab Reydan lagi sambil menatap ke arah Fian.


Fian berdecak dan meninggalkan Reydan kembali. ia lebih memilih melanjutkan servis motor daripada mendengar hal yang menj*jikkan dari mulut Reydan.


“Gue udah ngasih saran buat lo agar berhenti tapi nyatanya lo makin menjadi ya Rey. Kalau saran gue gak bisa lo terima gue juga gak tau harus ngapain. Ini hidup lo jadi pastinya lo yang lebih tau dari gue,”


Reydan mengangguk pasrah, apa yang dikatakan Fian memang ada benarnya. Sebenarnya di sini yang paling bersalah adalah dia. Reydan beranjak dari tempat duduknya lalu pergi ke belakang untuk mengganti baju dan memulai pekerjaannya.


.


.


Sementara itu, Zara yang baru tiba di toko kuenya dikejutkan oleh dua orang yang sepertinya sedang menunggunya di depan tokonya. Zara memicingkan matanya dari dalam taksinya saat merasa ia mengenali dua orang itu.


“Itu kan Mas Rizky sama bu Vina? Kayaknya akrab banget. Apa mereka saling kenal?” Zara bertanya tanya dalam hatinya.

__ADS_1


“Mbak, ini udah sampai. Mbak gak mau turun?” tegur supir taksi yang sedari tadi melirik ke arah Zara dari spion.


“E-eh iya pak, maaf. Kalau gitu ini uangnya,” Zara memberikan satu lembar uang berwarna biru setelah itu ia turun tanpa harus meminta kembaliannya terlebih dahulu.


Supir taksi itu hanya menggelengkan kepalanya lalu kembali menjalankan mobilnya.


Sementara itu Vina dan Rizky terus berdebat di depan toko Zara, Vina terus memaksanya untuk mengantarnya ke toko Zara untuk bertemu dengannya. Hal ini dikarenakan Vina semalam menemukan foto Zara di dalam dompetnya.


Hal itulah yang membuat Vina penasaran kenapa Rizky bisa memiliki foto Zara. Dan malam itu juga Vina memaksa Rizky untuk berterus terang sehingga pada akhirnya Rizky mengatakan semuanya.


“Ma, udah deh. Lebih baik kita pulang. Kalau mama mau pesan kue, biar aku aja yang pesenin.


Mama pulang aja,” desak Rizky pada Vina.


“Kamu kenapa sih Riz?! Mama Cuma pengen ketemu sama dia. Bukan mau melabraknya kayak ibu ibu di sinetron itu. Lagian apa salah kalau mama mau bertemu calon menantu sendiri,” jawab Vina dengan ekspresi sebalnya karena terus dipaksa pulang.


“Iya tapi kan...”


Belum selesai Rizky bicara, Zara tiba tiba muncul di hadapan mereka dengan senyuman manisnya.


Vina dan Rizky langsung menoleh secara bersamaan.


“Selamat pagi juga mbak Zara,” balas Vina.


Rizky mnyyengol lengan Vina dan memberikan kode agar ibunya tidak bicara yang macam macam pada Zara.


“Pagi juga, mbak.” jawab Rizky juga.


“Ibu sama Mas Rizky saling kenal ya?” tanya Zara sambil melihat keduanya dengan bergantian.


Rizky mengangguk kecil, “Ini mama saya mbak.”


Zara cukup terkejut mengetahui mereka adalah ibu dan anak, Zara melihat ke arah Rizky yang juga menatap ke arahnya. Vina yang menyadari itu langsung berdeham dan memutuskan aksi tatap tatapan mereka berdua.


“Maaf ya mbak kalau kedatangan kami mungkin sangat mengejutkan mbak. Saya dan putra saya berniat baik untuk datang kesini. Kebetulan nanti di rumah ada acara arisan jadi saya minta pada Rizky untuk mengantarkan saya kesini untuk memesan kue mbak Zara,”

__ADS_1


Rizky mengangguk setuju dengan apa yang dikatakan Vina, hari ini memang Vina mengadakan kumpul arisan lagi di rumahnya. Itulah sebabnya ia mendatangi toko kue Zara sekaligus ingin bertemu lagi dengannya.


“Kalau gitu kita masuk dulu ya bu, mas. Saya buka kunci dulu ya,” ujar Zara sambil mengambil kunci dari dalam tasnya.


Setelah itu Zara membuka tokonya dan mempesilahkan mereka untuk masuk ke dalam. Zara juga meminta mereka untuk duduk terlebih dahulu karena Zara harus ke belakang dan menyiapkan cemilan dan minuman untuk mereka berdua.


“Mama setuju banget kalau kamu sama dia, meski dia sudah pernah jadi istri orang lain. Tapi aura nya masih sama seperti belum menikah,” bisik Vina dengan pelan pada Rizky.


“Doain aja ma, rencananya Rizky mau mengatakan semuaya setelah wisuda nanti. Apalagi aku juga harus menunggu masa idd*h nya selesai dulu,” jawab Rizky.


“Apapun keputusan kamu, mama akan selalu mendukung. Mama senang akhirnya kamu bisa jatuh cinta lagi.” Vina tersenyum haru sambil memegang tangan Rizky dengan erat.


Rizky juga ikut memegang tangan Vina dan mengelusnya.


“Mama jangan khawatir, aku sudah tidak seperti dulu lagi. Bagaimana pun masa lalu itu adalah bagian takdir. Dan hidup itu harus berjalan. Aku tidak mungkin stuck di tempat itu saja. Justru aku harus mengubah hidupku dengan lebih baik dari pada sebelumnya. Dengan aku membuka hati pada mbak Zara, aku berharap mbak Zara bisa menjadi penyempurna dalam hidupku,”


Vina mengangguk, ada rasa bangga dalam dirinya saat Rizky berkata seperti itu.


Tak lama kemudian Zara kembali muncul dengan membawa nampan yang berisi makanan dan minuman untuk mereka. Zara meletakkannya di atas meja.


“Silakan dimakan, bu, mas.” Ucap Zara.


“Terima kasih, mbak.”


“Emm bu, panggil saya Zara saja biar lebih nyaman,” ujar Zara lagi.


Vina tersenyum tipis dan mengangguk, “Baiklah, terima kasih Zara,” ucapnya pada akhirnya.


“Sama sama ibu, oh iya ibu mau pesan kue apa?”


Bersambung...


Terima kasih sudah membaca


Jangan lupa like+komentar

__ADS_1


Itu penyemangat buat update


__ADS_2