
Zara langsung tak sadarkan diri saat melihat suami dan ibnya berpelukan di sofa tanpa sehelai benang pun. Sedangkan Reydan dan Asri langsung terbangun saat mendengar teriakan itu. Saat itu juga pandangan mereka jatuh pada Zara yang terbaring di lantai.
Reydan segera menyadari yang terjadi, dengan panik ia memungut pakaiannya kembali. ia yakin Zara sudah melihatnya. Asri sendiri tidak begitu panik, justru inilah yang dia harapkan. Ia tidak merasa menyesal sama sekali meskipun putrinya sampai pingsan karenanya.
“Ma, lebih baik mama pergi sekarang! Reydan tidak mau menambah masalah lagi. Anggap saja hari ini Reydan khilaf," ucap Reydan sambil memakai pakaiannya kembali.
Reydan mengangkat tubuh Zara dan membaringkannya di sofa. Ia khawatir melihat Zara yang tidak sadarkan diri karenanya.
“Untuk apa? Mama tidak akan pergi sebelum Zara bangun. Bagaimana pun dia adalah putriku. Dia harus tau apa yang ibunya lakukan terhadapnya,” Asri terkekeh sambil mengelap ****** ***** mereka dengan tisu.
“Mama sadar gak, kalau mama masih disini kita berdua akan terkena masalah!!” bentak Reydan karena terlanjur kesal dengan ibu mertuanya yang begitu keras kepala.
“Mama sudah tidak peduli itu Reydan, yang mama pedulikan saat ini Zara bangun dan mengetahui semua ini.”
Reydan menggelengkan kepalanya, ia terus memandangi Zara yang masih memejamkam matanya. Ia sadar ia sudah menyakiti hati istrinya dengan melakukan semua ini. Tapi mau bagaimana lagi, semuanya sudah terjadi. Reydan hanya berharap semoga Zara masih bisa memaafkannya. Meskipun ia tau rasanya sangat mustahil.
Zara mengerjabkan matanya, ia berusaha untuk membuka mata sampai terbuka dengan sempurna. Beberapa menit dia gunakan untuk menyesuaikan cahaya saat matanya terbuka. Namun saat melihat wajah Reydan yang ada di dekatnya langsung membuatnya bangun seketika. Zara mengedarkan pandangannya mencari keberadaan ibunya.
“Akhirnya kamu sadar, Zara.” ucap Asri.
Zara langsung menoleh dan melihat ibunya yang masih dalam keadaan tanpa busana. Seketika Zara sadar dengan apa yang baru saja terjadi sehingga ia pingsan.
Zara tiba tiba tertawa keras sambil melihat ke arah Reydan dan Asri bergantian. Tentu saja itu membuat kedua orang itu bingung.
“Kalian jangan panik dong, aku tidak masalah kok dengan apa yang terjadi saat ini,” Zara tiba tiba tersenyum manis pada Reydan seraya mengedipkan matanya.
Reaksi Reydan dan Asri tentu saja terkejut karena Zara begitu santai. Padahal Reydan bisa merasakan kemarahan dan kekecewaan istrinya tadi, lalu mengapa sekarang berubah. Asri dan Reydan saling berpandangan selama lima detik.
“Kamu tidak masalah dengan hubungan ini nak?” tanya Asri.
__ADS_1
“Iya aku tidak masalah,” jawab Zara lagi.
Reydan menghela nafasnya dengan lega, ia bersyukur Zara tidak memperpanjang masalah ini.
Zara turun dari sofa dan berjalan membelakangi Reydan dan Asri, air matanya langsung menetes dengan begitu derasnya. Hatinya sakit bagai ditusuk jarum dan paku secara bersamaan. Bagaimana bisa kedua orang yang dicintainya melakukan hubungan yang tak semestinya di belakangnya. Tapi Zara tidak ingin lemah sekarang. Ia akan mengurus rasa sakitnya nanti.
Zara melangkah perlahan bagai orang linglung di rumahnya sendiri.
“Kamu mau ngapain Zara?” tanya Reydan yang kebingungan.
Zara tidak menjawab perkataan Reydan, diam diam tangannya mengambil vas bunga yang ia simpan di samping televisi. Zara memegangnya dengan erat, matanya menunjukkan kemarahannya. Ia memegang vas itu dengan erat. Ia tidak peduli lagi dengan rasa hormatnya saat ini.
Zara langsung berbalik dan menyembunyikan vas itu di belakang tubuhnya.
“Kalian ingin kumaafkan bukan?” Tanya Zara dengan begitu tiba tiba.
Reydan dan Asri menjawabnya dengan kompak. “Iya,"
Asri tersenyum sumringah, dengan menggebu gebu dia langsung menceritakannya pada Zara. “Rasanya sungguh luar biasa, Mama benar benar dipuaskan oleh suamimu. Apalagi Mama sudah lama menantikan ini....”
Zara mengepalkan tangannya dengan erat, tanpa basa basi lagi Zara langsung saja melemparkan vas itu ke arah ibunya. Reydan yang melihatnya langsung bergerak melindungi Asri meskipun sedikit terlambat. Vas itu mengenai kepala Asri hingga darah mulai menetes dari keningnya.
“KALIAN PIKIR AKU BISA MENERIMA SEMUA INI!!! DEMI APAPUN AKU TIDAK TERIMA. AKU TIDAK AKAN MEMAAFKAN KALIAN. SEKARANG JANGAN SALAHKAN AKU JIKA BERBUAT YANG LEBIH DARI INI,”
Zara langsung meninggalkan mereka berdua, ia memilih masuk ke dalam kamarnya dan mengunci pintunya.
Di dalam kamar, Zara menangis dan berteriak dengan histeris. Ia merasa sangat dikhianati oleh mereka berdua. Ia tidak pernah merasa sakit seperti ini, namun sekarang Zara harus merasakannya. Zara menghancurkan semua barang barangnya di kamar itu. Bahkan foto pernikahannya dengan Reydan sudah ia pecahkan. Tubuhnya bergetar karena tangisannya yang begitu hebat.
“Arghhhhhh aku benci kalian, dasar br***sek,”
__ADS_1
Setelah apa yang terjadi beberapa jam yang lalu, Zara mengambil keputusan yang akan merubah masa depannya. Zara mengumpulkan keluarga Reydan dan ayahnya sendiri.
Malam ini ia harus menyelesaikan semuanya dengan caranya sendiri. Ia tidak peduli meskipun keadaan wajahnya saat ini tidak baik baik saja. Matanya yang sembab dan bengkak karena terlalu lama menangis membuatnya terpaksa memakai kacamata agar tidak terlalu parah.
Malam ini tidak hanya ada kedua orang tua Reydan, akan tetapi ada juga sepupu Reydan yang bekerja sebagai pengacara. Zara cukup senang dengan kehadirannya. Sedangkan ayahnya sendiri, sedari tadi terus menatapnya dengan penuh tanda tanya.
Heri juga tidak mengerti kenapa tiba tiba mantan istrinya sudah ada di rumah mereka, bahkan sebelum ia datang.
“Zara, sebenarnya ada apa ini? Kenapa tiba tiba kamu meminta kami berkumpul malam ini juga,” Layla memulai pembicaraan karena sedari tadi tidak ada yang bersuara satu pun.
Layla melirik pada Reydan yang tertunduk terus menerus. Terlebih putranya itu duduk di samping besannya. Layla hanya merasa aneh saja.
Zara tersenyum tipis, ia sebenarnya tidak tega untuk mengatakan masalah ini pada mertuanya. Tapi ia harus mengatakannya. Zara bukan tipe wanita yang mudah memaafkan setelah disakiti. Apalagi ini termasuk kesalahan fatal. Untuk itulah ia mengumpulkan semuanya, Zara juga ingin mengetahui respon mereka.
Zara mengabaikan tatapan permohonan dari Asri yang meminta agar tidak dibocorkan. Tekadnya sudah bulat, mereka semua harus tau.
“Zara sengaja mengumpulkan semuanya disini karena ada yang harus Zara sampaikan pada kalian. Dan ini berhubungan dengan wajah sembab Zara dan luka di kepala Mama,”
Semuanya langsung bertanya tanya tentang apa sebenarnya terjadi. Tari yang sedari tadi diam terus memperhatikan Reydan yang menunduk. Ia merasa seperti ada kesalahan yang dilakukan oleh abangnya itu. Tari sangat mengenal Reydan dengan baik. Tapi ia tidak berani angkat bicara, ini urusan yang dewasa. Tari hanya sebagai pelengkap disini.
“Katakan saja nak, jangan ragu,” Heri seperti mengetahui apa yang Zara rasakan.
Zara mengangguk lalu dia menatap semua orang satu persatu. Zara memejamkan matanya dan berkata.
“Mas Reydan berhubungan badan sama Mama,”
Hayo kira kira gimana tuh respon mereka?
Jangan lupa ditunggu ya updatenya
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca