Wanita Selingkuhan Suamiku

Wanita Selingkuhan Suamiku
Bab 27 Kehadiran Dia


__ADS_3

“Jadi gitu deh, sebenarnya kakak suka sama kamu udah lama. Waktu itu kamu terlalu kecil untuk diajak pacaran. Apalagi umur kita yang terpaut tujuh tahun,” lanjut Fian.


“Ciee ada yang seneng nih kayaknya,” Zara menyenggol bahu Tari dengan pelan sambil tertawa.


Tari yang merasa malu langsung menutup wajah. “Apaan sih kak! Untung kita ceritanya disini jadi bang Reydan gak tau!”


“KATA SIAPA AKU GAK TAU?!”


Reydan tiba tiba muncul dari arah belakang mengejutkan semua orang yang ada di situ kecuali Fian yang hana berekpresi biasa. Reydan dengan pakaian casualnya menghampiri mereka dan duduk bergabung di meja yang sama. Tari menatap Reydan dengan wajah ketidaksukaannya. Lalu ia melirik ke arah Zara yang diam dan tak bicara sepatah kata pun.


“Jadi kalian sudah punya hubungan di belakangku?” tanya Reydan sambil melihat ke arah Fian dan Tari secara bergantian.


“Datang-datang langsung sok tahu banget,” sinis Zara dengan mengalihkan pandangannya agar tidak melihat pada Reydan.


Reydan tidak mempedulikan sindiran Zara, yang ia pedulikan adalah bagaimana bisa selama ini sahabat baiknya menyukai adiknya sendiri. Yang lebih mengejutkan lagi Zara seperti mengetahui semua tentang mereka. Matanya masih mengarah pada Fian seolah minta penjelasan dari apa yang ia katakan. Sebenarnya dari tadi Reydan bersama Fian, mereka nonton film bersama karena Fian yang mengajaknya agar Reydan tidak suntuk di rumah karena perceraiannya itu.


“Aku memang suka sama adikmu, tapi kita belum punya hubungan. Bahkan dia aja baru putus dari pacarnya.” Jawab Fian sambil melihat ke arah Tari.


Reydan mengangguk lalu mengarahkan pandangannya pada Tari yang sedari tadi tidak melihat ke arahnya. “Sejak kapan kamu pacaran Tari? Bukannya papa sama mama udah ngelarang kamu pacaran. Kenapa kamu masih pacaran?! Mau jadi anak bandel kamu!” geram Reydan pada Tari.


Tari mulai menoleh ke arahnya, “Terus kenapa? Dulu abang juga pernah pacaran kak. Kenapa aku gak boleh pacaran juga!” jawab Tari dengan ketus.


“Itu beda situsinya Tari, kamu itu masih kecil. Usiamu masih tujuh belas tahun. Lebih baik kamu fokus pendidikan daripada mikirin kayak gitu!” kekeh Reydan.


Tari memegang tangan Zara sambil menatapnya dengan melas. Zara yang mengerti hal itu langsung mengambil alih percakapan. Zara menguatkan dirinya untuk saling bertatapan dengan Reydan, mantan suaminya itu.


“Tari sudah remaja, Mas. Disini aku tidak ingin membenarkan apa yang dilakukannya. Tapi aku hanya ingin kamu tau, Tari bahagia dengan cara seperti ini. Sebagai kakak harusnya kamu memberi contoh yang baik jika ingin disegani adikmu.”


Reydan yang mendengar jawaban Zara hanya bisa menghela nafas dengan pasrah.


“Lagian bang Reydan kenapa bisa ada di sini sih! Biasanya juga bareng nenek lamp*r di rumah,” lanjut Tari dengan ketus.


“Kakak yang ngajak abangmu untuk nonton disini Tari, jadi jangan marah sama abang kamu. Marahin aja Kak Fian kalau kamu mau, kakak tidak tau kalau hubungan kalian memburuk seperti ini.” Sahut Fian yang sedari yadi hanya diam tak bersuara.

__ADS_1


Tari langsung menunduk diam dan tak berani berbicara sepatah kata pun lagi. Sampai akhirnya Pizza yang dipesan Zara sudah siap. Pelayan mengantarkan pizza nya ke meja mereka dan menghidangkannya. Hal itu menjadi penyelamat situasi yang menegangkan itu.


“Selamat menikmati kak, airnya akan segera diantar ya,” ucap pelayan itu sambil tersenyum.


“Terima kasih,” jawab Zara sambil membalas senyuman pelayan itu.


Setelah pelayan itu pergi, Zara mulai membagikan Pizza untuknya dan Tari. Ia juga memberikannya pada Fian dan Reydan. Meskipun Zara dan Tari tidak menyukai kehadirannya tapi mereka tetap menerimanya.


“Dimakan, Mas,” ucap Zara pada Fian tanpa memandang ke arah Reydan sama sekali.


“Iya, makasih Zara.”


Zara mengangguk lalu mereka makan Pizza dengan tenang. Berbeda dengan Reydan, Reydan hanya menatap dua wanita yang disayanginya itu. ia merindukan perlakuan lembut mereka padanya. Adik yang dulu selalu manja padanya kini menjadi salah satu orang yang paling membencinya hanya karena kebod*hannya. Dan juga ada Zara sosok istri idaman yang sekarang berubah menjadi mantan istrinya.


Reydan memundurkan tubuhnya sehingga kursinya terdorong ke belakang, lalu ia berdiri dan menarik perhatian mereka bertiga. Tari, Zara dan Fian menatap ke arah Reydan dengan penuh tanda tanya.


“Mau kemana lo?” tanya Fian.


“Gue pulang duluan, gue titip adek gue ya. Gue percayain dia sama lo. Zara benar, dia masih remaja yang bahagia dengan hal hal seperti itu. Kalau lo emang beneran suka tolong jangan sakitin dia,”


Setelah mengatakan itu Reydan pergi entah kemana. Zara dan Tari saling menatap satu sama lain sebelum akhirnya mereka melanjutkan makannya.


.


.


.


Beberapa jam kemudian, Tari dan Zara sudah pulang ke rumah dengan diantar oleh Fian. Mereka baru saja turun dari mobil. Fian juga ikut turun dari mobil.


“Makasih ya kak. Udah nganterin aku sama kak Zara pulang,” ucap Tari dengan tulus pada Fian.


Fian mengangguk seraya tersenyum.

__ADS_1


“Sama-sama, makasih juga buat kamu,” balas Fian.


“Makasih buat apa?” tanya Tari penasaran.


Fian maju semakin mendekat pada Tari lalu mencubit pipinya dengan pelan.


“Makasih karena kamu sekarang makin tambah lucu dan gemesin dibanding dua tahun lalu.” Fian menangkup wajah Tari hingga pipi bulatnya mengembung. Ia terkekeh sendiri melihatnya.


“Jadi pengen cium deh,” lanjut Fian sampai membuat Tari membelalak.


Zara yang melihat itu langsung berdeham.


“Masih kecil loh Mas, tunggu lulus sma dulu kalau mau cium,” ledeknya.


Fian menoleh pada Zara sebelum mengedipkan matanya. “Adek iparmu gemesin sih,” balas Fian.


Tari yang mendapat perlakuan seperti itu langsung salah tingkah.


“Ish kak, gemesnya lanjut kapan kapan ya. Tari udah ngantuk nih, mau bobo.” Akhirnya Tari angkat bicara.


Fian langsung melepaskan tangannya, tidak tega melihat wajah Tari yang memerah karenanya.


“Ya sudah kalau gitu kalian masuk aja sana, kalau udah masuk baru aku pulang.” Ucapnya lagi pada Zara dan Tari secara bergantian.


Zara dan Tari pun masuk  ke dalam rumah dan meninggalkan Fian sendirian. Setelah memastikan kedua wanita itu masuk, Fian kembali pada mobilnya dan segera pulang. Dalam perjalanan pulang Fian terus tersenyum sendiri. Dalam hatinya dia bersyukur karena Reydan juga menyetujuinya. Selain itu ia bisa mendapatkan Tari dengan lebih mudah tanpa ada halangan apapun lagi kecuali menunggunya menyelesaikan pendidikannya. Ia juga tidak menyangka malam ini harus bertemu dengan Tari. Gadis itu semakin menggemaskan!


 


Bersambung..


Terima kasih sudah membaca


Jangan lupa tinggalin jejak

__ADS_1


Like dan komentar adalah penyemangat


 


__ADS_2