
Tak lama kemudian Zara kembali muncul dengan membawa nampan yang berisi makanan dan minuman untuk mereka. Zara meletakkannya di atas meja.
“Silakan dimakan, bu, mas.” Ucap Zara.
“Terima kasih, mbak.”
“Emm bu, panggil saya Zara saja biar lebih nyaman,” ujar Zara lagi.
Vina tersenyum tipis dan mengangguk, “Baiklah, terima kasih Zara,” ucapnya pada akhirnya.
“Sama sama ibu, oh iya ibu mau pesan kue apa?”
Setelah Vina memberitahukan pesanannya, Zara langsung bergegas ke belakang untuk membuat kue pesanan itu. Zara mulai menyiapkan semua bahan dan peralatannya, hari ini dia harus membuat kue brownies dengan jumlah yang banyak karena permintaan Vina. Zara harus melakukan semuanya dengan sendirian.
Setelah semuanya siap, Zara mulai mencampurkan bahan bahan yang diperlukan dan mulai fokus membuat kue.
.
.
Sementara itu, Asri yang baru pulang dari pasar dia langsung masuk ke dalam rumah. Meski ada sedikit rasa kesal di hatinya karena Reydan meninggalkannya di pasar. Akan tetapi tetap saja Asri ingin selalu perhatian padanya. Asri memilih untuk masuk terlebih dahulu dan memasak semua hasil belanjaannya itu.
Setelah itu ia akan mengantarkannya pada Reydan. Karena Asri tau Reydan pasti belum sarapan.
Hanya butuh waktu 45 menit bagi Asri untuk memasak, kini Asri sudah menyelesaikan beberapa masakan dan menghidangkannya di atas meja makan. Ia mengambil rantang makanan sebagai wadah untuk makanannya itu. Asri mengambilkan beberapa makanan yang akan dibawanya dan diberikan pada Reydan.
Setelah semuanya siap, Asri juga bergegas ke kamarnya dan berganti pakaian. Hari ini dia ingin memberikan tampilan yang berbeda dari biasanya. Asri diam diam mengambil baju Zara yang masih tersisa di lemari Reydan. Ia mengambil sebuah dress ketat berwarna hitam.
“Apa aku coba pakai ini kali ya? Kayaknya aku masih cocok pakai dress ini,” ucap Asri sambil menempelkan dress itu di tubuhnya dan bercermin. Ia tersenyum puas saat merasa pakaian itu memang cocok untuknya.
“Yaudah deh, semoga aja Reydan suka.”
__ADS_1
Asri melepas pakaiannya dan berganti dengan pakaian milik Zara itu. Awalnya ia kesulitan memakainya karena tubuhnya yang terlalu berisi sedangkan pakaian itu dipakai oleh Zara yang bertubuh langsing. Alhasil tubuhnya sangat kesempitan karena memakai pakaian itu. tapi Asri tidak mempedulikannya. Yang penting hari ini ia harus tampil berbeda di depan Reydan. Asri sangat yakin Reydan akan tersenyum dan memuji keelokan tubuhnya.
Setelah selesai, Asri keluar dari kamar Reydan dan pergi ke dapur untuk mengambil rantang makanan itu. setelah itu pergilah ia untuk mendatangi bengkel dimana Reydan berada.
Asri datang ke bengkel Reydan dengan menggunakan taksi, ia tidak mungkin naik ojek dengan pakaian seperti itu. Taksi yang dinaikiknya sudah berhenti di depan bengkel. Asri turun dan membayar ongkos taksinya. Supir taksi itu memandangi Asri seolah sedang menilainya. Ia yang masih muda harus melihat ibu ibu yang mulai puber lagi.
Supir itu menahan tawanya, dalam hatinya dia berkata. “ kayak dandanan pelakor sepertinya,” batinnya sambil menggelengkan kepalanya.
Setelah mendapatkan bayarannya supir itu pun pergi dengan melepaskan tawa yang sedari ia tahan, khawatir penumpangnya tersinggung dan tidak mau membayar ongkos taksinya.
Asri berjalan menuju bengkel Reydan yang sepertinya hari ini sedang banyak pengunjung. Sekitar enam motor terpampang disana untuk diperbaiki. Reydan dan Fian juga terlihat lusuh karena memperbaiki motor motor itu.
Dengan kepercayaan dirinya yang tinggi, Asri tersenyum dan menghampiri Reydan. Semua orang yang ada di bengkel itu terlihat terkejut dengan kedatangan Asri yang berpakaian seperti itu. Bahkan Fian sampai melongo dibuatnya.
“Mas, ini di bengkelnya ada pengemis nih! Coba kasih uang dulu mas. Risih saya melihatnya,” ujar salah satu wanita paruh baya disitu yang juga tengah menunggu motornya.
Asri mendengus ketika mendengar orang itu menyebutnya sebagai pengemis. Sementara itu, Reydan juga langsung menoleh pada sumber suara. Lalu pandangannya berhenti pada tubuh yang lumayan berisi dengan pakaian ketat. Saat melihat siapa orang itu Reydan membulatkan matanya.
Asri berjalan semakin mendekat pada Reydan lalu memberikan rantang makanan yang ia bawa itu.
“Nih! Mama bawain kamu makanan kesukaan kamu. Mama sengaja...”
Belum sempat Asri menyelesaikan perkataannya, Reydan buru buru melepaskan alat yang dipegangnya lalu beranjak dan menarik Asri dengan kuat. Reydan membawa Asri masuk ke dalam ruang bengkel dimana di dalamnya hanya ada motor motor yang sudah mereka perbaiki dan belum dijemput pemiliknya. Setibanya disana Reydan langsung menghentakkan tanga Asri begitu saja.
“Kenapa sih Rey? Kamu mau ngajak main disini. Yang benar saja kamu. Disini banyak orang, sayang. Mama gak suka,” ucap Asri dan meletakkan rantang itu di meja yang berada di sampingnya. Asri bahkan membusungkan dadanya yang kesempitan karena dress itu.
Wajah Reydan menunjukkan rasa ketidaksukaannya. Sorot matanya yang tajam menatap lurus ke arah seolah olah ingin memukulnya.
“Mama apa apaan sih?! Kenapa datang ke bengkelku dengan pakaian seperti itu.” bentak Reydan pada Asri.
Asri menunduk dan melihat penampilannya sendiri, lalu kembali melihat ke arah Reydan.
__ADS_1
“Memangnya kenapa? Bukankah pakaian ini terlihat bagus di tubuh mama. Lihat ini, bahkan bukit kembar kesukaanmu juga terlihat menonjol. Mama pikir kamu akan suka kalau melihat mama dengan penampilan seperti ini,” jawab Asri.
Reydan menggelengkan kepalanya, ia mengusap rambutnya dengan kasar seolah frustasi melihat semuanya.
“Ma, tolong jangan lakukan itu lagi. Aku malu sama orang orang di luar ma. Penampilan mama yang seperti sama seperti ikan buntal yang ada di lautan. Jangan bikin malu aku, Ma.” Balas Reydan lalu melangkahkan kakinya untuk pergi.
Namun saat Reydan pergi, Asri langsung memeluknya dari belakang dengan erat.
“Mama tidak peduli meskipun kamu bilang mama seperti ikan buntal. Mama hanya menginginkan dirimu Reydan. Mama tidak mau kehilangan kamu lagi, itulah sebabnya mama ingin merubah penampilan,” ucap Asri yang menempelkan wajahnya di punggung tegap milik Reydan.
Reydan mengepalkan tangannya dengan erat, ia merasa emosi pada Asri yang sudah bertindak di luar batas sedangkan ini masih di area bengkelnya. Yang artinya siapapun bisa melihat dan mendnegar pembicaraan mereka.
Reydan melepaskan tangan Asti dengan paksa, lalu berbalik.
“Apa yang mama inginkan sebenarnya?” tanyanya sambil melihat wajah Asri yang tebal dengan make up nya.
Asri tersenyum manis lalu berjinjit dan berbisik di telinga Reydan.
“Mama ingin kamu menghamili mama Rey. Mama ingin mengandung anakmu. Tapi sebelum itu kamu harus menikahi, mama.” Bisiknya.
“Dasar tante gir*ang,” ucap seseorang yang muncul tiba tiba.
Bersambung...
Terima kasih sudah membaca
Jangan lupa tinggalin jejak
Like dan komentar kalian penyemangatku.
__ADS_1