
Sudah dua jam sejak Zara pergi, Reydan sudah merasa kebosanan terus rebahan di kamar. Setelah minum obat dan istirahat sebentar tadi kondisinya lumayan membaik meskipun masih sedikit pusing.
Daripada ia suntuk ada di kamar terus menerus, Reydan bangun dan pindah ke ruang tengah. Ia lebih baik menonton televisi saja daripada terus tidur. Ia berjalan pelan pelan menuju ke ruang tengah. Saat tiba di ruang tengah, alangkah terkejutnya ia ketika melihat siapa yang berada disana. Reydan bahkan sampai tidak berkedip melihatnya.
Orang yang tak pernah ia sangka sedang berdiri di hadapannya tanpa sehelai benang pun. Reydan meneguk ludahnya, niatnya keluar hanya ingin menonton televisi kenapa sekarang ia harus melihat pemandangan itu.
Orang yang berdiri di hadapannya saat ini adalah Asri, ibu mertuanya sendiri. Reydan meneguk ludahnya ketika Asri mendekatinya dengan tubuh terbuka seperti itu. Ia bahkan sulit untuk menggerakkan tubuhnya. Ia benar benar tidak menyangka dengan ibu mertuanya yang akan seperti ini.
Asri mengambil tangan Reydan dan meletakkannya di dadanya yang lumayan besar meskipun sedikit mengerut, tangannya berusaha untuk melepaskan pakaian Reydan. Ia sudah menahan ini selama bertahun tahun, pada akhirnya hari ini dia mempunyai kesempatan untuk melakukannya.
“Reydan sayang, sudah lama mama menantikan ini. Mama ingin merasakan tubuh kekarmu dalam tubuh mama. Tolong bantu mama untuk mewujudkan keinginan mama yang satu itu. Mama jamin kamu juga pasti akan menyukainya,” ucap Asri dengan tidak tau malunya. Ia berhasil membuka pakaian Reydan sehingga kini Reydan hanya memakai sarung tanpa baju.
Reydan menggelengkan kepalanya, akal sehatnya tidak menginginkannya, tapi tidak dengan nafsunya. Reydan hanya laki laki normal yang ketika melihat tubuh polos langsung menegang.
“Ma, ini salah! Tidak seharusnya kita seperti ini. Mama ibunya Zara dan aku menantu mama. Lalu bagaimana dengan papa? Apa mama tega mengkhianati papa seperti ini,”
Reydan masih berusaha menolak meskipun tangannya masih menempel di d*da milik mertuanya.
Asri tidak menghiraukan perkataan Reydan, matanya langsung tertuju pada sarung Reydan yang sudah mengembung. Ia tersenyum sinis sambil memandang Reydan dengan penuh gairah, tanpa pikir panjang lagi Asri menarik sarung itu hingga Reydan benar benar tidak tertutupi apapun. Yah, Reydan juga tidak menggunakan celana d*alam. Asri tersenyum pada Reydan.
“Sudahlah, kamu jangan munaf*k, lihatlah milikmu sudah keras. Lebih baik kamu nikmati saja tubuh mama ini.”
Asri melepaskan tangan Reydan dari d*danya dan menempelkan tubuh mereka sampai benar benar menempel. Tidak ada penghalang lagi di antara mereka. Mereka sama sama bisa merasakan rasa asing karena sentuhan k*lamin mereka. Reydan tidak bisa menahannya lagi, miliknya sudah sangat keras minta dipuaskan.
Reydan reflek memaju mundurkan tubuhnya sambil menggesek miliknya dan menggigit bibirnya sendiri agar tidak bersuara. Miliknya terasa sangat hangat menempel di lubang kenikmatan ibu mertuanya. Bisa ia rasakan bulu bulu halus itu menyentuh ujung b*tangnya yang sedari tadi terus digesekkan.
Reydan tidak bisa mengelak lagi, sekarang ia bisa merasakan kehangatan dari milik ibu mertuanya ini, tanpa sadar dia semakin menekankan miliknya pada milik Asri. Asri tersenyum puas, sebentar lagi ia akan merasakan bagaimana rasanya digagahi oleh Reydan.
“Baik, kalau itu kemauan mama. Reydan akan melakukannya,”
Reydan mendorong Asri ke sofa yang ada di ruang tengah itu, ia membaringkan ibu mertuanya tanpa kelembutan sama sekali. Lagi pula ini bukan salahnya, salahkan saja ibu mertuanya yang datang dan menawarkan kenikmatan. Reydan langsung meremas gunung kemb*r milik Asri dengan kuat, ia sudah tidak peduli apapun lagi. Reydan terus meremas dan mengecupinya.
__ADS_1
Begitu pun dengan Asri, ia terus mendesah sambil menekan kepala Reydan agar semakin kuat memainkan d*adanya. Mereka larut dalam kenikmatan mereka, sampai tiba di kegiatan inti. Reydan benar benar menyatukan tubuhnya dengan ibu mertuanya. Ia tidak pernah menyangka jika tubuh ibu mertuanya sangat menggairahkan, bahkan jauh lebih nikmat daripada milik istrinya sendiri.
“Lebih cepat lagi Rey...shhhhhh”
“Sabar Ma, Reydan masih mau menikmati punya mama,”
Reydan terus menusuknya sampai dalam, ia juga tidak membiarkan tangannya menganggur. Kedua tangannya juga meremas d*da milik Asri. ******* Asri membuat Reydan semakin semangat untuk menyetubuhi Asri.
Tubuh Asri sedikit bergoyang akibat tusukan demi tusukan yang diberikan Reydan, miliknya sangat penuh karena terisi dengan milik Reydan. Mereka terus melakukannya sampai tidak ingat waktu, bahkan Reydan juga mengajak untuk ganti gaya. Sepertinya mereka melupakan satu hal, mereka melupakan Zara.
.
.
.
“Terima kasih mbak,”
“Permisi...”
Zara yang sibuk mengaduk adonan kue langsung mendongakkan kepalanya karena mendengar suara seseorang. Yang ia lihat adalah ibu ibu yang lumayan berumur menatapnya sambil tersenyum manis. Zara melepaskan sarung tangannya dan bergegas menghampiri ibu ibu itu.
“Maaf bu tadi saya lagi fokus ngaduk adonan. Ibu mau pesan kue?” tanya Zara.
“Oh iya mbak, saya mau kue brownies cokelatnya tiga bungkus ya. Apa bisa ditunggu mbak?”
“Bisa bu, tapi ibu harus menunggu. Apa ibu tidak masalah? Ini saya juga tinggal satu pesanan lagi soalnya.”
Wanita itu yang tak lain adalah Vina, ibu dari Rizky yang tempo hari memesan kue di toko Zara. Ia langsung mengangguk menyetujuinya. “Iya gpp mbak, kalau gitu saya tunggu disini ya mbak,” ucap Vina sambil menunjuk ke arah kursi yang memang sudah disediakan Zara untuk pelanggan yang menungu kuenya.
Zara mengangguk seraya tersenyum manis. “Baik ibu, mohon ditunggu ya,”
__ADS_1
Setelah itu Zara kembali ke posisinya semula, Vina terus memperhatikannya. Hari ini ia datang ke toko kue Zara setelah berhasil meminta alamatnya pada Rizky. Ia sangat penasaran dengan toko kue milik Zara beserta pemiliknya. Dan ternyata setelah ia melihatnya sendiri, sepertinya Vina mengerti kenapa Rizky bisa mengatakan toko kue ini adalah yang terbaik. Meskipun kelihatannya sederhana, tapi toko kue milik Zara sangat bersih dan nyaman. Vina bisa merasakannya sendiri sekarang.
“Udah cantik, pintar buat kue lagi. Gadis itu sepertinya gadis baik baik. Beruntung sekali yang kelak akan menjadi mertuanya,” gumam Vina sambil terus melihat ke arah Zara.
Vina jadi penasaran dengan status gadis itu, apakah ia sudah menjadi milik seseorang atau belum. Seandainya belum Vina pasti menyuruh Rizky untuk mendekatinya.
Satu jam kemudian
Zara langsung membungkus brownies yang sudah ia bungkus, ia meminta maaf pada Vina karena harus membuatnya menunggu lama. Vina langsung membayar kue itu pada Zara.
“Makasih ya mbak, lain kali saya pasti mampir lagi. Jangan lupa sama saya ya,” canda Vina di akhir.
Zara jadi ikut tertawa dan membalas, “Pasti bu, bagi saya pelanggan seperti seorang ibu yang harus diperlakukan dengan baik,”
Vina mengulum senyumnya, ia semakin mengagumi gadis di hadapannya itu. Padahal ini pertemuan pertama mereka tapi Zara berhasil membuat Vina terkesan dengan sikapnya yang sangat ramah. Mengingat hari sudah semakin sore, Vina segera berpamitan untuk pulang. Zara mengantarnya sampai ke depan sampai Vina sudah benar benar pergi.
Setelah itu, Zara bersiap siap untuk menutup kuenya. Ia harus segera pulang dan mengecek kondisi suaminya. Sebelum menutupnya, Zara membersihkan dulu di setiap ruangannya hingga benar benar bersih. Barulah ia bisa tenang menutup tokonya untuk dibuka lagi besok.
.
.
.
Zara baru saja tiba di rumahnya, ia pulang dengan naik taksi seperti biasanya. Setelah membayar ongkos taksinya Zara masuk ke dalam rumah. Tidak seperti biasanya, rumahnya hari ini sangat sepi sekali, biasanya jam segini Reydan sudah di ruang tengah sambil menonton televisi.
Ia menghela nafasnya, suaminya pasti sedang ada di kamarnya karena masih sakit. kemudian ia membuka sepatunya dan menyimpannya di rak sepatu. Setelah itu Zara berjalan untuk pergi ke kamarnya dan mengecek kondisi Reydan.
Tapi sepertinya Zara melihat suaminya tertidur pulas di sofa ruang tengah, Zara melangkahkan kakinya semakin mendekat pada ruang tengah. Semakin dekat, Zara merasa ada kejanggalan disana.
Zara merasa suaminya tidak sendirian, ia semakin mendekat lagi untuk memastikannya. Namun apa yang ia temukan membuatnya syok setengah mati, Zara menutup mulutnya tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
__ADS_1
“ASTAGHFIRULLAH, MAMA, MAS REYDAN!!!!”