Wanita Selingkuhan Suamiku

Wanita Selingkuhan Suamiku
Bab 15 Siapa dia?


__ADS_3

Seminggu setelah kejadian itu, Zara sudah tidak tinggal bersama Reydan lagi, ia sudah memutuskan untuk tinggal bersama ayahnya sambil menunggu surat cerai. Uniknya lagi, ayahnya juga mengurusnya bersamaan dengannya.


Beberapa hari setelahnya, Heri juga menemui Niel untuk perceraian dengan ibunya. Zara sudah mengetahui semuanya karena Heri sudah menceritakannya. Mereka sama sama tersakiti karena orang dicintainya.


Selama seminggu ini, Zara masih merasa merasakan kesedihan meskipun ia menutupi dengan senyuman di hadapan Heri. Zara tidak mau ayahnya merasa bersalah lagi pada dia.


Zara bertekad untuk melupakan semuanya, ia akan membuka lembaran baru tanpa Reydan. Ia tidak peduli meski sebentar lagi statusnya akan berubah menjadi janda.


Pagi ini Zara akan kembali ke toko kue, karena sudah lama juga ia menutup toko kuenya. Setelah membuatkan sarapan untuk Ayahnya, Zara segera pamit pada Heri dan bergegas pergi.


Heri tidak menghalangi Zara, ia pikir Zara harus menyibukkan dirinya dengan bekerja daripada terus berlarut dalam kesedihan. Heri melipat korannya sambil memandangi punggung Zara yang makin menjauh dari pandangannya. Ia bukan tidak tau jika Zara diam diam menangis di kamarnya karena masalah itu. Bagaimana pun pernikahan mereka masih belum terlalu lama. Harusnya putrinya itu menikmati bulan madu bukan malah dikhianati seorang ibu dengan suami.


“Semoga setelah ini kamu bisa mendapatkan kebahagiaan yang lebih baik Nak,” batin Heri.


.


.


Dalam perjalanan menuju toko kuenya, Zara terus melamun sambil matanya menatap ke jendela taksi itu. Pandangannya tertuju pada seorang pasangan yang berpelukan di motor. Ia tiba tiba mengingat Reydan lagi. Seberapa keras usahanya untuk melupakan Reydan, Zara masih tetap teringat.


Taksi yang dinaiki Zara sudah tiba di depan tokonya. Supir taksi yang melihat Zara melamun langsung menegurnya. “Mbak, ini udah sampai nih,” ucapnya pada Zara.


Seketika Zara tersadar dari lamunannya, matanya memandang ke luar yang ternyata benar benar sudah sampai. Ia pun segera turun dan membayar ongkos taksinya.


“Kembaliannya buat bapak saja,” ucap Zara sambil memberikan satu lembar uang berwarna merah.


“Makasih mbak,” balas supir itu dengan rasa bahagia yang terlihat di wajahnya.


Zara tersenyum dan mengangguk, lalu ia berjalan ke arah tokonya. Zara mengambil kunci dari dari dalam tas untuk membuka pintunya.


Belum selesai mengambil kunci, pintu tokonya tiba tiba saja terbuka dari dalam. Zara terkejut sambil melihat siapa yang membukanya. Ekspresi wajahnya langsung berubah menjadi datar setelah tau siapa orangnya.


“Mau ngapain lagi kamu kesini?” tanya Zara.

__ADS_1


“Aku hanya ingin bicara sama kamu, aku yakin jika aku nekat menemuimu di rumah papa mungkin aku akan langsung diusir, jadi aku hanya menunggumu disini. Aku masuk dengan kunci cadangan,” ujar Reydan, orang yang membuka pintu tersebut.


“Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi Rey,” Zara tidak lagi memanggil Reydan dengan embel embel mas lagi. Semuanya sudah berubah, ia bahkan memanggil Reydan dengan namanya saja.


“Ada Zar, kamu bahkan tidak mendengar penjelasanku dulu tentang kejadian itu. Aku bisa menjelaskannya sekarang. Waktu itu aku digoda oleh ibumu itu....”


Zara terkekeh sambil tersenyum mengejek, “Kamu pikir sekarang aku peduli dengan apa yang kamu katakan. Lebih baik sekarang kamu pergi dari sini! Jangan sampai membuatku muak dengan melihatmu disini Reydan!,”


Zara berniat menerobos masuk ke toko meskipun tubuh Reydan menghalanginya. Namun tak semudah itu, Reydan malah mencekal pergelangan tangannya dan menariknya dengan kasar masuk ke dalam toko. Zara meringis kesakitan karena Reydan yang terus menariknya.


“L-lepasin aku Reydan, aku tidak segan segan untuk berteriak jika kamu bermacam macam denganku,” ancam Zara.


Reydan yang melihat Zara kesakitan langsung melepas tangannya. Ia sebenarnya tidak ingin menyakiti Zara tapi kalau bukan dengan cara seperti ini Zara pasti akan terus menolaknya. Zara menatap tajam Reydan saat melihat tangannya yang memerah karena kuku Reydan yang menancap tadi.


“Mau kamu apa sih Rey?” tanya Zara.


“Aku hanya ingin minta maaf sama kamu. Aku tidak mau bercerai, aku masih sayang sama kamu Zara,” Reydan menunduk tidak berani memandang wajah Zara. Biarkan saja ia disebut tak punya harga diri. Asalkan Zara mau membatalkan perceraian mereka.


“Sekali lagi aku tegaskan sama kamu! Keputusanku sudah bulat. Aku tetap ingin bercerai. Seharusnya kamu malu untuk mengatakan ini padaku Rey, karena disini kesalahan kamu begitu fatal. Kamu sudah menyetubuhi ibuku jadi lebih baik kamu lanjutkan saja daripada terus memintaku untuk membatalkan cerai,"


Reydan mengangkat wajahnya sambil menatap , baru saja ia akan bicara tapi tiba tiba seseorang masuk ke dalam toko. Zara dan Reydan langsung menoleh dan melihat siapa yang datang. Disana Rizky berdiri sambil tersenyum canggung.


“Maaf mbak jika kedatangan saya mengganggu. Saya lihat toko mbak sudah buka, jadi saya mau pesan kue lagi,” ucap Rizky.


Zara langsung mengubah raut wajahnya dan tersenyum dan mengabaikan Reydan, “Masuk dulu mas, tokonya baru buka kok. Sebentar lagi saya siap siap. Memangnya mas mau pesan kue apa?” tanya Zara.


“Saya mau coba kue bolu mbak, jadi pesan kue bolu sama browniesnya dua ya,” jawab Rizky.


“Sebentar ya Mas, silakan duduk dulu.”


“Iya mbak terima kasih,”


Reydan hanya terdiam melihat interaksi Zara bersama Rizky. Ia merasa cemburu melihat Zara yang tersenyum pada laki laki lain. Reydan terus menatap Rizky yang hari ini memakai almamater kampusnya lagi. Dari almamaternya saja Reydan sudah tau bahwa ia anak kuliahan.

__ADS_1


Zara tiba tiba mendekati Reydan dan berbisik. “Jika kamu masih menghargai aku, tolong segera pergi dari sini,”


Setelah itu Zara meninggalkan Reydan yang berdiri kaku. Reydan hanya bisa pasrah, mungkin hari ini ia akan memberikan waktu untuk Zara dan tidak mengganggunya dulu.


Rizky yang sudah duduk dengan tenang merasa penasaran dengan Reydan. Setelah ia perhatikan dari tadi Rizky seperti pernah melihat Reydan. Wajahnya seperti tidak asing. Entah ini hanya perasaannya saja atau memang benar ia tidak tau. Reydan yang merasa sedang diperhatikan langsung melirik pada Rizky sehingga keduanya saling bertatapan satu sama lain.


“Ada apa?” tanya Reydan pada akhirnya.


“E-enggak mas, sepertinya saya pernah melihat mas sebelumnya, tapi itu mungkin hanya perasaan saya saja.”


“Kamu kuliah di kampus ******* bukan?”


“Kok mas tau,”


“Sudah terlihat dari almamater yang kamu pakai. Dan saya juga lulusan sana, kalau kamu merasa mengenal saya itu wajar. Saya sempat menjadi presiden mahasiswa.”


Rizky mengangguk, ia baru ingat sekarang jika orang yang berdiri di hadapannya saat ini adalah Reydan Aldenio Agaskara, kakak tingkatnya sekaligus presiden mahasiswa di kampusnya dua tahun yang lalu. Pantas saja ia merasa pernah melihatnya. Dulu Rizky sangat mengaguminya karena Reydan berhasil membawa nama baik kampusnya dengan prestasinya yang sangat menumpuk.


Namun satu pertanyaan lagi muncul di kepalanya, karena ia tadi melihat Reydan bersama Zara rasa penasarannya bertambah lagi.


“Boleh saya bertanya lagi mas?” Rizky menatap Reydan dengan ragu-ragu.


“Tanyakan saja,” jawab Reydan.


“Mas siapanya mbak Zara?”


Bersambung.....


Silakan ditunggu update selanjutnya ya


Terima kasih sudah membaca


Like kalian penyemangatku

__ADS_1


__ADS_2