
Sepulang dari toko kue milik Zara, Reydan pergi ke rumah orang tuanya. Reydan akan meminta bantuan mereka agar membujuk Zara untuk membatalkan perceraian. Dua hari yang lalu dia sudah pergi kesana namun ia tidak mendapat sambutan yang baik. Apalagi setelah kejadian itu Noval sudah perang dingin dengannya.
Tapi Reydan tidak mau menyerah. Apapun yang terjadi ia tidak boleh sampai cerai dengan Zara. Reydan tidak mau kehilangannya.
Motor Reydan sudah sampai di halaman rumah orang tuanya. Reydan melepaskan helmnya dan turun dari motor. Reydan melangkahkan kakinya menuju pintu depan rumah mereka. Baru saja ia ingin masuk, Reydan mendengar suara seseorang yang bicara dengan ayahnya.
Reydan mengurungkan niatnya untuk masuk dan memilih untuk mendengarkan terlebih dahulu.
“Setelah ini Niel mau ke toko kue Zara, om. Surat cerai om Heri dan juga Zara sudah saya urus. Mereka hanya tinggal mengisi dan tanda tangan saja. Tapi Niel ragu, Reydan pasti tidak mau menandatangani surat ini,” ucap Niel pada Noval.
“Kamu jangan khawatir, om pasti bisa membuatnya tanda tangan. Om juga sebenarnya khawatir, tapi om harus melakukannya demi Zara. Om tidak mau Zara terbebani dengan ini. Reydan sudah tidak pantas lagi menjadi suami Zara.” Jawab Noval sambil menghela napasnya dengan berat.
“Kalau gitu Niel pergi dulu ya om,” pamit Niel pada Noval.
Reydan yang mendengarkan pembicaraan mereka mengepalkan tangannya dengan sangat erat. Lagi lagi ia harus menghadapi kata cerai dari mereka. Reydan langsung saja membuka pintunya dengan kencang sehingga Niel dan Noval kaget, karena posisi mereka sedang di dekat pintu karena Noval mau mengantar Niel sampai ke depan.
“Apa-apaan ini?! Siapa yang mau cerai hah! Kalian selalu saja ikut campur dalam rumah tanggaku. Berikan surat cerainya itu padaku, Niel. Aku akan merobeknya,”
Niel hanya menggelengkan kepalanya terheran dengan sikap Reydan yang sudah berubah total sejak kejadian itu. “
“Sorry, Rey. Aku susah payah mengurus surat cerai bukan untuk dirobek. Tapi untuk ditanda tangani,” Niel melihat ke arah Noval yang mengacungkan jempol ke arahnya.
“Sekarang mumpung kamu ada disini lebih baik kamu tanda tangan sekarang. Jangan menyiksa Zara lebih lama lagi. Biarkan dia bahagia dengan cara kamu tanda tangani surat cerai.” Noval mulai melembut dan berharap Reydan mau tanda tangan.
Pada saat itu, tiba tiba muncullah Tari dan Layla yang masuk ke dalam rumah, mereka baru saja pulang dari minimarket untuk belanja. Melihat Reydan ada disitu, Tari langsung melengos dan melewati Reydan begitu saja. Ia masih marah dengan Reydan yang sudah menyianyiakan Zara dengan cara yang begitu keji.
Reydan hanya memandang punggung adiknya yang sudah menjauh. Hubungannya dengan keluarganya sudah berantakan.
“Ada apa ini, pa?” tanya Layla yang masih belum mengerti dengan apa yang terjadi. Layla menatap Reydan sekilas dan kembali mengalihkan pandangannya lagi pada Noval.
__ADS_1
“Tidak apa apa, aku hanya ingin membuat anak ini segera menandatangani surat cerainya,”
“Loh, memangnya sudah selesai diurus?” heran Layla.
“Sudah kok, Tante. Ini tinggal Reydan yang tanda tangan lalu diserahkan pada Zara,” jawab Niel.
Layla menatap Reydan dengan wajah yang datar, ia meminta surat cerainya pada Niel kemudian bergegas mengambil bolpoin.
Setelah itu Layla langsung menyodorkanya pada Reydan tanpa ragu. Apapun yang terjadi Reydan harus menandatangani itu. Meskipun Reydan adalah putranya sendiri, ia tidak akan membelanya.
“Kalau kamu masih menganggap mama sebagai ibumu, cepat tanda tangan!”
“Ayolah Rey, jangan mempersulit keadaan! Lagian ini salah kamu sendiri yang udah mengkhianati istrimu.”
Reydan yang terus terusan didesak memilih menyerah, ia merebut surat cerai itu dari tangan Layla setelah itu barulah ia menandatanganinya. Reydan tidak punya pilihan lagi, meskipun sekarang ia menolak keluarganya pasti akan terus mendesaknya. Reydan menyerahkan kembali surat itu pada Layla.
“Sekarang udah puas kan! Mulai hari ini Zara aku talak” ucap Reydan sambil menatap mereka satu persatu.
“Mereka melupakan seribu kebaikan demi satu kesalahan,” dumel Reydan saat keluar dari rumah mereka.
.
.
.
Reydan pulang ke rumahnya dengan wajah yang begitu lesu. Padahal baru tadi pagi ia bilang tidak ingin menyerah untuk memperjuangkan Zara kembali. Namun sekarang Reydan dengan mudahnya melepaskan sosok wanita yang begitu memiliki peran dalam hidupnya.
Reydan benar benar terpaksa melakukan tanda tangan itu. Daripada ia terus meratapi nasibnya Reydan memilih untuk membuka pintu rumahnya, matanya langsung dilihatkan dengan Asri yang menonton televisi di ruang tengah.
__ADS_1
Asri yang merasakan kedatangan Reydan langsung menoleh, Asri beranjak dari sofa dan menghampiri Reydan dengan senyuman manis di wajahnya.
“Kamu sudah pulang sayang?” tanya Asri. Sekarang Asri tinggal di rumah Reydan karena itu atas permintaan Reydan sendiri.
Reydan tau setelah diusir ibu mertuanya tidak punya tempat tinggal lagi. Itulah sebabnya ia meminta Asri untuk tinggal bersamanya.
“Reydan sudah menceraikan Zara, Ma.” Ucap Reydan sambil menatap Asri dengan tatapan sendunya. Sangat jelas sekali jika Reydan tengah menahan tangisnya.
“Tenang, masih ada mama disini. Kamu tidak perlu khawatir ya,” Asri tersenyum kemudian menarik Reydan ke dalam pelukannya. Reydan memeluk Asri dengan erat dan menumpahkan air matanya yang sedari tadi ingin turun. Asri pun mengelus punggung Reydan sambil tersenyum puas.
Asri sudah lama menginginkan Reydan untuk menjadi miliknya. Dan akhirnya sekarang Asri bisa memiliki Reydan seutuhnya tanpa harus ada nama Zara lagi. Asri mendekatkan bibirnya pada telinga Reydan dan berbisik.
“Dari pada kamu terus menangis, lebih baik kita bermain lagi. Sekarang tidak akan ada lagi yang menghalangi kita,” Asri menj*lat daun telinga Reydan dengan sengaja. Reydan melepaskan pelukannya pada Asri, wajah sembabnya menatap Asri. Sepertinya sekarang ia butuh pelampiasan untuk melupakan sedikit rasa kecewanya.
Reydan ditarik Asri menuju ke kamar, Reydan pun hanya mengikutinya. Biarkan saja hari ini ia melakukannya lagi.
Asri mendorong Reydan agar masuk ke dalam kamar dan mengunci pintunya. Setelah itu Asri langsung melepas semua pakaiannya tanpa tersisa. Begitu pun dengan Reydan, kali ini ia membukanya sendiri secara sadar. Pada akhirnya kedua orang itu tidak belajar dari kesalahan, mereka malah menikmati sebuah kesalahan yang akan menyesatkan mereka.
Reydan melebarkan p*a*h*a Asri dan bersiap untuk memasukinya. Kali ini ia membayangkan jika orang yang disetubuhinya itu adalah Zara yang tersenyum padanya. Reydan langsung memasukinya dan menusuknya dengan kasar hingga Asri kewalahan. Reydan benar benar melakukannya dengan kasar karena ia pikir Asri itu adalah Zara.
“Kamu hanya milikku,” ucapnya sambil menusukkan miliknya dalam dalam.
“S-sakit Rey...” lirih Asri dan tak sadarkan diri.
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca
Ditunggu ya update selanjutnya
__ADS_1
Jangan lupa tinggalin jejak biar smangat