
Reydan langsung menyuguhkan teh untuk ibu mertuanya, entah kenapa tiba tiba merasa gugup. Padahal sebelum sebelumnya ia biasa aja meskipun hanya berduaan dengan ibu mertuanya.
Reydan bukan tidak menyadari jika sedari tadi, ibu mertuanya terus memperhatikannya. Dengan tidak enak hati dia meletakkan teh hangatnya di depan ibu mertuanya.
“Maaf ya Ma, Zara sudah berangkat duluan. Katanya dia terburu buru karena ditunggu pelanggannya,” ujar Reydan
Asri hanya tersenyum tipis, sedari tadi ia memperhatikan penampilan menantunya yang sangat berbeda di matanya. Hari ini Reydan hanya memakai sarung dan kaos lengan pendek. Ia merasa putrinya itu sangat beruntung karena memiliki suami seperti Reydan.
Selain fisiknya yang lumayan, sikap Reydan juga berhasil membuatnya tersentuh. Sangat berbeda sekali dengan suaminya, belakangan ini Asri sudah merasa bosan dengan suaminya. Penampilannya bahkan tidak sebanding dengan menantunya. Yah meskipun ia akui dirinya salah karena membandingkan suaminya yang berumur dengan Reydan yang masih muda.
Reydan menatap ibu mertuanya dengan kebingungan, sedari tadi ibu mertuanya terus melamun sambil menatapnya. Ia melambaikan tangan di depan ibu mertuanya sehingga Asri yang sejak tadi asik melamun tersadar. “Mama kenapa kok ngelamun?”
Asri langsung menggeleng kepalanya dengan kikuk, merasa malu karena ketahuan melamun sambil menatap ke arahnya. “Mama gak papa kok. Maaf tadi mama cuma lagi kepikiran sesuatu aja.” ucapnya sambil tersenyum tipis.
“Mama datang sendirian aja, papa kemana?” tanya Reydan lagi.
“Papa lagi ada kerjaan jadi gak bisa ikut datang kesini lagi pula mama kesini juga tidak diniatkan.” Asri menunduk ke bawah kemudian mengambil teh yang sudah disediakan Reydan.
Terlihat jelas sekali oleh Reydan, ibu mertuanya sedang gugup. Bahkan meminum teh saja tangannya sampai harus bergetar.
Setelah itu Asri meletakkan kembali gelas tehnya di meja.
Reydan diam sebentar, entah ini hanya pikirannya atau bagaimana ia tidak tahu. Tapi yang jelas, Reydan merasa ibu mertuanya itu sedang berbohong. Ia bisa melihat dari gerak geriknya, ibu mertuanya terus terusan berbicara dengan gugup dan tidak berani memandang ke arah matanya. Tapi ini hanya dugaannya, benar atau salah ia tidak tahu.
“Kamu sudah makan belum? Kalau belum biar mama masakin aja sekarang mumpung mama ada di sini,” Asri mengalihkan pembicaraannya. Ia khawatir Reydan akan berpikir aneh aneh tentangnya. Meskipun pada kenyataannya ia tidak menampiknya.
__ADS_1
“Reydan udah makan kok, Ma. Zara juga udah masakin tadi. Kalau mama lapar Reydan bisa ambilin untuk mama dulu...”
Reydan berdiri bersiap untuk pergi ke dapur, tapi sebelum itu terjadi, sebuah tangan memegang sarungnya hingga hampir saja merosot jika tidak dipegangnya.
Reydan menoleh pada ibu mertuanya dengan tatapan yang terlihat terkejut. Begitu pun dengan Asri, ia merasa canggung karena memegang sarung menantunya. Niatnya untuk mencegah Reydan dengan memegang tangannya Malah tidak sengaja menarik sarungnya.
“Emhhh maaf Nak, mama gak sengaja. Mama hanya ingin mencegah kamu ke dapur saja. Mama tidak lapar, tadi mama pikir kamu belum sarapan, hanya itu saja kok”
Asri segera menarik tangannya, ia sudah tidak berani lagi menatap wajah menantunya. Begitu pun dengan Reydan ia kembali duduk. Setelah hal itu tidak ada pembicaraan di antara mereka berdua, Asri yang menahan malu dan Reydan yang mulai meras tidak nyaman. Seandainya tau begini, ia lebih baik pergi ke bengkel saja.
Lima belas menit kemudian
“Oh iya Ma, mama mau di sini? Reydan soalnya harus ke bengkel ma. Ada motor yang harus Reydan service,” ujarnya memecah keheningan di antara mereka berdua.
Katakanlah jika ia tidak sopan, mengusir mertuanya secara halus. Lagi pula ia merasa tidak nyaman, hari ini ibu mertuanya terlihat sangat aneh. Sangat berbeda dengan yang kemaren kemaren.
Asri berdeham kemudian mengambil tas yang tadi dibawanya ke sini. Kemudian ia mendongakkan kepalanya dan menatap wajah Reydan.
“Mama pulang aja deh, maaf ya kalau kamu merasa tidak nyaman dengan kehadiran mama. Mama sebenarnya baru pulang dari rumah teman mama di daerah sini juga, tapi mengingat kalau di sini dekat dengan rumah kalian makanya mama mutusin buat mampir dan menghubungi kamu.” ucapnya dengan perasaan persalah.
Reydan tersenyum. “Gpp Ma, justru Reydan yang harus minta maaf karena tidak bisa menemani mama lebih lama.”
Asri mengangguk, sejak Reydan mengatakan mau ke bengkel tadi dia sudah sadar bahwa ia sudah diusir secara halus. Ia berdecak dalam hatinya dan memutuskan untuk pulang saja. Ia harus menenangkan pikirannya terlebih dulu. Ia pikir menghadapi Reydan akan semudah itu tapi ternyata dugaannya salah. “Sebaiknya aku menyiapkan rencana ketiga,” batinnya dalam hati.
Reydan mengantarkan ibu mertuanya sampai ke depan rumahnya, ia benar benar tetap berdiri di depan pintu sampai ibu mertuanya benar benar pergi meninggalkan rumahnya. Setelah itu ia kembali masuk ke dalam rumahnya dan bersiap siap untuk pergi ke bengkelnya.
__ADS_1
.
.
.
Sedangkan Zara, ia baru saja selesai membuat kue pesanannya. Harusnya sebentar lagi ia akan mengantarnya, tapi pelanggannya menolak dengan alasan ingin mengambilnya sendiri. Zara justru bersyukur karena dengan begitu ia tidak perlu repot repot mengeluarkan ongkos kirim untuk mengantarkan kuenya tersebut.
Zara segera menuliskan nama nama si pemesan kue beserta kue yang dipesannya. Setelah itu ia menyimpannya terlebih dahulu sambil menunggu pelanggannya datang.
Tak lama kemudian, suara deru motor mulai terdengar dari depan tokonya. Zara yang tadinya bermain ponsel langsung menyimpan ponselnya kembali. “Sepertinya itu dia deh,” gumamnya sambil melihat ke arah pintu masuk.
Benar saja, tiba tiba pintu tokonya terbuka dengan sendirinya. Seorang pemuda yang masih menggunakan Almamater kampus masuk ke dalam sambil mencari keberadaan seseorang. Setelah melihatnya ia pun langsung menghampirinya.
“Saya mau ambil kue, mbak,” ucapnya langsung setelah melihat Zara yang memang sudah menunggunya.
“Atas nama Mas Rizky ya?” tanya Zara berusaha memastikan. Meskipun pelanggan tetap ia selalu menanyakan nama khawatir ia salah.
“Iya mbak.” Jawab pemuda itu.
Zara tersenyum lalu mengangguk. “Tunggu sebentar ya Mas. Saya ambil kuenya dulu.” Balasnya lagi.
Pemuda itu mengangguk dan membiarkan Zara untuk mengambilkan kue pesanannya. Ini sudah ketiga kalinya dia memesan di toko kue milik Zara, dan ia pun merasa sangat puas dengan kuenya apalagi pelayanannya yang cukup bagus. Rizky sebenarnya pernah ragu untuk memesan disini karena waktu itu toko kue milik Zara ini masih baru di buka.
Terlebih ia khawatir rasanya tidak cocok dengan lidahnya. Tapi entah kenapa ia malah membelinya di sini, waktu itu ia baru saja pulang kuliah, Rizky baru ingat bahwa dia harus membeli kue ulang tahun untuk keponakannya. Alhasil berkelilinglah ia mencari toko kue di siang bolong.
__ADS_1
Hampir semua toko kue yang ia lewati sudah tutup, entah kenapa Rizky bingung. Hingga akhirnya ia menemukan toko Zara yang masih buka. Meskipun sempat ragu tapi akhirnya ia malah mencobanya. Dari pada tidak sama sekali. Sejak saat itulah dia memutuskan untuk menjadi pelanggan tetap, karena Rizky sudah mencoba rasa kuenya dan rasanya tidak mengecewakan.