Wanita Selingkuhan Suamiku

Wanita Selingkuhan Suamiku
Bab 31. Nasehat Fian


__ADS_3

Reydan melepaskan tangan Asti dengan paksa, lalu berbalik


.


“Apa yang mama inginkan sebenarnya?” tanyanya sambil melihat wajah Asri yang tebal dengan make up nya.


Asri tersenyum manis lalu berjinjit dan berbisik di telinga Reydan.


“Mama ingin kamu menghamili mama Rey. Mama ingin mengandung anakmu. Tapi sebelum itu kamu harus menikahi, mama.” Bisiknya.


“Dasar tante gir*ang,” ucap seseorang yang muncul tiba tiba.


Fian tiba tiba muncul dari luar, sedari tadi ia sudah melihat semuanya dari awal. Ia bergidik ngeri ketika melihat Asri yang begitu menempelkan tubuhnya pada Reydan.


Asri yang mendengar perkataan Fian langsung melepaskan pelukannya pada Fian. Asri menatap tajam pada Fian karena sudah mengatainya seperti itu.


“Gak usah ikut campur kamu! Kamu tidak ada urusannya dengan ini semua jadi lebih baik mulut kamu diam!,” gertak Asri pada Fian.


Fian hanya menggelengkan kepalanya seraya memperhatikan penampilan Asri dari atas sampai ke bawah. Sebenarnya ia sudah melihatnya di luar tadi, hanya saja ia melihatnya sekilas dan tentunya tidak sejelas sekarang


.


“Sebenarnya apa yang kamu katakan itu memang benar, Rey. Ibu mertuamu ini memang mirip sekali dengan ikan buntal. Lihatlah, dia menggunakan pakaian Zara hanya untuk tubuhnya yang begitu berisi. Dari awal aku melihatnya aku sudah tau itu pakaian Zara. Tapi kenapa sekarang harus dipakai ibunya? Kalau aku jadi ibunya ya pasti malu ya.” Ledek Fian sambil terkekeh melihat penampilan Asri.


Reydan hanya menoleh sebentar pada Asri, sebelum akhirnya dia meninggalkannya keluar. Dan kini hanya tersisa Asri dan Fian di dalam sana.


Fian yang melihat Reydan sudah pergi, ia kembali berkat


“Reydan sudah mulai sadar dengan perbuatannya, jadi lebih baik tante tidak usah meracuni pikiran dia lagi. Hentikan semua rencana licik di otak tante itu,” ucap Fian seolah mengetahui apa yang dipikirkan Asri.


Asri mendelik pada Fian, “Kamu tidak usah ikut campur. Kamu itu hanya temannya Reydan bukan keluarganya,” balas Asri dengan nada sengit.


Lagi lagi Fian tertawa kecil, menghadapi wanita tua di hadapannya itu membuat rasa humornya semakin menambah.


“Aduh tante, sepertinya tante belum tau ya. Saya itu selain temannya Reydan, sayajuga calon adik iparnya,” ujar Fian lagi.


Asri yang mendengar hal itu langsung memajukan tubuhnya semakin mendekat pada Fian, Asri mendorong Fian sampai akhirnya Fian terduduk di jok motor yang berada di dekatnya itu. Asri mendekatkan wajahnya pada Fian seakan sedang mengintimidasinya. Asri hanya ingin melihat apakah Fian berbohong atau jujur karena perkataannya itu.


Namun yang ia temukan hanyalah tatapan kejujuran dari Fian.

__ADS_1


Fian yang risih dengan jarak sedekat itu langsung mendorong wajah Asri dengan tangannya.


“Gak usah segitunya kali, Tante. Agresif banget, sih. Pantesan Reydan gak kuat nahan nafsunya,” cibir Fian sambil mengusap wajahnya seolah olah dia membuang kuman yang menempel di wajahnya.


Asri hanya berdecih, “Lagian siapa yang menyuruhmu berbohong. Pakek bilang kamu calon adik ipar Reydan lagi. Memangnya kamu mau menikahi bocah ing*san itu,” jawab Asri sambil memberi jarak tubuhnya dengan Fian.


Fian paling tidak suka jika harus bicara tanpa memberikan bukti kebenarannya. Ia mengambil ponselnya dari dalam saku celananya. Lalu ia mengetikkan sesuatu sambil mengotak atik ponselnya. Setelah selesai Fian menyodorkan ponselnya pada Asri.


Asri mengernyitkan keningnya saat Fian malah memberikan ponselnya padanya.


“Apa ini?” tanyanya.


“Buka saja,” jawab Fian dengan singkat.


Asri mengangguk lalu membuka layar ponsel itu sesuai apa yang dikatakan Fian. Saat ia membuka layar itu, pandangan pertamanya tertuju pada foto dimana Fian mencium Tari saat mereka di Pizza hut di mall beberapa hari yang lalu. Ia menggeser lagi, di layar kedua itu ia melihat foto Fian yang ada di rumah Noval dengan Layla, tidak hanya itu, di foto itu Fian juga membawa kedua orang tuanya.


Fian kembali menarik ponselnya dari tangan Asri dan kembali mengantonginya.


“Lihat sendiri kan Tante. Saya sudah mendatangi rumah mereka untuk mengatakan niat yang sebenarnya pada orang tua Reydan. Wanita yang kau sebut sebagai bocah ingu*san itu adalah calon istriku kelak,”


“Itu pasti editan?!” jawab Asri lagi, tidak mau mengakui kalau hal itu memang benar adanya.


“Kalau gak percaya terserah tante aja, yang penting saya sudah mengatakan yang sebenarnya,”


Fian turun dari motor yang ia duduki itu, lalu menaikinya dan menuntunnya untuk di bawa keluar. Sebenarnya tujuan awalnya memang ingin mengambil motor itu karena pemiliknya sudah menjemputnya di luar. Namun karena ia tak sengaja mendengar semua pembicaraan Reydan dan Asri akhirnya ia sampai lupa tujuannya dan malah mengobrol dengan Asri.


Fian mengeluarkan motor itu dari ruangan itu dan meninggalkan Asri sendirian di ruangan itu.


Asri mendengus dengan tatapan tidak sukanya, ia berusaha untuk menyenangkan Reydan dengan melakukan semua ini. Tapi sepertinya itu hanya sia sia. Reydan tidak menghargai usaha yang dilakukannya itu.


Asri kembali mengambil rantang makanannya itu, ia memutuskan untuk membawa pulang kembali


.


.


Zara baru saja selesai membungkus kue yang dipesan Vina. Ia kembali keluar dari dapurnya dan membawanya ke depan.


“Bu, ini kuenya sudah selesai,” ucap Zara.

__ADS_1


Vina yang asyik mengobrol bersama Rizky langsung menolehkan kepalanya pada Zara. Ia langsung berdiri dan mengambil kuenya dari Zara.


“Eh iya, Zara. Ini berapa totalnya?” tanya Vina.


“Dua ratus lima puluh saja bu,” jawab Zara dengan lembut.


Rizky juga ikut berdiri di samping Vina, sambil lalu ia mengambil dompetnya dan mengambil uang ratusan ribu lima lembar. Lalu ia memberikannya dan meletakkannya langsung di tangan kanan Zara.


Vina tersenyum tipis melihat hal itu, Rizky sudah membicarakannya tadi padanya.


“Tolong diterima ya mbak,” ucap Rizky.


Zara yang mendapatkan uang itu hanya mengernyitkan keningnya dengan bingung. Karena uang yang diberikan Rizky tadi seperti terlalu banyak. Saat Zara membuka genggaman tangannya, dugaannya memang benar. Di tangannya kini ada uang lima ratus ribu yang melebihi dari harga kuenya tadi.


“Loh, ini uangnya lebih loh mas. Harusnya kan dua ratus lima puluh aja,” ujar Zara sambil mengangkat wajahnya dan menatap ke arah Rizky.


Rizky mengangguk seraya tersenyum, “Iya mbak, aku sengaja ngasih lebih. Anggap saja itu rezeki buat mbak.” Jawab Rizky.


Rizky melirik ke arah tangan kanan Zara, ia melihatnya seperti sedang mencari sesuatu.


Saat Zara menunduk, Vina menyenggol lengan Rizky lalu berbisik.


“Meski dia sudah bercerai tetap saja dia harus menyelesaikan masa idd*hnya terlebih dahulu. Jaga pandanganmu sedikit,” bisik Vina.


Rizky sedikit mengangguk, meski begitu matanya masih tertuju pada tangan kanan Zara. Lalu ia menerbitkan senyumnya ketika melihat hal yang dicarinya masih terpasang di jari manis Zara. Sedari tadi Rizky hanya mencari cincinnya yang sudah dipakaikan ke jari manis Zara. Ia pikir Zara akan melepaskannya, namun ternyata tidak.


Zara kembali mengangkat wajahnya dan menatap Rizky dan Vina secara begantian.


“Kalau gitu terima kasih ya, bu, Mas,” ucap Zara dengan senyum tulusnya.


Vina mengangguk, “Mulai sekarang panggil ibu dengan panggilan Tante aja ya, biar kita makin akrab,” ucap Vina secara tiba tiba.


Zara mengangguk, “Iya tante,”


Rizky yang melihat itu bersyukur dalam hatinya, semoga saja ini awal yang baik untuknya.


Bersambung


Terima kasih sudah membaca

__ADS_1


Jangan lupa di like+komentar


__ADS_2