Wanita Selingkuhan Suamiku

Wanita Selingkuhan Suamiku
Bab 26 Fian dan Tari


__ADS_3

Jika diingat lagi ada banyak kenangan dalam bioskop itu, kenangan indah yang harus dia lupakan. Saat Zara mengedarkan pandangannya ia tiba tiba melihat seseorang yang dikenalnya juga ada disana. Orang itu kebetulan juga melihat ke arahnya.


“Mas Fian?”


Zara mengucek matanya untuk memastikan apa yang dilihatnya. Lalu ia melihat lagi ke arah Fian. Kali ini Zara semakin yakin bahwa itu adalah Fian. Terbukti dengan Fian yang tersenyum ke arahnya.


Zara juga membalas senyumannya lalu kembali melihat filmnya. Tari yang berada di sampingnya tidak merasa terusik dengan pergerakannya tadi. Ia bersyukur dalam hati, setidaknya ia tidak harus menjawab pertanyaan Tari jika ia melihatnya.


Karena yang mereka tonton adalah film horor, Zara dan Tari terlihat menutup wajah mereka dengan tangannya.


“Kak, ini katanya gak seram. Kok hantunya jelek semua hiiii,” ringis Tari tidak berani menurunkan tangannya.


Zara juga mengangguk kecil lalu menjawab perkataan Tari. “Dulu kakak nonton kok gak serem ya?! Apa hantunya udah mulai upgrade?”


Tari mendengus lalu semakin mendekat pada Zara dengan tangannya yang masih menutup wajahnya agar tidak melihat pada layar bioskop itu.


“Ya iyalah kakak gak takut, dulu kakak nontonnya sama bang Reydan. Bukan kakak yang takut, malah hantunya yang iri lihat kalian bermesraan,” jawab Tari.


Zara hanya mengiyakan saja, apa yang dikatakan Tari memang benar. Dulu ia tidak takut karena ada Reydan yang selalu di sampingnya. Namun sekarang keadaannya sudah berbeda. Bukan Reydan lagi yang ada di sampingnya. Melainkan, Tari adik kandung dari Reydan sekaligus adik iparnya juga.


Mereka lanjut menonton film dengan tenang meskipun terkadang sering menutup wajah. Sampai akhirnya film yang ditonton sudah selesai. Akhirnya Zara dan Tari keluar dari bioskop dengan wajah yang begitu tegang. Di akhir film tadi mereka berteriak histeris ketika melihat hantunya muncul dengan tiba tiba.


“Habis ini kita mau kemana kak?” tanya Tari ketika melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul lima sore dan hampir menjelang magrib.


Zara yang sudah melihat jam juga mengangguk. “Kamu shalat gak? Kalau shalat kita cari masjid di dekat sini dulu. Kakak lagi halangan soalnya,”


“Aku juga lagi dapet kak,” jawab Tari lagi.

__ADS_1


“Kalau gitu kita cari makan dulu yuk. Habis itu kita langsung ke pasar malam,” ajak Zara dengan matanya yang mengarah pada Tari.


Tari mengangguk setuju. “Yaudah ayo kak,”


Setelah itu mereka berkeliling di dalam mall untuk mencari tempat makanan. Zara mengajak Tari untuk masuk ke dalam Pizza hut yang ada di paling ujung mall. Ia masuk dan mencari meja untuk keduanya. Setelah itu Zara pergi untuk memesan Pizza dan meninggalkan Tari sendirian.


“Mau pesan pizza yang mana kak? Di sini lagi ada promo beli dua gratis satu. Mungkin kakaknya berminat?” tanya laki laki yang menggunakan seragam berlogo Pizza hut itu.


“Kalau begitu saya beli dua deh kak. Duanya makan disini, terus yang free dibungkus aja ya,” jawab Zara sambil mengambil dompetnya dari dalam tasnya.


“Baik, kalau gitu. Silakan ditunggu ya kak. Nanti saya antarkan ke mejanya,”


Zara mengangguk, ia segera membayar Pizza itu lalu berbalik untuk kembali ke mejanya. Namun pada saat berbalik Zara melihat di mejanya ada seseorang yang duduk dan mengobrol dengan Tari. Zara mengenyitkan keningnya, lagi lagi ia melihat Fian.


Daripada ia penasaran sendiri, Zara memilih untuk kembali ke mejanya dan menghampiri mereka.


“Jadi kalau nanti lulus sma, kamu mau kuliah dimana?” tanya Fian sambil menatap wajah Tari.


Fian tertawa kecil melihat wajah Tari yang terlihat lucu.


“Memangnya kamu yakin orang tua kamu setuju kalau kamu gak kuliah?” tanya Fian lagi.


Tari mengangguk kecil dan menjawab, “Mama sama Papa akan selalu mendukung keputusan aku. Kuliah memang penting bagi mereka tapi jika yang menjalankan saja tidak mau mereka gak bisa berbuat apa-apa.”


Fian tersenyum tipis lalu mengusap pipi Tari dengan lembut. Tari yang mendapat usapan itu hanya bisa tertunduk malu. Pipinya seketika merona dan menunjukkan kemerahannya pada Fian.


Zara sudah melihat semuanya dengan jelas, ia hanya menggelengkan kepalanya. jika kalian masih ingat dengan kejadian waktu di rumah Noval dan Layla. Saat itu Zara mengintip Tari yang sibuk membalas pesan dan menelfon seseorang. Sejak saat itu Zara mengetahui kalau Fian dan Tari saling membalas pesan dengan begitu romantis. Zara yang penasaran dengan siapa Tari menelfon pada akhirnya bertanya pada Tari.

__ADS_1


Dan setelah kejadian itu Tari juga menceritakan banyak hal tentang Fian padanya, termasuk Fian yang mengungkapkan rasa padanya, padahal Fian sudah tau Tari pacaran dengan teman smanya. Juga pada saat di bengkel itu Fian terus melihat ke arahnya karena Zara lah yang mengetahui semua rahasianya bersama Tari. Bahkan Reydan, sebagai kakak kandungnya Tari saja tidak mengetahuinya.


“Ehemmm,” Zara sengaja berdeham dan duduk di samping Tari.


Fian yang terkejut langsung menarik tangannya dari pipi Tari. Fian dan Tari yang merasa kepergok langsung salah tingkah.


“Mas Fian udah berani terang terangan nih?” ledek Zara pada Fian yang salah tingkah.


Tari yang mendengar itu semakin tersipu malu.


“Iya, Zar. Mumpung Tari sudah diputusin sama bocah zaman now itu.” jawab Fian sambil melirik ke arah Tari yang wajahnya sudah kepiting rebus.


“Kamu tau gak Tar, waktu itu mas Fian sampe galau karena kamu masih pacaran sama teman sma mu itu. Dia bilang kamu udah terlanjur dimiliki orang lain. Dan lucunya lagi dia bilang suka sama kamu sejak kakak kamu mengajak Mas Fian ke rumahmu. Dia suka sama kamu karena kamu menggemaskan. Itu artinya pas kamu baru masuk smp dan mas Reydan masih kuliah,”


Tari yang mendengar hal itu menatap ke arah Fian seolah minta penjelasan. Fian tidak bisa mengelak lagi, pada akhirnya dia menceritakan semuanya pada Tari tentang bagaimana cara dia menyukainya. Saat itu Fian masih semester 4, ia datang ke rumah Reydan untuk mengerjakan tugas kuliah mereka.


Pada saat itu seorang gadis smp yang baru pulang sekolah menarik perhatiannya. Reydan mengenalkan Tari padanya sebagai adiknya. Sejak saat itu Fian berusaha untuk dekat dengan Tari. Ia membantu Tari mengerjakan tugas sekolahnya lalu membantunya belajar. Lama kelamaan mereka semakin dekat hingga pada akhirnya Fian menyadari bahwa ia menyukai Tari. Akan tetapi ia tidak berani mengakui khawatir hubungan pertemanannya dengan Reydan akan rusak.


“Jadi gitu deh, sebenarnya kakak suka sama kamu udah lama. Waktu itu kamu terlalu kecil untuk diajak pacaran. Apalagi umur kita yang terpaut tujuh tahun,” lanjut Fian.


“Ciee ada yang seneng nih kayaknya,” Zara menyenggol bahu Tari dengan pelan sambil tertawa.


Tari yang merasa malu langsung menutup wajah. “Apaan sih kak! Untung kita ceritanya disini jadi bang Reydan gak tau!”


“KATA SIAPA AKU GAK TAU?!


BERSAMBUNG..

__ADS_1


Terima kasih sudah membaca


Jangan lupa tinggalin jejak


__ADS_2