
Rizky yang tidak menyadari keberadaan Vina, ia terus melanjutkan chatnya dengan Zara. Sampai akhirnya Rizky memberanikan diri untuk mengajak Zara video call. Ia menggigit bibirnya saat Zara menyetujui ajakannya.
“Hai mas,” sapa Zara saat panggilan video call mereka terhubung.
Rizky tidak menjawab, ia tertegun melihat penampilan Zara malam itu. Zara hanya memakai baju tidur yang tipis. Zara terlihat lucu sekali di matanya. Lalu ia segera menyadarkan dirinya dan menjawab sapaan Zara.
“Hai juga, mbak.”
Zara tersenyum pada Rizky.
“Besok gak ke kampus mas?”
Rizky memperbaiki posisi berbaringnya lalu mengarahkan ponselnya pada wajahnya kembali.
“Enggak sih, mbak. Semua urusan dengan dosen pembimbing juga udah selesai. Jadi tinggal santai dan nunggu wisuda,” jawab Rizky dengan fokusnya yang melihat wajah Zara.
Zara mengangguk di balik telfon, mereka terus membicarakan banyak hal. Zara bahkan juga menceritakan pengalamannya saat masih kuliah dulu pada Rizky. Rizky yang tertarik, terus mendengarnya dengan antusias. Ia sesekali memberi respon dan tertawa saat Zara menceritakan hal lucu padanya.
Vina yang melihatnya di balik pintu bernafas lega, ia bersyukur saatmelihat Rizky uang sudah kembali seperti dulu. Sebagai orang tua, Vina selalu mengharapkan yang terbaik untuk putranya itu. ia semakin yakin, bahwa Zara memang ditakdirkan untuk bertemu Rizky dan menjadi pengobat dalam hidupnya.
Vina melanjutkan tujuannya tadi, dengan hati hati ia menarik gagang pintu kamar Rizky dan menutupnya. Ia tidak mau menganggu, tampaknya mereka berdua semakin dekat.
.
.
.
Keesokan harinya,
Hari ini Zara tidak akan membuka toko kuenya, karena hari ini ia akan mengantar Heri ke stasiun. Heri. Kebetulan Heri mendapatkan pekerjaan yang mengharuskannya untuk ke luar kota. Dengan itu, Heri terpaksa harus meninggalkan Zara sendirian di rumah. Ia baru mengatakannya semalam saat Zara selesai menelfon Rizky.
Zara membuatkan sarapan untuk Heri sebelum ia mengantarnya ke stasiun. Sementara Heri, ia masih di kamar untuk menyiapkan kopernya.
“Ayah, kalau sudah selesai langsung ke meja makan yah. Zara udah selesai masak nih,” teriak Zara dengan suara yang tidak terlalu kencang.
Heri yang kebetulan sudah keluar kamar langsung menjawab, “Iya, Ayah udah selesai,” sahutnya.
Zara menoleh dan tersenyum tipis, lalu ia kembali ke dapur untuk membawa satu menu lagi yang sengaja dia tinggal. Lalu kembali dengan membawa menu itu ke meja makan.
__ADS_1
“Wah, sepertinya kamu masak banyak ya hari ini,” ucap Heri saat melihat di meja makan sudah penuh dengan hasil masakan Zara.
Zara mengangguk sembari menghidangkan menu itu di meja makan.
“Iya, hari ini aku sengaja masak banyak dan spesial buat Ayah. Karena kan dua minggu disana ayah tidak makan masakan aku lagi. Jadi sekarang ayah harus makan sepuasnya.” Balas Zara.
Heri terkekeh lalu menarik kursi dan duduk di atasnya. Ia mengambil nasi lalu memilih lauknya. Karena saking banyaknya lauk, Heri harus bingung harus mengambil yang mana. semuanya tampak lezar di matanya. Masakan putrinya ini benar benar selalu membuatnya berselera. Sampai akhirnya Heri memilih mengambil Ayam goreng, udang, dan kerang crispy yang dibuat Zara itu.
“Selamat makan, ayah.” ucap Zara saat sudah duduk di kursinya.
Mereka makan dengan diam, tidak ada pembicaraan di antara mereka. Zara dan Heri sama sama fokus menghabiskan sarapan mereka. Dengan suara garpu dan sendok yang saling berdentingan.
Tidak butuh waktu lamabagi mereka untuk menghabiskan sarapannya. Piring mereka sudah kosong.
“Zara, cuci piring sebentar dulu yah. Sebentar lagi taksi kita juga akan sampai. Nanti kalau sudah datang Zara menyusul keluar,” ucap Zara sambil membereskan piring kotornya.
Heri mengangguk, ia beranjak dari kursinya lalu kembali ke kamarnya untuk mengambil kopernya.
Tak lama kemudian Taksi yang dipesan Zara sudah datang, Heri bergegas memanggil Zara untuk menyuruhnya lebih cepat. Zara yang juga baru selesai mencuci piring langsung ke kamarnya dan berganti pakaian sebentar lalu mengambil tas-nya. Setelah selesai ia menyusul Heri yang sudah ada di dalam taksi.
“Sudah siap?” tanya Heri saat Zara masuk ke dalam mobil taksi itu.
Zara menoleh sebentar lalu mengangguk, “Kita pergi sekarang yah,”
.
.
Jarak dari rumah menuju ke stasiun hanya membutuhkan waktu satu jam, Zara dan Heri tiba disana dengan tepat waktu. Mereka segera turun dan membayar ongkos taksinya. Setelah berterima kasih Heri mengajak Zara masuk ke dalam sampai nanti keretanya tiba.
“Kamu gpp kan Ayah tinggal sendirian?” tanya Heri saat mereka sudah duduk di salah bangku di stasiun itu.
Zara menoleh sebentar pada Heri, ia seperti mengetahui apa yang dipikirkan oleh ayahnya itu. Zara mengambil tangan Heri dan menggenggamnya dengan erat sambil tersenyum.
“Ayah, aku sudah dewasa. Aku tidak masalah jika harus ditinggal sendirian. Asalkan ayah janji disana ayah bakal jaga kesehatan dan cepat kembali dengan selamat,” ujarnya sambil menatap wajah Heri.
Heri mengangguk dan membalas senyuman Zara.
“Ayah, janji. Kalau ada apa apa kamu segera kabari ayah ya,” jawab Heri.
__ADS_1
“Iya ayah tenang saja, aku pasti akan baik baik saja disini,”
Zara melepaskan tangannya dari tangan Heri, kini ia malah memeluk Heri dengan begitu erat. Ia tidak punya siapa siapa lagi yang menyayanginya. Yang tersisa hanyalah Heri yang akan selalu ada untuknya.
“Maafkan ayah ya, Nak. Gara gara ayah kamu harus mengalami ini semua?!” ucap Heri dalam hatinya. Heri membalas pelukan Zara dengan tak kalah eratnya. Sampai akhirnya kereta yang ditunggu sampai juga. Zara mlepaskan pelukannya dari Heri.
“Ayo yah, kereta ayah sudah datang,” ucapnya.
“Iya nak,”
Setelah memastikan Heri naik ke dalam keretanya, Zara menunggunya di luar. Zara melambaikan tangannya pada Heri yang dibalas senyuman olehnya. Sebenarnya ia masih ragu untuk membiarkan Heri pergi. Entah kenapa dari tadi pagi perasaannya tidak enak. Seperti ada yang mengganjal di hatinya namun ia tidak tau itu apa.
Namun, Zara tidak terlalu memikirkannya. Akan tetapi saat di stasiun itu pikirannya kembali tidak enak.
“Semoga ini bukan pertanda yang buruk,” ucapnya dalam hati.
Zara pun pulang dari stasiun, ia terus berdoa dalam hatinya agar ayahnya diberikan keselamatan dan sampai tujuan dengan baik.
.
.
Di tempat lain, Rizky menuntun motornya di tengah panasnya cuaca. Ia baru saja pulang dari minimarket untuk membeli sesuatu. Namun saat ia mau pulang tiba tiba saja ban motornya bocor begitu saja. Saat ini ia mencari bengkel untuk memperbaiki motornya itu. dari kejauhan ia melihat bengkel yang sedang ramai sekali.
“Akhirnya sampai juga di bengkel,” ucapnya sambil mengusap keringat yang menetes di keningnya.
Rizky mendorong motornya sampai ke bengkel itu.
“Mas, ban ku bocor. Tolong diperbaiki ya,” ucapnya sambil memarkirkan motornya.
Orang yang dipanggil mas oleh Rizky langsung menolehkan kepalanya. ia tampak terkejut ketika melihat siapa yang datang.
“Kamu?”
Bersambung...
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca
Jangan lupa like+komentar