Wanita Selingkuhan Suamiku

Wanita Selingkuhan Suamiku
Bab 8 Kue dari Zara


__ADS_3

Zara kembali dengan membawa kue yang sudah di bungkusnya, kemudian ia kembali ke tempatnya untuk memberikan kue tersebut. Dengan hati hati ia membawanya, Zara tidak mau kue nya rusak karena ulahnya sendiri. Apalagi kalau ada yang sampai komplen. Ia sangat menghindari hal itu.


Zara melihat pelanggannya yang bernama Rizky itu sibuk mengotak atik ponselnya sambil menunduk. Ia pun dengan segera menghampirinya


“Mas, ini pesanannya.”


Rizky yang tadinya sibuk bermain ponsel langsung mematikan ponselnya dan mengantonginya. Kemudian ia beralih menatap Zara yang sudah membawakan kuenya itu. “Berapa mbak?” tanyanya langsung.


“Seratus ribu saja, Mas.” Jawab Zara sambil tersenyum.


Rizky mengangguk kemudian ia merogoh kantong celananya untuk mengambil dompetnya. Namun, ia mengernyitkan keningnya ketika merasa di kantong celananya tidak ada dompet miliknya.


Ia langsung mengecek di kantong sebelah kirinya, tetap tidak ada. Ia mencoba mengingatnya dimana terakhir kali ia menaruh dompetnya. Matanya tiba tiba terbelalak ketika mengingatnya, ia pasti ketinggalan dompetnya. Sebelum kesini Rizky ada kelas di kampusnya, ia mengingat tadi sempat menaruh dompetnya di meja kelasnya.


Zara yang merasakan kebingungan dari pelanggannya langsung bertanya. “Ada apa, Mas?”


Rizky mengangkat kepalanya dengan ragu ragu dan menatap wajah Zara dengan rasa tidak enak. “Maaf mbak, sepertinya dompet saya ketinggalan di kelas. Saya izin ambil dompet dulu mbak nanti saya baru ambil kuenya, maaf banget ya mbak.”


Baru saja Rizky akan pergi tapi suara Zara malah menghentikannya. “Udah Mas gpp, ini buat mas aja kuenya. Gak usah dibayar, anggap saja ini sebagai rasa terima kasih saya karena Mas sudah menjadi pelanggan pertama di toko saya.”


Rizky kembali berbalik. “Waduh mbak, saya jadi gak enak kalau gini caranya. Saya tetap bayar aja deh mbak tapi saya mau  ngambil dompet saya dulu,” ujarnya.


Zara tersenyum kemudian mendekat pada Rizky hingga jarak mereka sangat dekat, Rizky dan Zara saling berhadap hadapan satu sama lain dan membuat Rizky menegang, dengan jarak sedekat ini ia bisa mengamati perempuan manis yang ada di hadapannya saat ini. Ia akui ia sudah terpesona saat pertama kali melihat Zara.

__ADS_1


Zara langsung mengambil tangan Rizky dan memberikan kuenya tersebut, reflek Rizky menunduk dan melihat tangannya yang dipegang Zara . “Terima saja ya Mas, saya ikhlas kok ngasihnya.” Zara langsung melepaskan tangannya kembali.


Rizky langsung menormalnya kembali ekspresinya, ia merasa sangat canggung. Berada di dekat perempuan memang selalu membuatnya gugup. Tapi itu tidak berlangsung lama karena setelahnya Rizky langsung berterima kasih pada Zara.


“Makasih banyak ya mbak, saya doain deh toko mbak supaya laris manis sama seperti mbaknya.” Ucapnya tanpa sadar. Lalu setelahnya ia merutuki dirinya sendiri. Bisa bisanya ia keceplosan seperti itu.


“Maksud mas gimana ya?” tanya Zara yang tidak mengerti.


Rizky langsung gelagapan. “M-maksud saya, saya doain biar toko mbak semakin ramai. Nanti saya bantu promosiin juga deh, siapa tau mereka juga suka dengan kue mbak dan jadi pelanggan,” alibinya dengan cepat.


Zara tertawa kecil, “Makasih loh Mas, mas-nya juga baik banget deh.” pujinya yang membuat Rizky semakin salah tingkah.


“Iya mbak sama sama, kalau gitu saya permisi dulu ya mbak.”


“Oh iya, silakan Mas.”


Ia melakukannya karena Zara ingin belajar membuat kue, hingga pada akhirnya ia meminta pada ibunya untuk memasukkannya ke kursus khusus membuat kue. Selama setahun dia kursus hingga akhirnya Zara benar benar berhasil. Ia sudah bisa membuat kue dengan berbagai macam jenis dan rasa kue.


.


.


Rizky baru saja tiba di rumahnya, ia turun dan mengunci motornya kemudian masuk ke dalam rumahnya. Dengan membawa kue di tangannya ia berjalan masuk  ke dalam rumah. Sebenarnya kue itu pesanan ibunya, karena ibunya sangat menyukainya.

__ADS_1


Rizky mencari keberadaan ibunya sampai pada akhirnya ia menemukannya di ruang tengah sedang menonton televisi. Rizky langsung meletakkan kuenya di atas meja sehingga perhatian ibunya langsung mengarah padanya.


“Ini Ma, kuenya.”


Vina, ibunya Rizky langsung mengambil kuenya dan memeriksanya dan ternyata benar sesuai dengan pesanannya. “Akhirnya datang juga, Mama dari tadi nungguin kamu cuma demi kue ini,” ujarnya sambil membuka bungkus kuenya.


Rizky melepaskan almamaternya lalu duduk di samping ibunya sambil mencobot kue yang sudah dibuka itu.”ini kuenya gratis loh Ma, Rizky sampe malu sendiri jadinya.”


“Ngaco kamu, mana ada kue gratis. Apalagi kuenya enak begini.”


“Aku serius Ma, tadi aku lupa, dompetku ketinggalan di kelas untungnya gak hilang diamanin sama petugas kebersihannya.”


“Lah terus kok bisa kuenya gratis?” heran Vina dengan tetap memakan kuenya.


“Ya sama penjualnya dikasih gratis, katanya dia ikhlas.”


Vina langsung melirik pada Rizky kemudian duduk menyamping hingga berhadapan dengan Rizky. “Kapan-kapan anterin mama kesana ya? Mama penasaran dengar cerita kamu. Dari cerita kamu aja mama bisa nyimpulin dia orang baik.


Rizky langsung terbatuk batuk saat Vina mengatakan itu, Vina yang kaget langsung menepuk pundak Rizky kemudian mengambilkannya air dan memberikannya pada Rizky. “Pelan pelan dong Riz kalau makan kue.”


“Lagian sih Mama ngomongnya gak di filter, emangnya mama mau ngapain kesana?” Rizky balik menatap ibunya dengan intens.


“Mama cuma penasaran aja sekaligus pengen tau dimana tokonya. Biar lain kali mama gak usah nitip kamu, kelamaan kalau mama harus nitip terus.”

__ADS_1


Rizky hanya mendesah pasrah, daripada ia meladeni perkataan ibunya lebih baik ia memakan kue itu. Rasanya sangat pas di lidahnya, apalagi wajah penjualnya juga cantik, eh. Dari awal melihatnya saja Rizky sudah tertarik meskipun tidak diperlihatkannya secara gamblang.


Banyak wanita cantik di kampusnya, tapi tidak ada yang seperti dia. Bagi Rizky wajah Zara begitu manis sehingga enak dipandang. Rizky berharap ia bisa mengenal pemilik toko kue tersebut, Zara.


__ADS_2