
Melihat keberadaan Gregory di Desa S, membuat Grace kembali berpikir.
Jika ia dengan mudahnya menemukanku, itu berarti Paman akan menemukanku juga. Apa aku harus pergi lagi? Tidak! Tidak! Sudah saatnya aku harus menghadapi semuanya. Tak mungkin aku terus menghindar. Jika Paman menginginkan perkebunan, aku akan memberikannya. Lagipula bukankah saat ini juga pasti perkebunan itu sudah menjadi miliknya. Mengapa ia ingin kembali mengusikku. - batin Grace.
Gregory yang melihat keadaan Grace yang sepertinya tidak baik-baik saja pun mendekat, “Apa kamu memikirkan sesuatu?”
“Pergilah,” kata Grace.
“Sudah kukatakan, aku tak akan ke mana pun. Aku akan berada di dekatmu.”
“Tidak, sebaiknya jangan. Bukankah kamu juga punya pekerjaan? Kembalilah. Aku akan selalu di sini dan tidak akan ke mana-mana.”
“Aku tidak percaya.”
“Jangan percaya kalau kamu tidak mau. Pergilah, aku mau istirahat.”
“Tapi aku tidak ada tempat tinggal saat ini,” kata Gregory dengan sedikit memelas.
“Pergilah ke ujung jalan itu, kamu akan menemukan penginapan kecil.”
“Biarkan aku di sini. Aku akan tidur di sofa dan tidak akan mengganggumu,” Grace akhirnya masuk ke dalam kamar. Ia harus beristirahat dan pagi-pagi ia harus berangkat lagi ke kota.
Ia merebahkan dirinya di atas tempat tidur dan berusaha memejamkan matanya. Ia benar-benar kurang tidur semalam karena harus mengantar Nyonya Sophie ke rumah sakit. Ia tidak peduli lagi di mana Gregory akan tidur, yang terpenting saat ini ia harus beristirahat agar besok ia tidak terlambat.
Grace langsung menyetel alarm agar besok pagi ia tidak terlambat bangun yang akan membuatnya kehilangan pekerjaan yang ia butuhkan.
**
Grace sudah siap dengan kemeja dan rok sepan yang membalut tubuhnya. Waktu sudah menunjukkan pukul 6 pagi dan ia akan segera pergi ke kota. Ia akan mengemudi dengan santai, kemudian mampir ke resto terdekat untuk sekedar sarapan.
Baru saja ia membuka pintu kamarnya, Gregory sudah berdiri di depan pintunya, “Ke mana kamu akan pergi?”
“Aku akan pergi ke rumah sakit.”
“Apa kamu sakit?” tanya Gregory.
__ADS_1
“Tidak. Aku akan mulai bekerja di sana,” jawab Grace.
“Bukankah kamu membuka klinik di sini?”
“Ya, tapi di sini sangat sepi. Aku akan kembali bekerja di Rumah Sakit Horison yang ada di California. Direktur Rumah Sakitku yang dulu memintaku untuk kembali bekerja,” jelas Grace.
Jadi Uncle meminta Grace untuk kembali bekerja? - batin Gregory.
“Aku ikut denganmu,” dengan cepat Gregory masuk ke dalam kamar mandi dan membersihkan dirinya. Hari ini ia berpakaian sedikit kasual karena ia tidak sedang dalam misi apapun.
**
Hanna melihat ke arah jam di tangannya. Meskipun ia sudah akan dipindahtugaskan kembali ke Kota Meksiko, namun ia harus tetap menjalankan tugas terakhirnya yakni shift jaga malam.
“Uhh, kenapa jarum jam ini lama sekali berputarnya? Aku sudah tidak betah berada di sini, tak ada pemandangan menarik,” ungkap Hanna dengan kesal.
Ia terus memikirkan keponakan Dokter Steve yang merupakan seorang polisi. Ia terus membayangkan sedang memegang otot pria itu dan mengelua dada bidangnya. Bagaimana ia direngkuh oleh tubuh gagah itu dan mendapatkan senyuman dari wajah tampan yang sudah benar-benar menggaet hatinya.
“Mengapa kamu begitu tampan, polisiku,” gumam Hanna. Ia belum tahu siapa nama keponakan Dokter Steve itu. Ia terus melamun di meja jaganya, hingga ia menangkap sosok Grace yang datang menghampirinya.
Dia? - Hanna mengusap matanya seakan tak percaya akan sosok pria yang datang bersama dengan Grace. Ia tak mungkin sedang bermimpi, ia pun mencubit kulitnya sendiri dan meringis kesakitan.
“Han, Selamat pagi!” sapa Grace dengan senyum yang mengembang di wajahnya.
“Pagi!” Hanna juga menampilkan senyum terbaiknya karena ia ingin memikat Gregory.
“Apa kamu bisa mengantarku ke ruangan direktur rumah sakit ini?” tanya Grace.
“Ayo kuantar.”
Hanna melakukannya tentu saja bukan untuk Grace. Ia ingin berlama-lama berada di dekat Gregory, polisi tampannya. Ia juga ingin mengorek informasi tentang apa hubungan antara Grace dengan keponakan Dokter Steve.
Mereka berjalan menyusuri koridor rumah sakit. Grace berjalan bersama dengan Hanna, sementara Gregory berjalan di belakang mereka layaknya seorang bodyguard.
“Siapa dia? Apa hubungannya denganmu?” tanya Hanna berbisik. Ia berpura-pura tidak mengetahui kalau Gregory adalah keponakan Dokter Steve dan sepertinya Gregory tak mengenalinya. Ia sedikit kesal akan hal itu, namun karena ia menyukainya, tak mengapa.
__ADS_1
“Namanya Kapten Gregory. Ia adalah temanku,” jawab Grace.
Hanna sedikit bernafas lega, tapi ia tetap harus mencari tahu lebih banyak karena ia tak bisa percaya begitu saja pada Grace.
“Teman? Hanya teman?” tanya Hanna.
“Ya, kalau kamu tidak percaya, kamu bisa menanyakan sendiri padanya.”
Hanna cuma mengangguk-anggukkan kepalanya, namun kepalanya tampak berpikir.
“Ini ruangannya, masuklah. Aku akan menunggu di sini,” ujar Hanna.
“Baiklah, terima kasih. Aku masuk dulu,” kata Grace pada Hanna dan juga Gregory.
Setelah Grace masuk ke dalam ruang direktur utama rumah sakit itu, Hanna pun segera mendekati Gregory.
“Hai! Apa kamu tidak mengingatku?”
Gregory menoleh ke arah Hanna, kemudian berkata, “Tidak.”
“Kenalkan, aku Hanna. Kita pernah bertemu di Rumah Sakit Horison di Kota Meksiko. Aku yang memberikan kartu namaku padamu,” Gregory sedikit mengingat tentang hal itu. Ia ingat bahwa ia telah membuang kartu nama itu tanpa melihat nama yang tertera di sana.
“Ahh, iya. Maaf aku tidak mengenalimu,” jawab Gregor.
“Apa yang kamu lakukan di sini? Dan datang bersama dengan Grace … apa kalian ada hubungan?” tanya Hanna dengan rasa ingin tahu yang super besar.
“Hmm … aku adalah kekasihnya,” jawab Gregory singkat. Sebagai seorang pria, Gregory tahu bahwa Hanna mencoba untuk mendekatinya. Oleh karena itu ia menggunakan jawaban itu. Tak mungkin kan Hanna akan mencoba mengambil kekasih dari temannya.
Kekasih? Sialann!! Jadi Grace membohongiku? Mengapa ia selalu mendapatkan apa yang kuinginkan? Karir yang cemerlang, pengakuan dari Dokter Steve, bahkan sekarang ia mengambil pria yang kusukai. Menyebalkann!!! Aku pasti akan merebut semua itu satu persatu darimu, Grace! - batin Hanna kesal.
Tak berselang lama, Grace keluar dari ruangan Direktur Rumah Sakit Horison di California sambil memegang sebuah map.
“Aku sudah selesai. Aku bisa mulai bekerja,” kata Grace dengan senang.
“Selamat untukmu, Grace,” Hanna memeluk tubuh Grace, meskipun saat ini hatinya diliputi dengan kekesalan, “Oya, ini kunci apartemen untukmu. Dokter Steve memintaku memberikannya padamu. Kamu akan tinggal di sana sementara kamu bekerja di sini.”
__ADS_1
“Terima kasih,” Grace menerimanya. Ia akan memikirkan lagi pembagian waktu antara bekerja di rumah sakit dengan klinik miliknya di Desa S.
🌹🌹🌹