
“Kak, aku mohon, keluarkan aku dari sini. Aku akan menandatangani surat pengalihan kekuasaan untuk Paman Marco. Aku tak menginginkan semua ini, tapi aku mohon bebaskan aku,” pinta Grace pada Naldo yang pada akhirnya masuk kembali ke dalam kamar tidur Grace. Grace secara sengaja tidak mau menyentuh makanannya, membuat Naldo pun akhirnya turun tangan.
“Aku akan membebaskanmu, asalkan kamu menuruti permintaanku,” kata Naldo.
“Katakan, apa syaratnya.”
“Menikahlah denganku!” Kata Naldo sambil menyunggingkan salah satu sudut bibirnya.
“Tidak!” jawab Grace tanpa berpikir lagi. Ia tak akan sudi untuk menikah dengan seseorang yang tak memikirkan dirinya. Apa yang sekarang Naldo lakukan hanyalah untuk kepentingan dirinya sendiri.
Naldo bukannya membebaskannya, malah membawanya ke dalam tempat di mana ia akan kembali mengingat malam kelam itu dan ia tak akan mau lagi terkurung lebih lama di tempat itu.
“Cepat keluarkan aku dari sini!” teriak Grace.
“Itulah syaratku. Jika kamu memang ingin keluar dari sini, maka kamu harus keluar dengan status sebagai istriku.”
“Dalam mimpimu!” Grace benar-benar tak mengenal Naldo lagi. Naldo yang ia kenal saat remaja adalah sosok yang baik hati dan penyayang. Sejak dulu Grace selalu menganggapnya sebagai kakak, kakak yang penuh dengan perhatian dan kasih sayang. Namun sekarang, semua itu sepertinya sudah lenyap. Naldo yang sekarang berbeda 180 derajat.
Naldo akhirnya keluar dari kamar tidur Grace. Ia akan pergi ke bandara untuk menjemput tuannya, Sir Marco Lawrence. Melihat dan mendengar sendiri bagaimana Grace menolaknya, memang sangat terasa sakit. Namun, hal itu jugalah yang membuatnya semakin yakin bahwa ia harus segera menjadi anak buah kepercayaan Marco Lawrence agar ia memiliki kekuasaan dan nama besar.
Naldo keluar dari Mansion karena mobil miliknya sudah dikeluarkan oleh salah satu anak buahnya. Ia akan langsung pergi ke bandara untuk menjemput Marco Lawrence. Ia pun segera pergi dengan mobil hitamnya.
**
Di dalam kamar, Grace berpikir keras bagaimana caranya ia harus keluar dari sana. Tak ada yang akan menolongnya kali ini.
Tukk
Tukk
__ADS_1
Grace mendengar suatu suara dari arah jendela. Ia langsung mendekat dan melihat sebuah batu kecil kembali dilemparkan. Ia membuka jendela itu dan mencari arah datangnya batu kecil tersebut.
Dia?
Gregory tersenyum saat melihat Grace di sana. Ternyata ia tidak salah, Naldo pasti akan membawa Grace kembali ke kamar itu.
“Lompatlah, aku akan menangkapmu,” kata Gregory dengan suara pelan, kemudian merentangkan kedua tangannya. Saat ini yang bisa Grace lakukan adalah percaya dengan Gregory. Ntah mengapa ia melihat kakak anggurnya berada di dalam diri Gregory.
Grace menoleh ke belakang, seakan memeriksa kemungkinan akan ada yang masuk ke dalam. Ia pun mulai menyiapkan kuda-kuda untuk melompat. Mau bagaimanapun caranya, ia harus keluar dari tempat itu, dari mansion yang mengerikan. Dulu saat kedua orang tuanya masih hidup, mansion itu adalah tempat paling menyenangkan, tapi sekarang tidak lagi.
Ia menutup matanya dan melompat. Ia sudah tak peduli dengan apa yang akan terjadi padanya. Dengan melihat Gregory ada di sana, ia merasa ada seseorang di pihaknya. Ia tak akan takut.
Buggg
Gregory berhasil menangkap tubuh Grace, meskipun kini mereka sama-sama terjatuh dan dalam posisi Gregory di bawah dan Grace di atasnya. Grace membuka kedua matanya dan langsung melihat ke arah mata Gregory. Sedikit lama keduanya terdiam, namun akhirnya keduanya sadar.
Gregory langsung bangkit meskipun tubuhnya sedikit terasa sakit. Ia berjalan menyusuri kebun anggur dan menuju ke pagar yang berlubang. Untung saja sejak dulu dinding berlubang itu tak diperbaiki. Meskipun lubangnya kecil, tapi dengan perlahan mereka masih bisa melewatinya.
Gregory memberikan masker kepada Grace sebelum keluar, bahkan sebuah topi kupluk. Ia akan membawa Grace ke arah mobilnya.
Saat sudah sampai di mobil, Gregory langsung menjalankan mobilnya. Ia tak ingin membuang waktu berlama-lama di sana. Menurutnya, Naldo terlalu menganggap remeh penjagaan di sana hingga hanya sedikit penjaga yang ditempatkan.
Tak ada pembicaraan di antara keduanya. Mereka hanya diam di dalam mobil, gregory langsung melajukan kendaraannya ke hotel tempatnya menginap. Nanti malam ia akan langsung membawa Grace kembali ke Kota Meksiko. Ia akan aman berada di kita itu karena dirinya punya kewenangan mengerahkan anak buahnya.
**
Brakkk!!!
“Sialannn!!!” teriak Naldo saat ia tak mendapati Grace di dalam kamarnya. Untung saja ia belum berbicara apapun pada Sir Marco, jika tidak tentu ia akan mendapat makian karena tidak becus bekerja. Awalnya ia ingin memberikan kejutan kepada Sir Marco, namun gagal begitu saja.
__ADS_1
Sepertinya aku memandang remeh kepadamu, Gracia. Aku pasti akan kembali menangkapmu dan membawamu ke sini. - batin Naldo sambil mengepalkan tangannya.
Padahal ia hanya meninggalkan Grace untuk menjemput Sir Marco. Dari kemarin tak ada tanda-tanda Grace akan melarikan diri. Ia juga tak akan berani melompat dari balkon. Ia langsung keluar lagi dari kamar, kalau tidak Sir Marco akan curiga.
Sementara itu di dalam hotel,
“Bersihkan dirimu, setelah itu kita akan segera pulang.”
“T-tapi aku tak memiliki paspor.”
“Aku sudah mengatur semuanya, jadi tenanglah,” Grace menganggukkan kepalanya. Saat ini ia hanya perlu percaya, agar bisa segera menjauh dari negara itu.
“Hmm, bolehkah aku bertanya sesuatu?” tanya Grace.
“Ada apa?”
“Dari mana kamu tahu aku berada di sana?”
“Menurutmu?” Gregory malah bertanya balik.
“Kamu seorang polisi, jadi kurasa tak akan sulit bagimu untuk menemukanku,” jawab Grace.
Gregory hanya tersenyum. Ia bisa saja memperkenalkan dirinya sebagai putra dari pelayan bernama Stella dan penjaga kebun bernama David. Apa ia masih akan mengenalinya? Atau setidaknya mengingat dirinya?
“Mandi kemudian istirahatlah, aku akan membangunkanmu nanti,” Gregory keluar ke balkon. Ia menatap kota Oslo. Kota ini benar-benar menyimpan semua kenangannya bersama kedua orang tuanya. Ia mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang.
Sementara Grace berendam di dalam bathtub. Ia merasa tubuhnya kini lebih tenang dan nyaman, apalagi dengan adanya Gregory. Ia merasa aman.
Setelah selesai mandi, ia keluar dengan menggunakan bathrobe. Ia tak menemukan Gregory di dalam kamar, tapi ia melihat Gregory sedang berbicara di ponsel dengan seseorang.
__ADS_1
Grace merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Ia tak peduli hanya menggunakan bathrobe, daripada ia tak menggunakan apa-apa. Pakaiannya yang tadi rasanya sudah lengket sekali karena berlari di kebun anggur. Matanya terpejam dan masuk ke dalam alam mimpinya.
🌹🌹🌹