When Doctor Meet Mr. Policeman

When Doctor Meet Mr. Policeman
#36


__ADS_3

“Aunty,” sapa Grace saat memasuki kediaman Alexander. Sudah lama rasanya ia tak menginjakkan kakinya di sana.


“Grace, kaukah itu?” Maria yang berada di dapur langsung keluar dan tersenyum saat melihat putri angkatnya itu.


“Akhirnya kamu pulang,” Maria memeluk Grace dengan sangat erat. Meskipun Grace bukan putri kandungnya, tapi ia selalu menyayanginya.


“Maafkan aku, Aunty. Aku sedang banyak pekerjaan hingga tak sempat pulang,” kata Grace. Ia tak menceritakan yang sebenarnya karena tak ingin membuat Aunty Grace kuatir.


“Apa kamu akan menginap di sini?” tanya Maria.


“Ya, aku akan menginap di sini,” Grace sudah mengirimkan pesan sebelumnya pada Gregory bahwa malam ini ia tak akan pulang ke apartemen. Ia akan menginap di kediaman Alexander dan melepas kerinduannya pada Aunty Maria dan Uncle Chris.


“Baiklah kalau begitu bersihkan dirimu dulu, Aunty akan menyiapkan makan malam.”


Grace segera menuju kamar tidur yang biasa ia tempati. Ia tersenyum ketika melihat tak ada yang berubah di sana. Semuanya terlihat begitu bersih dan rapi. Ia yakin Aunty Maria selalu meminta pelayan membersihkannya meskipun ia tidak pulang ke sana.


Ia pergi ke kamar mandi dan membersihkan dirinya. Ia berendam dengan air hangat dan sedikit aroma therapy. Setelah selesai, ia mengambil pakaiannya dan turun menemui Aunty Maria.


“Apa ada yang bisa kubantu, Aunty?” tanya Grace.


“Bawa ini ke meja. Terima kasih, sayang.”


Grace menyusun semua lauk dan sayur ke atas meja. Ia juga merapikan piring dan sendok sesuai tempatnya.


“Apa Theo akan pulang, Aunty?” tanya Grace.


“Ya, Aunty yang memintanya untuk datang ke sini.”


Keluarganya berkumpul, saat yang tepat untuk ia memberitahukan rencana pernikahannya dengan Gregory dan juga rencana kedatangan keluarga Gregory.


Selang 30 menit, Chris yang baru saja menemui sahabat-sahabatnya kembali. Ia sudah lama tidak berkumpul dengan Oscar dan juga Hector, jadi ia tak akan melewatkan kesempatan saat kedua sahabatnya memiliki waktu luang.

__ADS_1


“Uncle,” sapa Grace.


“Grace! Uncle merindukanmu,” Chris berjalan mendekati Grace dan memeluknya. Ia mengusap kepala Grace.


“Aku juga merindukanmu, Uncle,” Grace membalas pelukan Chris, pelukan seorang Dad yang sangat hangat. Tak dapat dipungkiri jika Grace sangat merindukan kedua orang tuanya. Namun, Tuhan berbaik hati padanya dengan memberikan orang tua pengganti yang begitu baik.


“Kamu menangis, Grace?” tanya Chris.


“Maaf, Uncle. Aku hanya sangat merindukan kalian,” kata Grace sambil mengusap ujung matanya.


“Uncle tinggal ke kamar dulu ya,” Grace menganggukkan kepalanya dan kembali ke ruang makan untuk melanjutkan pekerjaannya yang tadi tertunda.


**


“Menikah?” Keluarga Alexander sangat terkejut dengan apa yang disampaikan oleh Grace.


“Apa kamu dipaksa olehnya? Jujur pada Uncle, biar Uncle yang membereskan mereka,” kata Chris.


“Selamat, Grace,” Freya berpindah duduk ke sebelah Grace dan menggenggam tangannya, “Aku senang mendengar kabar gembira ini.”


Saat ini Freya tengah mengandung buah hatinya dengan Theo. Theo menjadi sangat protektif pada Freya, namun bukan Freya namanya jika ia tak membantah dan memiliki otak yang cerdas hingga ia selalu saja bisa mengelabui Theo.


“Aku bisa membantumu menyiapkan pernikahan yang indah,” kata Freya.


“Tidak!” teriak Theo, membuat Freya menoleh dan menatap tajam suaminya itu.


“Kenapa kamu selalu melarangku? Menyebalkan sekali!” gerutu Freya.


“Kamu itu sedang hamil. Menyiapkan pernikahan bukan hal yang mudah, mengertilah sedikit,” kata Theo menasehati.


“Benar apa yang dikatakan Theo, sayang. Nanti biar Uncle dan Aunty yang menyiapkan,” kata Maria.

__ADS_1


“Tapi sebelum itu, mereka ingin bertemu dulu,” kata Grace.


“Kamu tinggal mengatakan kapan dan di mana, kami pasti akan berada di sana. Atau kalau mereka mau datang ke sini juga tidak masalah,” kata Chris.


“Terima kasih, Uncle, Aunty,” Grace memeluk mereka berdua.


“Kami hanya menginginkan kebahagiaanmu, sayang,” kata Maria sambil tersenyum. Aura keibuan Maria begitu menguar dan memperlihatkan kehangatan bagi Grace.


“Aku menyayangi kalian semua.”


**


“Nal, bayar pengacara terbaik untuk membebaskan aku dari sini. Jika tidak berhasil, kerahkan semua kekuatan kita dan hancurkan tempat ini,” kata Marco saat mendapatkan kesempatan untuk menelepon. Saat ini ia masih ditahan di kepolisian Kota Meksiko setelah ia pulih dari perawatan akibat luka tembak yang dialaminya.


“Baik, Sir,” kata Naldo. Di balik telepon, Marco tersenyum karena yakin ia akan segera keluar dari sana. Selain mengenal Dante dan Vicente, Marco juga dikenal di dunia bawah di Negara Norwegia.


Sementara itu, Naldo yang baru saja selesai menerima telepon dari tuannya, kembali duduk di kursi empuk yang biasa diduduki oleh Marco. Ia menyesap cerutu dan mengangkat kedua kakinya ke atas meja, menikmati kekuasaannya.


“Dia kira aku bodoh dan akan membantunya bebas? Nikmati saja semua itu, sementara aku akan menikmati semua yang ada di sini,” gumam Naldo tanpa rasa bersalah.


Naldo memang tidak berencana sama sekali untuk membantu seorang Marco Lawrence. Ia bahkan tidak akan peduli lagi dan akan membiarkan pria itu tetap berada di Kota Meksiko untuk menerima hukuman.


Ia tertawa dengan keras di dalam ruangan yang luas dan memiliki plafond yang sangat tinggi dengan lukisan yang menghiasinya.


“Membusuklah di sana, Marco Lawrence!” Sekali lagi Naldo tertawa dengan kencang hingga terasa bergema di dalam ruangan itu.


“Gracia Lawrence, apakah kini saatnya aku menjemputmu untuk kembali ke mansion ini? Aku sudah berubah, kini aku sudah memiliki semuanya dan akan mengembalikannya padamu, asalkan kamu mau menjadi istriku. Aku akan membuatmu menjadi ratu di mansion ini dan akulah rajanya,” kata Naldo dengan sebuah senyuman sinis yang tercipta di wajahnya.


Sementara itu di kantor kepolisian Kota Meksiko, Marco tersenyum setelah menghubungi Naldo, orang kepercayaannya. Ia sangat yakin bahwa Naldo akan segera datang untuk membebaskannya.


Lihat saja nanti saat aku bebas, aku akan membuat kalian semua merasakan pembalasanku. - batin Marco. Tanpa ia ketahui bahwa Naldo sama sekali tidak bergerak untuk menuruti perintahnya.

__ADS_1


🌹🌹🌹


__ADS_2