
Setelah menemui Direktur Rumah Sakit Horison di California, Hanna menemani Grace ke apartemen sekalian ia akan mengambil beberapa barangnya yang tertinggal.
“Bagaimana rasanya tinggal di sini, Han?” tanya Grace mencari tahu. Ia mengelilingi apartemen yang disediakan oleh Rumah Sakit.
“Ahh di sini sangat menyenangkan!” Jawab Hanna. Sejujurnya ia membohongi Grace. Selain karena ingin mendekati Gregory, Hanna juga sangat tidak berah tinggal di apartemen tersebut. Apartemen yang diberikan oleh rumah sakit sangat kecil menurutnya dan lingkungannya berada di area yang kurang elit.
“Benarkah?” Grace tampak antusias.
Aku harus segera mengatur jadwalku di rumah sakit dan di klinik, agar keduanya bisa berjalan bersama. - batin Grace. Setidaknya dengan bekerja di rumah sakit, ia akan mendapatkan gaji dan gaji itu akan ia gunakan untuk membantu orang lain yang membutuhkan dokter tapi tidak memiliki uang.
Sebuah senyuman nampak di wajah Hanna. Ia sangat berharap Grace mengalami hal mengerikan di apartemen itu. Bagi Hanna, lingkungan di sana sangat tak menyenangkan, apalagi ada pria dengan wajah menyeramkan yang tertutup topi dan kumis serta janggut lebat yang tinggal juga di sana.
“Hmm … aku akan pergi. Oya, apa temanmu tidak kembali ke Kota Meksiko juga, Grace?” tanya Hanna.
Grace sedikit menautkan kedua alisnya. Ia tak pernah mengatakan pada Hanna bahwa Gregory berasal dari Meksiko. Lagipula bila dilihat perawakannya, ia lebih mirip pria Eropa dibanding pria Meksiko.
“Aku tidak tahu,” jawab Grace singkat.
“Baiklah, aku akan langsung bertanya padanya,” Hanna sangat senang karena ia bisa langsung berbicara dengan Gregory. Setiap interaksi akan menimbulkan kesan dan kesan semakin lama akan menimbulkan getar-getar. Itulah yang dipercaya oleh Hanna.
Hanna mendekati Gregory dan tanpa aba-aba, ia langsung meraih lengan siku Gregory dan bergelayut dengan manja, “Apa kamu tidak akan pulang ke Meksiko?”
“Lepaskan,” Gregory mencoba melepaskan pegangan Hanna pada sikunya. Ia tidak suka dengan wanita seperti Hanna yang begitu agresif.
“Aku bertanya kapan kamu akan pulang ke Meksiko? Aku tak akan melepaskanmu sebelum kamu menjawabnya,” kata Hanna dengan nada manja, membuat Gregory semakin enggan berdekatan.
“Aku tidak tahu dan ku rasa itu bukan urusanmu,” jawab Gregory.
“Tentu saja ada. Aku ingin ikut pulang denganmu.”
__ADS_1
“Pulanglah sendiri. Aku tak akan pulang sementara ini karena kekasihku ada di sini. Aku masih ingin bermesraan dengannya,” kata Gregory dengan sedikut pelan, membuat Hanna mengepalkan telapak tangannya.
Gregory berpikir jika ia mengatakan itu, maka Hanna akan mengurungkan niat mendekatinya. Namun Gregory salah, ia malah semakin memupuk kebencian Hanna pada Grace.
Hanna akhirnya melepaskan pegangannya dari Gregory kemudian kembali mendekati Grace, “Kalau begitu aku kembali dulu, Grace. Temanmu tidak mau menemaniku kembali ke Meksiko. Padahal akan lebih aman bukan kalau aku bersamanya.”
“Di pesawat nanti akan ada banyak orang, kamu akan aman.”
Hanna mencebik kesal karena Grace tidak merayu Gregory untuk menemaninya. Ia tahu bahwa tidak ada hubungan apapun antara Grace dengan Gregory, melihat dari bagaimana sikap Grace sejak pertama ia datang. Tak sekalipun ia berada dekat dengan Gregory seperti layaknya kekasih.
Hanna akan menggoyahkan perasaan Gregory. Ia akan mengambil alih hati pria itu. Gregory hanya miliknya dan ia akan segera menjadi ratu di Rumah Sakit Horison.
**
“Pulanglah.”
“Dari sini akan lebih mudah pergi ke bandara daripada dari Desa S,” jawab Grace.
“Tapi semua barang bawaanku masih berada di rumahmu,” kata Gregory sambil tersenyum penuh kemenangan.
“Aku akan mengirimkannya nanti melalui pos,” kata Grace lagi.
“Kalau kamu ingin mengirimkannya, maka sebaiknya kamu yang mengirimkannya langsung,” Gregory bangkit, kemudian mendekat ke arah Grace kemudian memeluk pinggangnya hingga tubuh mereka berdekatan. Grace menahan tubuh Gregory dengan kedua telapak tangannya agar sedikit menjauh darinya.
“Lepaskan aku.”
“Aku tak akan melepaskanmu. Aku sudah mengatakan padamu bahwa aku akan selalu berada di dekatmu. Jangan pernah pergi lagi karena aku pasti akan mencari dan menemukanmu, di mana pun kamu berada.”
Mendengar perkataan Gregory, seketika Grace kembali mengingat perkataan kakak laki-laki yang ada di perkebunan. Ia sudah berulang kali mencoba mengingat wajahnya, namun setiap kali mencoba yang ia ingat justru wajah Pamannya yang menatapnya dengan penuh rasa benci, amarah, dan keinginan untuk menghancurkan. Grace langsung memejamkan matanya.
__ADS_1
“Apa yang sedang kamu pikirkan?” tanya Gregory ketika melihat Grace memejamkan matanya dan meringis ketakutan.
“Ahh tidak, maaf.”
Belum sempat Grace melepaskan diri, Gregory mendekatkan wajahnya ke wajah Grace dan melummat bibir pink milik wanita itu. Grace kaget dengan serangan itu, namun kelembutan yang diberikan oleh Gregory seakan menghanyutkannya.
Grace melingkarkan tangannya di leher Gregory dan memberinya akses dengan membuka mulutnya. Gregory tersenyum dan mulai kembali melummat bibir pink dan ingin memporak-porandakan isi di dalamnya.
Grace ingin menolak, namun tubuhnya seakan tidak sejalan dengan pikirannya. Ia malah terus menerima dan bahkan menginginkan lebih.
Kamu gila, Grace! - Grace merutuki dirinya sendiri yang seperti tak punya malu dan harga diri.
Gregory menggendong Grace dan membawanya ke dalam kamar tidur. Ia membaringkan Grace dengan tetap melummat bibirnya. Ia mulai mengecup leher putih nan jenjang, membuat Grace mendessah.
“Ahhh!!!”
Sebuah senyuman terbit di wajah Gregory, “ I love you.”
Grace membuka matanya dan melihat wajah Gregory di hadapannya. Manik mata berwarna hazel dengan tatapan tajam dan wajah yang tampan, seakan menghipnotisnya. Grace memegang wajah Gregory dan mengelusnya.
Apakah aku boleh egois? Apakah aku boleh menikmati kebahagiaan? Tidak! Ingatlah Grace, jangan membawa siapapun masuk ke dalam masalahmu. Kamu harus menemukan kakak yang telah menolongmu, itu juga kalau ia masih hidup. Apa kamu tahu yang terjadi padanya karena menolongmu? - batin Grace bergejolak. Ia tak bisa mencintai pria di hadapannya. Ia sudah pernah berjanji hanya akan menikah dengan kakak yang telah menolongnya. Itu juga jika ia masih hidup. Namun, Grace tidak tahu bagaimana keadaannya sekarang, jadi ia harus tetap menjaga dirinya. Jika kakak laki-laki itu tak pernah ia temukan, maka itu berarti ia tak akan pernah menikah.
“Maafkan aku, sebaiknya kita pulang sekarang,” Grace menyudahi aktivitas mereka. Ia tak ingin mereka kebablasan dan berbuat lebih yang akan mereka sesali.
“Apa kamu tidak ingin menjawab ungkapan cintaku?”
“Aku tidak tahu dengan perasaanku. Kita tidak dekat dan kurasa apa yang tadi kita lakukan hanya karena terbawa suasana,” Grace keluar dari kamar. Ia tak ingin berlama-lama karena ia takut justru dirinyalah yang akan menerjang Gregory.
🌹🌹🌹
__ADS_1