
Setelah Gregory mengantarnya ke rumah sakit dan pria itu sendiri kembali ke Kota Meksiko, Grace melamun sendiri di dalam ruang prakteknya. Ia memikirkan apa yang dikatakan oleh Nicole. Ada rasa ingin tahu dalam dirinya, namun rasa takutnya juga sangat besar.
Apa yang sekarang harus kulakukan? - batin Grace.
Tokk tokk tokk …
“Masuklah,” jawab Grace saat mendengar pintu ruangannya diketuk.
“Apa pasien pertama sudah boleh masuk, Dok?” tanya suster Dora.
“Ahh ya boleh,” Grace hampir saja melupakan jadwal prakteknya sendiri dan terus melamun memikirkan orang yang memata-matainya.
**
“Capt, apa anda akan terus bolak balik ke California hanya untuk menemuinya?” tanya Danilo yang merasa kaptennya lebih fokus pada hubungan asmaranya dibanding dengan pekerjaan mereka.
“Aku belum tahu, Nil. Tapi untuk saat ini mungkin akan seperti itu.”
“Tapi pekerjaan kita saat ini banyak, Capt. Aku tidak bisa menghandlenya seorang diri.”
Gregory tampak berpikir. Ia juga sangat tahu bahwa ia telah menelantarkan beberapa pekerjaannya selama sebulan belakangan ini dan melimpahkan tugas itu pada Danilo.
“Baiklah, aku tak akan ke California sampai pekerjaan kita di sini tak teelalu banyak,” kata Gregory.
“Benar?”
“Hmm,” Danilo langsung merasa senang dengan jawaban Kapten Gregory. Ia langsung keluar untuk mengambil beberapa berkas kasus yang harus ia bicarakan dengan Gregory, terutama tentang kasus Dante dan Vicente yang belum menemui titik terang.
Anak buah Vicente yang berada dalam tahanan susah mengatakan lokasi di mana Vicente berada, namun Vicente sudah tak berada di sana dan hanya menyisakan beberapa anak buahnya saja.
**
__ADS_1
Grace pulang ke apartemen setelah selesai melakukan pekerjaannya di rumah sakit. Ia biasa akan pulang seminggu 2 kali ke Desa S untuk membersihkan rumahnya dan untuk membuka pelayanan kesehatan.
Apartemen berada tak jauh dari rumah sakit, tapi Grace tetap menggunakan mobilnya. Ia melakukan itu kalau-kalau ia tiba-tiba ingin pergi ke suatu tempat setelah dari rumah sakit.
Jam di pergelangan tangannya telah menunjukkan pukul 9 malam. Suasana di luar sudah gelap dan tak terlalu ramai kendaraan lalu lalang.
Sesampainya di apartemen, ia langsung masuk ke dalam lift dan menuju ke unit tempatnya tinggal. Dari arah lift ia melihat sosok seorang pria berdiri tak jauh dari unitnya. Ia sedikit takut untuk mendekat, namun ia menguatkan dirinya. Ia membuka tas-nya dan memegang senjata yang selalu ia simpan di sana untuk melindungi dirinya.
Grace terus memperhatikan gerak-gerik pria itu hingga ia berhasil masuk ke dalam unit apartemennya. Ia langsung bernafas dengan lega ketika sudah mengunci pintu apartemen. Ia masuk ke dalam kamar mandi dan mulai melakukan ritualnya.
Di dalam kamar mandi, Grace membuka pakaiannya dan meletakkannya di dalam keranjang pakaian kotor. Ia membuka semua aksesoris yang ada di tubuhnya, mulai dari jam tangan dan juga kalung. Ia merendam tubuhnya di dalam bathtub dengan menggunakan air hangat yang sudah ia beri aroma therapy. Sejak tadi pagi, pikirannya terus tidak fokus karena dihinggapi rasa takut. Ia ingin membuat tubuh dan pikirannya kembali relaks.
Grace menghabiskan waktu sekitar 30 menit untuk berendam, kemudian membersihkan tubuhnya di bawah pancuran shower. Setelahnya ia mengenakan piyama dan bersiap untuk naik ke atas tempat tidur.
Ting nong ting nong ting nong …
Beberapa kali suara bel apartemennya berbunyi. Mata Grace mulai menelisik dan mempertajam pendengarannya. Ia mengambil senjata di dalam tas-nya dan berjalan ke arah pintu. Ia tidak mengharapkan kehadiran siapapun, jadi ia perlu untuk waspada.
“Siapa?”
“Aku ingin mengantarkan makanan.”
“Aku tidak memesan apapun.”
“Tapi di sini tertulis untuk Nona Grace Alexander. Pesanan Tuan Gregory.”
Grace menautkan kedua alisnya. Ia kemudian merapikan pakaiannya dan meletakkan senjatanya di dekat lemari sepatu. Ia pada akhirnya membukakan pintu karena berpikir mungki Gregory-lah yang memesankan makanan untuknya.
Ia membuka pintunya, dan sebuah senjata kini sudah ada di hadapannya dan tentu saja diarahkan padanya. Sosok di hadapannya membuka topi kurir pengantar makanan dan membuang kotak makanan yang ia bawa.
“Kak Naldo?”
__ADS_1
Naldo menaikkan sudut bibirnya, “ternyata kamu masih mengingatku, Nona Gracia.”
Wajah Naldo memang tidak banyak berubah dan Grace dengan mudah mengenalinya dari luka panjang yang berada di alis sebelah kiri.
“Apa yang kamu lakukan di sini?” tanya Grace.
“Tentu saja untuk menemui seseorang yang tak pernah melihat ke arahku. Kamu tahu, kamu melukai hatiku.”
“Bukan maksudku melakukan itu, aku masih kecil saat itu dan tidak memikirkan tentang itu. Lagipula menurut cerita bibi, kakak sudah memiliki seorang yang akan dijodohkan di kampung halaman kakak,” kata Grace sambip berjalan mundur.
“Jangan mencari alasan. Aku tahu bahwa aku tidak cocok denganmu, tapi kamu tidak perlu membuang surat dan barang pemberianku!”
“Surat? Barang? Aku tidak pernah menerima apapun dari kakak! Kenapa kakak menuduhku melakukan itu?” tanya Grace.
Dengan cepat Naldo menutup mulut dan hidung Grace dengan sebuah saputangan yang telah disemprot dengan obat bius. Ia harus membawa Grace ke tempat Tuan Marco Lawrence, seperti apa yang diperintahkan.
Naldo langsung menggunakan masker dan topi hitam miliknya sendiri, memasukkan senjatanya lalu menggendong Grace ala bridal. Ia akan membuat seolah Grace tengah tertidur dan ia langsung membawa wanita itu ke basement, di mana mobilnya berada.
Di dalam mobil menuju bandara, Naldo terus menoleh ke samping dan memperhatikan wajah Grace. Dalam hatinya masih tersisa getaran yang tak bisa ia jabarkan. Ia kini merasa sedikit ragu membawa Grace untuk menemui Tuan Marco Lawrence.
Surat? Barang? Aku tidak pernah menerima apapun dari kakak! Kenapa kakak menuduhku melakukan itu?
Naldo kembali memikirkan perkataan Grace, “Apa kamu benar-benar tidak mendapatkannya? Apa kamu tidak membuangnya? Lalu siapa yang melakukannya?” gumam Naldo.
Ia tetap melajukan mobilnya menuju bandara di mana pesawat pribadi Tuan Marco Lawrence telah siap dan akan membawa mereka kembali ke Norwegia, tempat mereka berasal.
Sementara Grace dibawa kembali ke Negara Norwegia, Gregory masih terus berkutat dengan pekerjaannya. Ia memang baru akan menemui Grace pada hari Jumat, saat Grace hanya memiliki shift pagi.
Ia membuka bebeeapa berkas kriminal di hadapannya dan memanggil Danilo dan beberapa anak buahnya yang lain untuk melakukan meeting. Mereka akan mengatur strategi untuk menangkap para penjahat itu satu-persatu. Gregory tak menyadari jika saat ini ia sedang dipisahkan dengan wanita yang ia cintai.
🌹🌹🌹
__ADS_1