
** Flashback on*
Naldo masuk ke dalam sebuah pintu yang langsung terhubung ke ruang perpustakaan. Suasana mansion memang sepi karena ia memerintahkan seluruh pelayan kembali ke paviliun belakang dan tidak mengganggu jalannya acara pernikahan.
Ia keluar dari perpustakaan menuju ke ruang kerja. Mengobrak-abrik laci meja untuk menemukan beberapa dokumen dan juga kunci brankas yang ia sembunyikan.
Melihat bagaimana Grace menusuk dirinya sendiri dengan pisau sebanyak 2 kali, membuat Naldo tidak terlalu yakin kalau wanita itu akan selamat. Meskipun ia tak memiliki wanita itu, perkebunan harus tetap menjadi miliknya, termasuk aset lain di luar.
Setelah memasukkan semuanya ke dalam sebuah tas berwarna hitam, Naldo langsung berjalan kembali menuju pintu. Namun sebelumnya tak lupa ia mengambil senjata yang berada di salah satu laci.
Ceklek
Sebuah senjata telah berhenti tepat di keningnya, “Jatuhkan semuanya! Aku tak akan membiarkanmu lolos kali ini.”
Naldo masih memegang tas-nya dengan erat. Ia sedikit melirik melihat situasi di sekitarnya, hanya ada Gregory dan seorang anak buahnya. Gregory yang pernah tinggal di dalam Mansion Lawrence sangat hafal dengan liku-likunya, apalagi Grace pernah mengajaknya berkeliling melewati beberapa jalan rahasia yang dirancang khusus oleh Dad Martin.
Bughhh bughhh
Naldo mengangkat tas tersebut dan memukulkannya ke arah Gregory. Ia juga menendang perut Gregory. Naldo sedikit menjauh dan mengarahkan senjatanya pada Gregory.
“Kamu kira aku akan menyerah, hah?! Aku tak akan membiarkan siapapun mengambil apa yang sudah kumiliki. Aku juga berjuang untuk mendapatkannya,” kata Naldo sambil menggerakkan senjatanya ke kiri dan ke kanan. Dengan perlahan ia berjalan mundur.
Doorrr
Naldo menembakkan senjatanya ke arah anggota tim Gregory dan mengenai kakinya.
“Shittt!!!” teriak Gregory yang langsung menolong anggotanya, sementara Naldo melarikan diri.
“Kejar dia, Capt! Kita tidak boleh kehilangan dia.”
Gregory meninggalkan anggotanya dan mengejar Naldo. Ia mengeluarkan alat komunikasinya dan memberitahukan pada Danilo dan Berto untuk menolong rekan mereka yang tertembak.
__ADS_1
Menggenggam senjata di tangannya, ia memberikan satu tembakan untuk Naldo, tapi sayang pria itu masih bisa mengelak.
Dorrrr dorr dorrr
Naldo menembakkan senjatanya berkali-kali ke arah Gregory dengan arah yang asal. Fokusnya saat ini ialah melarikan diri. Gregory berusaha mengelak dengan menyembunyikan tubuhnya di balik pilar.
Naldo langsung melarikan diri lagi dan memasuki sebuah ruangan. Ia mengetahui sebuah pintu rahasia yang langsung terhubung dengan sebuah lorong bawah tanah.
Saat sudah masuk ke dalam, ia sedikit bernafas dengan lega. Ia berjalan perlahan sekaligus menetralkan detak jantungnya yang sedari tadi berpacu dengan cepatnya. Ia masih memeluk sebuah tas yang berisi beberapa dokumen penting dan sebuah senjata di tangan kanannya.
Ia menyusuri lorong yang di kanan kirinya sangat minim akan pencahayaan. Lorong itu awalnya digunakan oleh keluarga Lawrence untuk menuju ke pintu keluar dari mansion yang letaknya sangat rahasia, namun memang jarang sekali dipergunakan.
Lorong itu terasa panjang sekali untuk Naldo. Ia belum pernah melewati lorong itu sebelumnya, tapi ia tahu karena pernah mendengar saat Martin dan Marco bertemgkar.
Ketika melihat seberkas sinar di ujung lorong, wajah Naldo mulai menampakkan senyum meskipun kecil. Ia seperti kembali mendapatkan udara segar karena merasa sesak selama perjalanan di dalam lorong.
Cetlekkk
“K-kamu?”
“Apa kamu berpikir tidak ada yang tahu jalur rahasia ini?” tanya Gregory yang menekan mulut senjatanya ke dahi Naldo.
Naldo bisa melihat beberapa polisi kini tengah mengepungnya dengan mengarahkan senjata kepadanya. Ia tak akan bisa lari lagi dan jika melawan pun dipastikan ia akan terluka dan mungkin saja mati.
Naldo terus berpikir bagaimana cara ia bisa melarikan diri karena ia benar-benar tak ingin mendekam di balik jeruji besi. Ia harus tetap bebas. Namun, semuanya seakan hilang ketika kedua tangannya kini sudah diborgol dan ia dibawa oleh beberapa orang anggota kepolisian.
** Flashback off*
**
Sudah lewat beberapa hari sejak peristiwa itu dan kini keadaan Grace sudah jauh lebih baik. Ia masih harus sedikit dibantu dalam beberapa hal karena luka yang harus dioperasi.
__ADS_1
“Aku sudah tidak apa-apa, jangan terus memanjakanku seperti ini,” kata Grace ketika Gregory terus menempel kepadanya dan membantunya melakukan semua hal.
“Bagaimana tidak apa-apa? Kamu itu seorang dokter, tapi kamu malah melukai dirimu sendiri, mengesalkan!” Gregory merubah wajahnya menjadi kesal.
“Maafkan aku. Saat itu aku hanya berpikir akan lebih baik jika aku mati dibandingkan menikah dengannya. Maukah kamu memaafkanku?” tanya Grace.
“Tidak, sebelum kamu menjelaskan padaku mengapa kamu sebelumnya menghindariku dengan tidak membalas pesan ataupun menjawab panggilanku.”
Gregory membantu Grace untuk duduk di atas sofa. Hal itu dikarenakan Grace sangat bosan berada terus menerus di atas tempat tidurnya. Dari sofa itu ia bisa melihat pemandangan di luar jendela kamar rawatnya.
Grace melihat ke arah Gregory yang sepertinya telah menunggu jawaban darinya, “Aku takut.”
“Apa yang kamu takutkan? Apa pekerjaanku? Apa kamu tidak suka jika aku menjadi seorang polisi?” tanya Gregory yang langsung menggenggam kedua tangan Grace.
Grace menggelengkan kepalanya, “Aku takut cintaku akan menyakitimu. Kamu sudah terlalu banyak berkorban untukku. Aku sudah terlalu banyak menyakitimu dan keluargamu. Akulah penyebab semua hal yang terjadi pada keluargamu. Jika saja malam itu kamu tidak menolongku, mungkin keluargamu masih hidup. Seharusnya kamu membiarkan aku ma …,” Gregory meletakkan jari telunjuknya di bibir Grace agar wanita di hadapannya itu tak melanjutkan perkataannya.
“Apa yang sudah terjadi adalah takdir yang sudah digariskan. Aku tak pernah menyesali apapun. Aku menyayangimu, begitu juga dengan keluargaku. Tak ada yang perlu kamu kuatirkan. Jika kamu memang merasa bersalah, ada 1 hal yang bisa kamu lakukan,” kata Gregory.
“Katakan padaku, apa yang harus kulakukan. Aku pasti akan melakukannya.”
“Menikahlah denganku, sayangi aku, cintai aku sepanjang sisa hidupku,” kata Gregory.
“Aku akan melakukannya,” Grace langsung memeluk Gregory dan meneteskan air matanya. Ia merasakan ketulusan dari pria di hadapannya.
Gregory memundurkan tubuh Grace dan menatap wajahnya. Ia tersenyum. Dengan penuh kasih dan kelembutan, ia menempelkan bibirnya pada bibir Grace dan mulai melummatnya pelan.
Ciuman itu terasa begitu hangat dan penuh cinta, tanpa nafsuu di dalamnya, “I love you, Gracia Lawrence … since the first time i saw you.”
Grace kembali memeluk Gregory dan membenamkan wajahnya di dada pria yang akan menjadi kesayangannya itu. Ia menghirup harum maskulin yang membuatnya selalu merasa tenang dan nyaman.
“I love you too.”
__ADS_1
🌹🌹🌹