When Doctor Meet Mr. Policeman

When Doctor Meet Mr. Policeman
#31


__ADS_3

Gregory kini membersihkan dirinya di kamar mandi yang berada di luar. Ia harus menuntaskan sesuatu yang tiba-tiba saja terbangun. Ia hanyalah manusia biasa, laki-laki pada umumnya, yang akan tergida bila disuguhi sesuatu yang membangunkan hassrat mereka.


“Kalau saja kamu mau menjadi istriku … ah ya, setidaknya jadilah kekasihku terlebih dahulu,” gumam Gregory di bawah pancuran air shower.


Setelah selesai membersihkan diri, Gregory keluar dan telah siap dengan pakaian kerjanya. Ia langsung menuju meja makan di mana Grace telah menyiapkan sarapan mereka.


Selama sarapan, tak ada pembicaraan di antara mereka. Gregory tak ingin membuat Grace menjadi canggung, tapi saat ini ia tidak tahu bagaimana memulai pembicaraan.


“Aku berangkat dulu,” pamit Gregory.


“Hati-hati, jaga dirimu,” balas Grace, membuat Gregory tersenyum karena merasa seperti memiliki seorang istri. Ia pun berjalan mendekati Grace kemudian mencium keningnya, “Kamu juga, aku menyayangimu.”


Mendengar perkataan Gregory, membuat detak jantung Grace menjadi tidak karuan. Ia mengantar Gregory sampai ke depan pintu apartemen kemudian menutupnya setelah Gregory tak terlihat. Ia bersandar di belakang pintu kemudian memegang dadanya.


“Bisa-bisa aku terkena serangan jantung kalau tiap hari seperti ini,” gumam Grace.


Ia pun membereskan bekas sarapan mereka, kemudian membersihkan apartemen. Setelah selesai, ia duduk di sofa dan menikmati acara televisi. Sebenarnya ia bosan dan ingin kembali untuk bekerja, tapi jika mengingat Pamannya, ia merasa kecil hati.


**


“Mereka akan melakukan transaksi dalam minggu ini, Capt!” kata Danilo.


“Apa kamu tahu siapa yang akan menjadi rekannya?” tanya Gregory.


“Marco Lawrence.”


“Apa?!” Gregory tak percaya dengan apa yang ia dengar.


“Apa kamu yakin, Nil?” tanya Gregory.


“Yakin. Apa anda mengenal Marco Lawrence, Capt?” tanya Danilo.


“Ia adalah pemilik perkebunan anggur di Negara Norwegia. Apa yang ia lakukan dengan barang tersebut?” Gregory tak habis pikir.

__ADS_1


“Tapi Capt, ada hal yang lain dari transaksi kali ini,” kata Danilo.


“Maksudmu?”


“Selain Marco akan bertransaksi dengan Vicente, ia juga akan bertransaksi dengan Dante.”


“Dante? Apa ia akan membeli organ tubuh manusia?” tanya Gregory semakin bingung.


“Sepertinya terbalik. Dante-lah yang akan membeli dari Marco.”


“Sepertinya ada yang janggal, Nil. Vicente dan Dante tidak pernah memberitahu siapapun, siapa yang akan bertransaksi dengan mereka. Tapi mengapa kali ini dengan mudahnya nama seirang Marco Lawrence keluar.”


“Itu yang sedang kucari tahu. Menurut informan yang kita miliki, sepertinya mereka menggunakan Marco sebagai jembatan mereka untuk mengenalkan barang mereka pada dunia bawah di Eropa.”


“Sialannn!!! Kalau begitu kita harus bertindak. Jangan biarkan mereka melakukan itu karena itu akan berbahaya. Kita siapkan tim kita dan bergerak saat waktunya tiba.”


“Siap, Capt!” Danilo pun keluar dari ruangan, meninggalkan Gregory yang tengah berpikir.


Apa kamu juga turut andil di dalam transaksi ini, Nal? - batin Gregory.


**


Sepertinya aku harus meminta pada Gregory agar diperbolehkan untuk bekerja saja. Bukankah di rumah sakit banyak orang, jadi tak mungkin Pamannya atau Naldo berbuat sesuatu yang akan membuat mereka berurusan dengan hukum kan? - batin Grace sambil sesekali berjalan mondar mandir hingga ia tak menyadari bahwa Gregory sudah masuk ke dalam apartemen.


“Apa yang sedang kamu pikirkan?” tanya Gregory.


“Kamu sudah pulang? Aku tidak mendengar kamu datang.”


“Kamu terlalu sibuk dengan pikiranmu. Katakan padaku, apa ada sesuatu?”


“Bolehkah aku bekerja lagi? Bukankah di rumah sakit banyak orang, tidak akan mungkin mereka melakukan sesuatu di sana,” pinta Grace.


“Di rumah sakit memang banyak orang, tapi ada tempat-tempat di mana kamu akan seorang diri. Bukankah kita tidak bisa mengontrol siapa yang bisa datang ke sana? Aku bukan membatasimu, hanya saja aku ingin melindungimu.”

__ADS_1


“Tapi aku benar-benar bosan berada di apartemen sendirian,” ungkap Grace.


“Apa kamu ingin ikut denganku ke kantor?” tanya Gregory dan dijawab dengan gelengan kepala. Tentu saja, bagaimana mungkin Grace akan mau pergi ke kantor polisi. Orang-orang pasti akan bertanya apa yang ia lakukan di sana.


Grace tampak berpikir lagi, “bagaimana kalau aku kembali ke Camp Pelatihan Kepolisian saja?”


“Apa kamu ingin berada begitu jauh dariku?” tanya Gregory tiba-tiba, membuat detak jantung Grace tak bekerja sama dengan baik.


Aku tak akan membiarkanmu berada jauh lagi dariku. Kamu tahu betapa hancur perasaanku ketika mendengar kematian Dad dan juga dirimu. Aku tak ingin hal itu terjadi lagi dan aku tak akan membiarkannya terjadi lagi. Aku akan selalu melindungimu. - batin Gregory.


“Ehhhmmm …,” wajah Grace memerah, ia langsung menundukkan kepalanya. Belakangan ini ntah mengapa ia menjadi sulit menatap mata Gregory, membuat jantungnya tak karuan.


“Aku sudah mengatakan bahwa aku mencintaimu. Aku tak akan membiarkan hal yang buruk terjadi padamu. Tetaplah di sini, bersamaku. Dengan begitu aku akan lebih mudah menjagamu,” kata Gregory.


“A-aku …,” Gregory langsung membungkam bibir Grace dengan bibirnya. Ia tidak ingin lagi mendengar wanita di hadapannya itu berkata ingin berada jauh dari dirinya.


Ciuman Gregory begitu lembut, membuat banyak kupu-kupu seakan beterbangan dari dalam diri Grace. Grace yang ikut terhanyut pun membuka mulutnya dan memberikan akses pada Gregory untuk menjelajah. Gregory mendorong Grace perlahan hingga menyentuh dinding. Sebelah tangannya ia tahan ke dinding, sementara sebelah tangannya lagi meraih tengkuk Grace dan memperdalam ciuman mereka.


Sebelah tangan Gregory yang awalnya memegang dinding kini sudah berpindah ke pinggang Grace, sementara yang satu mengelus wajah Grace. Kedua mata mereka saling menatap dan mereka berdua tak dapat memalingkan wajahnya, seakan ingin terus seperti itu.


“I love you,” kata Gregory, dan kembali melummat bibir Grace tanpa menunggu jawaban ataupun balasan dari perkataannya itu. Nafas keduanya memburu hingga mereka bisa merasakan hembusan nafas masing-masing.


“Aku berjanji akan menjaga diriku, aku tak akanmembuatmu kuatir,” kata Grace.


“Dengan berada jauh dariku, kamu sudah akan membuatku kuatir. Bagaimana kalau kamu menjadi dokter di kantorku saja?” tanya Gregory, membuat Grace mengernyitkan keningnya.


“Sejak kapan di kantor polisi ada dokter yang bertugas?”


“Sejak aku akan mempekerjakanmu,” kata Gregory sambil tersenyum.


“Jangan melakukan itu. Aku tak ingin kamu terus berbuat baik padaku. Aku takut akan mencintaimu, karena aku tidak boleh melakukannya.”


“Aku akan membuatmu mencintaiku dan tak akan pernah ingin lepas dariku. Tak ada pria lain yang boleh mendekatimu, karena dirimu hanyalah milikku,” kata Gregory yang kembali memberikan lummatan di bibir Grace.

__ADS_1


🌹🌹🌹


__ADS_2