
Gregory yang berbaring di atas tempat tidur yang sama dengan Grace, malah tidak bisa memejamkan matanya, sementara Grace sudah terbang ke alam mimpi sejak tadi.
Ia menyampingkan tubuhnya dan memperhatikan wajah Grace yang sedang terlelap. Dengan perlahan Gregory menarik pinggang Grace agar mendekat ke arahnya. Hal itu membuat Grace sedikit menggeliat yang pada akhirnya ikut menyampingkan tubuhnya, berhadapan dengan Gregory.
Gregory menjadikan lengannya sebagai bantalan kepala Grace. Ia menatap wajah Grace tanpa merasa bosan. Sesekali ia mengelus pipi wanita itu dan tersenyum.
“Aku berharap kamu selalu ada di sini. Kalau waktu ingin berhenti saat ini, mungkin aku tak akan pernah menyesal, karena ada dirimu di sisiku. I love you, Gracia Lawrence,” Gregory memberikan kecupan di kening Grace kemudian memeluk tubuh wanita itu.
Grace yang merasakan kehangatan, bergerak sedikit menggeliat dan menyembunyikan wajahnya di dada Gregory. Tangannya juga kemudian memeluk Gregory, seperti mencari kenyamanan.
Saat semua orang tengah bersiap untuk pergi bekerja dan melakukan rutinitasnya sehari-hari, sepasang manusia kini tengah terlelap di atas tempat tidur yang sama, mencari kehangatan dan kenyamanan.
**
Dante dan Vicente dirawat dalam ruangan yang sama. Hal itu agar memudahkan penjagaan terhadap keduanya. Pihak kepolisian tak ingin lengah dan gegabah lagi karena mereka adalah dua penjahat besar yang sangat dicari.
Mereka sampai harus menyusun rencana selama berbulan-bulan agar tidak terjadi kesalahan lagi. Untung saja kali ini keduanya berhasil tertangkap meskipun ada kendala di tengah-tengah rencana.
“Ini semua karenamu,” kata Vicente menyalahkan Dante.
“Apa maksudmu?”
“Kalau saja kamu menolongku, tentu kita tidak akan tertangkap seperti ini.”
“Justru kalau aku menolongmu, aku lebih cepat tertangkap. Mendengarmu berbicara saja aku sudah tertangkap, menyebalkan!” gerutu Dante.
Ia menyalahkan Vicente yang terlalu banyak mulut setelah kecelakaan itu terjadi. Kalau ia tidak terlalu banyak bicara dan menahan Dante, mungkin saat ini ia sudah berada jauh dari Meksiko, begitu pikirnya.
“Jadi kamu memang berniat meninggalkanku di sana, hah?!”
__ADS_1
“Lalu apa untungnya bagiku jika menolongmu? Lihat apa yang terjadi sekarang, kita berdua malah tertangkap,” Dante berdecak kesal sementara Vicente kini tahu bahwa Dante tak akan pernah menolongnya jika ia sedang dalam kesulitan. Dante akan lebih memilih untuk menolong dirinya sendiri dan mengumpankan orang lain.
“Kita lihat saja nanti,” Vicente yang memang masih lemah pun akhirnya memutuskan untuk tidur. Ia sudah mengetahui apa yang terjadi pada dirinya. Ia mengalami kelumpuhan permanen pada sebelah kakinya, begitu juga dengan sebelah tangannya.
**
Grace yang terbangun, mengerjapkan matanya. Tanpa ia sadari, ia sudah berada dalam pelukan Gregory dan ia juga memeluk pinggang pria itu. Ia memindahkan tangannya, kemudian menyentuh pipi Gregory.
Aku tidak tahu bagaimana perasaanku saat ini, tapi aku bisa mengatakan kalau aku nyaman dan merasa aman berada di dekatmu. Mungkinkah aku mencintaimu? - Grace memberikan elusan di kening Gregory, turun kemudian menyusuri alis mata Gregory yang lebat. Setelahnya ia menurunkan jemarinya ke pipi dan berakhir di bibir.
Gregory yang sudah terbangun namun berpura-pura memejamkan matanya pun ingin tersenyum. Dengan sengaja ia menggigit jemari Grace, tentu saja tidak sakit.
“Ouchhh!!”
“Apa kamu hanya akan menyentuhku saat aku tertidur?” tanya Gregory dengan sebuah senyuman di bibirnya. Ia benar-benar senang saat Grace mulai menunjukkan sikap dari dalam hatinya.
“A-aku?”
“Aku mau,” saat ini Grace seperti sedang dipenuhi oleh ego-nya. Ia menginginkan semua ini, kebahagiaan, cinta, dan perasaan terlindungi. Ia ingin egois meski hanya sekali.
Senyum merekah di wajah Gregory. Ia langsung mendaratkan sebuah ciuman di bibir Grace. Ciuman yang penuh dengan rasa cinta dan kasih sayang.
“Aku akan mempersiapkan semuanya,” ujar Gregory.
“Bolehkah aku kembali bekerja?” tanya Grace.
Gregory menganggukkan kepalanya. Saat ini Dante dan Vicente telah ditangkap, begitu juga dengan Marco Lawrence. Menurut Gregory, tak ada ancaman berat yang akan mengganggu kehidupan dirinya dan Grace.
“Terima kasih!” Grace langsung memeluk Gregory yang masih berada di atas tempat tidur.
__ADS_1
“Kalau begitu apa aku boleh mendapatkan hadiah?” tanya Gregory.
“Hadiah? Baiklah, aku akan memasakkan sesuatu untukmu,” Grace berencana untuk bangkit dari tempat tidur namun tangannya kembali ditarik oleh Gregory.
“Aku tidak ingin hadiah itu.”
“Lalu? Apa kamu menginginkan barang tertentu?” tanya Grace. Gregory menggelengkan kepalanya kemudian tersenyum. Senyum Gregory selalu menghangatkan hati Grace, mengingatkannya pada seseorang.
“Cium aku di sini,” Gregory menunjuk ke arah pipinya.
Cuppp
Dengan cepat Grace mencium Gregory kemudian keluar dari kamar. Jantungnya berdetak cepat dan wajahnya kembali memerah. Sementara itu Gregory memegang pipinya sambil tertawa pelan.
**
Sinar mentari bersinar namun tak menyakiti kulit, anggur sudah mulai berbuah dan terlihat begitu ranum. Para pekerja selalu turun ke kebun untuk memastikan semuanya berjalan dengan baik.
Sudah 2 minggu sejak kepergian tuan tanah pemilik kebun anggur itu ke luar negeri, hingga kini belum kembali. Seorang pria tersenyum sambil melihat luasnya kebun anggur yang terpampang di depan matanya.
Naldo, demikianlah pria itu dipanggil. Ia adalah tangan kanan Sir Marco Lawrence, atau biaa dikatakan sebagai asisten pribadi dari seorang Marco. Naldo sudah terbiasa memantau semua pekerjaan di perkebunan, bahkan ia mengetahui semua detailnya karena ia sudah tinggal di sana sejak ia masih kecil.
“Bagaimana, Sir? Apa sekarang kamu sudah mempercayaiku?” gumam Naldo seorang diri.
Sebelum kepergian Marco ke Meksiko, Naldo sudah melarangnya dengan berbagai alasan. Namun, Marco yang memang melihat ini sebagai suatu sumber uang yang besar tak mempedulikan perkataan Naldo.
Dan bodohnya seorang Marco Lawrence yang terlalu mudah percaya, kini telah membuat seorang Naldo Arthur menjadi pemimpin di perkebunan anggur. Secara tidak sadar ia menandatangani surat kuasa untuk menyerahkan kepemimpinan kepada Naldo selama ia tidak ada.
Naldo sangat tahu bagaimana keadaan tuannya itu. Tapi ia tak akan membantu karena hal itu tak akan ada gunanya bagi dirinya. Yang ada malah ia akan terkena masalah itu juga. Akan lebih baik ia tetap berada di perkebunan dan menikmati semuanya.
__ADS_1
🌹🌹🌹