
Naldo yang telah mengenakan setelan jas kini berada di dalam ruangan di mana janji pernikahan akan ia ucapkan. Sebuah ruangan serbaguna yang berada di Mansion Lawrence telah disulap menjadi sebuah ruangan dengan altar kecil. Selain itu, ia juga menghiasnya dengan beberapa buket bunga yang diletakkan pada pilar-pilat setinggi dada.
Salah seorang dari anak buahnya berjalan mendekat kemudian membisikkan sesuatu di telinganya.
“Sialannn!!! Ayo kita lakukan prosesi ini lebih cepat. Aku tidak akan membiarkan dia mengacaukan semuanya. Cepat bawa wanita itu ke sini,” perintah Naldo dengan suara keras.
Tak berapa lama, Grace yang sudah mengenakan gaun berwarna putih sudah berjalan memasuki ruangan. Naldo begitu terpesona dengan kecantikan Grace yang memang sudah ada sejak dulu, namun saat ini ia terlihat begitu cantik dan semakin dewasa, apalagi ditambah dengan riasan yang sangat mendukung.
Grace berhenti persis di hadapan Naldo, “Bebaskan dia, baru aku akan melakukan pernikahan denganmu.”
“Tidak bisa!” teriak Naldo.
“Kalau begitu aku juga tidak bisa melanjutkan pernikahan ini,” ungkap Grace dengan berani.
“Kamu berani melawanku? Kamu tahu kan apa yang bisa kulakukan? Jangan sampai kamu menyesal,” Kata Naldo.
“Aku tak peduli lagi.”
“Benarkah? Cepat seret dia ke altar!” teriak Naldo kepada beberapa anah buahnya.
“Lepaskan aku!” Namun tenaga Grace tak sebanding dengan 2 orang anak buah Naldo yang sudah membawanya ke altar.
Naldo sedang berbisik kepada anak buahnya agar berjaga-jaga di depan Mansion dan sekitarnya. Ia tak ingin pernikahannya terganggu oleh apapun. Diam-diam Grace mengeluarkan senjata tajam dari balik gaunnya. ia tersenyum saat memegangnya. Dengan tatapannya ia memerintahkan seorang pendeta yang akan memimpin janji pernikahannya untuk turun dari altar.
“Gracia!” teriak Naldo saat melihat Grace memegang pisau yang terlihat begitu tajam.
“Apa?” katanya dengan santai.
__ADS_1
“Apa yang ingin kamu lakukan?” tanya Naldo berjalan mendekat.
“Berhenti di situ. Kamu maju selangkah, jangan salahkan aku kalau aku melakukan hal yang gila!” teriak Grace.
“Baiklah, aku akan membebaskannya. Tapi aku ingin kamu melepaskan senjatamu itu,” Grace tersenyum tipis seakan mengejek Naldo.
“Jangan memerintahku. Kamu bukan siapa-siapa dan tak akan pernah jadi siapa-siapa dalam hidupku. Aku tidak tahu apa maksudmu menikahiku. Jika yang kamu inginkan hanyalah menjadi pemilik perkebunan ini, tanpa menikahiku pun akan kuserahkan padamu. Aku sudah tidak peduli dengan hal itu.”
“Aku mencintaimu, Gracia.”
Grace tertawa mengejek, “jangan membuatku tertawa akan semua sandiwaramu itu. Aku bukan lagi gadis kecil yang dengan lugunya bisa kamu bohongi. Semua ungkapan rasa cintamu sejak dulu hanyalah jalanmu untuk memiliki perkebunan ini.”
Naldo mengepalkan tangannya melihat Grace yang sama sekali tak terlihat takut berhadapan dengannya. Ia kembali berjalan mendekati Grace, namun …
Jlebb jlebb …
“Am-bilah semua yang ka-mu inginkan, tapi ti-dak dengan diriku. Diri-ku adalah milik-ku sendiri, tak akan per-nah aku membiarkan o-rang se-per-timu un-tuk me-nga-turnya,” Grace terjatuh di atas karpet berwarna merah dan memegang perutnya.
Terdengar suara tembakan saling sahut-menyahut dan baku hantam dari luar ruangan. Naldo yang sudah mengetahui bahwa Gregory berhasil kabur dari tempat ia disekap pun mulai melangkah pergi dari ruangan melalui jalur khusus untuk bersembunyi.
Ia bisa saja melawan, tapi kali ini ia tak memegang senjata dan ia tahu bahwa lawannya memiliki keahlian yang lebih dari pada dirinya. Naldo melihat sekilas ke arah Grace yang sudah tergeletak menahan sakit di bagian perutnya, kemudian langsung meninggalkannya.
Gaun berwarna putih itu kini telah bernoda dengan bercak merah. Wajah Grace mulai memucat karena kehilangan banyak darah. Dari balik pandangannya yang semakin kabur, ia melihat seseorang berlari ke arahnya.
**
Gregory memegang tangan Grace dan dengan setia selalu berada di sampingnya. Wanita di hadapannya ini baru saja menyelesaikan operasi karena luka tusukan yang ia lakukan.
__ADS_1
“Mengapa kamu melakukan hal yang bodoh seperti itu? Percayalah bahwa setiap kamu mengalami kesulitan, maka aku akan berada di sana untuk menolongmu. Aku tak akan membiarkan sesuatu yang buruk terjadi padamu,” gumam Gregory sambil terus mengelus punggung tangan Grace.
Sudah lewat beberapa jam setelah operasi, tapi Grace belum juga siuman. Hal itu membuat Gregory takut dan sedikit was-was. Baru saja ia hendak keluar, seorang dokter dan seorang perawat masuk ke dalam untuk melakukan kunjungan dan pemeriksaan rutin.
“Ia belum siuman?” tanya Dokter
“Belum. Apakah ada sesuatu?” tanya Gregory balik.
Dokter kembali memeriksa keadaan Grace, “tunggulah sebentar lagi. Selain efek obat bius, mungkin ia juga kelelahan sehingga memerlukan istirahat yang lebih dari biasanya.”
Gregory menganggukkan kepalanya tanda mengerti. Ia pun tetap duduk di samping brankar Grace. Tak berapa lama, Gregory merasakan pergerakan pada jari jemari Grace. Ia tang awalnya sesang membaringkan kepalanya, kini kembali duduk dengan tegap dan memperhatikan Grace.
Grace merasakan sebuah elusan lembut di tangannya. Ia menoleh dan melihat Gregory berada di sana. Ntah mengapa air matanya langsung luruh.
“Ada apa? Apa masih terasa sangat sakit?” tanya Gregory yang kuatir dengan luka yang dialami oleh Grace.
“Kamu baik-baik saja?” tanya Grace. Ia bisa melihat masih ada beberapa lebam di wajah Gregory yang artinya pria itu telah mendapatkan beberapa pukulan yang cukup kencang.
“Aku tidak apa-apa, jangan mengkuatirkanku. Saat ini kamu hanya perlu fokus dengan kesembuhanmu.”
“M-maaf, maafkan aku. Ini semua karena diriku. Semua yang terjadi padamu adalah karena diriku. Sebaiknya kamu menjauh, maka kamu akan baik-baik saja,” kata Grace.
Gregory menarik kursinya lebih mendekat ke arah brankar Grace dengan tetap memegang telapak tangan wanita di hadapannya.
“Ingatlah bahwa kamu tak akan bisa lagi menjauh dariku. Kita akan segera menikah dan aku akan melindungimu.”
“T-tapi, bagaimana dengan Kak Naldo? Bagaimana juga dengan Paman Marco?” Grace tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi ke depannya jika Gregory terus berada di dekatnya. Bukan tidak mungkin jika akan ada hal buruk lagi yang menimpanya.
__ADS_1
“Mereka tak akan lagi mengganggu kehidupanmu. Aku berjanji.”
🌹🌹🌹