When Doctor Meet Mr. Policeman

When Doctor Meet Mr. Policeman
#39


__ADS_3

Grace berdiam di dalam kamar tidurnya. Ia melihat kalung pemberian kedua orang tuanya. Matanya kembali berkaca-kaca ketika mengingat kembali semuanya, terutama malam terakhir ia berada di Mansion Lawrence.


Ia juga sangat ingat bagaimana Uncle David yang telah menolongnya, mengorbankan dirinya dengan menghalangi para anak buah pamannya, sementara ia melarikan diri.


Suaminya meninggal dan ia menjadi depresi hingga semakin hari tubuhnya semakin kurus. Akhirnya ia pun menyusul suaminya dan meninggalkan putranya.


“Itu semua karena diriku, semua karena aku. Kalau malam itu mereka tidak menyelamatkanku dan aku tidak berteriak meminta tolong, mungkin tidak akan mencelakai mereka,” gumam Grace seorang diri.


Kini Grace merasa dirinya tak layak untuk bersama dengan Gregory. Ia membuat Gregory menjadi yatim piatu. Ia yang menghancurkan keluarga itu. Grace memegang samping kepalanya dan memejamkan matanya.


Kilatan kejadian mulai dari ia melihat kedua orang tuanya dibawa pergi dengan keadaan yang bisa dikatakan mengenaskan, keadaan saat ia melarikan diri di tengah gelapnya malam.


Pergilah! Berlarilah terus dan jangan berhenti! Kamu harus selamat. - itulah pesan terakhir Uncle David padanya. Setelah itu saat ia menoleh ke belakang, ia melihat kembali Uncle David telah dipukuli oleh beberapa orang.


Grace saat itu terus berlari dan naik ke atas sebuah mobil pick-up yang ternyata membawanya menuju pelabuhan. Pick up tersebut langsung masuk ke dalam kapal tanpa membongkar muatannya. Kapal tersebut membawanya ke Benua Amerika, tepatnya di Negara Meksiko.


Namun, ia tak menyangka bahwa anak buah pamannya bisa menemukannya dan kembali mengejarnya. Sampai pada akhirnya ia ditemukan oleh keluarga Alexander.


Ia merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur tanpa membersihkan diri dan tanpa berganti pakaian. Hatinya terasa lelah sekali.


**


Tanggg dunggg tanggg …


Marco terus menendang besi sel tempat ia ditahan. Ia sangat kesal karena sudah 2 minggu berlalu, tapi tidak ada sama sekali tanda-tanda kedatangan pengacaranya. Bahkan ia sudah kembali mencoba menghubungi Naldo, tapi tidak tersambung.


“Kurang ajar!! Sepertinya anak itu ingin bermain-main denganku. Sialannn!!” Dengan geram Marco kembali menendang besi sel yang berwarna hitam itu, kemudian duduk di lantai.


“Berisik sekali!!” gerutu salah seorang tahanan.


“Diam kamu!!” teriak Marco.


Tahanan itu langsung berdiri dan mendekati Marco. Bisa terlihat begitu banyak tato di tubuhnya dan wajahnya yang sangar. Marco yang sedang diliputi kekesalan pun tak peduli ataupun menggubrisnya.

__ADS_1


Bughh


Satu pukulan tepat di wajah Marco membuat pria itu langsung terhuyung ke belakang hingga membentur besi sel. Belum puas juga, pria itu kembali memukul perut dan dada, hingga Marco akhirnya jatuh terjerembab.


Pria itu memutar tubuhnya dan kembali duduk di tempatnya semula, tanpa mempedulikan Marco. Para tahanan yang lain pun hanya diam dan menyaksikan. Memang sudah sejak Marco berada di sana, keberadaannya selalu membuat kesal tahanan yang lain. Ia selalu bergaya sok kuasa dan memaki tiada henti.


Lihat saja kalian semua jika aku bebas, aku akan menghabisi kalian. - batin Marco sambil mengepalkan tangannya. Namun ia juga sebenarnya mulai tidak yakin akan bisa keluar dari sana karena tak ada tanda-tanda ia akan dibebaskan.


**


Gregory menghubungi Grace pagi ini. Ia akan menjemputnya seperti biasa. Namun, Grace tak mengangkat teleponnya ataupun membalas pesannya, membuatnya menjadi kuatir.


Ia kini sudah berada di depan kediaman Alexander, menghentikan mobilnya dan masuk ke dalam. Penjaga keamanan yang berada di sana sudah sangat mengenalinya karena Gregory selalu menyapanya. Penjaga keamanan itu juga mengenali Gregory yang notabene adalah seorang Kapten Polisi yang dikenal di Kota Meksiko.


Gregory masuk ke dalam dan melihat seorang pelayan, “Selamat pagi, apa bisa minta tolong panggilkan Grace?”


Meskipun Gregory sering ke sana, namun tak pernah sekalipun ia secara lancang masuk ke dalam kamar Grace. Ia selalu menunggu wanita itu di ruang tamu. Chris dan Maria saat ini sedang menginap di kediaman Theo karena ingin menemani Freya yang tengah hamil.


“Pergi?” Gregory merasa aneh karena Grace tidak mengatakan apapun padanya, bahkan ia tidak pamit.


“Kapan dia pergi?” tanya Gregory lagi.


“Semalam.”


“Baiklah kalau begitu. Oya, apa kamu tahu kapan ia akan kembali?”


“Tidak, Tuan.”


Gregory menghela nafasnya pelan, kemudian meninggalkan tempat itu. Sementara di dalam kamar, Grace berdiri dekat dengan jendela. Ia bisa melihat kepergian Gregory dari balik gorden renda tipis yang menjuntai di jendela tingginya.


“Maaf. Beri aku waktu. Aku jadi merasa bersalah setiap kali melihatmu,” Grace memegang dadanya yang terasa sesak. Ia segera mengambil pil yang terletak di laci nakasnya. Ia bukanlah orang yang sering mengkonsumsi obat penenang, namun sejak semalam ntar mengapa ia jadi memerlukannya.


Grace memang berpesan pada salah satu pelayan di kediaman Alexander untuk berbohong tentang kepergiannya. Ia bahkan meminta pelayan itu terus menunggu di ruang tamu karena ia yakin Gregory akan masuk ke dalam.

__ADS_1


Ia membaringkan kembali tubuhnya di atas tempat tidur dan memejamkan matanya. Dengan perlahan, rasa kantuk mulai menyelimutinya, hingga ia pun pada akhirnya terlelap.


**


“Ada apa?” tanya Gregory saat sudah tiba di kantor dan melihat wajah Danilo yang terlihat resah.


“Marco … Marco Lawrence, ia … ia …”


“Cepat katakan!”


“Ia meninggal,” kata Danilo.


“Meninggal? Bagaimana mungkin?” tanya Gregory.


“Semalam ada seseorang yang mengunjunginya, tak lama setelah itu katanya ia mengalami kejang-kejang dan langsung tak sadarkan diri,” jawab Danilo.


“Sialll! Apa kita melewatkan sesuatu?”


“Laly bagaimana dengan Dante dan Vicente?” tanya Gregory.


“Mereka berdua masih aman dalam sel yang berbeda. Kita tak bisa menyatukan mereka, karena mereka akan saling membunuh.”


“Seharusnya kamu biarkan saja. Bukankah dengan begitu kasus ini akan cepat selesai,” ujar Gregory.


“Apa yang sedang kamu pikirkan? Kita memerlukan mereka untuk membongkar jaringan yang lebih besar,” tanya Danilo. Ia melihat wajah Gregory yang tidak seperti biasanya. Wajah itu kini terlihat sangat gelisah.


“Tidak ada. Apa kamu sudah memeriksa CCTV untuk melihat siapa yang datang menemuinya?” tanya Gregory.


“Belum. Aku ingin melihatnya bersamamu, Capt.”


“Kalau begitu ayo!” ajak Gregory.


🌹🌹🌹

__ADS_1


__ADS_2