When Doctor Meet Mr. Policeman

When Doctor Meet Mr. Policeman
#27


__ADS_3

Grace terbangun dari tidurnya dan mendapati dirinya kini berada di sebuah ruangan yang sampai saat ini masih terekam jelas dalam ingatannya. Ia memindai sekeliling dan melihat bahwa semua tatanan di dalam ruangan itu belum ada yang berubah. Fotonya bersama keluarganya masih menghiasi dinding, begitu juga dengan furniture di dalamnya, tak ada yang berubah.


Ia segera bangkit dari tempat tidur menuju walk in closet miliknya. Ia membuka lemarinya satu persatu. Ia takjub karena semua pakaiannya masih berada di sana, meski sudah terlewat belasan tahun.


“Kenapa mereka membiarkan semuanya di sini? Mengapa tidak membuangnya atau memberikan kamar ini pada yang lain?” gumam Grace.


“Karena aku tak akan mengijinkannya,” jawab Naldo yang sudah berdiri di pintu walk in closet.


“Kak! Mengapa kamu membawaku ke sini lagi? Aku mau keluar dari sini. Persetan dengan semua harta ini, berikan saja pada Paman, aku tidak menginginkannya,” kata Grace dengan sedikit memohon.


“Sir Marco sedang pergi keluar negeri. Kamu akan menemuinya ketika ia kembali,” kata Naldo tanpa memandang mata Grace.


“Kak! Lihat aku! Katakan apa yang harus kulakukan agar kakak membiarkan aku keluar dari sini?”


Naldo tak menjawab pertanyaan Grace. Ia hanya melihatnya sesaat kemudian berjalan keluar dari kamar. Awalnya Naldo masuk ke kamar tidur Grace untuk melihat keadaan Grace dan memintanya keluar untuk sarapan, tapi ia malah diberondong dengan pertanyaan yang ia sendiri tak tahu harus menjawab apa dan bagaimana.


Grace yang melihat hal itu hanya memberengut kesal. Ia melihat ke arah jendela dan melihat keadaan sekitar. Dulu ada yang membantunya keluar, tapi sekarang?


**


Gregory yang sudah seharian sibuk dengan berkas kriminal di hadapannya dan sesekali berbicara dengan anak buahnya yang berada satu ruangan dengannya untuk membahas kasus, melihat ke arah ponselnya. Ia sempat mengirimi Grace sebuah pesan, tapi sampai sekarang tak ada balasan sama sekali.


Ia masih berpikir positif bahwa Grace sedang sibuk karena memang rumah sakit Horison di California cukup ramai.

__ADS_1


Hingga malam menjelang, ponsel Gregory tetap tidak mendapatkan balasan apapun. Kadang ponselnya berbunyi dan ia langsung meraihnya berharap ada balasan dari Grace, namun ia salah karena ternyata anak buahnya-lah yang mengiriminya laporan.


Gregory melihat kembali pesan yang ia kirimkan pada Grace. Sudah dibaca, namun belum dibalas. Hal itu membuat Gregory mulai khawatir. Ia ingin menghubungi Nicole dan bertanya apakah Grace kembali ke Desa S, tapi ia tak memiliki nomor ponsel Nicole. Gregory sengaja tidak memiliki nomor ponsel Nicole agar bisa selalu memakai alasan itu untuk menghubungi Grace.


Melihat seluruh anak buah di dalam ruangannya yang terlihat begitu serius, membuat dirinya kembali berkutat dengan kasus yang sedang mereka hadapi. Ia akan melihat keadaan esok hari. Jika memang Grace belum membalas pesannya juga, mungkin ia akan langsung pergi menuju California.


**


Gregory tak dapat menunggu lagi. Ia pun berangkat ke California pagi-pagi, setelah ia lembur semalaman dan tidak tidur untuk menyelesaikan strategi yang akan mereka lakukan untuk menghadapi beberapa kasus besar, terutama kasus Dante dan Vicente.


Ia tak pernah merasa sekuatir ini dalam hidupnya. Mungkin ini kedua kalinya setelah dulu ia sangat peduli pada putri dari majikan Dad-nya.


Dengan menggunakan pesawat komersil, Gregory langsung terbang menuju California. Ia bahkan melupakan janjinya pada Danilo untuk tetap berada di Meksiko, sampai mereka benar-benar menyelesaikan kasus.


Saat membuka pintu, Gregory hanya merasakan suasana tenang, sunyi, yang ia yakini bahwa tak ada siapapun di apartemen itu. Ia merasa kakinya menginjak sesuatu, sebuah topi.


“Topi, pengantar makanan?” gumam Gregory sambil mengangkatnya. Ia juga melihat sebuah tas yang biasa dibawa oleh kurir pengantar makanan berada tak jauh dari topi tersebut.


Ia langsung masuk ke dalam kamar tidur Grace. Ia melihat tas kerja Grace berada di sana. Ia membukanya dan menemukan dompet, ponsel, dan benda-benda lain yang biasa ia bawa, masih berada di dalamnya. Lalu ia masuk ke dalam kamar mandi. Pakaian kotor Grace sudah ada di keranjang yang artinya ia melakukan ritual mandi.


Gregory beralih ke wastafel. Di sana terdapat jam tangan dan juga kalung milik Grace. Ia memegangnya seakan mengenali kalung itu.


“Ini …,” Gregory langsung membuka kalung tersebut dan melihat foto di dalamnya.

__ADS_1


“Apakah Grace adalah Nona Gracia Lawrence?” Mata Gregory membulat. Apa yang ia pikirkan selama ini, dan bagaimana hatinya langsung terikat dengan Grace adalah karena memang ia adalah gadis yang ia cari.


“Lalu, ke mana ia sekarang?” tanya Gregory bermonolog sendiri.


Gregory yang teringat bahwa apartemen itu memiliki CCTV, langsung keluar sambil tetap menggenggam kalung milik Grace. Ia memasukkannya ke dalam saku celana dan pergi menuju ruang keamanan.


“Selamat pagi, maaf mengganggu. Apakah saya bisa melihat rekaman CCTV pada senin malam?” tanya Gregory.


“Maaf sebelumnya, tapi untuk keperluan apa?”


“Kekasih saya tinggal di lantai X unit XX. Ia kembali ke apartemen saat senin malam. Tapi, hingga hari ini tidak bisa saya hubungi. Setelah saya memeriksa unit apartemennya, saya tidak menemukannya dan hanya menemukan topi dan tas kurir pengantar makanan,” Gregory bukanlah polisi California. Ia harus berlaku layaknya turis atau orang awam di sana. Ia akan memberikan informasi sedetail mungkin agar ia diijinkan melihat rekaman CCTV.


Pada akhirnya, Gregory diperbolehkan melihat hasil rekaman CCTV. Ia memperhatikan dengan seksama bagaimana Grace kembali ke apartemen. Beberapa kali Gregory melihat ada sesuatu yang berbeda dari gerak-gerik Grace. Ia selalu menoleh ke belakang, seakan merasa ada seseorang yang sedang mengikutinya.


Saat Grace sampai di lantai tempat ia tinggal, Gregory melihat ada seseorang yang terus memperhatikan Grace hingga Grace masuk ke dalam unit apartemennya. Namun ia juga segera masuk ke dalam unit apartemen yang berada tak jauh dari sana.


Gregory meminta staf pengoperasian CCTV untuk mempercepat rekaman tersebut. Ia melihat ada seorang kurir pengantar makanan yang datang di depan pintu unit apartemen yang ditempati oleh Grace. Grace membukakan pintu dan kurir tersebut masuk ke dalam. Setelah beberapa lama, kurir tersebut keluar dari unit apartemen Grace dengan menggendong Grace ala bridal, layaknya seorang peia memeluk kekasihnya. Begitu dekat, bahkan sangat dekat, hingga membuat Gregory mengepalkan tangannya.


“Stop! Bisa anda memperbesar wajahnya?” Pinta Gregory.


Gregory tak bisa melihat terlalu jelas karena pria itu menggunakan masker dan juga topi berwarna hitam. Ia berterima kasih kepada pihak keamanan yang sudah mau bekerja sama dengannya. Ia kini akan kembali ke unit apartemen Grace untuk mencari bukti yang lain.


🌹🌹🌹

__ADS_1


__ADS_2