
Hari pernikahan antara Gregory dan Grace kini telah tiba. Mereka tidak menikah di hotel ataupun gedung serbaguna. Mereka menikah di sebuah gereja, yang memiliki taman belakang yang sangat luas.
Taman itu dihias dengan begitu cantik, dipenuhi dengan bunga-bunga. Sebuah karpet merah terhampar panjang menuju ke altar di mana seorang pastur telah berdiri.
Grace mengalungkan tangannya di siku lengan Chris, Dad angkatnya. Chris sangat senang sekali bisa mengantarkan putrinya ke altar untuk menikah dengan pria pilihannya, yang mencintai dan menyayanginya.
Semua mata tertuju kepada Chris dan Grace. Grace terlihat sangat cantik dengan balutan gaun berwarna putih. Ia menggunakan gaun putih sederhana namun terlihat mewah dan elegan. Mata Gregory seakan tak bisa lepas dari wanita yang akan segera menjadi istrinya itu.
Saat sampai di depan altar, Grace meraih tangan Gregory. Senyum tak pernah lepas dari wajah mereka.
“Aku menyerahkan putriku kepadamu. Jaga, lindungi, sayangi, dan cintai dia. Jika kamu menyakitinya dan membuatnya menangis, aku akan mengambilnya lagi darimu,” kata Chris dengan tatapan yang tidak main-main.
“Aku akan menjaganya melebihi diriku sendiri. Aku tidak akan menyakitinya karena aku sangat mencintainya,” kata Gregory sambil tersenyum ke arah Grace.
Pengucapan janji pernikahan pun dimulai. Para tamu undangan bertepuk tangan ketika pastur sudah mengesahkan mereka berdua sebagai sepasang suami istri.
Chris mengundang sahabat-sahabatnya, Oscar dan juga Hector beserta keluarga besar mereka. Sementara itu Gregory dan juga Grace mengundang rekan kerja mereka.
“Hei, mengapa kamu melihatku seperti itu?” tanya Danilo saat seorang gadis yang berdiri di sebelahnya menatapnya dengan sangat tajam.
“Bagaimana aku tidak melihatmu karena kamu benar-benar tidak peka, tidak punya perasaan!”
__ADS_1
“Apa maksudmu? Jangan sembarangan berbicara!” Danilo yang sedang ikut berbahagia dengan pernikahan atasannya, kini harus diliputi rasa kesal karena beradu mulut dengan seorang gadis.
“Sepatumu! Bisakah kamu menyingkirkan sepatumu itu dari kakiku?” Nicole menatap tajam ke arah Danilo yang langsung mengkat kakinya saat itu juga.
“M-maaf, aku tidak sengaja. Kenapa kamu tidak langsung saja mengatakannya? Pakai bahasa tidak peka, tidak punya perasaan.”
Nicole yang tidak ingin berdebat lebih panjang pun pergi berlalu dari hadapan Danilo. Saat ini Nicole sedang menempuh pendidikan kepolisian seperti yang dijanjikan oleh Gregory. Meskipun ia harus meninggalkan Daddynya untuk sementara waktu di Desa S, tapi ia sangat senang karena cita-citanya sebentar lagi akan tercapai. Daddynya pun sangat mendukung mimpinya.
“Nyebelin banget sih! Nggak bisa kalem dan anggun sedikit apa?” gerutu Danilo sambil menyesap minumannya.
“Siapa?” tanya Berto mendekat ke arah Danilo.
“Itu,” dengan sedikit mengangkat wajahnya, Danilo menunjuk ke arah gadis dengan rambut dikuncir kuda.
“Dari luar emang kelihatan cantik, tapi dalamnya bar-bar,” ungkap Danilo sekali lagi. Namun, matanya seperti terpaku pada sosok gadis itu.
**
Pintu yang berukuran cukup tinggi dan lebar terbuka, Gregory dan Grace masuk ke dalamnya. Kamar yang luas, dekorasi yang indah. Tatanan yang begitu rapi dan elegan serta tempat tidur berukuran besar.
Grace melihat taburan bunga di atas tempat tidurnya. Grace berjalan mendekati tempat tidurnya dan duduk di bagian tepi. Ia memainkan bunga-bunga itu dengan tangannya.
__ADS_1
Gregory mendekati Grace kemudian mencium bahu wanita yang kini sudah sah menjadi istrinya. Gelenyar halus mulai terasa di tubuh Grace.
Gregory memutar tubuh Grace menghadapnya, “Apa kamu tidak ingin mandi dulu?” tanya Grace.
“Tidak. Kita akan mandi bersama setelah kita ….,” dengan cepat Gregory mendaratkan bibirnya di bibir Grace. Ia melummatnya pelan. Semakin lama tubuh mereka semakin panas.
Di atas lantai kini sudah berserakan gaun pengantin dan juga jas serta kemeja yang awalnya membungkus dua manusia yang saat ini tengah berolahraga panas.
Bunga-bunga yang berada di atas tempat tidur, kini telah berhamburan ke bawah. Suara-suara dessahan dan errangan dari keduanya pun menggema di dalam ruangan dan membuat mereka berdua semakin bergairrah.
Meskipun di awal permainan terasa sakit bagi Grace karena ini merupakan yang pertama baginya, namun Grace tetap melanjutkannya. Ia tidak ingin mengecewakan Gregory. Ini adalah malam pertama mereka, tidak boleh gagal. Mereka harus menyimpan ini sebagai kenangan untuk mereka berdua.
Gregory dan Grace menikmati sensasi kenikmatan yang terjadi ketika tubuh mereka bersatu. Peluh keduanya bercucuran, padahal pendingin ruangan sudah menyala dan sangat dingin.
Kenikmatan yang diberikan oleh Gregory membuat tangan Grace berada di pinggul Gregory agar suaminya itu terus menghentak padanya. Keduanya mencapai puncak bersama dan Gregory berhasil menembakkan benih-benihnya tepat kepada sasaran.
Gregory merebahkan tubuhnya di samping Grace. Ia memiringkan tubuhnya agar bisa melihat ke arah Grace, lalu mencium kening Grace dengan dalam.
“I love you,” bisik Gregory yang masih bisa didengar oleh Grace, membuatnya tersenyum meskipun matanya kini sudah terpejam.
Gregory mendekatkan diri kepada Grace dan memeluk istrinya itu. Tubuh keduanya yang polos membuat kehangatan terus terasa.
__ADS_1
“Istirahatlah, aku tidak akan memintanya lagi. Aku tahu kamu lelah. Kita akan melanjutkannya nanti,” kata Gregory dan kembali mengecup pucuk kepala Grace. Mereka berdua kini terlelap sambil berpelukan.
🌹🌹🌹