
Ponsel Grace bergetar, namun tak diindahkan olehnya karena ia sedang berkeliling untuk melakukan kunjungan rutin ke beberapa pasien. Setelah berkeliling dan sampai kembali ke ruangannya untuk memulai jam praktek, ia menyempatkan diri untuk memeriksa ponselnya.
“Nomor siapa ini?” tanya Grace. Sudah 2 hari sejak Gregory tak menghubunginya. Ia merasa kehilangan namun tak dipungkiri juga ada perasaan lega di dalam hatinya.
Baru saja ia ingin memasukkan kembali ponsel tersebut ke dalam sakunya, ia kembali merasakan getaran dan nomor yang sama kembali menghubunginya.
“Halo,” kata Grace. Ia melihat panggilan tersebut berkali-kali jadi ia sedikit berpikir kalau panggilan tersebut sangatlah penting. Hanya saja ia tak begitu menyadari asal negara pemanggilnya.
“Gracia.”
Degggg
Grace langsung menjauhkan ponsel tersebut dari telinga dan mematikannya. Ia tahu persis suara siapa itu. Ia memandang layar ponselnya dan memeriksa nomor pemanggilnya.
“Kode ini?” Grace sangat yakin panggilan tersebut berasal dari Norwegia, tempat ia berasal, tempat ia dilahirkan.
Ponselnya sekali lagi kembali bergetar. Ia langsung memasukkannya ke dalam laci mejanya tanpa memeriksanya lagi. Tubuhnya bergetar dan peluh mulai membasahi dahinya. Ia mulai merasakan ketakutan.
“Apa dia akan membawaku lagi?” Grace duduk di sofa dan memeluk tubuhnya sendiri. Ia pun kini teringat akan Gregory. Ia membutuhkan pria itu, ia takut.
Tokk tokk tokk …
Grace mendengar pintu ruangannya diketuk, ia pun tersadar. Ia segera merapikan penampilannya dan berdiri berjalan mendekati pintu. Ia tahu ia harus tetap profesional meskipun di dalam dirinya sedang tidak baik-baik saja.
“Apakah praktek sudah bisa dimulai, Dok?”
“Baiklah, silakan,” Grace menutup pintunya dan duduk di mejanya. Ia sama sekali tak membuka laci mejanya meskipun beberapa kali ia merasakan getaran yang ia yakini berasal dari ponselnya.
Ia menyelesaikan jadwal prakteknya hingga pukul 5 sore. Ia merapikan barang-barangnya dan tak lupa ia mengambil ponselnya yang berada di dalam laci. Ia memeriksanya, terlihat banyak panggilan tak terjawab. Ia langsung memasukkannya ke dalam tas dan bergegas pulang.
**
Grace meletakkan tas-nya di atas meja, kemudian berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Ia menuangkan aroma therapy untuk membuat dirinya relaks.
__ADS_1
Ia merasa sedikit aman sudah berada di rumah, di kediaman Alexander, tanpa ada gangguan sedikitpun selama perjalanan pulang. Namun, hatinya masih tetap tidak tenang karena ia kini berada seorang diri, selain para pelayan di sana.
Keluar dari kamar mandi, Grace menggunakan bathrobe dan juga handuk yang dililitkan ke kepalanya. Ia berjalan menuju meja rias dan mengambil hairdryer untuk mengeringkan rambutnya.
Drttt drttt
Grace menghentikan aktivitasnya karena mendengar sedikit suara ponselnya. Ia pun berdiri dan mendekati tas miliknya, mengeluarkan ponselnya dari sana. Ia menghela nafasnya pelan ketika melihat banyaknya panggilan dari Naldo.
Tringggg
Sebuah pesan singkat masuk ke dalam ponsel Grace dan ia pun membukanya.
- kamu berani tidak mengangkat telepon dariku, maka lihatlah apa yang akan kulakukan -
Tringgg
Sebuah pesan gambar masuk kembali dan membuat Grace membulatkan matanya. Hatinya terasa begitu sakit dan air mata langsung luruh di kedua pipinya. Ponselnya kembali bergetar, sebuah panggilan kembali masuk dengan nomor yang sama seperti sebelum-sebelumnya.
“Lepaskan dia. Apa yang kamu inginkan?” tanya Grace.
“Tentu saja aku menginginkan dirimu. Siapa yang menyuruhmu untuk kabur dari mansion?”
“Lepaskan dia, kak!” pinta Grace.
“Apa kamu tahu siapa dia, hah?!”
“Aku tahu dan dia lebih baik darimu,” kata Grace.
Bughhh
Grace menutup mulutnya saat mendengar suara pukulan dan eranggan pria yang sangat ia kenal.
“Lepaskan dia dan aku akan menuruti kemauanmu,” kata Grace.
__ADS_1
“Apa kamu yakin?”
“Ya, aku sangat yakin,” Grace sebenarnya takut, namun ia tidak bisa terus membawa Gregory ke dalam masalahnya, apalagi ia pernah membuat Gregory kehilangan keluarganya, tidak mungkin sekarang ia meminta Gregory untuk kembali melindunginya dan mengorbankan pria itu.
“Datanglah ke sini, aku menunggumu,” sambungan ponsel dimatikan sepihak oleh Naldo. Naldo tersenyum smirk sementara Grace terduduk di samping tempat tidur sambil memegang ponselnya.
Kembali ke Norwegia dan ini atas kemauannya sendiri sungguh menyesakkan dada. Namun, ia harus menolong Gregory. Ia tak ingin membiarkan pria itu mengalami sesuatu hal yang buruk lagi.
Grace mengeluarkan kopernya dan memasukkan beberapa potong pakaiannya. Sambil membereskan pakaiannya, ia juga berpikir bagaimana menghadapi seorang Naldo dan juga Pamannya. Grace sendiri belum mengetahui apa yang terjadi pada Marco Lawrence.
**
Di dalam ruangan sempit dan gelap, Gregory menyandarkan kepalanya di dinding. Ia bisa merasakan bagaimana dinginnya lantai dan dinding yang mengelilinginya.
Gregory memejamkan matanya, “Nil, aku mengandalkanmu.”
Di tempat lain, Danilo yang mendapat sinyal langsung bergerak menyusun rencana.
“Kamu mendapatkannya, Nil?” tanya Berto. Danilo mengangguk dan mengumpulkan seluruh anggota tim-nya. Kali ini mereka tak boleh gagal, karena tak lagi hanya menangkap tapi juga menyangkut nyawa Kapten mereka.
**
Grace langsung menuju ke bandara. Awalnya ia ingin membawa senjata miliknya, namun ia yakin itu akan membuatnya tak lolos melewati pemeriksaan di bandara, apalagi senjatanya bukanlah senjata legal. Ia tak memiliki surat-surat untuk itu.
Ponsel miliknya kembali bergetar.
“Aku sedang menuju ke sana dan aku minta jangan sekali-kali kamu menyakitinya, apalagi menyentuhnya.”
“Tenang saja. Jika kamu menuruti semua permintaanku, maka aku juga akan menuruti permintaanmu. Bahkan aku akan memberikan sesuatu yang tak kamu pikirkan selama ini.”
Grace memutus sambungan ponselnya dan masuk ke ruang tunggu bandara. Tinggal 45 menit sebelum ia akan berangkat menuju Negara Norwegia, negara tempat ia dilahirkan. Negara yang memiliki kenangan indah bersama kedua orang tuanya, tapi juga memiliki kenangan buruk.
🌹🌹🌹
__ADS_1