When Doctor Meet Mr. Policeman

When Doctor Meet Mr. Policeman
#30


__ADS_3

Bersama dengan Gregory, ia kembali ke Kota Meksiko. Baru beberapa bulan ia pergi dari sana dan kini ia kembali lagi. Grace menghela nafasnya pelan, namun masih terdengar oleh Gregory.


“Apa ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu?” tanya Gregory.


“Apa kita harus kembali ke Kota Meksiko? Kenapa tidak ke California saja?” tanya Grace.


“Apa kamu ingin bertemu dengan mereka lagi?” tanya Gregory dan secara otomatis Grace menggelengkan kepalanya.


“Oya, ini milikmu,” Gregory mengambil sesuatu dari sakunya dan memberikannya pada Grace.


“Kalungku,” mata Grace berbinar. Ia merasa sangat bahagia karena kalung itu masih berada di tangannya. Ia ingat meletakkannya di kaca wastafel. Sebenarnya ia ingin kembali ke California untuk mengambil kalungnya, sesuatu yang paling berharga yang ia miliki.


Gregory hanya diam dan tersenyum saat melihat Grace. Sesampainya mereka di Kota Meksiko, Gregory langsung mengajak Grace ke area parkir di mana ia memarkirkan mobilnya saat akan berangkat ke California. Ia melajukan kendaraannya, bukan ke kediaman Alexander, melainkan ke apartemen milik Gregory.


“Ini?”


“Masuklah. Ini apartemenku. Untuk sementara waktu tinggallah di sini.” Kata Gregory.


“T-tapi …”


“Kamu akan aman di sini bersamaku. Tenanglah aku tidak akan melakukan apapun padamu.”


Grace tahu bahwa Gregory tak akan berbuat macam-macam padanya. Saat pria itu menginap di rumah sewanya di Desa S pun ia selalu berlaku sopan.


“Lalu bagaimana dengan pekerjaanku?”


“Aku akan membicarakan semuanya dengan Uncle Steve.”


“Uncle?” tanya Grace heran.


“Hmm. Dokter Steve Horison adalah Uncle-ku. Ia adalah kakak dari Mommyku,” jawaban Gregory semakin menguatkan dugaan Grace bahwa Gregory bukanlah siapa-siapa di masa lalunya. Ia sendiri cukup kaget mendengar bahwa Gregory memiliki kekerabatan dengan Dokter Steve.


“Baiklah kalau begitu. Terserah padamu saja,” Grace berharap tinggal di apartemen Gregory bisa membuatnya aman dari Pamannya dan juga Naldo.

__ADS_1


**


Marco Lawrence kini sedang tersenyum sambil melihat beberapa berkas di depannya. Ia berhasil melakukan kerjasama kembali dengan Vicente tentang pengadaan obat terlarang.


Untuk transaksi yang sebelumnya, ia meraup keuntungan hingga jutaan dolar. Hal itu tentu saja membuatnya semakin menggila. Apalagi ia bisa memakai obat terlarang tersebut tanpa mengeluarkan uang sepeserpun, bahkan justru menerima uang.


Bahkan saking senangnya, ia juga melakukan kerjasama dengan Dante dalam melakukan perdagangan organ tubuh manusia. Dalam pikiran Marco hanya ada uang dan kekuasaan, tak lupa juga wanita sebagai penghangat ranjangnya.


Ya, kini Marco akan merambah bisnis dunia bawah tanah. Uang yang ia dapat ternyata jauh lebih banyak dari apa yang ia dapat dari perkebunan anggur milik kakaknya.


“Nal, carilah para gelandangan dan bawa mereka ke gudang. Kita akan mulai melakukan bisnis penjualan organ dan mereka adalah target kita saat ini,” perintah Marco pada Naldo.


Naldo yang mendapatkan perintah seperti itu tentu saja kaget. Ia tidak masalah jik melakukan bisnis obat terlarang, tapi kalau perdagangan organ tubuh manusia?


Hal itu sungguh menyalahi prinsip hidup Naldo. Ia tahu bagaimana rasanya menjadi miskin dan terbuang. Oleh karena itulah ia ingin memiliki banyak uang, agar tak ada yang menganggap remeh dirinya.


“T-tapi kita tak pernah melakukan bisnis itu, Sir.”


“Apa kamu takut mencoba sesuatu yang baru? Kita akan mendapatkan lebih banyak uang dengan bisnis ini dan kita juga akan menguasai dunia ini sedikit demi sedikit.”


**


Dua orang pria kini tengah tertawa sambil duduk menikmati kopi mereka.


“Kamu hebat sekali bisa dengan mudahnya meyakinkan Marco.”


“Tentu saja, apa yang tidak bisa dilakukan oleh Dante. Bukankah kamu memerlukan tumbal juga untuk bisnismu, maka hanya dia-lah orang yang cocok,” kata Dante yang kemudian kembali tertawa bersama dengan Vicente.


“Kamu benar dan kuakui kamu benar-benar cerdas. Lalu, kapan kita akan melakukan transaksi itu?”


“Secepatnya! Ia sudah berjanji akan melakukan penyediaan barang dan kita akan membayarnya dalam jumlah besar. Begitu pula sebaliknya, kita akan menyediakan obat terlarang dan ia juga membayar dalam jumlah yang besar.”


“Baiklah, aku akan menyiapkan semuanya. Oya, sebaiknya kamu berhati-hati karena para polisi sedang menaruh penjagaan di setiap sudut kota,” pesan Vicente.

__ADS_1


“Jangan hanya mengingatkanku tapi melupakan dirimu sendiri,” katanya sambil tertawa. Vicente pun pergi dari sana menuju ke markasnya.


**


Apartemen Gregory memiliki 2 kamar. Namun salah satunya digunakan oleh Gregory sebagai ruang kerja. Ia membiarkan Grace untuk tidur di kamar tidurnya, sementara ia akan tidur di ruang kerjanya.


Setiap pagi, Grace selalu bangun lebih dulu daripada Gregory. Ia membersihkan dirinya, kemudian pergi ke dapur untuk menyiapkan sarapan untuk pria itu. Ia tak ingin menunpang secara gratis, setidaknya ia bisa berguna dengan menyiapkan sarapan dan membersihkan apartemen itu.


Gregory selalu terbangun karena mencium harum makanan yang disiapkan oleh Grace. Selama ia tinggal di sana, ia tak pernah menyiapkan makanan sendiri. Ia memang tetap mengisi kulkas dengan bahan makanan, tapi jarang menggunakannya, hingga kadang ada beberapa yang rusak dan tidak dapat dikonsumsi lagi.


Grace meletakkan makanan tersebut di atas meja, kemudian kembali lagi ke kamar karena ia akan membersihkan dirinya sekali lagi. Gregory yang terbangun, langsung menuju ke meja makan dan melihat sarapan sudah tersedia di atas meja. Ia tersenyum.


“Aku seperti memiliki istri, hanya saja belum bisa menemaniku tidur,” gumam Gregory.


Gregory masuk ke dalam kamar tidur yang ditempati oleh Grace. Ia akan mengambil pakaian gantinya sebelum membersihkan diri di kamar mandi yang berada di luar.


Gregory yang baru melangkahkan kakinya ke walking closet mendengar pintu kamar mandi terbuka. Ia melihat Grace keluar dari sana hanya menggunakan sebuah handuk yang dililit di tubuhnya, dan rambutnya masih dalam keadaan setengah basah.


Ujian apa lagi ini? - batin Gregory.


“Ahhh!!” Grace yang lupa membawa pakaian gantinya kaget saat melihat Gregory di sana sedang melihat ke arahnya. Ia langsung memundurkan langkahnya, membuatnya mau terjatuh.


Dengan cepat Gregory langsung meraih tubuh Grace agar tak menyentuh lantai kamar mandi. Deru nafas keduanya saling beradu dan tatapan mata mereka bersirobok.


Gregory bisa mencium harum tubuh Grace, membuat sesuatu di bawah sana mulai berubah ukuran. Gregory yang menyadari itu pun melepaskan pegangannya pada tubuh Grace tapi tak membiarkannya jatuh.


“Maaf. Aku masuk hanya ingin mengambil pakaian kerjaku,” kata Gregory.


Tak ada kata apapun yang terucap sebagai tanggapan dari perkataan Gregory. Pria itu langsung menuju walking closet dan mengambil pakaiannya. Ia pun keluar dari kamar tidur dan menuju ke kamar mandi yang berada di luar.


Saat Gregory sudah keluar, Grace memegang dadanya. Detak jantungnya serasa berpacu luar biasa.


Perasaan ini lagi. - batin Grace.

__ADS_1


🌹🌹🌹


__ADS_2